APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bayangan Kematian: Kutukan Tiga Roh

Bayangan Kematian: Kutukan Tiga Roh

Kehidupan mewah Aurelia, anak tunggal seorang konglomerat, hancur seketika setelah ia terlibat kecelakaan fatal. Remaja lima belas tahun ini melarikan diri usai menabrak tiga pengendara motor hingga tewas demi menghindari hukum. Namun, keputusan egois tersebut justru memicu petaka gaib. Kini, tiga arwah korban yang murka memburu Aurel untuk menuntut balas atas kematian mereka. Dapatkah ia selamat dari teror supranatural ini, atau justru binasa oleh kutukan maut?
Bab
Bagikan

Bab 2

Tiga mobil sedan berwarna hitam melaju perlahan menuju lokasi tabrak lari. Dari salah satu mobil sedan yang berada di tengah, turun seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas hitam dengan tegas.

Pria paruh baya ini adalah Andra, seorang CEO kaya dari industri mobil terkenal di seluruh dunia. Ditemani oleh beberapa pria lain yang mengenakan pakaian serba hitam dan putih, mereka bergerak perlahan menuju bangkai motor dan para korban tabrak lari.

Andra memberikan instruksi dengan suara yang tegas dan memerintah. "Temukan para korban! Lacak identitas mereka dan hilangkan semua bukti yang ada!"

"Baik!" jawab semua anggota pasukan dengan patuh, sementara mereka bergerak cepat menuju lokasi para korban.

Andra melanjutkan dengan otoritas yang kuat. "Pastikan tidak ada satupun bukti yang tertinggal! Putriku tidak boleh terlibat dalam masalah ini!" Dengan ketegasan yang mendominasi, ia bergerak menuju mobilnya untuk mengawasi proses ini.

Andra adalah seorang pria yang memerintahkan dengan kebijakan dan tidak mentolerir kesalahan dalam operasinya.

👻👻👻👻👻👻👻

Di sebuah kamar dengan warna dominan merah muda, terlihat dua orang pria dan wanita yang sedang berpelukan di atas ranjang.

"Kakak! Aku takut! Hiks..." ucap Aurel dengan terisak. Ia memeluk tubuh seorang pria yang duduk di sisinya dengan sangat erat.

"Tidak perlu takut, adikku! Ada kakak disini," jawab seorang pria yang duduk di sisi Aurel seraya menepuk punggungnya dengan lembut.

Pria tersebut bernama Audrey, kakak laki-laki pertama dari Aurel. Ia adalah seorang mahasiswa semester akhir di Universitas Indonesia.

Brak!

Terdengar suara pintu yang dibuka dengan kasar. Terlihat sesosok pria berlari ke arah Aurel dan Audrey.

Pria tersebut bernama Aron. Kakak kedua Aurel. Sama seperti adiknya, Aron masih berada di bangku Sekolah Menengah Atas.

"Kakak! Adik! Apa berita itu benar? Aurel baru saja membunuh tiga or-" Belum selesai Aron melanjutkan kata-katanya, Audrey langsung memotongnya.

"Ya! Dan itu semua karena dirimu!" bentak Audrey seraya menatap adiknya dengan tatapan membunuh.

"Apa salahku kakak? Aku baru saja pulang da-" Lagi-lagi perkataan Aron dipotong oleh Audrey.

"Dari merayu teman-teman wanitamu? Bagus!" ujar Audrey seraya memutar bola matanya dengan malas.

"Kak-" Seolah tidak diizinkan untuk menyampaikan isi pikirannya, lagi-lagi perkataan Aron dipotong oleh Audrey.

"Merayu para gadis dengan kata-kata manis, berjanji setia seraya mengucap sumpah, namun nyatanya... Kau hanya menganggap mereka semua sebagai mainan," ucap Audrey dengan tegas.

"Tidak kakak! Itu tidak benar! Aku hanya..." Audrey menghentikan perkataannya sesaat.

"Hanya menganggap mereka semua sebagai karakter di game gacha! Setelah dapat, akan dimainkan sebentar lalu dibuang ketika bosan!" seru Audrey sedikit berteriak. Ia terlihat sudah sangat muak dengan sifat dan kelakuan adiknya tersebut.

"Kak-" Aron memanggil kakaknya dengan suara lirih, terlihat matanya berkaca-kaca mendengar semua perkataan sang kakak.

"Kau memang seperti itu Aron! Tidak perlu mengelak!" tegas Audrey seraya memalingkan wajahnya kepada gadis malang yang sedang memeluknya erat.

