APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel BAYANGAN CINTA DI MASA SILAM

BAYANGAN CINTA DI MASA SILAM

Mobil Alia melaju pelan menyusuri jalan berliku di tengah kebun teh yang membentang luas. Aroma tanah basah dan pucuk daun berpadu embun pagi yang dingin langsung memicu ingatan masa lalunya. Setelah bertahun-tahun hidup di perantauan, barulah kali ini ia kembali ke kampung halaman. Perjalanan pulang tersebut bukan sekadar kepulangan biasa, melainkan sebuah momen untuk kembali berhadapan dengan kenangan lama yang sempat ia tinggalkan dahulu.
Bab
Bagikan

Bab 2

Alia memutuskan untuk menjelajahi kampung halamannya. Ia ingin mencari jejak masa lalu, mencoba memahami perasaan yang sedang ia alami. Ia ingin mencari tahu apa yang sebenarnya ia inginkan dalam hidupnya.

Pagi itu, ia berjalan menyusuri jalan setapak yang membelah perkebunan teh. Udara sejuk dan aroma teh hijau membangkitkan kembali kenangan masa kecilnya. Ia teringat saat ia dan Raka bermain petak umpet di antara barisan pohon teh yang menjulang tinggi, saat mereka berbagi cerita dan mimpi-mimpi mereka.

Alia berhenti di sebuah pohon teh tua yang besar. Di bawah pohon itu, dulu ia dan Raka sering bersembunyi saat bermain petak umpet. Ia teringat senyum Raka saat berhasil menemukannya, dan bagaimana ia selalu merasa aman dan nyaman di dekat Raka.

Ia menyentuh kulit pohon teh yang kasar, merasakan embun pagi menempel di kulitnya. Ia memejamkan mata, mencoba membayangkan Raka di sampingnya. Ia merasakan rindu yang mendalam, rindu akan masa-masa indah yang pernah mereka lalui bersama.

Alia berjalan terus, menyusuri jalan setapak yang membentang luas. Ia melewati rumah-rumah penduduk yang sederhana, melihat anak-anak bermain di halaman, dan mendengar suara ayam berkokok di pagi hari. Semuanya terasa begitu familiar, mengingatkannya pada masa kecilnya yang penuh dengan kebahagiaan.

Ia sampai di sebuah sungai kecil yang mengalir tenang di tengah perkebunan teh. Di tepi sungai, ia melihat sebuah batu besar yang sudah lapuk dimakan waktu. Di batu itu, dulu ia dan Raka sering duduk bersama, saling bercerita dan bermimpi.

Alia duduk di atas batu itu, membiarkan aliran sungai membasahi kakinya. Ia teringat saat Raka mengukir nama mereka di batu itu, sebagai bukti cinta mereka yang abadi.

Ia melihat ukiran itu, masih samar-samar terlihat, tergores di permukaan batu yang kasar. Ia tersenyum, merasakan debar jantung yang semakin kencang. Ia merasa seperti kembali ke masa lalu, ke saat ia masih muda dan naif, dan Raka adalah segalanya.

Alia terdiam, merenungkan semuanya. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa lari dari masa lalunya. Masa lalu adalah bagian dari dirinya, dan ia tidak bisa menghapusnya begitu saja.

Ia harus menerima kenyataan bahwa ia mencintai Raka, dan bahwa ia selalu akan mencintainya. Namun, ia juga harus menerima kenyataan bahwa waktu telah berlalu, dan mereka telah tumbuh dewasa.

Alia bangkit dari duduknya, matanya berkaca-kaca. Ia merasa seperti terjebak dalam pusaran kenangan, dan ia tidak tahu bagaimana cara melepaskan diri dari semuanya.

Alia duduk di dalam pesawat, menatap hamparan awan putih yang membentang luas di bawahnya. Ia merasakan perasaan campur aduk dalam dirinya. Kerinduan, kebahagiaan, dan rasa takut bercampur aduk dalam hatinya.

Ia baru saja kembali dari kampung halamannya, dari tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan. Ia telah bertemu kembali dengan Raka, cinta pertamanya, dan ia merasakan kembali perasaan yang pernah mereka miliki.

Namun, ia juga merasakan ketakutan. Ketakutan untuk menghadapi masa depan yang tidak pasti, ketakutan untuk memilih antara cinta dan ambisinya.

Alia teringat saat ia bertemu dengan Raka di kebun teh. Raka masih sama seperti dulu, sederhana dan penuh kasih sayang. Ia teringat bagaimana Raka menatapnya dengan penuh kerinduan, dan bagaimana ia mengatakan bahwa ia selalu menunggunya.

