APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Benih Sang Kakak Ipar

Benih Sang Kakak Ipar

Demi mengatasi masalah keuangan, Gavin memboyong istrinya, Aura, untuk menetap di kediaman sang kakak. Namun, keputusan ini justru menjerumuskan Aura ke dalam pusaran obsesi Adrian Mahendra. Sebagai konglomerat berhati dingin yang sangat berpengaruh, Adrian diam-diam mendamba adik iparnya tersebut. Lewat pengaruh dan taktik liciknya, Adrian mulai menyudutkan Aura, memaksanya goyah di antara komitmen pernikahan dan jerat pesona sang ipar yang kian sulit dihindari.
Bab
Bagikan

Bab 3

Aura merasa seolah oksigen di ruang makan itu mendadak hilang. Kata-kata Adrian soal Gavin yang tidak akan pulang selama tiga hari ke depan terasa seperti hantaman keras di dadanya. Dia ingin berdiri, lari ke kamar, dan mengunci pintu rapat-rapat, tapi tangan Adrian yang masih bertengger di bahunya terasa seberat timah. Pijatannya pelan, ritmis, tapi setiap tekanannya seolah mengirimkan pesan bahwa Aura tidak punya tempat untuk lari.

"Mas, tolong lepasin," bisik Aura dengan suara yang hampir pecah. Dia berusaha menjaga harga dirinya agar tidak terlihat terlalu gemetar, tapi dia gagal total.

Adrian tidak melepaskannya. Malah, dia mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga bibirnya nyaris menyentuh telinga Aura. Aura bisa merasakan hawa panas dari napas pria itu. "Kenapa? Kamu takut sama saya, atau kamu takut sama perasaan kamu sendiri?"

"Aku nggak punya perasaan apa-apa sama Mas selain rasa hormat sebagai kakak ipar. Itu aja," jawab Aura tegas, mencoba membangun benteng pertahanan terakhirnya.

Adrian terkekeh, suara rendah yang bergetar di tenggorokannya. "Hormat? Hormat nggak bikin jantung kamu detak secepat ini, Aura. Saya bisa ngerasain denyut nadi kamu di sini," Adrian menekan jari telunjuknya di leher Aura, tepat di atas urat nadinya yang berdenyut kencang. "Ini bukan rasa hormat. Ini rasa takut yang bercampur dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang selama ini Gavin nggak pernah bisa bangkitin dalam diri kamu."

Aura menyentak bahunya, memaksa diri untuk berdiri dan menjauh beberapa langkah. Dia menatap Adrian dengan tatapan penuh kebencian. "Mas bener-bener sakit. Gavin itu adik kandung Mas! Gimana bisa Mas punya pikiran sebusuk ini?"

Adrian berdiri dengan tenang, tidak merasa terganggu sama sekali dengan makian Aura. Dia malah menyesap sisa wine di gelasnya dengan elegan, seolah-olah mereka hanya sedang membicarakan cuaca. "Dunia ini nggak seputih yang kamu kira, Aura. Gavin itu lemah. Dia hidup di bawah bayang-bayang saya sejak kecil. Segalanya yang dia punya-mobil yang dia pakai, posisi kerja yang dia dapet, bahkan rumah yang dia tempatin sekarang-semuanya karena saya. Jadi, jangan naif. Cepat atau lambat, dia juga bakal kehilangan kamu karena ketidakmampuannya sendiri."

"Aku bukan barang yang bisa Mas ambil begitu aja!"

"Bukan. Kamu bukan barang. Kamu adalah obsesi yang belum selesai," Adrian berjalan mendekat, langkahnya pelan tapi penuh intimidasi. "Dulu, waktu pertama kali Gavin ngenalin kamu sebagai pacarnya, saya udah tahu kalau kamu harusnya jadi milik saya. Saya cuma nunggu waktu yang tepat. Dan sekarang, waktu itu udah tiba."

Aura tidak tahan lagi. Dia berbalik dan lari menuju tangga. Dia mendaki anak tangga itu dua-dua, nyaris terjatuh karena gaun panjang yang dia pakai menghalangi langkahnya. Dia masuk ke kamarnya, membanting pintu, dan segera memutar kunci.

Klik.

Suara kunci itu memberikan sedikit rasa lega, meskipun dia tahu Adrian punya kunci cadangan untuk semua pintu di rumah ini. Aura merosot di balik pintu, memeluk lututnya, dan mulai terisak. Dia merasa sangat kotor, bahkan meski Adrian belum melakukan kontak fisik yang jauh. Dia merasa dikhianati oleh situasi. Gavin, suaminya yang seharusnya melindunginya, malah menyerahkannya bulat-bulat ke kandang singa ini.

Dia mencoba menghubungi ponsel Gavin lagi. Satu kali, dua kali, sepuluh kali. Tetap tidak aktif. Aura melempar ponselnya ke atas kasur dengan perasaan frustrasi. Dia kemudian beralih ke jendela besar di kamarnya, melihat ke arah gerbang depan. Di sana, dua orang penjaga bertubuh tegap berdiri dengan waspada. Dia benar-benar terpenjara.

