APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Balas Dendamku: Menikahi Bos Mantan Suamiku

Balas Dendamku: Menikahi Bos Mantan Suamiku

Demi cinta, Vyora Arabelle rela melepas mimpinya. Namun, pernikahan tanpa restu itu hancur karena sang suami tega berkhianat demi harta setelah dihasut keluarganya. Di tengah keterpurukan dan luka akibat dihina, seorang pria misterius datang menawarkan bantuan untuk membalas dendam kepada sang mantan. Vyora pun menerima tawaran tersebut. Akankah rencana balas dendam ini menumbuhkan cinta baru yang tulus bagi Vyora, atau ia justru akan selamanya terjebak dalam bayang-bayang masa lalu?
Bab
Bagikan

Bab 1

Wanita berpenampilan sederhana namun tetap tak bisa menyembunyikan paras cantiknya terlihat menunggu lampu hijau berganti merah. Wanita itu dengan tak sabar ingin segera berlari menemui seseorang. Dengan amplop putih di tangannya. Wanita itu terus memandangnya dengan penuh kebahagiaan. Sebentar lagi ia akan mendapatkan impiannya. Ini seperti mimpi baginya. Sedikit lagi ia mampu menggenggamnya.

“Aku tidak sabar ingin memberitahunya.” Wanita itu berbicara dengan dirinya sendiri sambil menatap amplop putih di tangannya.

Waktu telah menghitung mundur. Lampu hijau kini berubah menjadi merah. Banyak pejalan kaki yang berdesakan untuk berebut berjalan di zona Zebra Cross. Tubuhnya yang kurus membuatnya terpontang-panting. Amplop putih yang dipegangnya tanpa sengaja terjatuh. Amplop putih yang sangat berarti untuknya. Wanita itu terlihat menunduk mencarinya. Desakan pejalan kaki membuat amplop putih terus berpindah tempat. Wanita itu terlihat kesulitan mengambilnya. Saat sudah tak terlalu banyak pejalan kaki. Wanita itu akhirnya mendapatkan amplop putihnya.

Amplop putih yang tadinya bersih menjadi kotor. Bukannya langsung menyeberang. Wanita itu terlihat membersihkan amplop putih miliknya dengan mimik sedih. Tanpa ia sadari lampu lalu lintas telah berubah hijau. Ia yang masih berdiri di tengah jalan membuat banyak kendaraan membunyikan klakson.

Setelah menyadari kesalahannya. Wanita itu segera menunduk meminta maaf sebelum akhirnya berjalan meninggalkan jalan raya.

Tanpa wanita itu sadari. Dari tadi terdapat pria misterius yang mengamatinya. Kaca mobilnya yang gelap membuatnya tak terlihat dari luar.

“Kau masih orang yang sama. Hatimu sangat lembut,” ucap pria itu dengan mata yang memandang kepergiannya.

Sudah sangat lama ia tidak tahu kabar wanita itu. Semenjak kematian saudaranya ia harus pindah ke luar negeri. Siapa yang akan mengira. Takdir mempertemukannya kembali meski ia tak yakin wanita itu masih mengenalinya.

“Jalan, Pak.”

*****

Mimik wajah wanita itu masih terlihat sedih saat melihat amplop putihnya yang tak bisa sebersih awal. Ia menyesali kecerobohannya. Untung saja lembaran di dalamnya masih baik-baik saja.

“Kenapa aku ceroboh sekali. Untung saja aku tidak kehilanganmu,” ungkapnya dengan penuh penyesalan.

Setelah memastikan amplop putihnya masih aman. Wanita itu melanjutkan kembali langkahnya. Dengan penuh keyakinan wanita itu memasuki sebuah Cafe. Baru ia membuka pintu Cafe. Ia langsung disambut lambaian tangan seorang pria yang sangat ia cintai. Semenjak kedua orang tuanya yang meninggal dalam kecelakaan. Wanita itu hidup sebatang kara. Saat ini ia hanya memiliki pria itu sebagai keluarganya.

“Vyora!” seru pria itu sambil melambaikan tangan ke arahnya.

