APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Bayang Hitam Sang Jenderal Tirani

Bayang Hitam Sang Jenderal Tirani

Jenderal kejam Zane Alexander Thorn hidup sebagai senjata pembunuh demi misi berdarah ayahnya di dunia yang hampir hancur. Namun, jalannya berubah total setelah ia menolak perjodohan politik. Zane justru memilih menyekap seorang gadis misterius yang memiliki kekuatan super. Alih-alih fokus bertempur, sang tiran kini terobsesi membongkar rahasia besar gadis itu sambil perlahan terpikat oleh pesonanya. Kehidupan sang jenderal dingin pun mulai kehilangan kendali.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Kau masih hidup ternyata," kata Zane sambil menjatuhkan senjatanya. Ia menyilangkan tangan di dadanya, suaranya dingin namun ada kehangatan samar di baliknya.

Itu adalah sahabatnya, Kai. Yang tampak lebih ceria dari yang Zane ingat. Meskipun aura liciknya tak pernah hilang, dia selalu berhasil dengan ide-idenya yang brilian.

Kai menyeringai lebar. Ia berjalan mendekati Zane sambil tangan terangkat keatas.

"Sial, Zane! Kalian benar-benar ketinggalan berita. Aku baru saja menghabiskan waktu di tempat yang lebih menarik daripada markas kakekmu itu. Sungguh, suasananya membosankan!"

Reed menodongkan pistolnya ke arah kepala Kai. "Maaf, Tuan. Dia adalah orang yang menyebabkan semua ini terjadi. Apa kau mengenalnya?"

"Singkirkan tanganmu sekarang, Reed," potong Zane, tanpa meninggalkan ruang untuk penolakan.

Kai hanya menyeringai lebar, mata hitamnya berkilau nakal. "Oh, aku hanya ingin memastikan kau masih ingat bagaimana caranya menghindar dari ledakan tank."

Zane mendengus, tidak bisa menahan senyum yang perlahan muncul di wajahnya.

"Dasar, bajingan," jawabnya sambil menggelengkan kepala. "Aku seharusnya tahu ini kerjaanmu."

Reed, yang masih menodongkan senjata, tampak bingung. "Tuan, orang ini... dia-"

"Turunkan senjatamu, Reed," Zane memotong tegas, sambil melangkah maju. "Dia temanku... meski menyebalkan setengah mati."

Reed menurunkan pistolnya perlahan, masih dengan raut wajah tak percaya. "Maaf, Tuan. Saya tidak tahu kalau dia-"

"Tinggalkan kami," Zane menyuruhnya dengan nada dingin, meski tidak ada kemarahan dalam suaranya. "Aku akan bicara dengan si bajingan ini sendiri."

Reed dengan cepat menyelipkan senjatanya kembali, menunduk hormat, dan pergi dengan cepat, begitu pula para prajurit lainnya meninggalkan Zane dan Kai sendiri di tempat itu.

"Hei, bisakah kau membawaku ke dalam? Atau kau akan kehilangan sahabatmu yang berharga ini karena mati membeku."

Zane memandang Kai seperti orang itu adalah serangga. Ia pun mengajak Kai kembali, auranya dingin namun ada kehangatan samar di baliknya.

"Jadi, apa yang kau dengar kali ini?" tanya Zane, menyandarkan tubuhnya ke dinding, menatap sahabat lamanya.

Kai berdiri sambil membersihkan debu yang jelas-jelas tidak ada dari pakaiannya. "Cukup untuk tahu kalau kau masih suka bermain api, Zane. Tapi tenang saja, rahasiamu aman bersamaku... seperti biasa."

Kai meraih satu kursi dan duduk dengan kedua tangan dibelakang kepalanya. "Jadi, maafkan aku jika sebenarnya, aku hanya mencari kesenangan di istana kecilmu tadi." Kai terkekeh, memperlihatkan gigi-giginya yang putih.

Tanpa peringatan, Zane melesat maju, mencengkeram kerah baju Kai dan mengangkatnya dengan mudah. Tubuh Kai yang ramping terangkat dari kursi, sementara senyum di wajahnya masih belum luntur.

"Kau mengganggu waktuku yang paling berharga," gumam Zane, matanya menyala penuh kemarahan.

"Listrik dan air mati, seluruh pangkalan berantakan, dan kau di sini tersenyum seperti tidak ada yang salah!"

"Tunggu, apa maksudnya?-" Kai menatap bingung sahabatnya itu. Dia memang menembak tank itu, tapi kalau soal mematikan seluruh sumber daya, itu bukan gaya bercandanya.

Kai terbatuk-batuk, lehernya mulai sesak. "Hei, hei! Itu... bukan aku!" Kai menepuk-nepuk tangan Zane yang semakin mencengkramnya hingga ia sulit bernapas.

"Turunkan aku, oke? Jangan langsung menyalahkanku!"

Zane menatapnya tajam, melepaskan cengkramannya, emosinya melonjak. "Kau yakin? Kau selalu punya cara membuat segalanya jadi berantakan. Apa kali ini ulahmu juga?"

