APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bergairah Setelah Disakiti

Bergairah Setelah Disakiti

Ketika cinta tak lagi cukup, perpisahan dalam pernikahan terkadang menjadi jalan terbaik meski berisiko memengaruhi mental anak. Namun, kegagalan tersebut bukanlah akhir dari segalanya. Anak bukanlah beban yang menghalangi langkah untuk terus maju. Kisah drama domestik modern ini mengajarkan bahwa selalu ada kesempatan untuk bangkit dari kepedihan, menyembuhkan luka, dan mengejar lembaran kebahagiaan yang baru.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Ricko memang yang baik ya, Ma,” puji Fathan saat dia sudah kembali berada di kamarnya.

”Mau dia?” tanya Aida datar.

“Mau banget, malah aku kasih uang bensin aja nolak. Katanya ada, hehehe.”

“Dia keliatannya emang anak orang berada di kampungnya, Mas. Teman-temannya juga katanya sering pinjam uang sama dia. Tapi anaknya memang sedehana dan gak banyak tingkah.” Aida menanggapi ucapan suaminya sesuai yang dia tahu tentang sosok Ricko.

“Iya, dia mau kok ikut ke undangan juga, Ma.” Fathan makin senang hatinya karena sang istri terlihat mau menerima usulannya.

"Aku sih gak masalah, asal Papa gak cemburu aja,” balas Aida mencoba memancing kepekaan dan perasaan suaminya.

"Hahahaha, Ricko keliatannya sangat baik dan masih polos. Masa iya papa harus cemburu sih? Lagian kan di kampung ada ibu dan bapak yang ngawasin kalian, heheheh," sangkal Fathan yang hanya dijawab Aida dengan memajukan bibirnya.

Tak lama kemudian Fathan kembali terbayang-bayang Donita, hingga dia tak kuasa menahan libido dan imajinasi nakalnya. Dalam menit berikutnya libido Fathan, sukses membuat Aida terkapar dalam amukan birahinya. Aida tak menduga suaminya kan memberikan layanana sebegitu hebtanya, padahal sudah lebih ari sebulan ddia tak disentuhnya. Malam itu Aida benar-benar bisa kembali mendapatkan suaminya yang perkasa dan dia pun bisa tidur dengan sempurna.

Kehidupan Aida sebagai seorang perempuan seharusnya teasa sempurna dan bahagia. Hampir tidak ada halangan berarti yang dirasakan dalam membangun rumah tangga yang harmonis samawa dengan suaminya. Semua berjalan dengan sewajarnya, sesuai dengan rencana yang ada di dalam benaknya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di bangku universitas, Aida langsung menikah dengan Fathan yang sudah dipacarinya hampir setahun. Kebahagiaan dia sebagai seorang perempuan juga sebagai istri semakin lengkap dengan kehadiran anak pertama mereka, Feby. Serorang putri kecil yang lahir tak lama setelah mereka membangun mahligai rumah tangga.

Sejak saat itu, Aida semakin optimis dan bahagia dengan masa depannya. Di matanya, Fathan adalah suami yang benar-benar idaman semua istri. Seorang lelaki yang sangat bertanggung jawab sebagai keluarga yang sempurna. Fathan begitu perhatian dan penyayang kepada istri dan anak semata wayangnya. Hal itu tidak pernah berubah menghiasi hari-hari mereka.

Impian Aida untuk menjadi wanita karir pun hilang dengan sendirinya pasca kelahiran putri kecilnya. Sebagai gantinya, Fathan membangun kost-kostan di samping rumah mereka. Pekarangan yang dulunya hanya ditumbuhi semak belukar, berganti menjadi sebuah bangunan sederhana dengan lima kamar tidur yang memadai. Semua kamar sudah terisi oleh lima mahasiswa dari beberapa kampus yang berbeda.

Letak rumah mereka sedikit jauh dari pusat kota. Namun sebagai salah satu kota yang banyak berdiri lembaga pendidikan tingkat tinggi dengan banyak kampusnya, kost-kost itu mereka dengan mudah memiliki penghuni. Lingkungan yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota menjadi alasan utama para penghuni memilih kost di tempat mereka.

Namun tak ada gading yang tak retak. Akhir-akhir ini Aida merasakan kegelisahan yang diakibatkan adanya perubahan siklus kehidupan dia terutama di atas ranjang. Awalnya kehidupan ranjang mereka baik-baik saja, bisa saling memuaskan dan saling memberikan pelayanan terbaik. Namun seiring perjalanan usia perkawianan dan beratnya beban pekerjaan yang diemban Fathan, keadaan ranjang mereka mulai berubah.

