APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Balas Dendam seorang ibu

Balas Dendam seorang ibu

Kehidupan Maya runtuh seketika setelah putrinya tewas di tangan anak pejabat yang kebal hukum. Sadar bahwa keadilan tak akan pernah berpihak padanya lewat sistem yang korup, sang ibu memutuskan bergerak sendiri. Ia merancang pembalasan dendam yang matang demi menghukum sang pelaku, meski nyawanya menjadi taruhan. Akankah misi berbahaya ini membawa kedamaian yang ia cari, atau justru menghancurkan sisa hidupnya? Inilah perjuangan nekat seorang ibu demi kebenaran.
Bab
Bagikan

Bab 2

"David," suara Maya rendah, hampir berbisik, tapi ada ketegasan dalam nada suaranya. "Kalau kau datang untuk menasihatiku agar berhenti, lebih baik kau pergi. Kau hanya membuang-buang waktu mu saja."

David, pria berusia lima puluhan dengan kerutan di wajah yang menceritakan kisah hidup penuh perjuangan, dan kehilangan berdiri tak jauh di belakangnya. Cahaya lampu jalan yang redup memperlihatkan siluet tubuhnya yang kokoh, meski ia tampak kelelahan, baik secara fisik maupun emosional. Mata David menatap punggung Maya dengan penuh rasa prihatin, tapi dia tahu tidak ada kata-kata yang bisa mengubah wanita ini.

"Aku tidak akan menasihatimu untuk berhenti, Maya" kata David, suaranya tenang namun sarat dengan beban yang tak terlihat. "Aku tahu rasa sakit yang kau rasakan, karena aku pernah mengalaminya juga. Aku tahu kata-kataku tidak akan pernah bisaa mengubah apa pun, tapi..." dia terdiam sejenak, memilih kata-kata dengan hati-hati, "aku ingin tahu... bagaimana perasaanmu sekarang, setelah membalas dendam pada salah satu dari mereka?"

Maya menggigit bibirnya, menahan rasa sakit yang tiba-tiba menghantam hatinya. Pertanyaan itu bergaung di benaknya, menghantam setiap sudut jiwanya yang telah lama hancur. Ia ingin menjawab dengan cepat, ingin mengatakan bahwa ia merasa lega, bahwa semuanya kini terasa lebih baik. Namun, kenyataan selalu lebih rumit dari sekadar jawaban sederhana.

Dia terdiam beberapa saat, membiarkan keheningan menggantung di antara mereka. "Aku belum puas," jawabnya akhirnya, suaranya serak, seperti dipaksa keluar dari tenggorokannya. "Aku belum puas sampai semua orang yang terlibat mendapatkan pembalasan yang setimpal."

David menatap Maya dengan ekspresi yang sulit diartikan-ada kesedihan, ada simpati, namun juga ada rasa takut terhadap apa yang mungkin terjadi selanjutnya. "Dan siapa sekarang target selanjutnya?" tanyanya dengan suara yang lebih pelan, seolah-olah takut jawabannya akan menghancurkannya.

Maya perlahan berbalik, wajahnya dingin dan tanpa emosi. Matanya yang dulu hangat kini hanya memancarkan kebencian yang dalam. Senyuman tipis, hampir seperti ejekan, terlukis di bibirnya. "Tony," katanya, dengan nada yang penuh tekad. "Dia targetku selanjutnya."

David terdiam, menahan napas sejenak. Nama itu membawa gelombang kenangan buruk, mengingatkannya pada malam yang tak ingin diingat oleh siapa pun yang mengetahuinya. "Tony...," dia mengulanginya, lebih kepada dirinya sendiri. "Kau sadar siapa dia, Maya? Dia bukan orang biasa. Dia anak pejabat tinggi kepoliasian di kota ini, yang punya kuasa di mana-mana."

"Dan kau pikir aku akan peduli, David?" Maya memotong, nadanya tajam seperti belati. "Aku tahu siapa dia. Tapi kau juga tahu, dia bagian dari ini semua. Dia ada di sana, tertawa saat anakku memohon...Saat melemparnya dengan batu, Saat darahnya mengalir di antara mereka, seperti hiburan murahan." Dia mendekat, wajahnya nyaris bersentuhan dengan wajah David. "Dia harus membayar... mereka semua harus membayar apa yang sudah mereka perbuat pada anakku."

