APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel BILIK LAIN DI RUMAH SUAMIKU

BILIK LAIN DI RUMAH SUAMIKU

Kecurigaan langsung menyelimuti hatiku begitu menempati rumah Mas Yusuf. Suamiku menyimpan rahasia besar di balik satu kamar yang selalu terkunci rapat. Kejanggalan kian nyata saat aku melihatnya mengendap-endap setiap malam, membawa baki berisi makanan dan minuman ke ruangan misterius itu. Apa yang sebenarnya Yusuf sembunyikan dariku? Misteri di balik bilik terlarang tersebut kini mulai mengancam ketenanganku.
Bab
Bagikan

Bab 3

Namun, antara kenyataan dan mimpi, aku mendengar suara orang berteriak. Suara seorang wanita. Aku pun terbangun dalam kondisi duduk karena terkejut.

"Allohumma inni a'zubika min 'amalis syaithoni wa sayyi-atil ahlam."

Ya Allah, benarkah itu tadi mimpi? Tapi, kenapa rasanya sangat nyata?

Tak lama suara dari pintu terdengar, aku pun sontak menoleh dan kembali terkejut, rupanya itu adalah Mas Yusuf yang datang.

"Ada apa, Dik?" tanyanya yang berjalan semakin mendekat.

Napasku naik turun. Selain kaget, jujur saja ada rasa takut yang merayap memenuhi pikiran.

"Dik Hanna mimpi buruk?"

Aku menggeleng. Ini terlalu nyata unruk disebut mimpi. Meski aku sendiri tak yakin.

"Aku gak tau, Mas. Mimpi atau nyata?"

"Mas, ke mana? Aku sendirian menunggu Mas di sini?" tanyaku, pura-pura tak tahu apa ada di mana dia sejak jam 12 malam.

Hal itu sengaja kulakukan untuk menghargainya sebagai suami. Tidak mencecar dengan pertanyaan yang menyudutkan. Itulah yang diajarkan ustazahku dulu. Menjadi seorang istri yang mengedepankan prasangka baik dan bicara yang bukan-bukan sehingga suaminya merasa disudutkan.

Lagipula aku tak punya hak menuduh apapun sebelum menemukan bukti.

Aku akan menunggu pria yang Allah pilih sebagai jodohku itu untuk bercerita apa yang sebenarnya terjadi, atas kemauannya sendiri. Aku menunggu kejujuranmu, Mas! Dan kuharap itu bukan sesuatu mengejutkan yang menjadi sumber kehancuran rumah tangga yang baru saja kita bina.

"Em, itu ...." Suara Mas Yusuf tertahan sejenak. "Mas hanya gak bisa tidur, Dik," sambungnya.

Gak bisa tidur? Lalu dia pergi ke kamar lain, membawa makanan dan minuman. Apa itu untuk dirinya sendiri? Apa ada studio di ruangan itu.

"Tunggu sebentar, ya." Mas Yusuf meraih minuman di nakas untuk menenangkanku.

Aku pun meminumnya. "Jadi Mas tidur di mana?" tanyaku sambil mengusap mulut yang basah setelah menenggak air putih tersebut.

"Hem?" Mas Yusuf mengangkat dua alis tebalnya ke arahku.

Kalau kamu bilang sedang di kamar yang tampak aneh itu, aku akan percaya padamu, Mas. Bisa jadi itu hanya ruang me time bagi Mas Yusuf. Namun, kalau Mas Yusuf bohong, berarti aku perlu mencari tahu, apa yang sebenarnya ada di kamar itu?

"Em. Mas tadi ke balkon. Panas, Dik." Lelaki itu bicara dengan senyum yang aneh.

Nah, kan! Dia bohong. Kentara sekali. Aku bisa membaca raut wajah seseorang sejak di Pesantren. Kala menyidak santri-santri bermasalah di asrama. pribadiku yang tegas dan berani membuatku dipilih untuk mengemban amanah mengawasi mereka. Melihat fakta dan mecocokkan ekspresi para santri saat berkata-kata.