Kai mengangkat kedua tangannya yang masih bebas, ekspresinya mendadak serius meski sedikit bingung. "Serius, Zane. Kali ini bukan aku. Maksudku, aku bersumpah aku tidak pernah melakukan hal seburuk itu."

Zane mengernyit. Ada sesuatu yang aneh dalam situasi ini. Kai memang terkenal usil, tetapi mematikan seluruh sistem pangkalan? Itu bukan sifat Kai. "Jadi kau bilang, semua ini kebetulan?"

Kai mengangguk cepat, meski masih tergantung di udara. "Aku bahkan merasa aneh. Sumpah, aku hanya iseng membuat ledakan di hutan. Tiba-tiba, semuanya kacau balau begini."

Zane melepaskan genggamannya perlahan, membiarkan Kai kembali berdiri di tanah. Emosinya mulai mereda, tetapi kecurigaannya belum hilang sepenuhnya. "Kalau bukan kau, lalu siapa? Apa ada sabotase?"

Kai menarik napas dalam-dalam, merapikan kerah bajunya yang kusut. "Itu pertanyaan bagus."

"Dan kalau aku boleh jujur, ini mulai bikin bulu kudukku merinding... Aku merasa ada yang aneh di sini, lebih dari sekadar lelucon kecilku."

Zane memandang ke sekitar, memikirkan kemungkinan lain. Kalau ada yang mencoba sabotase markas, ini jauh lebih serius. Zane harus mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas semua ini.

Kai menyenggol tangan Zane, seakan tahu apa yang sedang dipikirkannya. Kali ini tanpa senyuman tengil.

"Aku ikut. Meski aku usil, aku tidak ingin kita kena serangan dari dalam."

Zane mengangguk, meski dalam hati masih setengah ragu. Tapi satu hal pasti: ada ancaman yang lebih besar dari sekadar ulah Kai yang biasanya.

Kai mengerutkan kening, lalu sebuah pikiran tiba-tiba muncul di kepalanya. "Zane... apa mungkin ini ulah ayahmu?"

Zane tampak bingung sejenak, tetapi cepat-cepat menepis pikiran itu. "Marcus? Untuk apa dia melakukan hal semacam ini?"

Kai menyeringai. "Yah, kau menolak perjodohan yang dia atur, kan? Mungkin dia sedikit... kesal dengan keputusanmu?"

Pembicaraan pun tiba-tiba teralihkan. Zane membuang wajahnya dari Kai dan menatap jauh ke depan, menyadari bahwa mungkin saja ia punya titik terang di sini.

Perjodohan dengan Elara, putri Dewan Menteri, adalah hal yang dipaksakan oleh ayahnya, dan Zane telah menentangnya habis-habisan. Marcus bukan tipe orang yang akan diam saja jika kehendaknya tidak diikuti.

"Dia tidak akan sampai sejauh ini..." gumam Zane pelan, tetapi dalam hatinya, ia tahu betapa keras kepala ayahnya bisa menjadi.

Kai menyilangkan tangan di dadanya, sekarang mulai menikmati situasi ini. "Well, kalau kau bisa menentang Marcus Thorn, aku yakin dia bisa mematikan listrik dan air hanya untuk mengganggu hari-harimu."

Zane menghela napas panjang, masih kesal, tetapi sekarang amarahnya teralihkan. "Ini tidak masuk akal. Ayahku menginginkan kekuasaan, bukan balas dendam kecil seperti ini."

Kai tertawa kecil. "Ayolah, Zane. Kau tahu, ayahmu yang menyebalkan itu. Aku nggak pernah suka dia. Dan kau melawan dia, kan? Baginya, ini mungkin hanya cara halus untuk mengingatkanmu tentang siapa yang sebenarnya berkuasa. Dan jangan lupa, dia masih ingin kau menikah dengan Sersan Elara."

Zane menggertakkan giginya, pikirannya bercampur aduk antara kemarahan pada ayahnya dan ketidaknyamanan tentang situasi perjodohan itu. "Aku sudah bilang, aku tidak akan menikahi seseorang yang tidak kucintai. Aku bukan lagi pion yang bisa diatur begitu saja."

Kai terdiam sejenak, kemudian tertawa terbahak-bahak sampai bahunya bergetar.

"Ini benar-benar konyol." Kai menggelengkan kepala. Zane memutar matanya, menyesali kata-kata yang telah keluar dari mulutnya.

"Seharusnya aku yang dijodohkan dengan seseorang yang lebih menarik, bukan dirimu."

"Ini bukan lelucon," Zane menjawab dengan nada serius. "Dia menganggap cinta adalah kelemahan. Dia hanya memikirkan kekuasaan dan kontrol."

Kai tersenyum sinis. "Kau tahu, Zane, aku tidak menyangka kau bisa memahami cinta. Bukankah itu hanya untuk orang-orang lemah? Seperti, ya, katakanlah, manusia biasa?"

Zane menatapnya tajam. "Cinta bukan kelemahan. Aku ingin hidupku sendiri, bukan hanya menjadi pion dalam permainan ayahku."