David merasakan dadanya sesak oleh kata-kata Maya. Dia mengenal wanita ini, sangat mengenalnya-atau setidaknya, dulu. Sekarang, yang berdiri di hadapannya adalah seseorang yang telah hancur, seseorang yang telah kehilangan semua hal yang membuatnya manusiawi.

"Aku tidak akan menghentikanmu, Maya," kata David akhirnya, suaranya rendah namun penuh ketegasan. "Tapi aku ingin kau berpikir... sejenak saja, tentang apa yang akan kau dapatkan dari semua ini. Kau sudah membalas dendam pada satu orang, dan itu tidak memberimu kedamaian. Apa yang membuatmu berpikir bahwa membunuh Tony akan membuatmu merasa lebih baik?"

Maya menatapnya dengan tatapan kosong. "Aku tidak mencari kedamaian," katanya dingin. "Aku hanya ingin mencari keadilan."

"Keadilan?" David mengulanginya, ada nada sinis dalam suaranya. "Ini bukan keadilan, Maya. Ini pembalasan dendam. Dan pembalasan dendam hanya akan menghancurkanmu lebih dalam."

"Biarkan aku yang menentukannya," balas Maya cepat. "Aku sudah sangat hancur, David. Tidak ada yang bisa diperbaiki. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan sekarang adalah membuat mereka semua membayar untuk apa yang telah mereka lakukan."

David menggeleng pelan, merasa tak berdaya menghadapi kebencian yang begitu mendalam. "Kau akan kehilangan dirimu sendiri, Maya. Dan aku takut... aku takut kau tidak akan pernah bisa kembali."

"Aku tidak peduli," jawab Maya dengan tegas. "Satu-satunya hal yang penting sekarang adalah memastikan mereka merasakan rasa sakit yang sama seperti yang anakku rasakan. Aku ingin mereka memohon, aku ingin mereka menangis, dan aku ingin mereka mengerti bahwa tidak ada tempat yang aman bagi mereka lagi."

David menunduk, pandangannya tertuju pada tanah yang becek di bawah kakinya. Dia tahu bahwa kata-kata tidak akan mengubah apa pun. "Bagaimana kau akan melakukannya?" tanyanya, lebih kepada diri sendiri daripada kepada Maya.

Maya menatapnya dengan senyum tipis yang menakutkan. "Aku punya cara," katanya singkat. "Aku punya cara untuk memastikan dia merasakan ketakutan yang sama seperti yang anakku rasakan. Tapi aku tidak akan menceritakan rencanaku padamu, David. Ini urusanku, dan aku akan menyelesaikannya dengan caraku sendiri."

David menatap Maya dengan kesedihan yang mendalam. "Tony adalah orang yang berbahaya, Maya. Ayah seorang polisi, dia punya uang, dan dia punya kekuasaan. Jika kau mencoba melawannya, kau mungkin tidak akan berhasil."

"Aku tidak peduli," kata Maya, suaranya dingin. "Aku tidak takut pada Tony. Aku tidak takut pada siapa pun. Satu-satunya hal yang aku takutkan adalah tidak bisa membalas dendam. Dan aku tidak akan membiarkan ketakutan itu menghalangiku."

David merasakan hatinya hancur mendengar kata-kata itu. Maya telah berubah menjadi seseorang yang tidak dia kenali lagi. "Kau tahu, Maya," katanya pelan, "aku pernah kehilangan seseorang yang sangat kucintai juga. Aku tahu bagaimana rasanya... keinginan untuk membalas dendam itu bisa begitu kuat, begitu memabukkan... Tapi itu tidak akan membawamu ke mana-mana."

Maya menatap David dengan pandangan dingin. "Kau tidak tahu apa yang aku rasakan, David. Kau tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan anakmu dengan cara seperti ini. Kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat mayat anakmu tergeletak di rumah sakit, tubuhnya penuh luka, dan tahu bahwa mereka yang melakukan ini tertawa di balik jeruji besi yang mereka beli dengan uang. Kau tidak tahu bagaimana rasanya mendengar tawa mereka... tawa yang menghantuiku setiap malam."

David terdiam, tak ada yang bisa dia katakan untuk merespons. "Aku tahu," katanya akhirnya, "Aku tahu kau terluka, Maya. Dan aku tahu kau tidak akan berhenti. Tapi, apa yang akan kau lakukan setelah semuanya selesai? Setelah mereka semua mati? Apa yang akan tersisa darimu?"

Maya terdiam, pertanyaan itu menghantamnya seperti pukulan telak di perut. Tapi dia menepisnya. "Aku tidak tahu," katanya akhirnya. "Aku tidak peduli apa yang tersisa dariku. Aku hanya peduli tentang keadilan bagi anakku."