"Huft..." Audrey menghela napas panjang seraya membenamkan wajahnya di balik rambut sang adik. "Sekarang, adikmu yang menuai semua yang telah kau tanam."

"Aurel..." Aron memanggil nama adiknya dengan sangat lembut. Ketika sang adik menoleh kepadanya, ia bertanya, "Apakah..."

"Itu benar, kak!" Seolah mengetahui isi pertanyaan sang kakak, Aurel langsung menjawabnya. "Kak Rain adalah kakaknya kak Rani. Mantan kekasih kakak. Sekarang, dia memutuskan hubungan denganku agar aku merasakan apa yang adiknya rasakan."

"Kau sudah mengerti sekarang?" tanya Audrey seraya menatap ke arah Aron, tanpa mengubah posisi kepalanya.

"Ma- maafkan aku..." ucap Aron seraya menundukkan kepalanya.

"Keluar! Jangan membuat adikmu semakin trauma." suruh Audrey dengan suara lantang.

Aron merasa sangat bersalah. Ia ingin sekali memperbaiki kesalahannya. Dengan lirih, ia berkata, "Aku tahu itu. Tapi..."

"Apa kau tidak mendengar perintahku barusan?" tanya Audrey dengan tatapan sinis.

"Ba- baiklah kak..." Akhirnya dengan sangat terpaksa, Aron pergi meninggalkan kamar Aurel.

"Kakak, apa kakak tidak terlalu kasar padanya?" tanya Aurel yang merasa sedikit khawatir pada kesehatan mental kakaknya.

"Tentu tidak. Dia harus merenungi semua perbuatannya," balas Audrey seraya semakin memeluk adiknya dengan erat.

"Dan kau juga sama!" Audrey melepas pelukannya. Ia kini menatap Aurel dengan tajam seraya berkata, "Bukan berarti karena kau adalah adik perempuan yang aku miliki satu-satunya, aku akan memanjakan dirimu secara berlebihan."

"Setelah kau sembuh dari trauma, aku juga akan mulai memarahi dirimu! Karena kau sudah terlalu sering melanggar peraturan!" ujar Audrey. Setelahnya, ia bangkit berdiri dan hendak meninggalkan Aurel.

"Kakak, tunggu!" Aurel meraih tangan Audrey. Dengan lirih, ia bertanya, "Bisakah kakak tetap menemaniku di sini?"

"Ada apa adikku, kau sudah terlalu besar untuk aku temani tidur. Tidurlah sendiri, ya! Jika ada apa-apa, aku akan kembali lagi kesini," jawab Audrey seraya mengusap rambut kepala Aurel dengan lembut.

"Ba- baik kak..." ujar Aurel seraya melepaskan genggaman tangannya dari sang kakak.

"Adik pintar!" seru Audrey ketika sang adik sudah melepaskan tangannya. Sebelahnya, ia berjalan perlahan menuju pintu dan mulai pergi meninggalkan kamar Aurel.

Aurel dengan cepat berbaring di atas ranjangnya seraya menutupi tubuhnya menggunakan selimut. Dengan masih sangat ketakutan, ia bergumam, "Sepertinya masih belum aman jika aku tidur dalam keadaan gelap. Aku tidak akan mematikan lampunya!"

Aurel menutup seluruh tubuh dan wajahnya menggunakan selimut. Ia sedikit menggigil karena masih terbayang-bayang para makhluk tak kasat mata yang menghantuinya beberapa waktu lalu.

"Panas!" Aurel menarik selimutnya dan membiarkan tubuhnya tidak terbalut selimut.

Aurel menatap langit-langit kamar sesaat tanpa berkedip. Setelah beberapa saat, matanya terasa pedih dan meneteskan air.

"Baiklah, saatnya tidur!" ujar Aurel seraya menutup kedua matanya dan bersiap untuk tidur nyenyak. Namun...

Tes... Tes... Tes...

Aurel merasa ada tetesan demi tetesan benda cair yang membasahi wajahnya, menyebabkan sensasi dingin yang menusuk tulang. Sontak Aurel langsung membuka kedua matanya dengan cepat. Ia terbelalak ketika menatap langit-langit kamar yang terasa semakin mendekat, seolah-olah mengerut dan mengancam.

"Kyaaaa!" Aurel berteriak dengan suara terputus-putus, getaran ketakutan merayap di setiap serat tubuhnya. Di atas langit-langit kamar, ada sesosok pria yang merayap dengan gerakan aneh, seperti cicak yang melintasi dinding. Wajahnya hancur, penuh dengan luka-luka yang berlumuran darah segar. Bekas-bekas luka itu tampak mengerikan, seolah-olah terulang tanpa henti.

