APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bittersweet Passion

Bittersweet Passion

Sejak lama, hati Joice hanya terkunci untuk Marcel De Luca. Walau berulang kali menerima penolakan pahit, ia tetap tak mampu melupakan cinta pertamanya itu. Namun, tepat ketika Joice mulai lelah dan berniat untuk mundur, sebuah peristiwa satu malam mengubah jalannya takdir. Mereka kini terjebak dalam ikatan rumit yang sangat sulit dilepaskan. Akankah Joice memilih bertahan di tengah badai emosi ini, atau justru melangkah pergi untuk selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Sinar matahari menembus sela-sela jendela. Dua pasangan yang tertidur pulas dalam kondisi tubuh telanjang dan hanya terselimuti oleh selimut tebal itu—perlahan mulai membuka kedua mata mereka.

Saat mata mereka sudah terbuka. Raut wajah keduanya sama-sama menegang melihat satu sama lain tubuh mereka telanjang dan hanya terselimuti oleh selimut tebal. Wajah mereka menunjukkan jelas memucat terkejut.

“Kau—” Marcel hendak berucap, namun satu demi satu kepingan memori di dalam diri Marcel terkuak. Pria itu mengingat tentang kejadian tadi malam. Kejadian di mana ada yang menjebak dirinya.

“Shit!” Marcel mengumpat seraya mengusap wajah kasar. Sialnya, wanita yang dia tiduri adalah Joice. Bukan jalang yang bisa dia bayar. Semua semakin rumit membuat emosinya terpancing.

Joice menarik selimut menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Raut wajahnya muram di kala melihat reaksi kemarahan di wajah Marcel. Dia pikir kalau Marcel akan langsung mengakui kesalahan dan meminta maaf padanya. Bahkan Joice berharap kejadian tadi malam membuat Marcel bisa bersikap baik padanya.

“Kenapa kau tidak menahanku, Joice?! Atau kau sengaja melakukan ini semua demi agar aku bisa bersimpatik padamu?!” Mata Marcel menyalang tajam, menatap Joice penuh tuntutan. Pria itu menyalahkan Joice yang tak menahan dirinya.

Mata Joice berkaca-kaca mendengar ucapan menusuk Marcel. Kalimat yang Marcel ucapakan layaknya pisau tajam yang menusuk jantungnya. Tak pernah dia sangka kalau Marcel akan mengatakan seperti itu.

“Kau bilang aku sengaja, Marcel? Apa kau lupa ingatan berkali-kali aku memintamu untuk berhenti, tapi kau tidak bisa mengendalikan dirimu!” seru Joice dengan air mata yang sudah tak lagi bisa tertahankan.

Ya, tadi malam Joice murni mendatangi klub malam hanya demi mengilangkan penat di pikirannya. Marcel De Luca adalah seorang pria yang sejak dulu dia hindari. Tidak pernah Joice sangka semesta kembali mempertemukannya dengan Marcel De Luca.

Kejadian tadi malam murni Joice ingin membantu Marcel. Akan tetapi, semua niat baiknya kacau di kala Marcel lepas kendali. Sungguh, tak pernah terbesit sedikit pun dalam pikiran Joice untuk menjebak Marcel.

Lebih dari satu tahun sudah Joice tak pernah melihat pria yang menjadi cinta pertamanya itu. Sekarang semesta kembali mempertemukannya dalam kondisi serumit ini. Padahal terakhir Joice sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dirinya tidak akan pernah menaruh harapan apa pun lagi pada Marcel De Luca.

Marcel mengumpat dalam hati mendengar apa yang dikatakan oleh Joice. Pria itu menyibak selimut, dan segera memakai celananya yang berserakan di lantai kamar. Emosi dan kemarahan telah menyelimutinya membuatnya tak lagi bisa terkendali.

“Aku tahu kau hanya mencari-cari alasan agar aku iba padamu, Joice! Kau pikir aku tidak mengenalmu, hah?! Kau selalu melakukan banyak cara agar bisa berada di dekatku! Kau tahu? Kau membuat dirimu seperti wanita murahan di luar sana!” sarkas Marcel yang begitu amat menusuk hati Joice.

