APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Benih Sang Kakak Ipar

Benih Sang Kakak Ipar

Demi mengatasi masalah keuangan, Gavin memboyong istrinya, Aura, untuk menetap di kediaman sang kakak. Namun, keputusan ini justru menjerumuskan Aura ke dalam pusaran obsesi Adrian Mahendra. Sebagai konglomerat berhati dingin yang sangat berpengaruh, Adrian diam-diam mendamba adik iparnya tersebut. Lewat pengaruh dan taktik liciknya, Adrian mulai menyudutkan Aura, memaksanya goyah di antara komitmen pernikahan dan jerat pesona sang ipar yang kian sulit dihindari.
Bab
Bagikan

Bab 1

Hujan menderu di luar kaca jendela mobil, menyamarkan pemandangan Jakarta yang mulai lampu-lampunya mulai menyala. Aura menggenggam erat tali tas tangannya di pangkuan. Perasaannya tidak keruan. Di sampingnya, Gavin menyetir dengan senyum lebar yang tak kunjung hilang sejak mereka meninggalkan kontrakan kecil mereka tadi siang.

"Kamu bakal suka rumahnya, Ra. Aku janji. Mas Adrian itu orangnya memang kelihatan kaku, tapi dia baik banget. Dia nggak mau kita kesusahan di awal pernikahan kayak gini," suara Gavin terdengar begitu ringan, seolah beban hidup mereka baru saja diangkat ke langit.

Aura hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang dipaksakan agar suaminya tidak bertanya macam-macam. "Tapi, Vin... apa nggak sebaiknya kita mandiri dulu? Aku nggak enak kalau harus numpang di rumah kakak kamu. Apalagi kita baru nikah dua bulan."

Gavin tertawa kecil, tangan kirinya meraih jemari Aura dan mengecupnya singkat. "Ini bukan numpang, Sayang. Mas Adrian sendiri yang minta. Lagian, rumah sebesar itu cuma diisi dia sama pelayan, apa nggak sepi? Dia itu kakak kandungku, satu-satunya keluarga yang aku punya setelah Papa meninggal. Dia cuma mau jagain kita."

Jagain kita. Kata-kata itu terdengar seperti janji manis di telinga Gavin, tapi entah kenapa terasa seperti peringatan di telinga Aura. Aura teringat pertemuan singkatnya dengan Adrian Mahendra di hari pernikahan mereka. Pria itu berdiri tegak dengan setelan jas mahal yang tampak sangat pas di tubuh tegapnya. Matanya tajam, hitam pekat, dan saat mereka bersalaman, Adrian tidak melepaskan genggamannya sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Tatapannya waktu itu bukan tatapan seorang kakak ipar yang menyambut anggota keluarga baru, melainkan tatapan seorang predator yang baru saja menemukan mangsa yang menarik.

Mobil mewah Gavin-yang sebenarnya juga hadiah dari Adrian-berhenti di depan gerbang besi raksasa yang terbuka otomatis. Sebuah rumah mewah bergaya modern minimalis berdiri angkuh di hadapan mereka. Dinding-dinding kaca setinggi plafon memperlihatkan pencahayaan kuning hangat di dalamnya, tapi bagi Aura, rumah itu tampak seperti sangkar emas yang dingin.

Begitu mereka turun, beberapa pelayan berseragam rapi langsung menyambut, mengambil alih koper-koper mereka dengan cekatan. Di tengah lobi yang luas dengan lantai marmer yang mengkilap, sosok itu sudah menunggu.

Adrian Mahendra berdiri dengan tangan terbenam di saku celana kainnya. Ia hanya mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, menonjolkan urat-urat di tangannya yang kuat.

"Selamat datang di rumah," suara Adrian berat dan berwibawa, menggema di ruangan yang luas itu.

Gavin langsung menghampiri kakaknya dan memeluknya singkat. "Mas! Makasih banyak ya, maaf kalau kita ngerepotin."

"Nggak pernah repot buat adik sendiri, Vin," jawab Adrian, tapi matanya tidak menatap Gavin. Matanya tertuju lurus pada Aura yang masih berdiri mematung di dekat pintu. "Aura, kenapa masih di sana? Sini."

