APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Benih Sang Kakak Ipar

Benih Sang Kakak Ipar

Demi mengatasi masalah keuangan, Gavin memboyong istrinya, Aura, untuk menetap di kediaman sang kakak. Namun, keputusan ini justru menjerumuskan Aura ke dalam pusaran obsesi Adrian Mahendra. Sebagai konglomerat berhati dingin yang sangat berpengaruh, Adrian diam-diam mendamba adik iparnya tersebut. Lewat pengaruh dan taktik liciknya, Adrian mulai menyudutkan Aura, memaksanya goyah di antara komitmen pernikahan dan jerat pesona sang ipar yang kian sulit dihindari.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi harinya, cahaya matahari yang menerobos masuk lewat celah gorden otomatis di kamar itu terasa menyilaukan. Aura mengerjap, kepalanya terasa berat karena semalaman dia nyaris tidak tidur. Di sampingnya, kasur sudah kosong. Dia mendengar suara gemericik air dari kamar mandi, menandakan Gavin sudah bangun dan sedang bersiap.

Aura duduk di tepi ranjang, memijat pelipisnya. Bayangan kejadian di dapur semalam masih terekam jelas di kepalanya. Sentuhan tangan Adrian di lehernya seolah masih meninggalkan bekas panas yang menjalar. Dia mencoba meyakinkan diri bahwa itu mungkin cuma pengaruh alkohol yang diminum Adrian, atau mungkin dia sendiri yang terlalu sensitif karena kelelahan. Tapi tatapan Adrian... itu bukan tatapan orang mabuk yang tidak sadar. Itu tatapan orang yang tahu persis apa yang dia mau.

"Eh, udah bangun, Sayang?" Gavin keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Wajahnya segar, tampak sangat bersemangat. "Gila ya, air panas di sini tekanannya enak banget. Beda banget sama di kontrakan kita yang sering mati-matian."

Aura hanya tersenyum tipis. "Vin, kamu nggak merasa ada yang aneh sama Mas Adrian?"

Gavin berhenti menyisir rambutnya, dia menoleh lewat cermin dengan dahi berkerut. "Aneh gimana? Dia emang begitu, Ra. Pendiam, serius. Tapi dia orang paling loyal yang aku kenal. Kamu jangan terlalu dipikirin lah, mungkin kamu cuma kaget aja sama suasana rumah baru."

"Bukan itu, maksud aku..." Aura menggantung kalimatnya. Bagaimana cara mengatakannya? 'Gavin, kakak kamu menyudutkan aku di dapur semalam dan bilang aku ini tanggung jawabnya'. Kalau dia bilang begitu, Gavin pasti bakal menganggapnya bercanda atau salah paham. Gavin memuja Adrian seolah pria itu adalah malaikat pelindung mereka.

"Udah, mending kamu mandi sekarang. Kita ditunggu sarapan di bawah. Mas Adrian nggak suka kalau ada orang yang telat ke meja makan," potong Gavin sambil memakai kemeja kerjanya.

Aura menghela napas panjang dan melangkah ke kamar mandi. Di bawah kucuran air, dia mencoba membasuh rasa gelisahnya. Dia harus bersikap biasa saja. Dia harus menunjukkan bahwa dia tidak terpengaruh oleh intimidasi Adrian.

Begitu turun ke ruang makan, suasana sudah tertata rapi. Meja makan kayu jati yang panjang itu dipenuhi berbagai macam menu, dari nasi goreng sampai roti panggang. Adrian sudah duduk di kursi kebesarannya di ujung meja, sedang membaca tablet sambil menyesap kopi hitam tanpa gula. Bau kopinya yang tajam memenuhi ruangan.

"Duduk, Aura," kata Adrian tanpa mendongak. Suaranya datar tapi penuh perintah.

Aura duduk di samping Gavin, tepat berhadapan dengan Adrian. Dia merasa sangat tidak nyaman. Setiap kali dia mencoba menyuap makanannya, dia merasa mata Adrian sesekali melirik ke arahnya, memperhatikan cara dia memegang sendok, cara dia mengunyah, bahkan cara dia bernapas.

