APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Balas Dendam seorang ibu

Balas Dendam seorang ibu

Kehidupan Maya runtuh seketika setelah putrinya tewas di tangan anak pejabat yang kebal hukum. Sadar bahwa keadilan tak akan pernah berpihak padanya lewat sistem yang korup, sang ibu memutuskan bergerak sendiri. Ia merancang pembalasan dendam yang matang demi menghukum sang pelaku, meski nyawanya menjadi taruhan. Akankah misi berbahaya ini membawa kedamaian yang ia cari, atau justru menghancurkan sisa hidupnya? Inilah perjuangan nekat seorang ibu demi kebenaran.
Bab
Bagikan

Bab 3

David menatap Maya dengan tatapan penuh belas kasihan. Di tengah malam yang kelam, dia tahu bahwa wanita ini telah berada di ambang batas-batas antara kemanusiaan dan kebrutalan. Setiap kata yang diucapkannya, setiap langkah yang diambilnya, seakan mencerminkan tekad yang tak tertandingi.

"Baiklah," kata David akhirnya, suaranya berat dan penuh rasa putus asa. "Aku tidak akan menghalangimu lagi, Maya. Jika kau membutuhkan bantuanku, kau tahu di mana aku berada. Aku akan membantumu dengan cara apa pun yang aku bisa."

Maya menatap David, matanya kosong namun penuh dengan pengertian. Tidak ada rasa terima kasih yang tersisa dalam dirinya, hanya sebuah pemahaman bahwa meskipun dunia mungkin tidak membantunya, setidaknya ada satu orang yang tidak akan menilai tindakan-tindakannya.

"Terima kasih," kata Maya singkat, suaranya datar. "Aku akan mengingat tawaranmu ini. Selamat tinggal, David."

Dia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan David dengan tatapan yang menembus kegelapan malam. David berdiri di tempatnya, merasakan beratnya keputusan yang baru saja dia ambil. Dia tahu bahwa Maya tidak akan kembali menjadi seperti sebelumnya. Dia juga tahu bahwa dia mungkin tidak akan pernah bisa mengubah keputusan wanita itu.

Maya melangkah pulang ke apartemennya, suasana malam semakin gelap saat ia memasuki ruangannya yang sepi. Lampu-apartemennya redup, memberi nuansa muram yang sejalan dengan suasana hati Maya. Dia membuka kunci pintu dengan gerakan otomatis, seakan pikirannya tertutup untuk segala sesuatu di luar dunia pembalasan dendam.

Langkah Maya berderak di atas lantai kayu, seiring ia mendekati kamar mandi dengan napas yang terengah-engah. Kegelapan di sekelilingnya terasa menekan, seperti bayangan masa lalu yang selalu mengikutinya, tak pernah melepaskan. Pintu kamar mandi terbuka perlahan, dan begitu dia memasuki ruangan itu, Maya langsung merasakan dinginnya ubin yang menembus telapak kakinya, kontras dengan panasnya kebencian yang mendidih dalam dirinya.

Maya berdiri di depan cermin, menatap bayangan dirinya yang tampak rapuh. Wajahnya terlihat lelah, penuh luka batin yang tak kasat mata. Bekas darah yang mengering di pipi dan lehernya mengingatkannya pada apa yang baru saja ia lakukan. Namun, yang lebih mengerikan dari noda darah itu adalah tatapan di matanya sendiri-tatapan kosong yang memancarkan kehampaan, seakan-akan jiwanya telah terkikis habis oleh dendam yang ia pelihara.

Ia menyalakan keran air dengan gerakan lambat, membiarkan air panas mengalir dan mengisi ruangan dengan uap tebal. Uap itu segera mengaburkan cermin di depannya, tetapi Maya tak peduli. Dia mulai melepas pakaiannya, satu per satu, melemparkan setiap helai dengan kegetiran yang tak terungkapkan. Pakaian yang berlumuran darah jatuh ke lantai, membentuk gumpalan merah yang kontras dengan putihnya ubin.

Maya melangkah ke dalam pancuran, membiarkan air panas membasahi tubuhnya. Tetesan air yang jatuh dari pancuran mengalir deras di sepanjang tubuhnya, tetapi bukannya memberikan kenyamanan, air itu hanya terasa seperti aliran air mata yang tak bisa ia tangisi. Dengan tangan yang gemetar, dia mengambil spons dan mulai menggosok kulitnya, mencoba menghapus noda darah yang menempel di sana.