Malam semakin larut. Suara hujan yang tadi sore menderu kini berganti menjadi gerimis tipis yang menciptakan suasana makin sunyi. Aura mencoba memejamkan mata di atas kasur yang luas itu, tapi setiap suara sekecil apapun di koridor luar membuatnya terjaga. Dia membayangkan Adrian sedang berdiri di depan pintunya, memperhatikannya lewat celah bawah pintu, atau mungkin lewat kamera tersembunyi yang dia curigai ada di sudut-sudut plafon.

Sekitar jam satu pagi, Aura mendengar suara langkah kaki di lorong. Langkah itu berat dan berwibawa. Berhenti tepat di depan kamarnya.

Jantung Aura seolah berhenti berdetak. Dia menahan napas, matanya terpaku pada gagang pintu. Pelan-pelan, gagang pintu itu bergerak turun. Seseorang mencoba membukanya dari luar.

Ceklek.

Pintu tidak terbuka karena masih terkunci. Hening sejenak. Aura berharap orang di luar sana akan pergi. Namun, harapannya pupus saat dia mendengar suara logam beradu-bunyi kunci cadangan yang dimasukkan ke lubangnya.

Pintu terbuka pelan. Cahaya dari lorong masuk membentuk garis panjang di lantai kamar. Sosok jangkung Adrian berdiri di sana, siluetnya tampak begitu mengancam. Dia tidak masuk, hanya berdiri di ambang pintu, menatap Aura yang duduk gemetar di tengah tempat tidur sambil memeluk selimut.

"Saya kan sudah bilang, jangan dikunci," suara Adrian datar, tapi mengandung kemarahan yang tertahan.

"Keluar, Mas! Tolong keluar!" teriak Aura histeris.

Adrian melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya tanpa menguncinya kembali. Dia berjalan menuju lampu meja di samping tempat tidur Aura dan menyalakannya. Cahaya remang-remang itu membuat wajahnya terlihat lebih lembut, tapi matanya tetap tajam seperti elang.

"Kenapa kamu harus mempersulit segalanya? Kamu cuma tinggal patuh, dan hidup kamu di sini bakal tenang. Semua kebutuhan kamu terpenuhi, keluarga kamu di rumah bakal aman, dan Gavin... dia bakal tetep punya karier yang bagus selama saya mau," Adrian duduk di tepi kasur, cukup dekat hingga Aura bisa mencium bau sabun mandinya yang maskulin.

Aura beringsut mundur sampai punggungnya menempel di kepala ranjang. "Mas ngancem aku? Mas mau pake keluarga aku buat maksa aku?"

Adrian tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Itu bukan ancaman, Aura. Itu kenyataan. Saya punya kuasa untuk ngebangun atau ngehancurin apa pun yang saya mau dalam sekejap. Termasuk masa depan suami kamu yang tercinta itu."

Adrian mengulurkan tangan, kali ini dia meraih tangan Aura yang menggenggam selimut. Dia menarik tangan itu dengan lembut tapi penuh tekanan, lalu mengecup telapak tangan Aura. Bibirnya terasa dingin dan basah, membuat Aura merinding ketakutan sekaligus merasa mual.

"Lepasin..." rintih Aura.

"Kamu tahu, Aura? Gavin selalu cerita gimana kamu itu perempuan yang paling murni yang pernah dia temuin. Dia bangga banget bisa nikahin kamu. Tapi dia nggak tahu kalau di balik kemurnian kamu, ada api yang cuma saya yang bisa liat."

Adrian mulai menunduk, wajahnya mendekat ke arah leher Aura. Aura bisa merasakan kumis tipis Adrian bergesekan dengan kulitnya yang sensitif. Dia ingin melawan, ingin menampar pria itu, tapi tubuhnya seolah lumpuh oleh rasa takut yang luar biasa. Dia sadar, di rumah ini, tidak ada yang akan datang menolongnya. Pelayan-pelayan di bawah sana adalah kaki tangan Adrian. Gavin sedang bermimpi indah di tempat lain, sama sekali tidak menyadari istrinya sedang dalam bahaya.

"Mas, aku mohon... jangan lakuin ini. Mas masih punya hati, kan?" tangis Aura pecah.

Adrian berhenti sejenak, menatap mata Aura yang basah oleh air mata. Dia mengusap air mata itu dengan ibu jarinya, gerakannya hampir terasa seperti orang yang sedang jatuh cinta jika saja situasinya berbeda.

"Hati saya udah lama mati, Aura. Yang ada sekarang cuma keinginan buat menang. Dan malam ini, saya nggak akan minta lebih. Saya cuma mau kamu sadar siapa yang punya kendali di sini."