"Vin, mulai hari ini aku mau kamu fokus ke proyek di Cikarang. Aku udah minta sekretaris aku buat nyiapin semua laporannya. Kamu mungkin bakal sering pulang telat, atau kalau perlu nginep di sana beberapa hari," ucap Adrian santai sambil memotong steak kecil di piringnya.

Gavin tersedak sedikit. "Lho, Mas? Kok mendadak banget? Aku kan baru aja pindah ke sini. Kasihan Aura kalau ditinggal sendirian."

"Dia nggak sendirian. Ada banyak pelayan di sini. Ada aku juga," Adrian akhirnya mendongak, matanya bertemu dengan mata Aura. Ada kilatan provokasi di sana. "Lagian, kamu mau kan karir kamu naik? Ini kesempatan bagus. Kamu harus belajar tanggung jawab besar kalau mau jadi sukses kayak aku."

Gavin tampak bimbang, tapi sifat kompetitif dan rasa kagumnya pada Adrian mengalahkan segalanya. "Ya... kalau Mas bilang gitu, oke sih. Aku bakal usahain yang terbaik."

Aura meremas serbet di pangkuannya. Ini dia. Adrian mulai melakukan gerakannya. Dia sengaja menyingkirkan Gavin agar bisa bebas melakukan apa saja di rumah ini. "Vin, bukannya kamu bilang kemarin proyek Cikarang masih sebulan lagi?"

"Rencana bisa berubah, Ra. Dalam bisnis, siapa yang lambat bakal ketinggalan," potong Adrian dengan suara dingin yang membuat Aura terdiam.

Setelah Gavin berangkat kerja dengan terburu-buru, suasana rumah menjadi sunyi yang mencekam. Aura berniat langsung masuk ke kamarnya, tapi suara Adrian menghentikannya di depan tangga.

"Mau ke mana buru-buru?"

Aura berbalik perlahan. Adrian berdiri di sana, menyilangkan tangan di dada. "Aku mau beresin baju-baju ke lemari, Mas."

"Pelayan bisa ngelakuin itu. Sini, ikut saya ke perpustakaan sebentar. Ada yang mau saya bicarakan soal aturan rumah."

Aura ingin menolak, tapi kakinya seolah tidak punya pilihan. Dia mengikuti Adrian masuk ke sebuah ruangan besar yang dipenuhi rak buku setinggi langit-langit. Bau kertas lama dan kulit mendominasi ruangan itu. Begitu Aura masuk, Adrian menutup pintu dan menguncinya.

Klik.

Bunyi kunci itu terdengar seperti suara vonis penjara di telinga Aura.

"Mas, kenapa dikunci?" Aura mencoba tetap tenang, meski jantungnya berdegup kencang.

Adrian berjalan mendekat, langkah kakinya tidak bersuara di atas karpet tebal. "Saya nggak suka diganggu kalau lagi bicara serius. Kamu tahu, Aura... rumah ini punya aturan sendiri. Saya yang buat aturannya, dan semua orang yang tinggal di sini harus patuh."

Dia berhenti tepat di depan Aura. Kali ini dia tidak menyentuh, tapi kehadirannya yang dominan sudah cukup membuat Aura merasa tercekik.

"Aturan pertama, jangan pernah mencoba bohong sama saya. Saya tahu kamu nggak nyaman di sini. Saya tahu kamu takut sama saya. Tapi jujur aja, rasa takut itu yang bikin kamu kelihatan makin menarik di mata saya."

Aura mundur sampai punggungnya menabrak rak buku. "Mas, tolong... hargai Gavin. Dia sayang banget sama Mas."

"Gavin itu masih anak kecil. Dia nggak tahu apa-apa soal dunia ini, apalagi soal perempuan kayak kamu. Dia cuma tahu cara main-main, tapi dia nggak tahu cara memuaskan ego perempuan," Adrian mengulurkan tangan, kali ini jari telunjuknya mengusap bibir bawah Aura. "Kamu cantik, tapi kamu kelihatan kesepian di samping dia."

Aura memalingkan wajahnya. "Mas gila! Aku cinta sama suami aku!"

