APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bayangan Kematian: Kutukan Tiga Roh

Bayangan Kematian: Kutukan Tiga Roh

Kehidupan mewah Aurelia, anak tunggal seorang konglomerat, hancur seketika setelah ia terlibat kecelakaan fatal. Remaja lima belas tahun ini melarikan diri usai menabrak tiga pengendara motor hingga tewas demi menghindari hukum. Namun, keputusan egois tersebut justru memicu petaka gaib. Kini, tiga arwah korban yang murka memburu Aurel untuk menuntut balas atas kematian mereka. Dapatkah ia selamat dari teror supranatural ini, atau justru binasa oleh kutukan maut?
Bab
Bagikan

Bab 1

Di tengah malam yang kelam, jalanan sempit ini tampak seperti lorong menuju ke dunia gelap yang tidak berujung. Pohon-pohon tinggi menyerupai jembatan raksasa yang terjulur ke atas, melengkapi kesan rimbun yang seperti pembatas antara dunia nyata dengan kegelapan yang menakutkan. Dedalu semak-semak di sepanjang jalan terlihat seperti tangan-tangan tenggelam yang siap menjebak siapa saja yang melewati jalanan ini.

Waktu berhenti seolah-olah menanti sesuatu yang mengerikan. Hanya keheningan yang mendalam yang mengisi udara malam ini, dihiasi dengan cahaya bulan yang samar-samar menembus celah-celah pohon. Udara terasa tegang, dan setiap suara mesin mobil yang berdentum seperti dengungan serangga raksasa, menambah ketegangan yang melanda.

Dan di tengah keheningan yang menakutkan, mobil sport mewah berwarna merah itu melaju dengan kecepatan tinggi, seakan-akan membawa maut bersamanya.

Aurelia, seorang gadis cantik berusia 15 tahun dengan rambut panjang bergelombang, nekat mengemudikan mobilnya. Keputusannya untuk berkendara di malam yang gelap adalah tindakan nekat, tetapi sepertinya dendam yang membara membakar dalam dirinya.

"Apa-apaan dia itu! Dia pikir dia siapa? Dendam dengan kakakku, malah aku yang dijadikan pelampiasan!" desisnya dengan nada geram saat mengendalikan mobil dengan kecepatan yang semakin tinggi.

Namun, di tengah jalan yang sempit dan kelam, mengemudi dengan kecepatan tinggi adalah taruhan yang sangat berbahaya. Dan seperti yang sering terjadi, nasib buruk bisa datang tanpa aba-aba.

"Awas!" teriak Aurel, berusaha mengerem mobilnya dan menghindari tiga pengendara sepeda motor yang tiba-tiba muncul dari semak-semak.

Brak!

Namun, tabrakan tak terhindarkan. Tiga motor hancur di bawah mobil mewah Aurel, menghasilkan suara gemuruh yang menakutkan. Pohon besar di depan mereka menjadi saksi bisu saat mobil berhenti dengan keras.

"Aduh!" jerit Aurel ketika kepalanya terbentur dengan keras di kemudi. Darah segera mengalir dari lukanya. Mobilnya juga mengalami kerusakan yang serius akibat menabrak tiga pengendara motor dan pohon besar.

"Apa aku baru saja menabrak seseorang?" gumam Aurel dengan panik, tangannya gemetar saat membersihkan darah yang mengalir di kepalanya. Ia melihat keluar melalui pintu mobil, ngeri dengan pemandangan yang menanti di luar.

Aurel bergegas keluar, terguncang oleh bau darah dan asap bensin yang menyengat. Ia menutup hidung dan mulutnya dengan tangan, berusaha untuk tidak muntah. Namun, saat ia mencapai korban-korban tabrakan...

"Ti- tidak mungkin! A- aku baru saja menabrak tiga orang pengendara motor?" bisik Aurel dengan mata penuh ketakutan. Di hadapannya, tiga motor rusak parah, dan tiga korban tergeletak dalam genangan darah yang mengerikan, cahaya senter motor masih menerangi luka-luka mereka yang mengerikan.

"To... Tolong! Tolong aku!" pinta salah satu pengendara motor, suaranya lemah karena luka-lukanya. Ia meraih tangan Aurel yang gemetar.

"Kyaaa!" Aurel terduduk di tanah, matanya terbelalak, ketika ia melihat seorang pria muncul di antara bayangan gelap.

"Tolong! Tolong kami!" pinta pengendara motor lainnya, menarik tubuhnya yang terluka parah.

"Tidak! Aku tidak bersalah! Aku tidak tahu apa-apa tentang kejadian ini!" Aurel berteriak, ketakutan, dan bergegas kembali ke mobilnya.

"Jangan pergi! Tolong kami dulu!" pinta salah satu korban yang lainnya, mencoba meraih Aurel dengan tangan berlumuran darah.