Adrian tiba-tiba berdiri. Dia tidak melanjutkan aksinya lebih jauh, membuat Aura sedikit bingung sekaligus lega. Adrian berjalan menuju pintu, tapi sebelum keluar, dia menoleh kembali.

"Besok pagi, saya mau kamu sarapan sama saya di taman belakang. Tanpa penolakan. Pakai baju yang saya kirim tadi sore, yang belum sempat kamu pakai dengan benar. Kalau kamu nggak muncul... saya pastikan besok siang Gavin bakal dapet surat pemecatan dan ayah kamu bakal dapet tagihan hutang yang nggak akan sanggup dia bayar."

Tanpa menunggu jawaban, Adrian keluar dan menutup pintu. Aura jatuh tersungkur di atas bantal, terisak hingga suaranya serak. Dia merasa sedang ditarik ke dalam lumpur hisap. Semakin dia melawan, semakin dalam dia tenggelam.

Dia melihat ke arah jendela yang gelap. Malam itu terasa sangat panjang. Dia bertanya-tanya, apakah dia akan tetap menjadi Aura yang sama setelah semua ini berakhir, atau apakah dia justru akan hancur dan menjadi bagian dari koleksi pribadi Adrian Mahendra yang mengerikan. Satu hal yang pasti, hidupnya yang damai bersama Gavin sudah berakhir sejak mereka menginjakkan kaki di rumah ini.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO lumpuh itu, suamiku
9.5
Demi melunasi utang keluarganya, Rachel Martinique terpaksa menikahi seorang CEO lumpuh yang asing baginya. Kehidupan dokter bedah ini berubah drastis saat memasuki pernikahan tanpa cinta tersebut. Alih-alih kebahagiaan, ia justru disambut kebencian mendalam dari sang suami baru. Di tengah ketegangan dan ketidakpastian rumah tangga, akankah benih cinta perlahan tumbuh di antara mereka, ataukah takdir buruk yang akan menyudahi hubungan ini?
Sampul Novel Cinta Terlarang Sang Janda
8.7
CEO muda sukses, Rio Darmawan, merasa jenuh dengan tekanan perjodohan dari keluarganya yang terus-menerus. Ia selalu menolak calon pilihan orang tuanya karena tidak ada yang cocok. Namun, segalanya berubah saat ia terpikat oleh Denanda Kusuma, seorang ibu tunggal yang mandiri. Walau hubungan mereka ditentang keras oleh keluarga besar, Rio bertekad kuat memperjuangkan cintanya. Kini ia menghadapi pilihan sulit antara mengikuti kata hati atau tunduk pada tuntutan keluarga.
Sampul Novel Jodoh untuk Mas Duda
8.9
Kepergian Sari dua tahun lalu menyisakan sepi mendalam bagi seorang guru SD berusia 35 tahun. Di tengah kesederhanaan hidupnya, pria duda ini terus didesak oleh keluarga serta sahabat karib untuk segera mencari istri baru. Meski merasa hampa dan kesepian, ia masih didera keraguan besar. Hatinya belum sepenuhnya siap melepaskan masa lalu dan menyambut kehadiran sosok pendamping lain dalam lembaran hidupnya yang baru.
Sampul Novel My Absurd Ning
9.4
Zora Alifia adalah santriwati pembuat onar yang kerap memicu kekacauan di pesantren. Tingkah lakunya sering kali membuat sang sepupu, seorang Gus bernama Emir, merasa kewalahan. Meski berulang kali ditegur, sikap membangkang Zora justru memicu ketegangan di antara mereka. Demi mendisiplinkannya, Emir akhirnya melontarkan ancaman pernikahan. Tak disangka, gertakan tersebut berhasil mengubah Zora menjadi sosok yang jauh lebih rajin dan taat menjalani kehidupan di pondok.
Sampul Novel Pria Bajingan Itu Ayah Anakku
9.0
Demi amanat Yani, mendiang sahabatnya, Ninda rela mengubah jalan hidupnya untuk merawat Leon yang masih berumur empat tahun. Selebgram ini berjuang keras demi masa depan anak tersebut. Namun, kedamaian mereka terancam ketika Fino Vasikal Gantara, pria berkuasa sekaligus ayah biologis Leon, datang merebut hak asuh. Walau mendapat ancaman dari Fino, Ninda tetap bertahan demi memenuhi janjinya. Ia siap melawan kekuatan sang miliarder demi melindungi Leon.
Sampul Novel Scandal with CEO
9.0
Kehidupan Ashley Adam Brooklyn, gadis berusia 20 tahun, berubah drastis akibat skandal rumit dengan bosnya, Nicholas Smith. Kebencian mendalam Ashley justru memicu ketertarikan sang CEO kaya. Nicholas bertekad menjadikan gadis itu sebagai pemuas nafsunya, tetapi keteguhan Ashley sulit diruntuhkan. Demi menundukkannya, Nicholas mengulik kelemahan Ashley dan menjeratnya dalam sebuah kesepakatan gelap yang akan mengubah nasib mereka berdua selamanya.