
Balas Dendam Istri yang Teraniaya
Bab 3
Ketika penyakit radang lambungku mulai membaik, aku pulang dari rumah sakit. Di pagi hari, suamiku sudah berangkat kerja, sedangkan ibu mertua senam di lapangan luar rumah. Aku memasang kamera tersembunyi di seluruh bagian rumah.
Mereka sudah membahas masalah asuransi. Aku harus mulai mengawasi gerak-gerik mereka. Tindakan ini kulakukan untuk antisipasi mereka ingin membunuhku untuk mendapatkan asuransi.
"Siska, kamu nggak sarapan? Ini ayam yang baru kubeli dari pasar, masih segar. Sejak masuk rumah sakit, kamu kurusan, jadi sekarang kamu harus lebih banyak makan," ucap ibu mertua.
"Aku nggak sarapan. Kantor sudah menyediakan makanan. Aku pergi kerja dulu." Aku takut mereka ingin meracuniku.
"Kamu belum minum pil KB," kata suamiku mengingatkan.
Pil KB seharusnya diminum setiap hari dan harus di jam yang sama, biasanya selalu kuminum setelah sarapan.
Sambil menahan mual, aku berkata, "Nggak perlu. Selama di rumah sakit, aku nggak meminumnya, jadi nggak berguna kalau aku minum sekarang."
Setelah itu, aku berangkat kerja. Sesampainya di kantor, bos memerintahkanku untuk pergi dinas.
Ini suatu kebetulan yang mengejutkan, memang inilah yang kuinginkan!
Sorenya, aku pulang untuk mengemasi barang-barangku. Baru saja masuk kamar, aku melihat ibu mertua masuk kamar dengan tersenyum lebar bersama tetangga kami bernama Paman Owen.
"Ada beberapa gerakan yang belum kukuasai, tolong Pak Owen ajari aku, ya," kata ibu mertua sambil tersenyum.
"Nggak apa-apa, aku akan mengajarimu."
Mereka berdua tiba-tiba melihatku, lalu menjadi salah tingkah. Ibu mertua bertanya dengan gugup, "Siska, kamu kok sudah pulang?"
"Oh, aku mengemasi barang untuk pergi dinas. Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Ada gerakan senam yang belum kukuasai! Kami mau latihan."
"Oh, baiklah. Kalian latihanlah, aku pergi dulu."
Setelah keluar kamar, aku baru menyadari ada yang aneh.
Jika ada gerakan senam yang belum dikuasai, kenapa ibu mertua tidak minta Bibi Lusi mengajarinya, dia malah meminta tolong suaminya Bibi Lusi?
Aku keluar rumah sambil membuka CCTV. Dari rekaman CCTV, aku melihat ibu mertua berpelukan dengan Paman Owen. Selanjutnya, mereka berdua berguling-guling di tempat tidur.
Heh, dia menyuruh anaknya berselingkuh dengan wanita lain, ternyata dia sendiri adalah pelakor. Dasar nggak tahu malu!'
Aku akan ambil rekaman ini sebagai bukti. Setahuku, Bibi Lusi sangat pintar berdebat. Dalam waktu dekat, aku akan membongkar skandal ibu mertua dan Paman Owen.
Aku tidak bisa menahan tawa saat memikirkan ide bagus ini. Aku mengeluarkan ponsel.
Ada seorang sahabat menghubungiku.
Sania, apa kamu punya pil KB? Gantilah isi kapsul KB dengan suplemen, kemudian kirimkan kepadaku."
"Kamu mau melakukan apa?"
"Nanti kamu lihat sendiri, sebentar lagi akan ada pertunjukan yang menarik!" jawabku.
"Oke!"
Ibu mertua begitu menginginkan anak. Kalau begitu, aku akan membuat dia hamil.
Malam harinya, aku meminta sahabatku mengirimkan pil KB itu ke rumahku.
Setelah turun dari pesawat, aku menghubungi ibu mertua.
"Bu, nanti akan ada paket yang dikirim ke rumah. Tolong terima paketnya, ya."
"Beli apa lagi? Buang-buang uang saja. Sebagai seorang wanita, harus pintar menabung."
"Pil KB kualitas bagus, harganya mahal. Jangan dibuang, ya. Sudah dulu, Bu. Aku masih ada pekerjaan."
Anda Mungkin Juga Suka