Setiap gosokan yang ia lakukan semakin keras, penuh amarah dan keputusasaan. "Hilang... hilanglah..." bisiknya dengan suara bergetar, seakan-akan dia berbicara kepada rasa sakit yang membebani hatinya. Namun, tak peduli seberapa keras ia menggosok, noda itu tetap ada-seperti bayang-bayang dosa yang tak bisa ia hindari.

Air mulai membilas noda darah, membawanya turun ke lubang pembuangan, namun di mata Maya, noda itu tetap ada, mengotori jiwanya yang telah lama terkoyak. "Aku seharusnya tidak menjadi seperti ini," kata Maya dengan suara yang hampir tak terdengar, matanya terpejam rapat menahan tangis. "Aku seharusnya tidak menjadi monster..."

Tapi, bayangan putrinya yang telah tiada muncul dalam benaknya, memotong setiap pemikiran lain. Bayangan itu menari di sekitar ingatannya, memamerkan senyumnya yang cerah dan tawa riangnya yang kini hanya tinggal kenangan. Maya teringat hari-hari bahagia yang dulu mereka habiskan bersama, saat putrinya masih hidup-sebuah kehidupan yang penuh dengan cinta dan kebahagiaan. Sekarang, semua itu terasa seperti mimpi buruk yang tak berujung.

"Kenapa mereka harus merenggutmu dariku?" Maya bertanya kepada dirinya sendiri, suaranya penuh keputusasaan. "Kenapa mereka harus menghancurkan mu? Apa salahmu pada mereka...?"

Ia mulai menangis, tubuhnya yang lelah bergetar di bawah pancuran air yang terus mengalir.

Setiap tetes air yang jatuh ke tubuhnya terasa seperti jarum-jarum yang menusuk kulitnya, mengingatkannya pada setiap luka yang telah mereka ciptakan. "Aku tidak bisa memaafkan mereka," bisik Maya, suaranya tenggelam dalam isak tangis yang menyakitkan. "Aku tidak akan pernah bisa memaafkan mereka..mereka semua harus mendapatkan balasan yang setimpal."

Maya berhenti menggosok tubuhnya, membiarkan air membasuhnya tanpa perlawanan. Dia menatap ke bawah, melihat aliran air yang kini berubah menjadi merah, seolah-olah darah yang baru saja ia tumpahkan kembali membanjiri tubuhnya. Tapi tidak ada yang bisa menghapus kebencian yang sudah terukir dalam jiwanya. Tidak ada air yang cukup untuk membersihkan dosa ini.

Dalam hatinya, Maya tahu bahwa dia telah berubah-bahwa dendam telah merubahnya menjadi seseorang yang dia sendiri tidak kenali. Tapi apa lagi yang bisa dia lakukan? Mereka yang telah mengambil putrinya tidak pantas hidup tanpa rasa takut, tanpa merasakan penderitaan yang mereka berikan.

"Lima orang lagi..." Maya bergumam, suaranya tenggelam di antara suara pancuran yang berderai. "Lima nyawa lagi yang harus kuambil..."

Setelah beberapa saat, Maya mematikan keran air dan keluar dari pancuran, meninggalkan tubuhnya yang basah tanpa niat untuk mengeringkannya. Dia berjalan ke depan cermin yang kini penuh embun, mengusapnya dengan tangan, memperlihatkan bayangannya yang kusut dan penuh luka.

Wajah di cermin itu bukan lagi wajah seorang ibu yang penuh cinta. Mata itu, yang dulu memancarkan kehangatan, kini hanya memantulkan kehampaan yang gelap dan tak berujung. "Aku akan membalasmu, Nak," bisiknya kepada bayangan putrinya yang samar di dalam cermin. "Aku akan membuat mereka membayar semua yang sudah dilakukan pada Liana.. dengan nyawa mereka."

Bayangan putrinya terlihat tersenyum-sebuah senyum yang hanya bisa Maya bayangkan dalam mimpinya. Senyum itu menghilang saat Maya menundukkan kepalanya, air mata kembali mengalir dari matanya yang merah.