Darah segar mengalir deras di setiap inci tubuh pria itu, menetes ke bawah dan membasahi ranjang Aurel, menciptakan coretan merah yang mengerikan di linen putih.

Dengan suaranya yang sangat berat dan mengerikan, sesosok manusia merayap itu berkata dengan nada yang sangat mencekam. "Kau harus hidup menderita!" Suaranya terdengar seperti gemuruh kematian yang mendekati, menghantui ruangan dengan ketakutan yang tak terbayangkan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dibunuh Demi Cinta Pertamanya
8.3
Mendapat kesempatan hidup kedua setelah dibunuh oleh suaminya sendiri, Arthur, protagonis bertekad menjauh sejauh mungkin. Di masa lalu, pernikahan yang ia paksakan memicu bunuh diri Aiko, cinta pertama Arthur. Sebagai balas dendam, Arthur memotong tali pengaman terjun lenting istri dan anaknya hingga tewas. Kini, setelah terbangun tepat di malam ia menjebak Arthur dengan kehamilan, ia segera mengundurkan diri dari kantor, pindah rumah, hingga meminta mutasi ke luar negeri untuk lolos dari maut.
Sampul Novel Dinodai Tetangga
8.9
Satu peristiwa keji meruntuhkan dunia Andini. Alex, tetangga yang seharusnya bisa dipercaya, memerkosanya—meninggalkan luka yang tak kunjung sembuh. Trauma itu membuat Andini menjauh dari suaminya, Arka, yang mencoba memahami istrinya yang hancur. Demi mengubur kenangan buruk itu, mereka memutuskan pindah rumah. Namun, kenyataannya, kejahatan tidak mengenal alamat. Alex terus membayangi dan mengganggu Andini, seolah tak pernah rela melepaskannya. Pertanyaannya, sampai kapan Andini bisa bertahan? Akankah ia membiarkan teror itu berlanjut, atau menemukan keberanian untuk melawan? Sebuah kisah gelap tentang trauma, ketakutan, dan batas akhir ketahanan seorang istri.
Sampul Novel Kanjeng Ratu Minta Mantu
9.5
Melanjutkan kisah dari Tante, Mau kan jadi Mamaku?, sekuel ini menghadirkan dilema horor yang unik. Bagi seorang lulusan baru, kejaran makhluk halus rupanya tidak ada apa-apanya dibanding desakan sang ibu yang sangat berambisi mencarikannya pasangan hidup. Teror perjodohan setiap hari ini terasa jauh lebih mengerikan bagi sang protagonis. Ikuti perjuangan jenakanya menghadapi tuntutan keluarga di tengah gangguan mistis yang penuh misteri.
Sampul Novel Pernikahan Sempurnaku, Rahasia Mematikannya
9.4
Tiga bulan membina rumah tangga dengan miliarder Baskara Aditama, kebahagiaan wanita ini hancur seketika saat Diana, sang mantan kekasih, datang menyerang. Bukannya menolong, Baskara malah membela Diana dan membiarkannya menyiksa sang istri. Bahkan saat nyawanya terancam oleh kepungan pria misterius, Baskara tega memutus telepon. Demi selamat, ia nekat melompat dan menghubungi Paman Suryo. Baskara tak tahu bahwa istri yang dikhianatinya adalah bagian dari Keluarga Wallace yang siap membalas dendam.
Sampul Novel Rumah Nenek
8.1
Nenek menempati rumah murah nan nyaman yang ternyata menyimpan sejarah kelam. Di ruang bawah tanahnya, pernah terjadi aksi mutilasi dan pembantaian sadis. Arwah para korban kini bangkit menuntut balas, meneror setiap sudut hunian tersebut. Setiap malam, suasana mencekam mengunci rapat bangunan ini. Para penghuni pun terjebak dan harus berjuang bertahan hidup melawan ancaman gaib mematikan yang sebelumnya telah merenggut nyawa pemilik terdahulu.
Sampul Novel Terkubur di Crimson Tides
9.3
Suamiku tega menguburku di pasir pantai hingga menyerupai putri duyung, lalu pergi begitu saja demi menenangkan adik tiriku yang jatuh. Saat menatap punggungnya menjauh, aku hanya bisa pasrah ketika air laut yang pasang mulai menenggelamkan tubuhku. Di tengah keputusasaan sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya, sebuah pemikiran terakhir tiba-tiba terlintas di benakku.