Ya, wanita itu bernama Vyora Arabelle. Ia tersenyum dan membalas lambaian pria itu dengan ekspresi bahagianya.

“Apa kau sudah lama menungguku?” tanya Vyora.

“Tidak, aku baru saja datang,” ucapnya.

“Apa yang membuatmu tiba-tiba ingin bertemu denganku? Apa semua baik-baik saja, Vin?” tanya Vyora khawatir pada sosok kekasihnya yang sering dipanggilnya Kevin Diaskara.

Wajah Kevin terlihat murung. Semenjak kedatangannya. Kevin terus menekuk wajahnya.

Vyora memegang lengannya. “Vin, aku sedang bertanya padamu. Apa semuanya baik-baik saja?”

Kevin menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya mengangkat wajahnya.

“Aku habis bertengkar dengan papa,” ucapnya.

Saat Kevin mengatakannya. Vyora merasa bersalah padanya. Ini pasti karenanya. Dari dulu orang tua Kevin tak pernah merestui hubungannya. Vyora sempat ingin menyerah. Vyora yang tak ingin memisahkan anak dan orang tuanya. Vyora mengalah. Namun, karena keyakinan dan keteguhan hati Kevin. Akhirnya Vyora tak menyerah begitu saja. Kevin memberinya keyakinan jika nantinya orang tuanya pasti merestuinya.

“Apa karena hubungan kita lagi?” tanya Vyora sedih.

Melihat kesedihan di mata Vyora membuatnya tak tega. Kevin yang sangat mencintainya. Tak mungkin ia ingin melepaskannya begitu saja. Tak ingin membuatnya sedih. Kevin mencoba mengelak. Melihat amplop putih yang dipegangnya. Kevin tampak penasaran.

“Amplop apa itu?” tanya Kevin.

Vyora yang tadinya penuh semangat ingin memberitahunya. Melihat situasi yang tidak baik-baik saja. Tiba-tiba ia ingin mengurungkannya. Ia pikir ini bukan waktu yang tepat memberitahunya. Mungkin ia bisa memberitahunya di lain waktu.

“Ah, ini. Tidak, ini bukan apa-apa. Itu tidak penting.” Vyora segera menyembunyikan amplop putih miliknya di dalam tasnya.

“Kamu tadi belum menjawabku. Apa benar kau bertengkar karena hubungan kita?” Kevin yang tak menjawab membuatnya harus bertanya lagi.

“Kau tidak perlu memikirkannya. Lebih baik kita pesan makanan. Aku sangat lapar.” Tak ingin Vyora yang ke pikiran. Kevin tak ingin membahas lagi permasalahannya.

Mereka memutuskan menyudahi pembicaraannya. Keduanya menikmati makanannya dengan penuh bahagia. Meski di wajah keduanya tak dapat menampik jika mereka masih memikirkannya.

*****

“Maaf, aku tidak bisa mengantarmu.” Kevin sangat menyesali tak bisa mengantar Vyora pulang. Karena dirinya yang tiba-tiba mendapat telepon dari sekretarisnya. Terpaksa ia harus kembali ke perusahaan.

“Tidak apa, kau tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku bisa memesan Taksi,” ucap Vyora.

“Tetap saja aku merasa bersalah padamu. Aku yang mengajakmu bertemu. Tapi, aku harus segera pergi,” sesalnya.

Karena kesibukannya di perusahaan. Membuat Kevin jarang dapat bertemu dengan Vyora. Entah kenapa Kevin mencurigai ayahnya. Bisa saja ayahnya sengaja membuatnya sibuk agar tidak bisa menemui Vyora.

“Aku masih sangat merindukanmu,” ucap Kevin.

Mendengar itu Vyora tersenyum. Tidak hanya Kevin yang merindukannya. Begitu pula dengan dirinya. Ia juga sangat merindukannya. Namun, karena kesibukan sang kekasih. Vyora tak ingin menambah bebannya. Vyora harus bisa memahaminya.