Fathan mulai terkesan malas-malasan saat menjalankan kewajibannya memberikan nafkah batin pada istrinya. Aida yang masih memiliki gairah dan libido tinggi, tentu sangat tersiksa dengan keadaan demikian. Bahkan tak jarang dia harus menahan gairahnya itu hingga berminggu-minggu. Lama kelamaan Aida mulai merasa menjadi istri yang terabaikan di tempat tidur.

Aida sangat jarang menemukan kepuasan dalam hubungan intim dengan suaminya. Tak lebih dari lima menit Fathan berada di atas tubuhnya. Setelah itu dia tidur mendengkur, tanpa mempedulikan lagi bagaimana tersiksanya perasaan Aida. Persetubuhan yang terkesan apa adanya itu, dilakukan Fathan hanya beberapa kali dalam sebulan. Padahal sebelumnya, nyaris tiada hari tanpa kenikmatan ranjang yang dahsyat.

Terkadang Aida bertanya-tanya. Apakah suaminya punya wanita lain di luar sana, sehingga dia sudah tidak bergairah lagi dengan dirinya. Atau apakah Aida yang telah berubah tidak cantik lagi setelah melahirkan anak pertamanya? Dengan kenyataan seperti itu, Aida pun makin merasa tersisih. Terlebih lagi setelah mendengar gosip-gosip panas tentang suaminya.

Namun menurut teman, tetangga kompleks juga anak-anak kostnya yang terkadang sering iseng bercanda dengannya, Aida masih termasuk ibu muda yang segar dan sintal, mungkin karena baru punya anak satu dan masih rajin olah raga serta perawatan kecantikan walau di salon yang tidak terlalu mahal.

Terkadang Aida sering berlama-lama mematut diri depan cermin. Memperhatikan setiap bagian tubuhnya. Semua tampak masih sangat memesona seperti yang sering disampaikan banyak orang. Memang bentuk tubuhnya tidak selangsing saat dia masih berstatus gadis. Tapi masih sangat kencang tidak seperti beberapa teman arisannya yang sudah menimbun lemak di sana-sini.

Malam ini dia seperti kembali pada suasana satu atau dua tahun yang lalu, dimana Fathan selalu sukses membuatnya terkapar tak berdaya, tenggelam dalam lautan kenikmatan yang tiada batas. Hingga nyaris lupa dengan semua kecurigaan dan kegalauannya yang sejatinya senantias mengisi hari-harinya.

Saat suaminya berpamitan untuk dinas luar sampai senin sore, pikiran Aida kembali galau. Merasa jika suaminya bukan akan melaksanakan dinas luar, namun alasa karena tidak mau mengantarnya pulang kampung. Atau memang sudah ada janji dengan selingkuhannya. Aida ingin mentalakan pulang kampung, namun tidak mungkin juga dia lakukan karena tak enak pada keluarga besarnya di kampung.

^*^

Jum’at pagi yang belum terlalu terik. Matahari masih bersembunyi di balik pucuk-pucuk pohon, udara masih segar. Ricko sudah duduk di angkot tua yang akan membawanya ke kampus. Mobil buatan Nippon itu pasti berumur sekitar 3 tahun. Catnya sudah dekil, suara mesinnya seperti kakek-kakek yang sedang sakit TBC.

Penumpangnya belum banyak, hanya Ricko dan seorang laki-laki yang tampaknya pegawai kelurahan, lengkap dengan map-map bututnya. Sang sopir masih berteriak-teriak mengundang penumpang. Suaranya lantang sekali untuk sepagi ini. Ricko menatap arlojinya dan berharap mudah-mudahan tidak terlambat sampai di kampus.

Lima menit kemudian, datang tiga penumpang lagi. Lalu menyusul dua orang anak SD dengan tas di punggung mereka. Angkot sudah hampir penuh, tetapi sang sopir sepertinya masih menganggap kosong. Sementara para penumpang mulai menggerutu. Ricko melirik lagi arlojinya. Ah, masih ada waktu, tetapi, kalau angkot ini harus penuh dulu baru jalan, tentu waktu akan habis juga akhirnya.

Seorang ibu gemuk dengan tas belanja yang tak kalah gemuknya tergopoh-gopoh mendekat. Sang sopir yang ceking menyambutnya dengan penuh semangat, mencoba membantu memegangi tas si ibu, tetapi dia tampaknya terlalu kurus untuk tas itu.

Si ibu berhasil naik dengan susah payah, selain karena berat tubuhnya, juga karena angkot hanya menyisakan satu ruang saja. Itu pun untuk penumpang berbadan sedang. Akibatnya, penumpang yang lain terhimpit satu sama lain. Persis ikan asin yang ditumpuk dalam satu kotak kaleng rombeng. Ah, sialan! keluh Ricko dalam hatinya.

