APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Back To School

Back To School

Geng Prit..Prit..Can yang beranggotakan Diwi, Tari, Lani, dan Emily adalah detektif hiperaktif di SMA Siliwangi yang gemar mengusut kejanggalan. Mereka memiliki janji bersama untuk tidak jatuh cinta pada kakak kelas. Namun, komitmen tersebut mulai goyah saat perasaan cinta tumbuh dan memicu konflik besar. Keadaan menjadi kian rumit ketika mereka menyadari telah menyukai cowok yang sama. Kini, persahabatan erat serta perasaan mereka dipertaruhkan dalam pilihan yang sulit.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Duuuuaaarrr…

Mily mengagetkan Lani yang duduk disebelah pintu kelas, dia menghadap membelakangi pintu. Sedang enak-enaknya ngegibah dengan sahabat-sahabatnya.

“Badak, lo.” Mulut Lani sontak berucap yang tidak jelas artinya.

“Udah sembuh, lo, Mil? Tanya Diwi.

“Udah dong, udah baikan nih.” hehehe, “Kok nggak pada ke kantin nih?” tanya Mily kepada tiga sahabatnya.

Terlihat Tari sibuk mengerjakan tugas yang diberikan pak Munawar barusan, selain paling rajin, Tari juga sangat menyukai pelajaran Matematika. Berbeda 180% dengan ketiga sahabatnya. Yang sangat anti Matematika, sejarah, dan ada beberapa mata pelajaran lainnya. Niat sekolah apa kagak sih?

Lagi serius-seriusnya mengerjakan tugas, Tari dihampiri oleh Mily yang membawa tipe x. Digenggamnya benda itu kemudian dibubuhkan pada buku Tari secara acak, tulisan Tari yang semula sudah rapi, ciamik, aduhai, lalalala. Kini rusak karena bekas coretan benda itu yang dibubuhkan ngawur.

“Apaan, sih, lo, Aseeem!! ucap Tari sembari melayangkan pukulan ringan ke tangan Mily.

“Ih, sukurin…weeeeek.” bukannya kesakitan, Mily malah tambah mengejek sahabatnya itu.

Kedua sahabatnya juga tertawa ringan melihat tingkah laku Tari dan Mily. Ada saja kelucuan-kelucuan yang mereka ciptakan. Persahabatan mereka harmonis. Ada tawa, ada perhatian, ada duka, ada-ada saja. Jika salah satu dari mereka mengalami kesusahan ataupun rasa sakit. Yang lain tidak akan tinggal diam, pasti mereka berusaha melindungi, berusaha menjadi yang terdepan untuk menolong. Seperti halnya, peristiwa tadi sewaktu Mily pingsan gara-gara smashan bola Volly. Lani, Belani Dewi Atmojo, yang notabene jago pencak silat, bersikeras untuk mencari siapa yang melempar. Sampai-sampai sahabatnya yang tak lain dan tak bukan, Diwi dan Tari juga bersumpah tidak akan memaafkan pelakunya jika sampai ketemu.

Begitulah perhatian-perhatian yang mereka ciptakan. Susah senang, mereka sudah patenkan untuk selalu ada saat dibutuhkan. Tawa dan tangis, sudah seringkali mereka dapatkan. Adapun, dengan rangkulan, satu per satu masalah mereka terbinasakan.

Ada raut wajah bahagia yang dipancarkan Mily, sewaktu datang dari UKS, senyum merekah ditampilkan kepada sahabat-sahabatnya.

“Lo, kenapa, Mil, girang banget, dasar bocah tengik?” selidik Lani yang Mily kagetkan tadi.

“Ih, biasa aja tuh, gue.” Mily menjawab dengan bibir menyuncup.

“Gue, mencium bau-bau tidak seperti biasanya, cepet, lo, jujur, habis ngapain, lo, di UKS tadi?” gini giliran Tari yang memastikan.

“SUMPAH, gue, biasa aja, tetep sama. Tetep Emily Hayu Baskoro, yang kalian kenal.” Hahaha.

Diwi tetap dengan ciri khasnya, diam, menyaksikan sahabat-sahabatnya bencengkrama. Sesaat kemudian, dia beranjak dari bangkunya, menghampiri Mily yang masih berdiri di depan Tari. Dari belakang, kerah baju Mily di jinjingnya, lalu disuruh duduk tepat didepannya.