Aura melangkah mendekat, merasa kakinya sedikit lemas. "Halo, Mas Adrian. Terima kasih sudah mengizinkan kami tinggal di sini."

Adrian maju selangkah, memperpendek jarak di antara mereka hingga Aura bisa mencium aroma parfum maskulin yang tajam dan mahal-campuran antara kayu cendana dan tembakau. Adrian mengulurkan tangan, menyentuh bahu Aura pelan, lalu turun ke lengannya. Sentuhannya terasa panas di kulit Aura yang dingin.

"Mulai sekarang, ini rumah kamu juga. Apapun yang kamu butuhin, bilang sama saya. Jangan sungkan," ucap Adrian dengan nada yang rendah, hampir seperti bisikan yang hanya ditujukan untuknya.

Malam itu, setelah makan malam yang terasa kaku bagi Aura namun sangat akrab bagi kedua kakak beradik itu, Gavin langsung tertidur pulas karena kelelahan pindahan. Namun Aura tidak bisa memejamkan mata. Ia merasa asing dengan tempat tidur yang terlalu empuk dan bantal bulu angsa yang terlalu mewah.

Aura memutuskan untuk turun ke dapur, berharap segelas air putih bisa menenangkan sarafnya yang tegang. Ia berjalan berjinjit, tidak ingin membangunkan siapapun. Rumah itu terasa sangat sunyi, hanya ada suara detak jam dinding yang megah.

Saat ia sampai di area dapur bersih, ia terlonjak kaget. Seseorang sedang duduk di sana, di balik meja bar yang gelap, hanya diterangi oleh lampu kecil di sudut ruangan.

Itu Adrian. Ia sedang menyesap sesuatu dari gelas kristal.

"Nggak bisa tidur?" tanya Adrian tanpa menoleh, seolah dia sudah tahu Aura akan datang.

"Iya, Mas. Masih... adaptasi," jawab Aura gugup. Ia berjalan menuju dispenser, mengisi gelasnya dengan air. Saat ia hendak berbalik untuk kembali ke atas, langkahnya terhenti karena Adrian sudah berdiri tepat di belakangnya.

Aura hampir saja menabrak dada bidang pria itu. Bau alkohol samar tercium dari napas Adrian.

"Gavin orangnya gampang tidur. Dia nggak sadar kalau istrinya lagi gelisah, ya?" Adrian menunduk, wajahnya begitu dekat hingga Aura bisa merasakan deru napasnya di keningnya.

"Gavin cuma capek, Mas," bela Aura, suaranya sedikit bergetar. Ia mencoba melangkah ke samping, tapi Adrian meletakkan kedua tangannya di pinggiran meja bar, mengunci tubuh Aura di antaranya.

Aura mendongak, matanya bertemu dengan mata Adrian yang gelap dan intens. Tidak ada keramahan di sana. Yang ada hanyalah ambisi yang telanjang.

"Kamu terlalu cantik untuk diabaikan, Aura. Gavin mungkin nggak tahu cara memperlakukan permata, tapi saya tahu."

Jantung Aura berdegup kencang, antara takut dan sebuah perasaan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tangan Adrian terangkat, jemarinya yang kasar membelai pipi Aura dengan sangat lembut, sebelum turun ke lehernya.

"Mas... jangan. Aku istri adik kamu," bisik Aura, suaranya nyaris hilang.

Adrian terkekeh pelan, suara yang terdengar berbahaya di tengah kegelapan malam. "Justru karena kamu istri adik saya, kamu jadi tanggung jawab saya sekarang. Segalanya tentang kamu... adalah urusan saya."

Adrian melepaskan kunciannya dan kembali mengambil gelasnya, seolah interaksi barusan tidak pernah terjadi. "Tidur lah. Besok hari yang panjang. Dan satu lagi, Aura... jangan pernah berpikir untuk mengadu pada Gavin. Dia nggak akan percaya kakaknya yang 'baik' ini punya pikiran kotor tentang istrinya."