Akhirnya sang sopir pun menghidupkan mesin mobil tua terbatuk-batuk itu, lalu mulai bergerak seperti orang malas. Gerakannya tersendat-sendat, membuat para penumpang terhenyak-henyak saling berbenturan. Lalu, kesialan Ricko pagi ini memuncak ketika angkot yang ditumpanginya benar-benar mogok setelah berjalan tak lebih dari sepuluh meter.

Penumpang berhamburan keluar. Ricko mencoba membantu mendorong. Ibu gemuk belum lagi turun, sehingga angkot jadi terasa sangat berat, untung jalan agak menurun. Tetapi, walau dicoba berkali-kali, dan walau Ricko sudah berpeluh, angkot itu tetap ngadat. Akhirnya sang sopir menyerah. Angkot tidak jadi mengangkut penumpang, yang kini kembali bergerombol di pinggir jalan menunggu angkot berikutnya.

Ricko memang sedang sial.

Tiga angkot berikutnya selalu penuh, dan hanya mampu menampung satu orang setiap kalinya. Ricko terpaksa mengalah kepada dua anak SD dan si ibu gemuk. Sementara waktu cepat berlalu dan Ricko kini tahu bahwa dia pasti akan terlambat untuk kuliah pertamanya. Padahal, itu kuliah paling penting di semester ini, dan dosennya paling galak. Ricko menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Ricko berdiri di pinggir jalan, berharap agar angkot yang berikutnya kosong. Ada satu angkot tampak di kejauhan menuju ke arahnya. Angkot itu berhenti dan menurunkan beberapa penumpang, sehingga Ricko yakin dia akan bisa naik kali ini.

Ricko pun bersiap maju agak ke tengah jalan untuk mencegat angkot itu. Namun tiba-tiba sebuah Honda Civic putih berhenti tepat di depannya. Ricko menepi kembali karena menyangka mobil itu akan parkir. Tetapi ternyata tidak. Mobil itu tetap di depannya dan kaca jendela depan kirinya terbuka perlahan dengan suara mendesing.

Ricko mengernyitkan dahi, mencoba mengintip ke ruang dalam yang agak gelap. ‘Apakah pembawa mobil ini salah seorang temanku?’ ucap Ricko penuh harap. Kalau ya, tentu dia bisa menumpang sampai ke kampusnya.

“Halo Oooom, Ilo!” Sebuah kepala kecil dengan rambut ikal dan pita merah menyembul. Tentu saja itu kepala Feby, gadis kecil putri kesayangan Fathan dan Aida. Gadis berusia tiga tahun setengah, penggemar kucing.

Ricko tersentak, dia bahkan lupa jika mobil yang ada di depannya adalah miliki Bu Aida, ibu kostnya.

“Hai!” sahut Ricko ramah walau masih agak sedikit terkejut.

“Ricko, mau kuliah, ya?” terdengar suara lain dari arah pengendara mobil. Ricko maju mendekat dan membungkukkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas.

“I..iya Bu, mau kuliah,” jawab Ricko agak sedikit gelagapan tak menduga akan bertemu dengan ibu kostnya di tengah jalan seperti ini.

“Mau ikut sampai kampus?” tawar Aida ramah dan Feby pun ikut memaksa Ricko untuk ikut bersama mereka.

Akhirnya Ricko menghenyakkan tubuhnya di jok belakang mobil yang ruang interiornya menyebarkan harum semerbak. Mobil pun segera melaju di antara puluhan angkot yang jalannya terkadang tak beraturan dan masih banyak yang bernasib seperti tadi, batuk-batuk.

“Eh, iya Ricko, kuliahnya jurusan apa?” tanya Aida sambil melirik dari kaca spion.

“Manajement, Bu,” jawab Ricko pendek.

Aida tersenyum, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Ricko bisa melihat dari kaca spion, betapa manisnya senyum ibu kostnya itu. Ricko benar-benar tak menduga jka kesialannya pagi ini akan dengan cepat berubah menjadi sebuah keberuntungan yang sangat luar biasa.

Sebenarnya ingin bukan yang pertama Ricko berada dalam mobil itu bersama dengan ibu kost dan anak lucunya, namun juga belum pernah dia berada dalam mobil itu tanpa kehadiran Fathan, suaminya Aida.

“Om Ilo mau cekolah juga ya?” celoteh si kecil Feby dengan cadelnya, sambil membalikkan tubuhnya menghadap Ricko.

“Iya,” jawab Ricko, “Feby mau sekolah di mana?” lanjutnya.

“Cekolah taman kanak-kanak. Tapi…tapi…. tapi, gak cuka cekolah!” jawab Feby menggemaskan.

“Loh, kenapa?” tanya Ricko pura-pura kaget. “Karena gak boleh bawa kucing, ya?” lanjut Ricko berempati.

Gadis kecil itu mengangguk-angguk cepat, rambutnya bertebaran menutup keningnya. Ricko senang sekali melihat gadis kecil ini, cantik, lucu dan tampak cerdas menggemaskan.

