APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel BILANG SAJA KAMU JANDA

BILANG SAJA KAMU JANDA

Hati Rania hancur ketika sang suami tega menyuruhnya mengaku sebagai janda hanya demi uang. Di balik penampilan anggunnya, ia harus memendam kepedihan mendalam sekaligus berjuang menghadapi kanker ganas yang menggerogoti tubuhnya. Di tengah kondisi fisik yang terus melemah, Rania pantang menyerah demi kedua buah hatinya. Kisah pilu ini menggambarkan perjuangan seorang ibu untuk bangkit dari pengkhianatan, mengumpulkan sisa kekuatan agar bisa bertahan hidup demi anak-anaknya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Ia membuka ponsel, dan mulai mengetik status.

[Teman-teman... maaf. Aku Rania. Aku sedang sakit kanker. Anakku dua, dan kami butuh bantuan untuk biaya kemo dan makan. Kalau ada yang mau bantu, ini link Saweria-ku...]

Ia tekan POST.

Lalu menangis.

Bukan karena malu. Tapi karena terlalu lama ia menahan semuanya sendiri.

Sore itu, ada notifikasi masuk.

Seseorang transfer 10 ribu.

Lalu 20 ribu. Lalu satu orang kirim pesan:

[Aku juga pernah jadi ibu tunggal. Kamu kuat. Aku doakan kamu bisa sehat.]

Rania menangis makin kencang. Rafif memeluknya dari belakang.

"Ibu... jangan sedih ya. Kalau nggak bisa beli nasi, kita makan kerupuk juga nggak apa-apa... asal Ibu jangan pergi."

---

Emir belum pulang.

Bu Murni warung bilang dia lihat Emir naik motor boncengan sama perempuan muda, ke arah kosan lama.

Rania tak kaget. Tidak marah. Tidak kecewa. Hatinya sudah lama mati untuk laki-laki itu.

Yang tersisa kini hanya tubuhnya. Dan dua alasan untuk tetap bernapas.

Malam itu hujan. Bocor menetes dari langit-langit dapur. Hana tidur memeluk perut ibunya. Rafif di sebelahnya. Dan Rania menatap langit-langit retak yang dititik air.

Lalu berdoa...

"Ya Allah... aku tahu Engkau tidak tidur. Aku cuma ingin kuat satu hari lagi. Kalau tidak untukku, untuk anak-anakku...

Mereka masih kecil. Jangan ambil aku sekarang."dan

Pukul 02.47.

Langit masih pekat, lampu-lampu jalan padam satu-satu, dan embun malam terasa seperti kabut duka yang menggantung di pundak Rania.

Ia mengenakan jaket tipis warisan almarhum ayahnya, resletingnya sudah rusak, tapi masih cukup menahan gigil.

Hana dan Rafif tidur di dalam, diselimuti kain tipis dan tubuh kecil yang saling mencari hangat. Sebelum berangkat, Rania mencium dahi keduanya.

"Doakan Ibu kuat, ya..."

Pasar masih sepi. Tapi para buruh angkut sudah mulai berdatangan. Mereka duduk di trotoar, sebagian merokok, sebagian rebahan dengan karung sebagai alas.

Rania berdiri di pinggir.

Tak ada yang menyapanya.

Ia pendatang baru di antara wajah-wajah tua yang sudah terbiasa dengan kerasnya dini hari.

"Hai, Mbak. Mau bantuin angkut sayur?"

Suara perempuan berambut pendek. Namanya Bu Aji, 50-an, giginya tinggal separuh. Tapi senyumnya ramah.

"Iya, Bu... kalau boleh."

Bu Aji menepuk bahunya.

"Semua orang boleh di sini, asal kuat. Upahnya dikit, tapi halal."

Pukul 03.15. Truk pertama datang. Sayur dari Lembang. Kembang kol, wortel, dan kol.

Rania mengangkat karung demi karung. Beratnya menusuk perutnya yang masih belum pulih pasca kemo terakhir.

Sesekali ia berhenti. Batuk.

Darah sedikit ikut keluar bersama lendir. Tapi ia lap cepat-cepat. Tak mau terlihat lemah.

"Kalau gak kuat, duduk dulu, Mbak," kata Bu Aji.

"Tapi nanti dibayar setengah ya, kalau kerjanya gak penuh."

Rania mengangguk. Ia tahu aturan. Dan lebih baik dibayar setengah daripada tidak sama sekali.

Jam 04.30, peluh bercampur dingin pagi membasahi seluruh tubuhnya. Ujung jarinya mati rasa.