Aura lari kembali ke kamar dengan napas tersengal. Ia masuk ke bawah selimut, memeluk Gavin yang masih terlelap. Namun, bayangan tatapan Adrian dan sentuhan tangannya di leher Aura seolah menempel permanen. Aura sadar, kepindahan ini bukan awal dari hidup baru yang bahagia, melainkan awal dari permainan kucing dan tikus yang sangat berbahaya. Di rumah ini, Adrian adalah rajanya, dan Aura baru saja menyerahkan diri masuk ke dalam kandangnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Beda Usia
9.8
Mengisahkan kehidupan seorang janda yang mendadak berubah pada suatu malam. Saat terbangun dalam kondisi setengah sadar untuk pergi ke kamar mandi, langkahnya terhenti di depan kamar anak laki-lakinya yang telah menginjak usia 18 tahun. Pintu kamar tersebut tampak sedikit terbuka, menyisakan celah kecil. Dari dalam ruangan itu, ia sayup-sayup mendengar suara napas yang terengah-engah, memicu rasa ingin tahu sekaligus kecemasan mendalam tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Sampul Novel Dikhianati Manager Diperjuangkan Dokter
9.4
Winda menemukan bukti mengejutkan yang memicu kecurigaan bahwa suaminya menjalin hubungan gelap dengan ibu kandungnya sendiri. Namun, saat ia mencoba membongkar skandal tersebut, sebuah pengakuan tak terduga dari sang suami justru mematahkan semua dugaannya. Teka-teki mengenai sosok selingkuhan yang sebenarnya pun mulai terkuak. Sanggupkah Winda menghadapi kenyataan pahit ini? Akankah ia memaafkan pengkhianatan itu atau justru memilih melabuhkan hatinya pada sosok lain?
Sampul Novel Hakikat cinta yang kau nodai
9.1
Delapan tahun Hana bersabar memaafkan perselingkuhan Devan yang terus berulang, hingga akhirnya ia memilih bercerai. Di tengah kepedihan, muncul Rama, pewaris saleh dari Abimana Group yang membawa ketenangan. Namun, hubungan mereka terbentur status janda dua anak yang disandang Hana dan ketatnya hierarki bisnis keluarga Rama. Akankah anak-anak Hana menerima kehadiran Rama, atau justru Devan yang kembali datang mengejar mantan istrinya?
Sampul Novel Pengantin SMA
8.4
Akibat tertangkap basah berduaan di kamar, Laura dan Kavin terpaksa menikah muda di masa SMA demi menuruti kemauan keluarga. Di balik perbedaan sifat yang kontras, kehidupan pernikahan ternyata sangat rumit bagi emosi labil remaja mereka. Meski sama-sama mendambakan perceraian, keduanya belum cukup berdaya untuk berpisah. Sambil menanti momen itu tiba, mampukah pasangan muda ini bertahan dan menjaga kewarasan saat harus hidup bersama?
Sampul Novel Rahasia Suami Adik
8.1
Tiga tahun berpacaran berakhir sia-sia bagi Viany tepat sehari sebelum pertunangan. Usai menemukan bukti transaksi prostitusi di ponsel calon suaminya, ia langsung pergi membawa koper malam itu juga tanpa keributan. Setelah sempat hidup mengembara hingga tubuhnya menjadi sangat kurus, Evelyn, sahabat baiknya, merasa iba dan mengajaknya tinggal bersama. Namun, keputusan tersebut justru memulai kehidupan baru yang canggung, hingga akhirnya Viany melakukan sesuatu yang menyakiti adiknya.
Sampul Novel Silent Wounds
9.1
Akibat trauma masa lalu, Nala Olivia kehilangan suaranya dan memilih hidup dalam kesunyian demi menyembunyikan luka. Namun, ketenangannya hancur saat Aska Faresta, pria yang menjadi sumber kepedihannya, tiba-tiba hadir kembali. Bukannya menjauh, Aska justru murka melihat kondisi bisu Nala, memicu tanda tanya akan kepeduliannya. Keadaan semakin kacau ketika Aska membawanya pulang dan nekat mengakui Nala sebagai istrinya di hadapan sang ibu. Kini, Nala harus mencari cara meluruskan kebohongan rumit ini.