“Kenapa tidak minta kepada ibu gulu untuk membeli kucing?” Ricko kembali bertanya seraya menahan gemas, hanya beberapa kata yang bisa dia tirukan kecadelannya.

“Bu gulu nga cuka kucing… Bu gulu cuka cama donal bebek!” tukas Feby masih dengan cadelnya.

Ricko tertawa mendengar jawaban Feby dan Aida juga ikut tertawa kecil. Oh, merdu sekali tawa itu, pikir Ricko. Sebuah tawa campuran yang sangat pas antara tertawa manja dan tertawa geli.

Lalu Feby berceloteh terus sepanjang perjalanan, dan Ricko dengan senang hati menimpalinya. Aida sendiri tidak begitu banyak berbicara, tetapi selalu tertawa dengan tawanya yang memikat itu.

Sesekali Ricko melirik ke kaca spion, diam-diam memandangi wajah Aida yang menatap lurus ke depan mengawasi lalu-lintas. Wajah itu manis sekaligus anggun, juga tampak bersinar riang.

^*^

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Mengandung Setelah Diusir Mamamu
9.1
Baru tiga bulan menjalani pernikahan kontrak dengan CEO Arsenio Arfandra, Adelia diusir oleh ibu mertuanya karena sebuah kebohongan terbongkar. Tak lama berselang, Adelia hamil anak Arsenio, tetapi sang suami justru menolak keberadaan janin tersebut. Saat penyesalan datang dan Arsenio ingin rujuk, Adelia justru muncul sebagai pengantin dari manajer bernama Vino. Kini, Arsenio harus merana karena Adelia menyembunyikan fakta mengenai ayah kandung Giovanni.
Sampul Novel Hasrat dalam Gelapnya Bioskop
8.3
Niat hati ingin menggoda sang suami di dalam bioskop privat yang gelap, seorang wanita justru melakukan kesalahan fatal. Ia membiarkan sentuhan intim seorang pria asing menyapu tubuhnya, mengira itu adalah suaminya sendiri. Ketika kebenaran terungkap saat ia menoleh, segalanya sudah terlambat. Pria asing yang jauh lebih perkasa itu telah mengambil alih kendali, memberikan sensasi luar biasa yang belum pernah ia rasakan dari suaminya, dan menaklukkannya tanpa ampun.
Sampul Novel KURIR CINTA
9.0
Aryo, seorang mahasiswa playboy, bertekad memikat hati Dona. Lewat misi Kurir Cinta, ia dibantu oleh dua sahabatnya, Ode dan Dido, meski akibatnya nilai akademis mereka merosot tajam. Perjuangan itu berbuah manis saat Aryo sukses meyakinkan keluarga Dona untuk menikah muda. Sayangnya, konflik besar kini justru mengancam pernikahan mereka dengan perceraian. Di tengah penolakan keras dari orang tua, Ode dan Dido pun turun tangan demi menyelamatkan rumah tangga sahabat mereka agar perjuangan masa lalu tidak berakhir sia-sia.
Sampul Novel SAMANTHA
8.7
Menjalin kasih sejak kelas sepuluh, hubungan Samuel dan Anantha mulai retak di tahun kedua. Kesibukan Samuel memimpin OSIS membuat jarak di antara mereka, sementara Anantha sibuk menyembunyikan kariernya sebagai novelis daring. Keadaan kian memburuk dengan kemunculan Viola, sahabat kecil Samuel yang kini menyita seluruh fokusnya. Merasa dikesampingkan dan dikhianati oleh prioritas baru sang kekasih, Anantha kini dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan atau menyudahi asmara mereka.
Sampul Novel Dia Memilih Anak Rahasianya Daripada Calon Anak Anjing Kami
9.0
Lima tahun Elana berkorban demi karier CEO Emilio, tetapi pengkhianatan pahit terungkap lewat undangan pembaptisan anak rahasia suaminya. Saat pesta gala, dorongan Emilio yang ingin melindungi anak gelapnya malah membuat Elana keguguran. Elana ditinggalkan sekarat dan nyaris tewas diserang orang suruhan selingkuhan suaminya. Setelah selamat, ia memalsukan kematian dan memulai hidup baru sebagai arsitek di Zurich.
Sampul Novel Still Love You
8.7
Bertahun-tahun menemani Feli tanpa kejelasan membuat Yudis akhirnya memilih mundur. Di saat Feli baru menyadari perasaannya dan berniat mengejar Yudis kembali, keadaan telah berubah total. Yudis kini telah dijodohkan oleh sang ibu dengan gadis pilihan bernama Sarah. Feli pun terjebak dalam dilema dan situasi yang rumit. Sanggupkah Feli merebut kembali hati pria yang pernah mengabaikannya, ataukah Yudis akan tetap melangkah maju bersama Sarah?