Adrian tertawa kecil, suara tawa yang hambar dan dingin. "Cinta? Kita lihat berapa lama 'cinta' itu bertahan kalau setiap malam kamu bakal terus berpapasan sama saya di lorong gelap rumah ini. Kamu nggak bisa lari, Aura. Gerbang depan dijaga, semua CCTV ada di bawah kendali saya. Kamu milik Gavin di atas kertas, tapi di bawah atap ini... kamu milik saya."

Aura merasa dunianya runtuh. Dia baru sadar bahwa rumah mewah ini adalah labirin yang dirancang khusus untuk menjeratnya. Dia ingin berteriak, tapi dia tahu pelayan di luar pun tidak akan berani ikut campur urusan tuan besar mereka.

Adrian menarik diri, memberikan ruang bagi Aura untuk bernapas. Dia mengambil sebuah kunci dari saku celananya dan meletakkannya di atas meja kerja. "Itu kunci kamar utama. Mulai sekarang, kamu nggak boleh kunci pintu kamar kamu dari dalam kalau malam hari. Alasannya? Keamanan. Saya harus bisa akses seluruh ruangan kalau ada keadaan darurat."

"Itu nggak masuk akal!" protes Aura.

"Di sini, apa yang saya bilang itu yang masuk akal. Sekarang, balik ke kamar kamu. Siapkan mental kamu, karena Gavin nggak bakal pulang malam ini. Dia bakal sangat sibuk di Cikarang... berkat saya."

Aura berlari keluar dari perpustakaan begitu Adrian membukakan pintu. Dia masuk ke kamarnya, membanting pintu, dan langsung menangis di balik bantal. Dia mencoba menelepon Gavin, tapi ponsel suaminya tidak aktif. Dia merasa benar-benar terisolasi.

Sore harinya, seorang pelayan mengetuk pintu kamar Aura, membawakannya sebuah kotak besar berwarna hitam. Di dalamnya ada sebuah gaun sutra berwarna merah marun yang sangat indah, tapi potongannya sangat berani. Ada sepucuk surat kecil di sana.

Pakai ini untuk makan malam. Jangan buat saya kecewa.

Aura melempar gaun itu ke lantai. Dia tidak mau jadi boneka Adrian. Tapi kemudian dia teringat kata-kata Adrian soal ayahnya. Adrian pernah bilang kalau perusahaan ayah Aura sedang kesulitan dan dia adalah salah satu investor terbesarnya. Ancaman itu memang tidak diucapkan secara langsung, tapi Aura tahu itu ada di sana, menggantung seperti pedang di atas kepala keluarganya.

Malam itu, dengan tangan gemetar, Aura memakai gaun itu. Saat dia bercermin, dia tidak mengenali dirinya sendiri. Dia tampak seperti wanita simpanan, bukan seorang istri yang sah.

Dia turun ke ruang makan. Adrian sudah menunggu, mengenakan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka. Saat melihat Aura, mata Adrian menyipit, memindai setiap lekuk tubuh Aura yang tercetak jelas oleh kain sutra itu.

"Cantik," gumam Adrian. Dia berdiri dan menarikkan kursi untuk Aura.

Makan malam itu berlangsung dalam kesunyian yang mencekam. Hanya ada suara denting sendok dan garpu. Aura tidak berani menatap Adrian.

"Kenapa nggak dimakan? Masakannya nggak enak?" tanya Adrian memecah kesunyian.

"Aku nggak nafsu makan, Mas."

"Kamu harus makan. Kamu butuh tenaga buat nanti malam."

Aura tersedak air yang sedang diminumnya. "Maksud Mas apa?"

Adrian hanya tersenyum misterius. Dia berdiri, berjalan memutari meja, dan berhenti di belakang kursi Aura. Dia meletakkan tangannya di bahu Aura, memijatnya pelan namun kuat. "Gavin baru aja telepon. Dia bakal nginep di Cikarang selama tiga hari ke depan. Katanya ada masalah teknis di lapangan. Kasihan dia, kerja keras demi masa depan kalian."

Tangan Adrian turun ke tulang selangka Aura, mempermainkan tali gaunnya. "Tapi di sini kita berdua. Cuma kita berdua, Aura. Nggak ada yang bakal ganggu."