Kaki pegal seperti diinjak batu.

Tapi ketika ia melihat uang dua lembar, Rp20.000, di tangan, ia tersenyum kecil.

Itu cukup untuk beli nasi bungkus dan segelas teh manis buat anak-anak.

Ia pulang dengan tubuh menggigil, tapi hati sedikit lebih hangat.

Sampai rumah, Rafif sudah bangun dan menyiapkan air hangat seadanya.

"Ibu capek ya?"

Rania hanya tersenyum dan memeluknya.

"Nanti kita makan bareng, ya."

Hana bangun dan langsung tertawa melihat plastik nasi bungkus.

Seolah dunia sedang baik hari itu. Seolah tidak ada kanker, tidak ada hutang, tidak ada suami yang menghilang.

Setelah makan, Rania membuka kotak obat.

Tinggal satu tablet anti-nyeri.

Kemoterapi harusnya hari ini. Tapi ia belum punya uang.

Ia coba buka akun Saweria. Sepi. Belum ada tambahan.

Ia tarik napas panjang.

Lalu buka aplikasi dompet digital. Saldonya Rp 5.200.

Matanya panas. Tangannya dingin. Ia duduk di lantai, memandangi telapak tangannya sendiri.

Kurus, kaku, pecah-pecah. Tapi masih bisa menggenggam dua dunia kecil yang ia lahirkan: Rafif dan Hana.

Siangnya, Bu Murni dari warung datang.

"Ini, Mbak Rania... saya titip kangkung sama tempe. Gak usah ganti. Saya tahu kamu belum bisa bayar."

Rania menolak pelan, tapi air matanya keburu turun.

"Terima kasih, Bu... saya gak akan lupa..."

"Saya juga punya anak perempuan," kata Bu Murni.

"Kalau dia jadi kamu, saya juga pengen ada yang bantu."

Menjelang sore, Rania mencoba kembali bekerja di pasar. Tapi tubuhnya menolak.

Kakinya bergetar. Pandangannya kabur.

Ia terpaksa pulang lebih cepat dan hanya membawa 10 ribu.

Saat duduk di teras, Rafif menghampiri dan memberikan celengan plastik kecil.

"Ini uang tabungan Rafif, Bu. Boleh buat Ibu beli obat?"

Rania tak kuat menahan.

Ia peluk Rafif erat, seakan anak itu satu-satunya tiang rumah rapuh yang sudah hampir roboh.

"Kamu tahu gak... Ibu hidup karena kalian..."

Pukul 21.13.

Rumah sunyi. Hanya suara detik jam dinding dan napas anak-anaknya yang tenang.

Rania buka kembali ponsel dan aplikasi Saweria.

Masih kosong.

Ia buka akun KBM. Bab baru yang ia tulis belum dibaca siapa-siapa. Komentar kosong. Statistik sepi.

Tapi dia tetap menulis. Karena itu satu-satunya cara dia mengusir bunuh diri dari pikirannya.

Ia coba menulis narasi singkat. Satu kalimat yang entah akan dibaca siapa atau tidak:

[Aku tak ingin mati. Tapi aku tak tahu harus hidup dengan cara apa lagi.]

Pukul 23.59.

Rania rebahan. Suhu tubuhnya naik. Tubuhnya menggigil. Ia tahu gejala ini. Ini gejala infeksi dari kemo yang tertunda. Dan kalau terlambat lagi, ia bisa pingsan. Atau lebih buruk.

Ia buka WhatsApp. Tidak ada balasan dari rumah sakit.

Ia lihat daftar nama kontak, semua sudah pernah ia minta bantuan.

Malam semakin larut.

Ia merapatkan selimut, menatap langit-langit, dan berbisik pelan:

[Ya Allah... kalau hari ini aku harus mati, jangan di depan anak-anakku. Biar mereka tetap ingat Ibu yang tersenyum...]

Dan saat ia akan menutup mata, bunyi notifikasi masuk.

Pelan. Tapi cukup untuk membuat hatinya berhenti sesaat.

Transfer masuk: Rp275.000,-

[Buat kemoterapinya, Mbak. Maaf cuma segini. Dari orang yang pernah sama seperti kamu. Jangan berhenti. Tolong tetap hidup.]

Rania duduk.

Matanya membesar.

Tangannya menutupi mulut.

Air matanya jatuh deras.

Dia bisa ke rumah sakit hari itu. Dia bisa kemo.

Dia bisa bertahan satu hari lagi...

Tapi siapa orang itu?