"Ini bukan tentang keadilan lagi, Maya," David menegaskan. "Ini tentang pembalasan dendam. Dan pembalasan dendam tidak pernah berakhir baik. Kau mungkin akan mendapatkan keinginanmu, tapi pada akhirnya... kau akan kehilangan segalanya."

"Aku sudah kehilangan segalanya," Maya balas, suaranya rendah namun penuh tekad. "Satu-satunya yang tersisa untukku sekarang adalah balas dendam. Dan aku akan menyelesaikan ini, David. Aku akan menyelesaikannya, tidak peduli dengan kekuatan orang tua mereka.."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balik Kanan Duda
9.6
Pertemuan tak terduga dengan Indira Pramesti menyeret Damian Kusuma ke dalam malam penuh gairah akibat pengaruh alkohol. Merasa harga dirinya diinjak-injak, Indi bertekad menjauhi Damian selamanya. Namun, nasib buruk menimpa hubungannya dengan Rangga hingga jalinan asmara mereka kandas. Di tengah situasi itu, orang tua mereka justru sepakat menjodohkan Indi dengan Damian. Kini, Indi didera kebencian mendalam sekaligus dilema besar untuk menuruti kehendak keluarga.
Sampul Novel Bos Terkutuk: Jauhi Aku!
8.6
Lima tahun Valerie mengabdi sebagai sekretaris Edwin, tetapi ia justru didepak ke kantor cabang. Siapa sangka, pengasingan ini membawa berkah. Di tengah kehadiran pria baru dan warisan miliarder dari sang ayah, Valerie menyadari betapa kelam masa lalunya. Saat Edwin dengan angkuh menuduhnya belum bisa move on di sebuah pesta, Valerie langsung membalas ejekan mantan bosnya itu. Kini situasi telah berbalik, dan Valerie yang memegang kendali.
Sampul Novel Hasrat Sang Guru
9.7
Dosen Sansekerta sekaligus praktisi yoga, Vidwan Surya, sangat dikagumi para mahasiswanya. Namun, pertemuannya dengan mahasiswi pendiam pencinta bahasa kuno, Grisse Anggara, memicu sebuah obsesi rahasia. Grisse yang lugu merasa tenang dengan kepedulian Vidwan, tanpa tahu ada hasrat besar sang guru untuk memilikinya. Begitu asmara mulai hadir, keraguan menyelimuti Grisse. Ia pun bimbang, apakah ini cinta sejati atau hanya nafsu belaka?
Sampul Novel Kematianku Membuat Hatinya Hancur
8.8
Selama lima tahun, Jane Rivers merasa sangat dicintai oleh Nathan Cross, bos mafia penguasa kegelapan yang telah mendambakannya selama satu dekade. Namun, kebahagiaan itu hancur saat Jane hamil. Nathan justru memaksanya menggugurkan kandungan demi wanita lain. Jane pun mendapati fakta keji bahwa suaminyalah yang menghancurkan keluarganya. Merasa hancur, ia memalsukan kematiannya dibantu musuh Nathan untuk melarikan diri. Nathan kini meratap menyesal, tetapi luka Jane sudah telanjur mendalam.
Sampul Novel PERNIKAHAN PENUH KEBENCIAN
8.3
Setelah sepuluh tahun, Rina Wibowo kembali ke kehidupan Aditya Harsono sebagai guru privat anaknya. Perubahan fisik membuat Adit tidak mengenali Rina dan jatuh cinta lagi padanya. Namun, begitu identitas asli Rina terbongkar, cinta Adit berubah menjadi dendam membara. Ia pun menikahi Rina hanya untuk menyiksanya demi membalas luka masa lalu. Di tengah siksaan itu, sanggupkah Adit bertahan dengan kebenciannya saat Rina memilih menyerah dan meminta cerai untuk selamanya?
Sampul Novel Withered
9.5
Dalam situasi mencekam yang mengancam nyawa, Rexy dipenuhi kemarahan besar hingga menyesal tidak menghabisi semua orang yang terlibat. Di tengah ketegangan itu, Arini hanya bisa menangis histeris di bawah guyuran air shower yang dingin. Meski Rexy melontarkan ancaman kejam untuk merobek pakaiannya, Arini tetap terisak dan mendekap erat tubuh pria itu sebagai satu-satunya sandaran. Pertemuan penuh emosi ini menyelimuti konflik berbahaya mereka.