Aura memejamkan mata erat-berharap semua ini cuma mimpi buruk. Tapi rasa hangat dari tangan Adrian dan bau parfumnya yang mendominasi indra penciumannya terlalu nyata. Dia terjebak dalam obsesi kakak iparnya sendiri, di rumah yang seharusnya menjadi tempat teramannya, dengan suami yang terlalu naif untuk melihat bahwa serigala itu ada di dalam keluarganya sendiri.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO lumpuh itu, suamiku
9.5
Demi melunasi utang keluarganya, Rachel Martinique terpaksa menikahi seorang CEO lumpuh yang asing baginya. Kehidupan dokter bedah ini berubah drastis saat memasuki pernikahan tanpa cinta tersebut. Alih-alih kebahagiaan, ia justru disambut kebencian mendalam dari sang suami baru. Di tengah ketegangan dan ketidakpastian rumah tangga, akankah benih cinta perlahan tumbuh di antara mereka, ataukah takdir buruk yang akan menyudahi hubungan ini?
Sampul Novel Cinta Terlarang Sang Janda
8.7
CEO muda sukses, Rio Darmawan, merasa jenuh dengan tekanan perjodohan dari keluarganya yang terus-menerus. Ia selalu menolak calon pilihan orang tuanya karena tidak ada yang cocok. Namun, segalanya berubah saat ia terpikat oleh Denanda Kusuma, seorang ibu tunggal yang mandiri. Walau hubungan mereka ditentang keras oleh keluarga besar, Rio bertekad kuat memperjuangkan cintanya. Kini ia menghadapi pilihan sulit antara mengikuti kata hati atau tunduk pada tuntutan keluarga.
Sampul Novel Jodoh untuk Mas Duda
8.9
Kepergian Sari dua tahun lalu menyisakan sepi mendalam bagi seorang guru SD berusia 35 tahun. Di tengah kesederhanaan hidupnya, pria duda ini terus didesak oleh keluarga serta sahabat karib untuk segera mencari istri baru. Meski merasa hampa dan kesepian, ia masih didera keraguan besar. Hatinya belum sepenuhnya siap melepaskan masa lalu dan menyambut kehadiran sosok pendamping lain dalam lembaran hidupnya yang baru.
Sampul Novel My Absurd Ning
9.4
Zora Alifia adalah santriwati pembuat onar yang kerap memicu kekacauan di pesantren. Tingkah lakunya sering kali membuat sang sepupu, seorang Gus bernama Emir, merasa kewalahan. Meski berulang kali ditegur, sikap membangkang Zora justru memicu ketegangan di antara mereka. Demi mendisiplinkannya, Emir akhirnya melontarkan ancaman pernikahan. Tak disangka, gertakan tersebut berhasil mengubah Zora menjadi sosok yang jauh lebih rajin dan taat menjalani kehidupan di pondok.
Sampul Novel Pria Bajingan Itu Ayah Anakku
9.0
Demi amanat Yani, mendiang sahabatnya, Ninda rela mengubah jalan hidupnya untuk merawat Leon yang masih berumur empat tahun. Selebgram ini berjuang keras demi masa depan anak tersebut. Namun, kedamaian mereka terancam ketika Fino Vasikal Gantara, pria berkuasa sekaligus ayah biologis Leon, datang merebut hak asuh. Walau mendapat ancaman dari Fino, Ninda tetap bertahan demi memenuhi janjinya. Ia siap melawan kekuatan sang miliarder demi melindungi Leon.
Sampul Novel Scandal with CEO
9.0
Kehidupan Ashley Adam Brooklyn, gadis berusia 20 tahun, berubah drastis akibat skandal rumit dengan bosnya, Nicholas Smith. Kebencian mendalam Ashley justru memicu ketertarikan sang CEO kaya. Nicholas bertekad menjadikan gadis itu sebagai pemuas nafsunya, tetapi keteguhan Ashley sulit diruntuhkan. Demi menundukkannya, Nicholas mengulik kelemahan Ashley dan menjeratnya dalam sebuah kesepakatan gelap yang akan mengubah nasib mereka berdua selamanya.