APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Beauty and The Mafia

Beauty and The Mafia

Rosetta Alighieri diculik oleh Marco Botticelli, seorang mafia kejam, setelah difitnah oleh kembarannya sendiri, Caritta, mencuri kalung pusaka pria itu. Di tengah sekapan bahaya, perasaan cinta yang tak terduga justru bersemi di antara korban dan sang penculik. Saat Marco menawarkan hubungan serius, Rosetta pun didera dilema besar. Haruskah ia menerima cinta sang kriminal dan terjun ke dunia gelap penuh risiko demi perasaan yang kian tumbuh?
Bab
Bagikan

Bab 3

“Kembaliannya, Nona Alighieri.”

“Terima kasih, Nyonya Moretti.”

Rosetta menyunggingkan senyumnya sesaat sebelum menerima beberapa lembar pecahan euro dari si kasir dan memasukkannya ke dalam dompet. Dia beranjak ke samping—membiarkan pengunjung selanjutnya maju, lantas bergegas melangkah keluar. Wanita itu menenteng tiga kantong belanjaan yang berisi stok bahan makanan untuk dua minggu berikutnya.

Senandung lagu lawas pun mengalun dari mulut Rosetta di perjalanan pulang. Dia mendendangkan nyanyian salah satu grup musik favoritnya dan mengambil rute melalui jalan pintas. Sesuatu yang biasa wanita itu lakukan untuk membunuh rasa takut di antara minimnya pencahayaan pada gang sempit yang akan dia lalui.

Rosetta melenggang tanpa memedulikan suasana yang kian lama kian redup di sekitarnya. Situasi temaram itu menyambutnya di tengah-tengah lorong dan membuat Rosetta berhenti sejenak untuk mendongakkan kepala—menatap langit, kemudian menyadari sore sudah hadir. Sapuan warna oranye lembut yang mencair di ujung horizon seketika turun menggerus hatinya.

“Mengapa waktu cepat sekali berlalu?” bisik Rosetta sambil menyoroti gradasi yang familier di atas sana.

Sebelum Rosetta mampu meneruskan perjalanan lagi, sesuatu dari arah berlawanan datang mengepungnya. Gerombolan para pria dengan model pakaian yang sama—jas serba hitam dan topi fedora, lengkap bersama cerutu yang menyala pada dua dari lima sosok. Mereka berdiri rapat menghalangi akses untuk lewat.

“Si-siapa kalian?” desis Rosetta yang tanpa sengaja menjatuhkan benda yang sedang dijinjingnya.

Semua barang itu sontak terhambur keluar—tercecer di antara tanah lembap sisa hujan tadi malam, sebagiannya bahkan ikut terinjak oleh Rosetta yang bermaksud mundur memperlebar jarak. Kedua lututnya mendadak gemetar, sementara degup jantung wanita itu memburu. Dia berbalik—berniat untuk lari, tetapi terlambat.

Dua orang lainnya sudah muncul di belakang Rosetta. Mereka menutup seluruh celah agar dia terkurung tanpa kesempatan sedikit pun untuk lolos dari perangkap. Sukses membawa ‘buruan’ itu ke hadapan Marco atau kehilangan satu-dua jari sebab gagal menyelesaikan misi menjadi konsekuensi yang mustahil boleh ditawar.

“Ringkus dia!” seru salah satu dari mereka.

Sejumlah pria asing itu langsung merangsek maju—menangkap Rosetta yang meronta-ronta dengan kuat, demi kebebasan. Perlawanannya terhenti dua menit kemudian sesaat setelah seseorang memukul tengkuknya dan membuat Rosetta jatuh pingsan. Dia diboyong ke suatu tempat yang jauh dari kawasan pusat kota.

Rosetta mulai sadar selepas hari berganti menjadi larut dan bulan tergelincir penuh di balik bukit yang menjorok ke selatan. Sekujur tubuhnya terasa kaku. Sepasang pergelangan tangannya dikekang oleh seutas tali yang otomatis membatasi ruang gerak wanita itu untuk bangkit.

Pandangan Rosetta pun ditutup dengan sehelai kain yang terpasang di matanya. Dia menoleh ke samping—mencoba menajamkan indra pendengaran, beradaptasi pada kebutaan sementaranya. Terpenjara dalam ketidakberdayaan yang membelenggu cukup lama hingga bunyi decit itu muncul melalui sisi kiri.