“Beri aku pelukan.” Vyora merentangkan kedua tangannya. Tak lama Kevin datang memeluknya. Keduanya yang merasakan kenyamanan. Mereka terlihat saling tak ingin melepaskan pelukan.

“Kau harus segera pergi,” ucap Vyora meski keduanya masih saling berpelukan. Mereka tampak tak rela melepaskannya.

“Lima menit lagi,” ucap Kevin menenggelamkan pelukannya di leher Vyora.

“Tidak, nanti kau terlambat. Jangan buat papamu marah lagi padamu.”

Mendengar kata yang keluar dari mulut Vyora membuatnya melepaskan pelukannya.

“Baiklah.” Kevin melepaskan pelukannya dengan perasaan berat.

Seperti masih sulit melepaskannya. Perlahan Kevin melepaskan genggaman tangannya padanya.

“Aku pergi?!”

“Ya, hati-hati. Jangan ngebut,” ucap Vyora.

“Em.”

Kevin melambaikan tangannya. Setelah kepergian Kevin. Vyora tampak menekuk wajahnya menyesal. Ia yang tadinya ingin memberitahu kabar baik padanya. Karena waktunya yang tak tepat ia harus mengurungkannya.

Dengan memaksa dirinya tersenyum. “Masih banyak waktu. Aku masih bisa memberitahunya lain kali.”

*****

Waktu kepergiannya ke Jerman tinggal tiga hari lagi. Kesibukan Kevin membuatnya kesulitan mencari waktu yang tepat. Ia tak tahu ekspresi apa yang akan ditunjukkan Kevin nantinya.

“Vyora, maaf aku terlambat.” Vyora membalas dengan senyuman.

Melihatnya yang tampak kelelahan membuatnya kasihan. Kevin pasti banyak pekerjaan. Karena pertemuannya, Kevin harus meninggalkan pekerjaannya. Vyora tampak menyesalinya.

“Tidak apa, kau pasti sangat capek. Maaf, tak seharusnya aku mengganggumu,” ucap Vyora.

“Kau tidak perlu meminta maaf, Vio. Lagian, aku juga ingin membicarakan suatu yang penting padamu,” kata Kevin.

Kevin yang mengingat tujuan awal bertemu dengan Vyora. “Bukankah kau ingin bertemu denganku karena ingin membicarakan sesuatu juga?”

“Benar, tapi kau bisa memberitahuku terlebih dulu. Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, Vin. Sepertinya itu sangat penting,” ucap Vyora penasaran.

“Ya, ini sangat penting. Tapi kau bisa memberitahuku dulu. Sebenarnya ada apa tiba-tiba ingin bertemu denganku.”

Vyora dengan ragu mengambil amplop putih di tasnya. Tak langsung menyerahkannya.

“Sebenarnya sudah lama aku ingin memberitahumu. Namun, aku rasa ini waktu yang paling tepat.”

Kevin menatap amplop putih. Itu sebuah amplop yang sama saat dilihatnya waktu itu. Dengan perlahan Vyora menyerahkan amplop putih itu padanya.

“Sebenarnya apa ini?” tanya Kevin penasaran. Di luar amplop putih tertulis nama salah satu Universitas terbaik di Jerman. Kevin tahu negara Jerman terkenal dengan kampus seni. Terutama musiknya.

“Kau bisa membukanya,” ujar Vyora.

Dengan perlahan Kevin mulai membuka lembaran di dalamnya. Dan benar saja. Sesuai dugaannya. Kevin sangat tahu menjadi pianis merupakan cita-cita terbesarnya. Tapi, kenapa harus sekarang. Kenapa di saat ia telah mengambil keputusan besar justru Vyora akan meninggalkannya.

“Tiga hari lagi?” Kevin menyipitkan matanya.

“I—iya,” jawabnya.

“Kenapa baru memberitahuku sekarang?” ucap Kevin kecewa.

“Maaf, aku sudah ingin memberitahumu dari lama. Tapi, selalu saja waktunya tak tepat.” Vyora mencoba menjelaskannya.

“Lalu, apa kau pikir sekarang waktu yang tepat untuk memberitahuku?” Suara Kevin agak mengeras.