Alia merasa terharu mendengar kata-kata Raka. Ia tahu bahwa Raka mencintainya dengan tulus, dan ia tidak pernah melupakan Raka. Namun, ia juga tahu bahwa hidup mereka telah berubah, dan mereka telah berjalan di jalan yang berbeda.

Alia teringat pada mimpi-mimpi masa kecilnya. Ia ingin menjadi desainer terkenal, dan ia telah berhasil mewujudkannya. Ia telah membangun karir yang sukses, dan ia memiliki kehidupan yang nyaman di Jakarta.

Namun, ia juga teringat pada Raka. Ia teringat pada cinta yang tulus dan sederhana yang pernah mereka miliki. Ia teringat pada kebahagiaan yang ia rasakan saat bersama Raka.

Alia merasa terjebak di antara dua pilihan. Ia harus memilih antara masa lalu dan masa depannya. Ia harus memilih antara cinta dan ambisinya.

Pesawat mulai mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Alia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya. Ia tahu bahwa ia harus membuat keputusan, dan ia harus segera melakukannya.

Alia kembali ke apartemennya di Jakarta, sebuah tempat yang sudah terasa asing baginya. Dulu, apartemen ini terasa seperti surga, tempat ia bisa beristirahat dan mengejar mimpinya. Namun, sekarang, apartemen ini terasa kosong dan hampa.

Ia membuka lemari pakaiannya, melihat deretan baju-baju desainer yang dulu ia banggakan. Kini, baju-baju itu terasa seperti baju orang lain, tidak lagi mewakili dirinya. Ia teringat saat ia pertama kali membeli baju-baju itu, saat ia merasa bangga dengan pencapaiannya.

Alia mengambil ponselnya, melihat foto-foto dirinya bersama teman-temannya di acara-acara fashion. Ia teringat saat ia merasa bahagia dan bangga dengan karirnya. Namun, sekarang, foto-foto itu terasa seperti kenangan yang sudah lama berlalu, tidak lagi relevan dengan dirinya.

Alia duduk di sofa, matanya tertuju pada foto Raka yang ia simpan di meja kopi. Foto itu diambil saat mereka masih remaja, saat mereka sedang bermain di kebun teh. Raka tersenyum lebar, matanya berbinar-binar. Alia merasakan rindu yang mendalam, rindu akan masa-masa indah yang pernah mereka lalui bersama.

Ia teringat saat ia kembali ke kampung halamannya, saat ia bertemu kembali dengan Raka. Raka masih sama seperti dulu, sederhana dan penuh kasih sayang. Ia teringat bagaimana Raka menatapnya dengan penuh kerinduan, dan bagaimana ia mengatakan bahwa ia selalu menunggunya.

Alia merasakan air mata mengalir di pipinya. Ia tahu bahwa Raka mencintainya dengan tulus, dan ia tidak pernah melupakan Raka. Namun, ia juga tahu bahwa hidup mereka telah berubah, dan mereka telah berjalan di jalan yang berbeda.

Alia terdiam, merenungkan semuanya. Ia merasa seperti terjebak di persimpangan jalan. Ia harus memilih antara masa lalu dan masa depannya. Ia harus memilih antara cinta dan ambisinya.

Ia membuka laptopnya, melihat email-email dari kliennya yang menanyakan tentang proyek desain terbaru. Ia teringat pada ambisinya, pada mimpi-mimpi yang telah ia perjuangkan selama ini.

Namun, ia juga teringat pada Raka. Ia teringat pada cinta yang tulus dan sederhana yang pernah mereka miliki. Ia teringat pada kebahagiaan yang ia rasakan saat bersama Raka.

Alia menutup laptopnya, matanya berkaca-kaca. Ia merasa seperti terjebak dalam dilema yang sulit. Ia tidak tahu harus memilih yang mana.

Alia terbangun di tengah malam, keringat dingin membasahi tubuhnya. Mimpi buruk tentang Raka menghantuinya. Dalam mimpinya, Raka berdiri di tepi jurang, tangannya terulur ke arahnya, memohon agar Alia menyelamatkannya.

Alia terbangun dengan jantung berdebar kencang. Ia merasa gelisah, tidak bisa tidur kembali. Ia duduk di tepi ranjang, matanya tertuju pada foto Raka yang ia letakkan di nakas. Ia teringat saat ia bertemu kembali dengan Raka di kampung halamannya. Ia teringat senyum Raka, matanya yang berbinar-binar, dan kata-katanya yang tulus.

Alia merasakan sesak di dadanya. Ia merindukan Raka. Ia merindukan masa-masa indah yang pernah mereka lalui bersama. Namun, ia juga takut. Takut untuk meninggalkan karirnya di Jakarta, takut untuk kembali ke masa lalu yang tidak pasti.