Bahkan kalau saja aku tadi tak melihat Mas Yusuf masuk ke bilik itu, aku bisa langsung tahu pria itu tengah berbohong dan menyembunyikan sesuatu.

Tampaknya dia memang bukan laki-laki yang pandai berbohong, tapi kenapa sekarang bohong padaku? Kenapa jika memang tak siap bicara, dia bicara baik-baik meminta maaf dengan mengatakan akan menceritakan di kemudian hari saat waktunya tepat.

Kenapa harus berbohong, Mas?

"Ke balkon? Mas kepanasan? Padahal AC nyala, apa Mas sakit?"

"Ouh, em. Ya. Sedikit." Lagi, pria itu memegangi tengkuk. Apa tidak ada ekspresi lain yang dia buat? Kenapa untuk bohong saja tidak bisa kreatif dan berinovasi, gitu?

Padahal setidaknya aku berharap dia akan mengatakan berada di ruangan itu walau tak mau jujur ada apa di sana. Dengan begitu aku masih bisa berprasangka baik. Misalnya, dia di sana karena menghindariku lantaran gugup belum bisa memberikan nafkah batin.

"Kita tidur saja yuk, Dik," ajak Mas Yusuf yang tampaknya tak tenang telah berbohong padaku.

Kamu pria yang dikenal baik, Mas. Kenapa mesti berbohong? Bagaimana caraku mendapat kejujuran tanpa harus mencecarmu?

Aku sedari tadi memperhatikan ekspresi pria itu, menarik kemeja depannya kala ia bergerak menggeser tubuh akan memposisikan diri untuk tidur. Memaksanya memberiku cinta. Mas Yusuf yang kaget mendorongku.

"Maaf, Mas masih tidak enak badan."

Ah, rasanya malu sekali mendapat penolakan lagi. Hatiku sakit sampai air mata menggenang di pelupuk mata. Seolah dia jijik padaku, tapi apa salahku? Aku bukan wanita ternoda. Atau pun wanita dengan faras buruk rupa.

Sudahlah. Barangkali memang seharusnya aku tak meminta duluan sampai kapanpun. Itu hanya akan menyakiti hatimu sendiri. Boro-boro aku tahu semua tentang Mas Yusuf, menyentuhku saja dia enggan.

Argh! Masa bodoh kamu mau apa, Mas! Aku tak peduli! Namun kalau sudah melewati waktunya, aku akan meminta cerai. Tak peduli seberapa besar hatiku telah jatuh cinta padamu.

Tak berapa lama dalam perasanku yang masih kesal, kudengar suara dengkuran halus dari Mas Yusuf.

Huh! Tidurlah! Jangan pedulikan aku! Mentang-mentang tak ada dalil yang mengatakan malaikat yang melaknat suami yang menolak saat istri mengajak berhubungan, kamu pasti jadi semaumu sendiri, Mas!

Aku terus merutukinya dalam hati. Dasar laki-laki tak peka, dingin dan kejam!

___________

Subuh pun tiba ....

Mataku mengerjap kala mendengar gemericik air dari kamar mandi. Suamiku telah bangun lebih dulu ternyata. Rajin sekali dia. Kami bahkan tak melakukan apapun, tapi di subuh yang dingin begini tetap mandi.

Ini sangat berbeda dengan kebiasaanku. Meski saat di pesantren bangun sebelum subuh dan mandi di rumah, aku memilih hanya mencuci muka dan berganti pakaian yang barangkali najis untuk sholat. Ya, secara teknis aku mandi karena aturan di Pesantren.

Pernah suatu waktu aku kesiangan bangun, langsung wudhu dan gak mandi. Begitu ada razia dari ketua asrama, aku pun ikut terciduk dan kena hukuman karena tak mandi. Hemh. Rasanya seperti wajib militer kalau ingat awal-awal mondok, berat dalam membiasakan diri, tapi menyenangkan saat mengingatnya sekarang.

Saat hendak bangun dan membuka selimut, Mas Yusuf keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Mataku memicing ke arah pria itu.

"Ada apa?" tanya Mas Yusuf yang tampaknya risih reaksiku saat melihatnya.