Namun, ketakutan membuat Aurel melarikan diri lebih dulu. Ia memundurkan mobilnya, berusaha melarikan diri dari tempat kejadian, meninggalkan korban-korban menderita di belakang.

"Tidak! Aku tidak akan dipenjara, kan? Ayahku akan mengurus semu—kyaaa!" Aurel tiba-tiba mengerem mobilnya secara mendadak. Tubuhnya terhuyung maju, hampir membenturkan kepalanya lagi pada stir.

"Kali ini aku tidak akan menabrak orang lain lagi, kan?" Aurel bertanya dengan gemetar, mata cemasnya menatap jalanan yang sunyi.

"Ke- kenapa? Kau... Tidak menolong kami?" desis seorang pria berwajah hancur dengan suara serak yang menembus tulang belakang. Ia muncul seperti bayangan dari kegelapan, menempelkan wajahnya yang penuh luka pada kaca depan mobil Aurel.

"Kyaaaaa!" jerit histeris pecah dari bibir Aurel, ketika melihat wajah pria itu yang teramat mengerikan. Dengan kecepatan refleks, ia menundukkan kepalanya seraya memegangi kepalanya dengan kedua tangan, berusaha mengusir gambaran yang menghantui pikirannya. Namun, aura kegelapan dan kengerian terus mengelilingi mereka.

Dengan keberanian yang tersisa dalam dirinya, mendorong Aurel untuk perlahan mengangkat kepalanya dan memeriksa kaca mobilnya.

"O- orang tadi... Menghilang?" desis Aurel, dengan kebingungan melanda, karena orang yang baru saja ia lihat tiba-tiba lenyap begitu saja, tanpa jejak.

"Apa aku berhalusinasi?" lanjutnya, suaranya gemetar, membuatnya ragu untuk melanjutkan perjalanan yang semakin terasa mencekam.

"Ta- tapi... Noda darah ini..." Aurel menatap noda darah yang menempel di kaca mobilnya dengan ngeri. Noda itu tampak seperti pertanda kejahatan mengerikan yang terjadi di tempat itu, mengirimkan gelombang ketakutan yang semakin merayap di dalam mobil.

"Kau takut dipenjara?" Terdengar suara yang mengerikan bergaung dari arah kiri. Mendadak, Aurel terperanjat dan dengan cepat menoleh ke sumber suara itu.

"Kyaaaa!" Teriakan histeris meledak dari bibir Aurel, saat melihat sosok pria menyeramkan dengan wajah yang hampir terbelah menjadi dua, dan luka panjang yang terbuka seperti ban mobil yang robek.

Ketakutan yang mendalam memenuhi dirinya, dan tanpa pikir panjang, Aurel langsung berlari keluar dari mobil yang terasa semakin seperti perangkap mengerikan.

"Ayah! Ayah! Di mana nomor ayah?" Aurel mencoba menekan tombol ponsel pintarnya dengan panik, seraya berusaha berlari tanpa henti.

"Ketem- kyaaa!" Teriakan tiba-tiba meletus dari bibir Aurel ketika ia tiba-tiba tersandung sesuatu dan terjatuh ke tanah dengan keras.

Saat tubuhnya tersungkur, ponselnya terlempar beberapa inci dari tempat ia jatuh. Aura kegelapan semakin menghantui, dan keberadaan misterius yang mengintai Aurel semakin mendekat, membuatnya merasakan kehadiran yang mengerikan di sekelilingnya.

"Aurel, mengapa kamu menelepon ayah?" tanya sebuah suara, yang ternyata adalah suara Andra, ayah kandung Aurel, terdengar dari ponsel yang tergeletak tidak jauh dari tempat Aurel tersungkur saat ini.

"Ayah!" Aurel berusaha meraih ponselnya dengan gemetar. Namun... "Kyaaa!"

Saat ia hampir menyentuh ponselnya, tiba-tiba Aurel ditarik dengan kasar oleh sosok pria yang telah membuatnya terjatuh.

"Meminta tolong pada ayah? Sungguh pengecut!" gumam sosok itu dengan suara yang membuat bulu kuduk Aurel merinding, sementara bayangan kegelapan semakin menyelimuti Aurel dalam ketakutan yang semakin dalam dan mengerikan.

"Aurel! Ada apa?" Andra yang terdengar sangat panik bertanya dari ponsel.

"Ayah! Tolong aku!" teriak Aurel sambil berusaha meraih ponselnya dengan gemetar, berusaha melonggarkan cengkeraman pria misterius yang masih menahannya.

"Sekarang kau di mana?" Andra berteriak melalui ponsel, rasa paniknya semakin terasa.

"A- aku ada... Aku ada di... Kyaaaa!" Aurel berteriak dengan keras, sebelum akhirnya terhenti oleh suatu kejadian yang lebih mengerikan.

