APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Belenggu Mantan

Belenggu Mantan

Nasib Diandra berbalik total setelah dipaksa menikah dengan Dave Airlangga, pewaris tunggal Aerles Corporation. Sayangnya, prahara akibat salah paham fatal merusak pernikahan mereka hingga berujung perceraian. Di antara luka ego dan bayang-bayang masa lalu yang belum usai, mampukah mereka berdua mengatasi keretakan yang ada? Ikuti kisah emosional perjuangan mereka dalam menyatukan kembali puing-puing rumah tangga yang sempat hancur.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Memalukan!"

Gebrakan meja membuat suasana di ruang kerja itu semakin menegangkan. Adrian Airlangga, seorang yang kaku dan otoriter telah menerima kabar tentang kelakuan sang putra.

"Kamu tau, kan, jika melanggar peraturan?"

Dave menatap tajam sang ayah. Tangannya mengepal. Di lubuk hatinya, Dave mengutuk diri, bagaimana bisa dia seceroboh ini?

Dave tahu bagaimana konsekuensi jika melanggar aturan yang dibuat sang ayah. Jadi, di ruangan itu, Dave hanya bisa pasrah.

"Pa, udah. Orang tuanya udah datang." Mata Agatha menyiratkan ketegangan. Dilihatnya Dave sekilas, rasanya sangat tidak tega dengan putranya itu.

Adrian bergegas ke ruang tamu. Seorang wanita berpakaian lusuh duduk sambil meremas kedua jarinya.

Saat Adrian datang, dia segera memberi hormat.

"Sebelumnya, saya minta maaf. Saya baru mendengar berita itu pagi ini. Saya di sini tidak menyalahkan putra Bapak, bisa jadi semua juga ada andil dari putri saya."

Terlihat wajah Agatha begitu menegang, ada perasaan tidak tega. Ingin dia menjelaskan, tapi sang suami melarangnya.

"Pak, dengan segala hormat, saya ingin masalah ini sampai di sini saja."

Adrian yang akan berkata lain, sungguh tersentak dengan penuturan sang wanita itu.

"Bu, apa Anda berpikir jika keluarga kami adalah keluarga yang tidak menjunjung tinggi kemanusiaan? Bukan seperti ini kemauan kami. Kami akan bertanggung jawab."

Dave terperangah. Apa yang dimaksud tanggung jawab? Kenapa ayahnya berkata demikian? Bukankah tidak terjadi apa-apa? Dave juga tidak mengenal wanita itu.

"Saya mengundang Anda ke rumah kami untuk membicarakan pernikahan anak kita."

Mata yang menyorot tajam itu dapat dilihat keterkejutannya. Belum lagi masalah perusahaan, dia juga harus menikah. Mau membantah, Dave sudah berjanji dan akan menerima segala konsekuensinya.

"Dave akan menerima pernikahan ini, iya, kan, Dave? Kita harus membicarakan ini lebih lanjut."

Terlihat wanita tua itu kebingungan. Tapi ini adalah keluarga Airlangga, mereka tidak bisa dibantah.

"Setelah ini kita bicara lagi, Dave! Kita belum selesai!"

**

Dave kembali ke ruang kerja sang ayah. Yang awalnya tadi dia masih menerima hukuman atas perbuatannya, tapi untuk kali ini, Dave tidak terima.

Oke, dia akan kembali ke perusahaan dan mengurusnya, tapi untuk menikah, ini berlebihan. Dave harus menolaknya.

"Aku nggak bisa, Pa."

"Keluarga Airlangga mendidik keturunan mereka untuk bertanggung jawab, Dave! Bukan melarikan diri!"

"Tidak terjadi apa-apa!" Dave meremas rambutnya. Dia ingin mengatakan yang sejujurnya, tapi rasa malu itu lebih mendominasi.

"Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri."

"Bahkan aku tidak mengenalnya."

Adrian mengembuskan napas berat. "Ini pelajaran buat kamu lain kali. Jangan pernah bermain dengan wanita!"

Dave tidak bergeming.

"Media sudah dibungkam, tapi Papa nggak jamin kalau wanita itu tetap akan tutup mulut."

Tangan Dave mengepal. Matanya menyorot tajam. Dendam dalam dirinya begitu berkobar.

Karena wanita itu, cita-citanya terkubur. Menjadi musisi dan belajar musik ke London adalah keinginannya dari dulu. Tapi satu kesalahan membuat Dave harus merelakan semuanya.

Berjalan bagai serigala yang akan mengincar buruan, Dave tahu ke mana dia harus pergi. Dia sudah tahu data diri perempuan itu dari sang ayah. Dia harus membicarakan ini padanya.