"Aku mengerti," kata Kai, mengangguk. "Tapi, apakah kamu akan melawan seluruh sistem hanya untuk seorang sersan?"

Zane menggelengkan kepala, ekspresinya menunjukkan rasa frustasi. "Sebenarnya aku tidak ingin berperang melawan dia. Ini bukan hidup yang kuinginkan. Aku harus menemukan cara untuk membatalkan perjodohan ini, tanpa membuatnya semakin marah."

Kai berpikir sejenak, bibirnya tersenyum tipis. "Kau selalu terlalu baik, Zane. Baiklah, aku punya satu ide." Dia mendekatkan wajahnya ke arah Zane, matanya berkilau penuh misteri. "Tapi kali ini... ideku ini benar-benar jenius."

Zane mengangkat alis, menatap Kai penuh tanya, menunggu penjelasan lebih lanjut.

Namun sebelum Kai sempat membuka mulut, suara pintu berderit terdengar dari luar, dan langkah-langkah kaki mendekat.

Kreeekkk..

Tok, tok, tok.

Zane dengan cepat meluruskan postur tubuhnya, bersiap menghadapi orang yang masuk.

Kai, dengan senyum penuh teka-teki, hanya berkata, "Kau akan berterima kasih padaku nanti, Zane. Tapi untuk sekarang... kita biarkan ini jadi rahasia kecil kita."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku dan Cinta Pertamanya
9.2
Saat hamil sembilan bulan, seorang wanita disandera di atap gedung. Di kehidupan lalu, ia memohon suaminya yang merupakan kepala penyelamat untuk datang. Meski selamat, cinta pertama suaminya tewas terbakar, memicu dendam sang suami yang tega menusuknya dan bayi mereka hingga tewas saat melahirkan. Begitu terbangun kembali di hari penyanderaan maut tersebut, ia memilih tidak memohon bantuan lagi. Kali ini, ia membiarkan suaminya pergi menyelamatkan cinta pertamanya tanpa menahan mereka.
Sampul Novel Indra, Reinkarnasi Tiga Dewa
9.6
Dunia sihir Nobel terancam punah akibat virus mematikan kiriman Raja Iblis untuk membasmi manusia. Indra, seorang yatim piatu yang tumbuh di kalangan ras Triton, harus kehilangan tempat tinggalnya yang hancur diserang monster terinfeksi. Demi melawan kegelapan, ia memulai perjalanan bersama Aruna yang misterius dan Rai, pendekar yang bertekad membangun kembali kerajaannya. Akankah Indra berhasil menguak jati dirinya sekaligus menghentikan wabah iblis ini?
Sampul Novel Kafan Hitam
9.6
Kematian tragis Mbah Atim, sang penjaga makam yang jasadnya ditemukan tanpa kepala, mencekam Desa Ciboeh. Teror mistis mulai menghantui warga, mendorong pemuda lulusan pesantren bernama Rojali untuk menyelidiki misteri ini. Pencariannya justru mengungkap rahasia kelam masa lalu desa, kasus hilangnya warga, kelompok rahasia Kalong Hideung, hingga takdir pribadinya. Di tengah situasi genting tersebut, ia mendapat tawaran bantuan dari kekuatan gaib.
Sampul Novel Kobaran Masa Lalu
7.8
Kehadiran wanita asing merusak rumah tangga sang protagonis dalam novel Kobaran Masa Lalu. Suami dan putranya justru membela wanita manipulatif itu hingga memicu perceraian. Di hari perpisahan, sang istri dikunci di kamar yang sengaja diledakkan dengan tabung gas. Tragisnya, sang suami yang bekerja sebagai pemadam kebakaran memilih menyelamatkan wanita lain karena mengira istrinya telah tewas. Ketika mereka bertemu kembali, tuduhan kejam justru kembali dilayangkan kepadanya.
Sampul Novel Less Than Evil
9.6
Di dunia yang kejam ini, seni menjilat dan kepalsuan menjadi senjata utama demi meraih kekuasaan. Hubungan antarmanusia tak lebih dari alat untuk saling memanfaatkan demi ambisi pribadi, tanpa menyisakan ketulusan sedikit pun. Kehidupan bertransformasi menjadi arena pertempuran bagi mereka yang pandai bersandiwara dan berganti topeng. Pada akhirnya, hanya sosok paling licik yang mampu bertahan di tengah persaingan hidup yang penuh tipu daya ini.
Sampul Novel Prajurit Raja Perkasa
9.6
Mantan anggota pasukan khusus, Peter Wang, memulai peran baru sebagai pengawal pribadi Bella Song di perusahaan elite Golden City. Walau sempat menganggap remeh pekerjaan ini, Peter justru terseret ke dalam pertikaian sengit melawan geng kejam dan musuh-musuh tangguh. Di tengah pertempuran yang mendebarkan, pesonanya memikat banyak wanita, mulai dari Amelia, Elaine, Shelly, hingga Lisa. Sanggupkah sang prajurit tangguh mengatasi semua bahaya di kota ini?