Nada yang hanya dapat dihasilkan dari gesekan antara lantai dan tumit sepatu. Derap langkah tersebut mendekat pada Rosetta yang menjengit—bertanya-tanya dalam ketidakpastian, siapa orang yang tega menculik dan menyekapnya? Pikiran buruk menghantui wanita itu dengan segera.

‘Apa aku akan dibunuh?’ batin Rosetta. Habislah, sesalnya. Dia akan kehilangan kesempatan untuk bernapas dan berakhir tragis di tangan orang asing—mengutuki nasib pun tiada gunanya lagi, kecuali pada takdir yang memang selalu ingin melihat dirinya celaka.

“Si-siapa itu? Siapa kau?”

Gerakan kaki yang semula mengentak kaku itu serta-merta terhenti dan menciptakan kesunyian panjang yang mengerikan. Rosetta membeku di posisinya—gagal menelan habis segenap kecemasan yang menggantungi punggungnya, dia lagi-lagi menggigil. Tremor itu berpindah ke sekujur tubuhnya yang mengejang oleh rasa gugup.

“Mengapa kau menangkapku? Apa salahku?”

Tawa hambar itu spontan berderai di udara. Suara maskulin. Berat dan dalam—lambang dari mimpi buruk, fenomena yang selalu Rosetta alami dalam tidurnya. Apa sesuatu itu mampu menjelma sebagai sosok yang nyata di depannya sekarang?

“Me-mengapa kau justru menertawakanku?”

Keheningan kembali membentang di antara mereka. Rosetta menjilat bibir—berjuang untuk menghalau seribu kegelisahan yang terbit memeluknya, diam-diam menyimpan harap agar dapat melarikan diri. Dia harus tetap tenang, bukan?

“Apa itu lelucon, Leah?”

“Leah?” ulang Rosetta yang keningnya seketika mengernyit bingung.

“Berhentilah berlagak bodoh dan kembalikan benda yang sudah kau curi!” bentak Marco yang kelewat jengkel pada sikap sok polos wanita itu.

“Mengapa kau menuduh—”

“Kubilang, berhentilah berpura-pura dan katakan di mana kau menyimpannya.”

“Teta—”

“Jika kau masih sayang dengan nyawamu, maka akan lebih bijak untuk mengembalikannya padaku sekarang.”

“Tung-tunggu, aku tidak pernah mengambil barang milik orang lain.”

“Benarkah? Jadi, kau lebih suka mengakuinya dengan caraku?”

Kepala Rosetta lagi-lagi terteleng ke samping. Dia berusaha untuk duduk dengan nyaman. Namun, kondisi itu membuatnya sulit bergerak dan hanya sanggup berbaring miring di sana. Menunggu Marco mendampratnya lagi.

“A-aku tidak mengerti maksudmu.”

“Cukup main-mainnya, Leah. Aku memberimu satu kesempatan terakhir. Kembalikan kalungku atau akan kubuat kau menyesal karena pernah berurusan dengan Marco Botticelli.”

“Mar-Marco Botticelli?” eja Rosetta yang masih terbata-bata.

Keluarga Botticelli.

Sang mafia.

Berdarah dingin.

Kejam.

Tanpa belas kasih.

Terkenal di seantero Puglia oleh reputasi kotornya. Spesialis kriminal dengan sindikat kejahatan terorganisasi dalam bisnis narkotika, penyeludupan senjata, penyuapan para politisi sampai perdagangan manusia ke negara-negara Timur Tengah. Tiada satu pun orang waras yang sudi mengenal pria seperti Marco.

Namun, di sana lah Rosetta berada sekarang. Terjebak dalam kesalahpahaman yang membuatnya terancam untuk dilenyapkan tanpa mampu melakukan pembelaan bagi dirinya. Apa dia juga harus menghitung sisa usianya sendiri atas keputusasaan yang menderanya?

“Demi Tuhan, aku tidak pernah mencuri—”

“Nyalimu cukup besar, eh? Kau berani menyangkalku.”

Tremor di punggung Rosetta sontak kembali—jauh lebih hebat dari sebelumnya, tanpa sanggup dikendalikan lagi. Dia mendadak kehilangan kontrol atas tubuhnya. Isak tangis wanita itu pun pecah dan membasahi kain yang membungkus alat penglihatannya.

“Aku bukan Leah. Aku juga bukan pencuri,” gumam Rosetta dengan artikulasi yang kurang tepat karena guncangan syok di dadanya.

“Aku benci penipu licik sepertimu!” hardik Marco yang kemudian menarik leher Rosetta ke atas agar mendongak selaras ke wajahnya.