"Mas keramas?"

"Hah?"

Kenapa dia keramas segala? Kami bahkan tak melakukan apapun. Apa yang sebenarnya kamu perbuat di bilik itu Mas? Bermain dengan wanita lain? Atau kamu sedang melakukannya sendiri? Itu kenapa kamu tak mau menyentuhku.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Seorang Janda
9.6
Ardena Alverio, anggota pasukan khusus yang tewas dikhianati, hidup kembali dalam tubuh Lyra Elvine, janda bisu beranak kembar tiga. Publik gempar saat Lyra yang semula lemah mendadak bisa bicara dan menunjukkan taringnya. Dari mantan tentara bayaran hingga peretas andal kini tunduk padanya. Meski piawai bertarung dan menyusun strategi, Ardena kini menghadapi misi tersulit: menjadi ibu bagi ketiga anaknya di tengah intrik yang mengancam nyawa.
Sampul Novel Pengkhianatan Sang Pria, Kisah Cinta Tak Tergoyahkan Miliknya
8.5
Ulang tahun ke-22 menjadi petaka saat tabungan kuliahku di ITB dirampas dua kakak kandung demi operasi plastik adik angkat kami, Vanya. Aku diusir, dituduh egois, lalu ditinggal berlibur ke Bali. Di titik terendah, tawaran proyek medis rahasia selama 15 tahun hadir sebagai jalan keluar. Aku pun pergi dan memutus ikatan keluarga demi masa depan baru, tanpa lupa meninggalkan bukti kebohongan Vanya di meja.
Sampul Novel Istri Palsu Miliarder
8.7
Setelah berselingkuh, Vivienne mencoba menghabisi Soren Blackwood. Namun, anak buah sang miliarder justru salah menculik Kira, kembaran identik Vivienne. Kira terpaksa berpura-pura menjadi istri dari CEO kejam yang kini lumpuh tersebut. Di tengah dendam membara, Soren perlahan jatuh cinta pada Kira yang bersikap sangat berbeda. Bisakah rahasia ini terus tersimpan rapat? Bahaya mengintai saat Vivienne yang asli bersiap kembali merebut posisinya.
Sampul Novel Reject Me
9.0
Pasca-kematian misterius sang ayah, hidup Eliza berubah total. Sang ibu membawanya mengungsi ke kota asing demi keamanan. Namun, kepindahan ini justru menyingkap tabir rahasia asal-usulnya. Di tempat baru tersebut, sosok Henry hadir dan mengklaim Eliza secara posesif tanpa mau melepaskannya. Kini, Eliza harus menghadapi teror penguntit misterius sekaligus berjuang mengungkap dalang pembunuhan ayahnya. Akankah ia mampu bertahan menghadapi takdir rumit ini?
Sampul Novel Tabir Misteri di Sekolah
8.4
Setahun pascatragedi memilukan yang merenggut nyawa seorang siswi di SMA Permadani Putih, kasus pemerkosaan serta pembunuhan kejam itu masih mandek tanpa titik terang. Di tengah kemerosotan disiplin sekolah dan sikap masa bodoh pihak berwenang yang sengaja bungkam, Gara tak tinggal diam. Demi menuntut keadilan bagi mendiang adiknya, ia bertekad membongkar misteri kelam ini. Sanggupkah Gara menguak konspirasi besar tersebut dan menyeret pelaku ke pengadilan?
Sampul Novel Terapi Psikologis Khusus
7.9
Di dalam ruang klinik yang sunyi, Dokter Sam menjalankan sesi terapi psikologis pribadi untuk membantu Nina melepaskan tekanan batinnya. Dokter Sam meyakini bahwa kedamaian jiwa hanya bisa dicapai saat tubuh benar-benar rileks. Namun, metode terapi ini mulai melintasi batas ketika sentuhan fisik sang dokter membuat Nina terjebak dalam konflik batin yang hebat. Di satu sisi, akal sehatnya menolak dan memohon agar tindakan itu dihentikan, tetapi di sisi lain, tubuhnya justru mengkhianati keinginannya sendiri.