“Ma—maaf.” Vyora tidak tahu harus berkata apa selain meminta maaf.

“Kau tahu apa yang ingin aku katakan padamu?”

Vyora yang tak tahu hanya menunduk dan menggeleng.

“Orang tuaku ingin menjodohkanku dengan rekan bisnisnya,” ungkap Kevin.

Vyora yang tadinya menunduk berganti menatapnya.

“A—apa?”

“Ya, mereka ingin menjodohkanku. Dan kau tahu apa yang aku katakan padanya?” Sekali lagi Kevin mengajukan pertanyaan yang tak mampu dijawabnya.

“Aku menolaknya, Vyora. Bukan hanya itu. Aku bahkan rela meninggalkan semuanya demi mempertahankan hubungan kita.” Kevin mengusap wajahnya kecewa. Vyora tak tahu harus berkata apa. Vyora hanya menangis.

“Dan tinggal tiga hari lagi kau baru mengatakannya,” lanjut Kevin dengan penuh kekecewaan.

“Kalau begitu, kau bisa pergi bersamaku.” Entah kenapa Vyora tiba-tiba ke pikiran ingin mengajak pergi bersamanya.

Masalahnya, itu bukan solusi yang mudah. Jika saja Vyora memberitahunya dari awal Kevin bisa menyiapkannya. Namun, saat ia benar-benar telah menyerahkan semua fasilitas yang diberikan orang tuanya padanya. Itu tidak memungkinkan.

“Jika saja kau mengatakannya dari awal. Mungkin aku bisa memikirkannya. Orang tuaku telah memblokir semua kartu kreditku. Aku bahkan tak yakin uang tabunganku cukup untuk mencukupi kehidupanku.”

Vyora sangat ingin pergi ke Jerman. Impiannya yang sudah di depan mata tak mungkin ia melepaskannya begitu saja.

“Kalau kau berpikir ingin menjalin hubungan jarak jauh. Maaf, Vyora. Aku tidak bisa. Lebih baik aku melepaskanmu daripada tetap berhubungan tapi kita berjauhan,” ucap Kevin.

“Jika kau ingin tetap mempertahankan hubungan kita. Lepaskan impianmu. Dan menikahlah denganku,” lanjutnya.

“Jika kau memilihku. Temui aku.”

Kevin meninggalkannya begitu saja. Vyora tak bisa menahan lagi tangisnya. Kevin sangat penting baginya. Tapi impiannya juga sangat penting untuknya. Seandainya ia bisa memilih. Vyora ingin memiliki keduanya. Mungkin itu terdengar egois. Tapi, kalau disuruh memilih salah satu. Ia tidak bisa. Keduanya sangat penting untuknya.

Dengan sisa air matanya. Vyora dengan terburu-buru mengambil amplop putihnya dan memasukkannya asal ke dalam tas. Saat dalam perjalanan pergi. Tanpa sengaja Vyora menabrak seseorang.

“Maaf.” Vyora menunduk meminta maaf tanpa melihatnya. Dengan terburu-buru Vyora pergi. Tanpa ia sadari amplop putihnya yang dimasukkan asal ke dalam tasnya terjatuh.

Pria itu yang menyadari amplop putih terjatuh di depannya ia mengambilnya. Itu pasti milik wanita yang menabraknya. Pria itu segera memanggilnya.

“Tunggu!”

Mendengar suara pria itu memanggilnya. Vyora berhenti. Pikiran negatif tiba-tiba terlintas di benaknya. Vyora menghapus sisa air matanya. Ia terlalu malu untuk memperlihatkan air matanya di depan orang tak dikenalnya.

“Iya.”

Pria itu menghampirinya dan memberikan kembali amplop putih miliknya.

“Kau menjatuhkannya.”

Vyora menerimanya. “Terima kasih.”

Setelah menerima kembali amplop putihnya. Vyora melangkah pergi meninggalkannya.

“Dia benar-benar tidak mengenalku,” ucap pria itu dengan sendu.