Teriakan Rosetta refleks menggema dan membangkitkan emosi lain pada Marco yang masih mengunci tatapan dengan sorot mata kejinya. Dia menggertakkan gigi, lantas mengumpat dalam rasio desibel yang lebih tinggi. Berhasil menciptakan kekacauan lain di sepasang kaki jenjang wanita itu.

Rok pias milik Rosetta mendadak tersingkap naik seiring dengan gerakan acak yang dia buat untuk melepaskan diri dari cengkeraman Marco. Tanpa sadar mengundang hasrat liar sekaligus sumber bencana baru bagi dirinya sendiri. Sesuatu yang membuat Rosetta ingin menyumpahi pria laknat di hadapannya.

“Aku akan melelangmu ke Syria lusa, tetapi sebelum itu terwujud kau harus menjadi pelacurku sekali lagi.”

***

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Lain Hanyalah Tamu
8.7
Tujuh kali menikah dan diceraikan oleh pria yang sama demi wanita lain membuat perasaan wanita ini mati rasa. Dari mencoba mengakhiri hidup hingga belajar pergi tanpa suara, ia telah melewati semua kepedihan. Kini, saat kekasih lama suaminya kembali, ia memilih menyodorkan surat cerai atas inisiatif sendiri. Sang suami mengira ini hanyalah bagian dari siklus pernikahan kembali yang biasa mereka lakukan, tanpa menyadari bahwa kali ini istrinya benar-benar pergi selamanya.
Sampul Novel Camelia Sinesis
8.3
Pertemuan Jean dan Camila pada tahun 1941 membawa kehangatan baru bagi Jean, seorang mantan narapidana kasus pembunuhan. Camila, janda dari pria Belanda, menerima kehadiran Jean dengan tulus hingga pria itu merasa dihargai lagi. Namun, sebuah rahasia gelap tersimpan rapat: korban pembunuhan Jean sebenarnya adalah mantan suami Camila. Ketika kebenaran akhirnya terkuak, segalanya telah berubah rumit. Jean terlanjur mencintai Camila, sementara Camila telanjur menganggap Jean sebagai figur ayah terbaik bagi anak-anaknya.
Sampul Novel Kill Me, Love Me
9.4
Fajar, bos perusahaan teknologi, menyembunyikan rahasia besar tentang kepribadian gandanya. Walau ia sudah bertunangan dengan Mariska, hanya Indira yang tahu kondisi medis ini. Kedekatan intens membuat benih asmara tumbuh rumit, apalagi ketiga kepribadian Fajar malah jatuh cinta pada Indira. Di tengah pusaran konflik batin yang membingungkan, mampukah Indira menyembuhkan jiwa Fajar? Kepribadian mana yang akhirnya akan dipilih oleh hati Fajar?
Sampul Novel Luka Sang Bidadari
8.8
Kehancuran keluarga akibat perselingkuhan sang ayah meninggalkan trauma mendalam bagi Alina Dzakiya. Kehadiran Raka, sahabat yang kini menjadi suaminya, sempat menjadi penawar luka tersebut. Namun, saat Alina tengah mengandung anak pertama mereka, pengkhianatan yang sama justru dilakukan oleh Raka. Kepercayaannya pun kembali hancur. Kini Alina dihadapkan pada pilihan sulit: mempertahankan pernikahan atau menyerah pada nasib kelam yang dahulu dialami ibunya.
Sampul Novel Pernikahan Dingin yang Membara
8.7
Karier gemilang Aria seketika terguncang setelah malam penuh gairah bersama Raka, yang ternyata adalah CEO di tempatnya bekerja. Pengkhianatan ini terasa kian menyakitkan saat manipulasi licik Mira memicu kesalahpahaman besar di antara mereka. Dibakar api cemburu akibat dugaan perselingkuhan Raka, Aria yang terluka kini menyusun rencana balas dendam yang sangat berisiko. Ambisi dan rasa sakitnya siap menghancurkan seluruh karier sang CEO.
Sampul Novel Terjerat Cinta Papa Bujang
9.1
Sera ditarik paksa oleh Sehan menuju balkon sesaat setelah mereka meninggalkan kamar Aydan. Meski Sera memohon agar dilepaskan dan bersedia gajinya dipotong untuk menyelesaikan persoalan, Sehan menolak keras solusi uang itu. Ia justru menuntut pelayanan pribadi dari Sera sebagai gantinya. Terkejut dengan tuntutan tersebut, Sera menolak dengan tegas dan menekankan bahwa ia bukanlah wanita simpanan. Ketegangan hebat pun kini menyelimuti keduanya.