Dia melangkah ke kamar tidur, tubuhnya terasa berat, seolah-olah seluruh dunia berada di atas bahunya. Setiap langkah terasa seperti pertempuran melawan dirinya sendiri, melawan amarah dan rasa sakit yang tak tertahankan. Maya meraih ponsel yang tergeletak di meja, dan membuka daftar nama. Di sana, lima nama tertera dengan jelas, lima nama yang kini menjadi tujuannya.

Nama pertama muncul-Tony. "Kau selanjutnya," bisik Maya dengan senyum yang samar namun mengerikan di bibirnya. "Aku akan pastikan kau merasakan apa yang di rasakan anakku... Setiap detik dari penderitaannya itu."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Thousand Tears of Sword
8.8
Di benua terkutuk yang penuh penindasan dan perdagangan manusia, dewa mengutus Dewi Kematian untuk menegakkan keadilan. Sialnya, sebuah insiden saat turun ke bumi melenyapkan seluruh kekuatannya. Ia justru bereinkarnasi sebagai gadis kecil bernama Hua Hua. Tanpa kekuatan dewa yang tersisa, mampukah ia menuntaskan misi sucinya untuk menyelamatkan mereka yang tertindas di tengah neraka dunia ini?
Sampul Novel Aku Dikira Selingkuhan Kakakku
8.3
Akibat panggilan sayang dan kiriman uang dari kakaknya, seorang gadis dituduh sebagai wanita simpanan oleh calon kakak iparnya. Kelompok perundung mendatangi rumah barunya, merusak bangunan tersebut, merobek pakaiannya, dan memotretnya dengan kartu pelajar untuk mempermalukannya di forum kampus. Namun, situasi berbalik menegangkan ketika sang kakak tiba. Menatap adiknya yang ditindas, amarahnya meledak dan ia siap membalas siapa saja yang mengusik keluarganya.
Sampul Novel Husband billionare
8.3
Pasca lolos dari upaya pembunuhan oleh pamannya, Wira, bos Grup Jason bernama Arkhana kehilangan ingatan. Ia diselamatkan Nina di sebuah desa hingga keduanya menikah. Begitu memorinya kembali, Arkha menyamar demi mengusut kejahatan Wira atas keluarganya. Usai dendamnya terbalas, Arkha mendapati rumah istrinya hancur akibat ulah istri Wira. Ia pun bergegas menyelamatkan Nina, mengungkap jati dirinya sebagai miliarder, lalu memboyongnya ke kota.
Sampul Novel Iblis Suci
9.1
Yatim piatu sejak kecil karena orang tuanya gugur demi masyarakat, Limdong hidup terisolasi. Tubuhnya menyimpan kekuatan luar biasa yang kerap meledak tak terkendali, membuat orang-orang takut dan menjauhinya. Demi mendapatkan perhatian, ia sering berbuat usil, namun tindakan itu justru memperburuk keadaannya. Di tengah kesendirian dan penolakan sosial tersebut, ia memendam impian besar untuk menjadi seorang Raja. Sanggupkah pemuda yang dianggap aneh ini mewujudkan ambisinya?
Sampul Novel PESONA IBLIS MAFIA KEJAM
9.6
Kendati telah kabur dari ayahnya demi menghindari dunia hitam, warisan darah mafia tetap mengalir kuat di tubuh pria ini. Di balik sosoknya yang sangat dingin, kejam, dan mematikan, ia memiliki ketampanan memikat layaknya iblis Lucifer. Kebrutalan serta bahaya yang menyelimuti dirinya justru menjadi magnet kuat yang tak bisa ditolak oleh para wanita dan orang-orang di sekitarnya, memancarkan pesona gelap yang begitu menawan.
Sampul Novel Prajurit Raja Perkasa
9.6
Mantan anggota pasukan khusus, Peter Wang, memulai peran baru sebagai pengawal pribadi Bella Song di perusahaan elite Golden City. Walau sempat menganggap remeh pekerjaan ini, Peter justru terseret ke dalam pertikaian sengit melawan geng kejam dan musuh-musuh tangguh. Di tengah pertempuran yang mendebarkan, pesonanya memikat banyak wanita, mulai dari Amelia, Elaine, Shelly, hingga Lisa. Sanggupkah sang prajurit tangguh mengatasi semua bahaya di kota ini?