Sepasang iris mata cokelat gelap Marcel berkilat tajam penuh amarah yang membakarnya. Pria itu tak mengira kembali bertemu dengan Joice. Dia sangat yakin bahwa pasti Joice sengaja mengambil kesempatan dirinya yang tak berdaya akibat obat sialan yang membuat otaknya tak mampu berpikir jernih.

Satu demi satu air mata Joice sudah tidak lagi bisa tertahankan. Kata-kata Marcel layaknya cambuk yang memukulnya dengan sangat keras dan menusuk jantungnya. Detik itu juga Joice bangkit berdiri seraya menutupi tubuhnya dengan selimut. Mata wanita itu memancarkan jelas kekecewaan yang mendalam.

“Fine, aku memang wanita murahan! Aku memang jalang! Lalu apa urusannya denganmu? Jika kau menganggapku mengambil kesempatan atas kejadian tadi malam, silakan, Marcel De Luca! Kau berhak menghakimiku! Bahkan sekalipun kau menganggapku wanita paling rendah di dunia ini, aku pun akan tetap menerima semua hinaanmu itu. Kau tahu kenapa? Karena aku sadar di matamu, aku tidak pernah memiliki sedikit saja sela kebaikan. Di matamu, aku selalu menjadi wanita paling buruk! Sekalipun aku berbuat baik, tetap di matamu aku adalah wanita busuk!” Nada bicara Joice bergetar menahan pilu di kala mengatakan itu.

Joice tak lagi membela diri tentang kejadian tadi malam. Malah wanita itu membiarkan Marcel menghina dirinya sesuka hati pria itu. Karena dia tahu sekeras apa pun dirinya membela diri, tetap tidak akan menuaikan hasil apa pun. Marcel De Luca akan tetap memandang rendah Joice. Pembelaan yang dilakukan Joice akan tetap percuma jika orang tersebut tak menggubrisnya.

Rahang Marcel mengetat mendengar semua perkataan Joice. Tangannya mengepal begitu kuat. Dia memakai kemejanya asal dan hendak meninggalkan tempat itu, namun seketika raut wajah Marcel berubah melihat bercak darah yang ada di sprei ranjang kamar hotel.

Joice yang masih menahan sakit di titik sensitive-nya menatap bercak darah di sprei ranjang. Senyuman rapuh dan kecewa terlukis di wajahnya. Selanjutnya, dia menatap wajah Marcel yang sejak tadi menegang terkejut tak bisa berkata apa pun.

Bercak darah di sprei ranjang sebagai bukti di mana Joice masih perawan. Hal tersebut yang membuat wajah Marcel membeku akibat keterkejutan. Tadi malam, Marcel hilang kendali dan beberapa potongan memori tentang tadi malam tak sepenuhnya diingatnya.

“Kenapa kau terkejut, Marcel? Tenang saja, aku tidak akan meminta pertanggung jawabanmu. Kau menganggapku pelacur, kan? Jadi tidak usah terkejut seperti itu. Aku ini pelacur yang bisa tidur dengan pria mana pun. Sekarang kau boleh pergi. Anggap saja kejadian tadi malam tidak pernah terjadi,” ucap Joice dengan air mata yang tak henti bercucuran membasahi pipinya.

Mengatakan hal seperti itu, bukanlah hal mudah bagi Joice Osbert. Tapi dia membiarkan dirinya dianggap seperti pelacur. Jika itu yang membuat Marcel senang dan puas, maka dia akan melakukannya.

Marcel membeku diam di tempatnya. Raut wajah pria itu nampak begitu amat campur aduk. Segala kemarahan, kesal, dan emosi telah melebur menjadi satu. Joice bukan lagi anak kecil. Usia Joice bukan lagi usia anak-anak. Wanita itu bahkan hampir 30 tahun. Bagaimana mungkin seorang wanita yang usianya hampir 30 tahun tapi masih perawan? Semuanya sulit dicerna oleh Marcel.

Napas Marcel memburu. Pria itu berusaha untuk tenang dan tidak langsung murka. Selanjutnya, pria itu memberikan tatapan dingin dan tajam pada Joice. “Kau sudah tahu di mataku kau tetap sama. Tidak bernilai sama sekali. Kejadian tadi malam hanya kesalahan. Aku senang kalau kau berpikir demikian. Jadi aku tidak perlu banyak menjelaskan, kalau kau tidak berharga sama sekali di mataku!” Setelah mengatakan kalimat tajam itu, Marcel berbalik melangkah pergi meninggalkan tempat itu dan tak mau lagi melihat ke arah Joice.