"Aurel!" Andra memekik dengan penuh kekhawatiran, merasa putrinya berada dalam bahaya yang tak terbayangkan. Suasana semakin mencekam dan misterius, kegelapan sepertinya semakin mengintai untuk menghantui mereka.

Krak!

Ponsel Aurel hancur berkeping-keping ketika sebuah kaki yang penuh darah menginjaknya, lalu ponsel itu digesek-gesekkan ke tanah berkali-kali oleh kaki tersebut.

Pemilik kaki menurunkan tubuhnya, berjongkok di hadapan Aurel yang terbaring tersungkur. Dengan cengkeraman yang mencekam, ia meraih rahang Aurel dan memaksanya untuk menatap wajahnya yang penuh kekejaman. Dengan suara yang mengerikan, ia berkata, "Inilah akibatnya jika kau berusaha melarikan diri dari tanggung jawab!"

Bayangan mengerikan ini memenuhi setiap sudut pikiran Aurel, menciptakan ketakutan yang begitu mendalam sehingga sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dibunuh Demi Cinta Pertamanya
8.3
Mendapat kesempatan hidup kedua setelah dibunuh oleh suaminya sendiri, Arthur, protagonis bertekad menjauh sejauh mungkin. Di masa lalu, pernikahan yang ia paksakan memicu bunuh diri Aiko, cinta pertama Arthur. Sebagai balas dendam, Arthur memotong tali pengaman terjun lenting istri dan anaknya hingga tewas. Kini, setelah terbangun tepat di malam ia menjebak Arthur dengan kehamilan, ia segera mengundurkan diri dari kantor, pindah rumah, hingga meminta mutasi ke luar negeri untuk lolos dari maut.
Sampul Novel Dinodai Tetangga
8.9
Satu peristiwa keji meruntuhkan dunia Andini. Alex, tetangga yang seharusnya bisa dipercaya, memerkosanya—meninggalkan luka yang tak kunjung sembuh. Trauma itu membuat Andini menjauh dari suaminya, Arka, yang mencoba memahami istrinya yang hancur. Demi mengubur kenangan buruk itu, mereka memutuskan pindah rumah. Namun, kenyataannya, kejahatan tidak mengenal alamat. Alex terus membayangi dan mengganggu Andini, seolah tak pernah rela melepaskannya. Pertanyaannya, sampai kapan Andini bisa bertahan? Akankah ia membiarkan teror itu berlanjut, atau menemukan keberanian untuk melawan? Sebuah kisah gelap tentang trauma, ketakutan, dan batas akhir ketahanan seorang istri.
Sampul Novel Kanjeng Ratu Minta Mantu
9.5
Melanjutkan kisah dari Tante, Mau kan jadi Mamaku?, sekuel ini menghadirkan dilema horor yang unik. Bagi seorang lulusan baru, kejaran makhluk halus rupanya tidak ada apa-apanya dibanding desakan sang ibu yang sangat berambisi mencarikannya pasangan hidup. Teror perjodohan setiap hari ini terasa jauh lebih mengerikan bagi sang protagonis. Ikuti perjuangan jenakanya menghadapi tuntutan keluarga di tengah gangguan mistis yang penuh misteri.
Sampul Novel Pernikahan Sempurnaku, Rahasia Mematikannya
9.4
Tiga bulan membina rumah tangga dengan miliarder Baskara Aditama, kebahagiaan wanita ini hancur seketika saat Diana, sang mantan kekasih, datang menyerang. Bukannya menolong, Baskara malah membela Diana dan membiarkannya menyiksa sang istri. Bahkan saat nyawanya terancam oleh kepungan pria misterius, Baskara tega memutus telepon. Demi selamat, ia nekat melompat dan menghubungi Paman Suryo. Baskara tak tahu bahwa istri yang dikhianatinya adalah bagian dari Keluarga Wallace yang siap membalas dendam.
Sampul Novel Rumah Nenek
8.1
Nenek menempati rumah murah nan nyaman yang ternyata menyimpan sejarah kelam. Di ruang bawah tanahnya, pernah terjadi aksi mutilasi dan pembantaian sadis. Arwah para korban kini bangkit menuntut balas, meneror setiap sudut hunian tersebut. Setiap malam, suasana mencekam mengunci rapat bangunan ini. Para penghuni pun terjebak dan harus berjuang bertahan hidup melawan ancaman gaib mematikan yang sebelumnya telah merenggut nyawa pemilik terdahulu.
Sampul Novel Terkubur di Crimson Tides
9.3
Suamiku tega menguburku di pasir pantai hingga menyerupai putri duyung, lalu pergi begitu saja demi menenangkan adik tiriku yang jatuh. Saat menatap punggungnya menjauh, aku hanya bisa pasrah ketika air laut yang pasang mulai menenggelamkan tubuhku. Di tengah keputusasaan sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya, sebuah pemikiran terakhir tiba-tiba terlintas di benakku.