--

Pagi itu, Rania ke rumah sakit. Ditemani Rafif dan Hana. Ia kemo. Duduk di ranjang, menahan dingin cairan yang masuk ke tubuhnya.

Rafif dan Hana menggambar. Tersenyum kecil. Rania menatap mereka penuh cinta.

Setelah selesai, mereka duduk di taman rumah sakit. Rania menatap langit.

Saat itulah...

Seorang pria berseragam tentara berjalan melewati taman. Rania terpaku. Wajah itu... seperti bayangan dari masa lalu.

"Mungkin cuma mirip," ucapnya.

Tapi si pria juga merasakan hal yang sama. Ia melirik. Jantungnya berdetak lebih cepat.

Mereka tak saling sapa. Belum.

--

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku dan Adik Tiriku
8.7
Raffael akhirnya pulang setelah enam tahun pergi ke luar negeri akibat fitnah kejam dari adik tirinya, Syaqila. Meski kini Syaqila berniat tulus untuk meminta maaf atas kesalahan masa lalu yang membuat Raffael terasing, ia justru disambut dengan tatapan dingin dan penuh kebencian. Hubungan mereka pun kini berada di ujung tanduk. Apakah pertemuan ini akan menjadi momen rekonsiliasi yang damai, atau justru menjadi awal dari rencana pembalasan dendam Raffael?
Sampul Novel Dilamar Mantan Depan Suami
8.0
Nisa harus menjalani pernikahan yang menyiksa bersama Arman, sosok suami kasar dan sangat pelit. Walau Nisa selalu mencoba menghormati mertua serta iparnya, Arman tetap menganggapnya tidak berbakti. Penderitaan Nisa kian mendalam ketika sang suami membatasi makanan bergizi untuk putra mereka, Ahmad, demi berhemat. Di tengah kekerasan dan tekanan hidup ini, Nisa hanya mampu berdoa agar suaminya mau menepati janji untuk tulus menerima anak mereka.
Sampul Novel DILEMA Antara Nyaman dan Cinta
9.1
Himpitan masalah ekonomi akhirnya meretakkan rumah tangga yang sudah lama dibangun. Keadaan kian memburuk ketika sang istri curhat di media sosial demi mencari simpati lelaki lain. Terlena rayuan pria beristri, ia mengabaikan risiko bahwa obsesi fisik kerap berujung pengkhianatan. Kini, ia terjebak konflik batin antara kenyamanan semu dan komitmen pernikahan. Hukum tabur tuai pun mulai membayangi mereka yang nekat bermain api.
Sampul Novel Kau Menebar Dusta di Hatiku
9.3
Bekerja sebagai ART di kediaman Rafly dan Nadya yang penuh konflik, Liyana menyaksikan perselingkuhan sang nyonya. Kejadian itu membawanya masuk dalam rencana licik Alvin. Demi melunasi utang keluarganya, Liyana terpaksa menerima misi rahasia untuk memikat Rafly. Namun, kepolosan Liyana justru memicu gairah mendalam pada diri Rafly. Kini, rahasia demi rahasia mulai terbongkar. Liyana pun harus bertahan dari dominasi misterius Rafly agar hatinya tidak hancur dalam permainan ini.
Sampul Novel Melupakan Pria Berengsek
8.6
Menjelang pernikahan, kecelakaan fatal yang direncanakan oleh teman masa kecil tunanganku hampir merenggut nyawaku. Tragisnya, tunanganku dan kekasih selebritas sahabatku mengabaikan panggilan darurat demi menemani wanita itu yang sedang flu. Setelah berhasil melewati masa kritis di rumah sakit, aku dan sahabatku sepakat untuk membatalkan rencana pernikahan kami. Keputusan sepihak ini seketika membuat kedua pria yang telah mengabaikan kami tersebut menjadi gila karena penyesalan.
Sampul Novel Menjadi Istri Dadakan Presdir Tampan
8.6
Embun terjebak dalam dilema besar ketika harus segera angkat kaki dari rumah kakak iparnya. Syaratnya berat: ia wajib menikah agar sang kakak tidak cemas, padahal ia sendiri tidak punya pasangan. Di tengah keputusasaan, seorang kakek yang merupakan pelanggan setia kafenya datang membawa solusi tak terduga. Sang kakek meminta Embun untuk menikahi putra bungsunya, Kaisar Rahardja, seorang presdir kaya. Meski pernikahan impian ini akhirnya terwujud, Embun dilingkupi tanda tanya besar mengenai alasan sebenarnya di balik kesediaan Kaisar menikahinya begitu saja.