Tubuh Joice ambruk ke lantai di kala Marcel sudah pergi. Air matanya satu demi satu membasahi pipinya. Tangis Joice kali ini semakin pilu dan menyakitkan. Semua kata-kata Marcel terus teringiang di dalam pikirannya.

“Kau jahat, Marcel. Kau jahat,” ucap Joice lirih dan pilu.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Kebohongan Pedang Perak
9.4
Menjadi putri dari suku terpandang tidak membuatku lepas dari rahasia gelap. Aku nekat menjalin hubungan terlarang dengan Walker, pria yang dulu mendampingi saudari kandungku, Emily. Kemesraan kami bahkan sengaja didokumentasikan dalam bentuk video. Namun, semua berubah saat pemimpin suku itu pergi setelah pertemuan intim kami dan meninggalkan arlojinya. Ketika berniat mengembalikannya, aku justru mendengar obrolan rahasia dari balik pintu yang membalikkan hidupku.
Sampul Novel Kejahatan Termanis
7.9
Demi ambisi jabatan, Nevilla mendekati Adero dan meninggalkan Aron. Namun, langkah keliru ini justru membangkitkan masa lalu kelam dari enam tahun lalu yang menghantuinya kembali. Ketika hubungan mereka semakin intim, Nevilla menyadari dirinya telah terperangkap tanpa jalan keluar. Kini, ia harus menghadapi ancaman dari seorang pria berbahaya yang siap menghancurkan hidupnya dan menyeretnya ke dalam pusaran konflik masa lalu yang mematikan.
Sampul Novel Lima Tahun, Satu Kebohongan yang Menghancurkan
9.4
Pernikahan yang kukira sempurna selama lima tahun hancur begitu saja. Sebuah email pembaptisan di laptop suamiku mengungkap rahasia besar: dia menggendong bayi bersama influencer terkenal, Rania Adeline. Ternyata, alasan pekerjaan yang sering ia pakai hanyalah dusta demi menutupi keluarga barunya di luar sana. Setelah sekian lama mengorbankan mimpi demi dirinya, pengkhianatan ini menyadarkanku. Aku pun memilih pergi dan segera mengambil beasiswa arsitektur di Singapura.
Sampul Novel Mengejar Cinta Pak Dosen
8.2
Agatha percaya cinta sejati datang sendiri, tapi takdir menyeretnya ke perjodohan dengan Bintang. Walau sang pria sempat menolak keras rencana ini, Agatha pantang menyerah untuk merebut hatinya. Namun, rintangan berat menghadang ketika sosok Aera, cinta pertama Bintang, terus membayangi pernikahan mereka. Sanggupkah perjuangan tulus Agatha meluluhkan perasaan Bintang, atau dia hanya akan berakhir sebagai pelampiasan dan pengganti yang tak pernah diharapkan?
Sampul Novel Perselingkuhan Gila Istriku
8.9
Kecurigaanku pada Lidya, istriku yang baru berusia 25 tahun, akhirnya mencapai batas. Kebohongannya tentang rekan kerja terbongkar hari ini, menyisakan tanya tentang sosok asli selingkuhannya. Didorong amarah akibat pengkhianatan dan gairah yang kupendam sejak pagi, aku mengonfrontasinya di atas ranjang. Sambil menindih tubuhnya, aku menuntut kejujuran di tengah badai emosi yang berkecamuk hebat.
Sampul Novel Terpikat Pesona Tuan Remington
8.2
William yang trauma asmara membeli Sarah demi pelampiasan nafsu. Namun, kehamilan Sarah mengacaukan batinnya, membuatnya bimbang memilih antara Sarah atau Jessica, cinta pertamanya. Di sisi lain, Sarah yang melarikan diri dari sang ayah yang kejam justru terjerat komitmen rumit. Walau meragukan ketulusan William, Sarah enggan kehilangan pria itu dan calon bayinya. Akankah mereka menemukan jalan keluar dari pusaran konflik emosi ini?