Alia berdiri, berjalan ke balkon apartemennya. Ia menghirup udara malam yang dingin, mencoba menenangkan pikirannya. Ia menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan. Ia teringat pada semua yang telah ia capai, pada semua yang telah ia perjuangkan.

Namun, ia juga teringat pada Raka. Ia teringat pada cinta yang tulus dan sederhana yang pernah mereka miliki. Ia teringat pada kebahagiaan yang ia rasakan saat bersama Raka.

Alia merasa seperti terjebak dalam dilema yang sulit. Ia harus memilih antara masa lalu dan masa depannya. Ia harus memilih antara cinta dan ambisinya. Namun, ia menyadari bahwa ia tidak bisa terus-menerus menghindari kenyataan.

Ia harus mendengarkan suara hatinya.

Alia duduk di kursi, memejamkan mata. Ia mencoba untuk mendengarkan suara hatinya. Ia mencoba untuk merasakan apa yang sebenarnya ia inginkan.

Lama ia duduk di sana, merenung. Akhirnya, ia membuka matanya. Ia merasakan ketegasan dalam dirinya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak
8.4
Dua pewaris takhta terkaya di New York, sang pembalap F1 dan genius investasi, telah bersahabat sejak kecil dan setia mengenakan lencana tembaga buatan Mia selama sepuluh tahun. Namun, kehadiran Ella, putri konglomerat baru, mengubah segalanya. Ketika kedua pria itu membuang lencana Mia demi emblem kain pemberian Ella, persahabatan mereka retak. Kecewa dengan pengkhianatan ini, Mia yang menyembunyikan identitas aslinya memutuskan menyerah dan menghubungi ayahnya di Sisilia untuk menerima pernikahan politik demi keluarganya.
Sampul Novel GADIS PENARI TUAN MUDA
8.2
Demi menemukan cinta sejati, Benni Handoko yang berasal dari keluarga terpandang rela menyamar sebagai pelayan toko. Namun, takdirnya berubah drastis ketika ia mendapati Mulan, seorang gadis penari, berada di ranjangnya setelah acara jamuan keluarga. Mulan ternyata merupakan cucu sahabat nenek Benni yang sempat hilang. Walau mereka telah dijodohkan, hubungan keduanya tidak berjalan mulus dan penuh rintangan. Sanggupkah mereka menjaga cinta di tengah badai konflik yang menerpa?
Sampul Novel Gairang seorang pembantu penggoda
8.3
Demi menyokong keluarganya, Hana yang baru berumur dua puluh tahun nekat merantau dan bekerja jadi pelayan di rumah seorang triliuner rupawan. Terbuai oleh harta, ia sengaja memikat sang majikan hingga terseret dalam hubungan rahasia yang penuh gairah di dalam mansion mewah tersebut. Semua itu ia lakukan demi uang. Namun, rasa jenuh akhirnya datang dan ia ingin menyudahi segalanya. Sanggupkah Hana membebaskan diri dari jeratan materi dan kepuasan yang menggiurkan yang membelenggunya?
Sampul Novel Istri Kedua Tersembunyi
7.9
Demi melunasi utang keluarga, Raine Alverez terpaksa menjadi istri kedua rahasia bagi taipan Leon Castello. Meski dituduh perusak rumah tangga, ia sebenarnya terjebak perjanjian lama. Raine pun harus menghadapi kebencian istri pertama dan cemoohan publik. Konflik batin kian menyiksa saat benih cinta pada Leon mulai tumbuh di hatinya. Di tengah intrik dan rahasia besar, ia berjuang mencari kebenaran tentang siapa yang bersalah dalam pernikahan rumit ini.
Sampul Novel Pengantin Palsu Ceo Arogan
8.3
Nayla Putri Anissa terpaksa menjadi pengantin pengganti demi membiayai pengobatan sang ibu yang sakit jiwa. Ia menyamar memakai masker untuk menggantikan putri majikannya yang melarikan diri menjelang pernikahan. Di balik penyamaran ini, Nayla harus menghadapi Arga Dewantara, seorang CEO muda yang terkenal dingin dan arogan. Akankah rahasia besar ini tetap terjaga saat ijab kabul, atau justru Arga segera menyadari penipuan di balik cadar tersebut?
Sampul Novel Real or Dream
9.0
Clarista terkejut saat dicium tiba-tiba oleh Augfar, pria asing tampan nan kaya yang mengklaimnya sebagai calon istri di pesta tunangan sahabatnya. Rupanya, Augfar sengaja menjaga reputasinya dari skandal sejak SMA demi menanti Clarista, cinta pertamanya. Pertemuan tak terduga ini memicu berbagai kejutan manis yang menguji perasaan mereka. Ikuti kisah cinta dewasa yang penuh gairah antara Augfar dan Clarista untuk menemukan semua jawaban dalam Real or Dream.