“Jerman? Apa dia akan pergi ke Jerman?” Pria itu terlihat tersenyum miris. Baru saja takdir mempertemukannya kembali. Tapi, karena takdir pula ia harus mengetahui fakta jika wanita yang diam-diam ia kagumi akan pergi ke Jerman. Sungguh sangat menyakitkan takdir yang harus ia terima.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Aliansi, Cinta Transaksional
9.1
Pernikahan aliansi kaum elite mengizinkan perselingkuhan asal istri sah mendapat kompensasi setara. Dean Ramosh memegang erat aturan ini. Meski keluarga Calista Syahrina bangkrut, Dean tetap memanjakannya dengan kemewahan berlipat ganda dibanding selingkuhannya. Saat orang lain memintanya bersyukur, Calista memang sangat bersyukur. Namun, tepat ketika Dean memberinya Vila Northcoast No. 1 demi mengimbangi hadiah rumah untuk selingkuhannya, Calista justru meminta cerai karena merasa bosan.
Sampul Novel Dangerous Touch (Sentuhan Berbahaya)
9.7
Isabel harus menjalani hari-hari yang sepi dan penuh duka sebagai Putri Mahkota setelah kepergian ibu serta kakaknya. Di tengah kesedihan itu, ia bertemu dengan Joseph, seorang miliarder playboy yang bergelimang kemewahan. Pertemuan ini menyalakan percikan asmara yang sangat kuat di antara mereka. Namun, cinta membara ini tidak berjalan mulus. Berbagai rintangan besar dan badai masalah menghadang, memaksa keduanya berjuang keras demi mempertahankan hubungan tersebut.
Sampul Novel Istri Balas Dendam
8.7
Eleanor tewas dalam kecelakaan tragis menjelang pernikahannya. Sang kekasih, miliarder Kieran Lancaster, menuntut balas dendam kepada Vivianne, putri sopir truk penyebab petaka tersebut. Demi menyelamatkan sang ayah dari jerat hukum, Vivianne terpaksa menikahi Kieran untuk menggantikan posisi Eleanor. Pernikahan itu menjadi neraka akibat kebencian dan sikap dingin suaminya. Namun, lambat laun Kieran mulai bimbang setelah menyadari bahwa Vivianne hanyalah korban tak bersalah.
Sampul Novel Jebakan Cinta Sang Miliarder (Amata: Beloved).
7.9
Kepulangan Hwanhee setelah tiga tahun justru berujung pada paksaan sang ayah untuk menikahi Ayda Hannah Elsworth demi ambisi keluarga. Di sisi lain, Hannah yang keras kepala curiga rahasianya dimanfaatkan sebagai alat kendali, sehingga ia menolak menjadi menantu boneka. Meski kewalahan menghadapi sikap Hannah yang rumit dan liar, kemandirian wanita itu perlahan memicu dinamika benci jadi cinta yang tak terduga di antara keduanya.
Sampul Novel Kurawat Dengan Cinta, Dibalas Dengan Pengkhianatan
9.4
Selama tiga tahun, Claire Nolan merawat suaminya, Julian Westwood, yang lumpuh. Bukannya dihargai, Julian malah membencinya hingga tega mengunci Claire di luar rumah selama 99 hari. Saat bisa berjalan lagi, Julian justru langsung menjemput cinta pertamanya di bandara. Sadar kasih sayangnya tak dihargai, Claire memutuskan mengakhiri kontrak dan meminta cerai. Kepergian Claire akhirnya meninggalkan penyesalan mendalam bagi Julian yang terlambat menyadari segalanya.
Sampul Novel Pelakor Itu Sahabatku
9.7
Perceraian menyakitkan akibat pengkhianatan sang suami meninggalkan luka batin yang mendalam bagi Senja. Trauma masa lalu tersebut membuatnya enggan membuka hati untuk pria lain. Di tengah keputusasaannya, muncul seorang CEO muda yang terus berjuang keras meluluhkan sikap dinginnya. Kini, Senja dihadapkan pada pilihan sulit: membuka lembaran baru bersama cinta yang baru, atau justru kembali rujuk dengan mantan suaminya yang dahulu telah memberi luka.