**

Pukul sepuluh malam, cafe tempat Diandra bekerja telah tutup. Gadis itu bersiap akan pulang.

Tadi sore, Tasya harus kembali lebih dulu karena shift-nya telah selesai. Sedangkan Diandra, harus bekerja sampai malam karena ini gilirannya.

Diandra sebenarnya sangat tidak nyaman harus pulang malam karena halte di sekitar situ terkadang sepi. Tapi Diandra lebih tergoda dengan bonus yang diterima jika dia lembur.

Gadis itu berjalan menuju halte dengan langkah cepat. Sial, malam ini dia harus menunggu bus sendiri.

Diandra meremas tangannya dan berharap ada orang lain di sini menunggu bus. Tapi sudah sepuluh menit dan Diandra hanya sendiri.

Tiba-tiba, seorang laki-laki datang dari arah belakang. Dia duduk begitu saja di samping Diandra. Embusan napasnya membuat bulu kuduk Diandra semakin meremang. Dia tahu aroma parfum ini. Tamat! Dalam hati, Diandra merutuki nasibnya.

Melirik ke samping dengan perlahan, Diandra memastikan dugaannya dan ternyata memang dia. Tangannya gemetar, dan saat dia akan lari, tangan yang lebih besar darinya itu menarik kembali dan membuat Diandra duduk.

"Jangan pernah lari!"

Pria itu menatap lurus ke depan sambil menggenggam erat lengan Diandra.

"Kita harus meluruskan ini."

Diandra diam dan menunduk. Tidak ada keberanian untuk melihat wajah laki-laki itu.

"Bukankah tidak ada yang memaksamu saat itu?"

Diandra semakin menunduk. Bukan hanya tangannya saja yang gemetar, tapi seluruh badannya juga menggigil.

"Kamu juga kebetulan di tempat itu, kan?"

"Sadar dirilah! Semua yang ada di tempat itu berjiwa bebas. Kamu menggoda dan aku menerima, bukankah itu adil!" Suara tegas itu menusuk hingga jantung Diandra.

Melihat perempuan itu diam saja, Dave menarik tangan Diandra sehingga mereka saling berhadapan.

"Batalkan pernikahan itu!"

Diandra gemetar. Tapi, dia telah berjanji. Tidak mungkin dia mengingkari.

Diandra menggeleng. "Ti-tidak."

Dave memiringkan kepalanya, mencerna setiap huruf yang keluar dari mulut Diandra.

Geram. Pria itu meremas dagu Diandra hingga gadis itu terpekik.

"Jadi, mau coba-coba. Mau masuk keluarga Airlangga dengan mudah?"

Diandra terus memejamkan matanya, yang terpenting tidak melihat tatapan yang mengerikan itu.

"Oke. Kalau kamu mau uji nyali denganku!" Dave semakin meremas dagu Diandra dengan kuat.

"Jangan pernah bisa lari setelah kamu masuk!"

Dave melepaskan tangannya. Dia pergi begitu saja meninggalkan Diandra yang masih gemetar hebat.

Mengatur napas dan meraup udara sebanyak-banyaknya, Diandra berusaha mencari air minum di tasnya. Kejadian tadi membuatnya syok. Tidak disangka jika tuan muda Airlangga begitu kejam. Parahnya, dia akan menjadi suaminya kelak. Diandra ingin menyerah saja, tapi tidak mungkin. Dia harus tetap maju.

**

Pernikahan itu pun tiba. Tidak ada kerabat atau sanak saudara yang hadir. Hanya keluarga inti saja.

Ayah dan ibu Dave, juga adik perempuannya.

Biar bagaimanapun, pernikahan itu adalah neraka bagi Diandra. Sang ibu yang tahu kejadian sebenarnya, menolak untuk hadir. Jadi, Diandra hanya sendiri. Tanpa siapa pun mendampingi di acara sakralnya.

Acara pemberkatan selesai, dan Diandra, dianggap Dave hanya sebuah manekin, tidak ada interaksi sama sekali di antara mereka.

Begitu acara selesai, Dave pergi begitu saja, meninggalkan Diandra berhari-hari di apartemennya tanpa kejelasan.

Sehari, dua hari, hingga satu Minggu Dave tidak datang menemuinya. Entah harus bereaksi seperti apa, Diandra pun bingung.

Istri? Apa benar dia pantas disebut istri? Bahkan Dave tidak mengajaknya bicara sama sekali.

Hingga pukul dua dini hari, Diandra belum bisa memejamkan matanya. Mencoba menunggu Dave, siapa tahu malam ini dia akan pulang.

Pucuk dicinta, lima menit berselang, pintu kamar dibuka, Dave datang dengan wajah kusut dan terlihat pucat, apalagi aroma badannya sangat menyengat karena alkohol.

"Mau makan, Dave?" Diandra berusaha bicara. Tapi Dave bungkam.

"Atau mau mandi pakai air hangat?" Biar bagaimanapun Dave suaminya. Dia harus menaruh hormat.

Dave duduk di sofa, mengamati Diandra yang duduk di atas ranjang.

"Oke, kita perjelas di sini."

Tatapan Dave membuat Diandra bergidik.

"Hubungan kita hanya sebatas simbiosis mutualisme saja. Aku berikan apa yang kamu mau, uang, liburan, barang mewah. Dan kamu bertindak sebagai pemuasku. Tidak lebih dan jangan meminta lebih!"

Terperangah, Diandra tidak bisa membantah, meskipun dalam perjanjian bukan seperti ini.

"Sekarang, lepas baju kamu!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A MAN IN A TUXEDO
9.7
Psikiater muda bernama Auristela Indira menghadapi tantangan besar saat merawat Vincent Oliver. CEO penyiaran ini menderita Anterograde Amnesia akibat kecelakaan tragis. Demi tugasnya, Stela menyamar sebagai sekretaris sekaligus pengawal pribadi. Situasi rumit saat ia diminta menikahi Vincent, pria yang ingatannya hanya bertahan satu hari. Di sisi lain, misteri kecelakaan Vincent dan hilangnya sang calon tunangan sebelum pernikahan masih menjadi teka-teki besar.
Sampul Novel CEO Iblis Azhar
9.3
Citra didera pergolakan batin yang hebat. Di satu sisi, ia membenci kekejaman Azhar, namun di sisi lain, ketakutan kehilangan pria itu merayap saat rasa cinta mulai bersemi. Azhar sendiri awalnya hanya berniat memperbudak Citra demi memuaskan hasratnya. Namun lambat laun, naluri untuk melindungi wanita itu justru menguasai dirinya. Hubungan yang sarat akan luka ini pun berkembang menjadi ikatan rumit, membuktikan hadirnya rasa yang tepat di waktu yang salah.
Sampul Novel Dendam Mengubur Cinta
8.8
Setelah tujuh tahun bersama, aku meninggalkan Deon saat dia dipenjara demi bersama sahabatnya. Begitu bebas dan sukses kembali, Deon memaksaku menikah sebagai bentuk balas dendam. Di balik citra pernikahan yang harmonis, dia menyiksa batin dengan membawa wanita lain—termasuk adik kandungku—ke ranjang kami. Deon tidak pernah tahu bahwa demi membersihkan namanya, aku rela menyusup ke sarang mafia hingga kehilangan ginjal dan setengah hatiku. Kini, waktuku untuk bertahan hidup hampir habis.
Sampul Novel Karier Magang Putri Presdir
8.6
Hari pertama magang langsung berubah menjadi drama kantor yang kacau. Rekan kerja baru dengan percaya diri mengeklaim dirinya sebagai putri presdir, memicu aksi penjilatan dari semua staf. Sementara itu, sang protagonis justru difitnah kejam sebagai selingkuhan seorang pria tua. Merasa sangat kesal dengan tuduhan palsu tersebut, ia langsung menelepon sang presdir—yang sebenarnya adalah ayah kandungnya sendiri—untuk melaporkan situasi tidak adil ini.
Sampul Novel Melody Cinta Tuan Muda
8.9
Tindakan tulus Melody saat menolong seorang kakek dari upaya bunuh diri justru membawanya masuk ke lingkaran dinasti bisnis raksasa. Di tengah keluarga konglomerat ini, ia menyaksikan perebutan takhta yang penuh kelicikan. Sagara, sang pewaris sah sekaligus cucu kakek tersebut, menjadi target manipulasi anggota keluarga lain karena kepribadiannya yang sangat lugu. Kini, Melody terjebak dalam pusaran intrik perebutan harta dan konspirasi kejam demi menguasai perusahaan.
Sampul Novel Menunggu Perceraian yang Dinantikan
9.0
Keputusan berpisah diambil sang istri setelah Navish, suaminya, lebih memilih mengantar obat flu untuk sang asisten saat dirinya terjebak di lift dalam kondisi klaustrofobia. Menganggap istrinya hanya merajuk karena sebatang kara, Navish menandatangani berkas cerai dengan penuh percaya diri, yakin masa tunggu 30 hari akan membuatnya memohon kembali. Di tengah pamer kemesraan Navish dengan asistennya di media sosial, sang istri justru diam-diam mengemasi barang dan bersiap terbang ke New York.