“Ngaku nggak, lo! Perintah Diwi, kaki kanannya diangkat dan dipinjakkan dikursi tempat duduk Mily, dia bergaya seperti seorang detektif yang mencari informasi.

“Tuh, liat, Diwi, guys. Uuccch…., cantik banget kalo udah bergaya.” Lani menimpali pujian dengan tertawa kecil. Kali ini Diwi tidak menggubris pujian Lani. Dia tetap pada posisinya.

“Okkeeeeh, gue, mau jujur. Tapi singkirin dulu kaki, lo, yang bau petis ini.” Sekarang gantian Mily menimpali Diwi dengan ejekan.

“Congooooor, lo, amis.” Tangan kanan Diwi mencubit pipi Mily.

Saat itu juga Mily bercerita panjang kali lebar kali tinggi pada ketiga sahabatnya. Bahwa, setelah ditinggal sendirian di ruang UKS. Tidak selang beberapa lama, Mily di hampiri laki-laki yang sepertinya itu kakak kelas mereka. Ketiga sahabatnya kali ini lebih antusias. Lani menarik bangkunya mendekat ke Mily, Tari juga demikian, Diwi tidak berubah posisi. Mereka memandangi Mily girang. Mendengarkan cerita Mily yang sepertinya menarik untuk di dengar dan dihayati. Tidak di lebih-lebihkan dan tidak dikurang-kurangi. Mily jujur apa adanya kepada ketiga sahabatnya.

Sampai pada inti cerita, Mily tidak luput sedikitpun karena memang ingatannya masih kuat. Disamping baru saja dialami, Mily juga bahagia ketemu dengan laki-laki tersebut walaupun kesan pertamanya menyebalkan.

Terkadang, setiap manusia membawa kesannya masing-masing. Entah baik, entah buruk, ataupun menyebalkan. Kesan pertama adalah kesan yang manis. Seperti Jus Boba rasa taro dicampur dengan susu kental dan misis warna-warni. Ah, membahagiakan.

Mily terus melanjutkan ceritanya, mereka duduk dan terpaku dengan cerita Mily. Hingga Mily belum selesai cerita. Sahabatnya tiba-tiba menyimpulkan sendiri-sendiri tentang kejadian yang dialami Mily.

“Ah, Mily, bikin ngiri, gue. Gue mau dong.” ucap Lani dengan kedua tangan menghimpit tubuhnya yang kecil dan memasang wajah yang paling manis.

“Nganan, aja, lo.” Ketus Diwi ke Lani. “Gue, nggak terima kalo dia tiba-tiba ninggalin, Mily, begitu aja. Dikira, Mily, nggak butuh bantuan atau sekedar minta maaf. Songong banget jadi cowok,” Diwi memuncak, kali ini dia tidak mau tinggal diam. “Siapa yang mau ikut, gue, ngelabrak tuh, cowok. Biar bacotnya nggak asal-asalan. Enak aja, main tinggal gitu aja, shiitt.” Diwi berdiri dan ingin melangkah keluar kelas, tetapi ketiga temannya melarang, tangannya diraih Mily. Pertanda untuk menyuruh duduk kembali.

“Betul kata, lo, Diw. Kita harus ke cowok itu. But jangan buru-buru. Kita main aman aja. Kita masih baru disini. Takutnya entar kalo kita gegabah, yang ada kita malah runyam sendiri.” Tari memberikan opsi.

“AAAAHH…, Lama, lo, lo, semua. Udah biar, gue, sendiri yang kesana.” genggaman Mily kali ini terlepas, hati Diwi sudah membeku, bongkahannya keras sekali. Tidak ada yang bisa membendung ataupun menghancurkan.

“Diwiiiii, jangan, tunggu, gue.” teriak Lani memperingatkan sahabatnya.

Diwi berjalan keras keluar kelas, matanya mengelilingi setiap laki-laki yang dia temui dan sesekali bertanya kepada Mily yang sedari tadi mengekor.

“Lo, diem, aja, Mil.” Tegas Diwi, kali ini Mily hanya diam dan terus menjadi ekor.

Diwi tetap berjalan, memasuki satu per satu kelas 3, yang sepengetahuan Mily bahwa Argan adalah kakak kelas mereka. Mulai dari kelas Bahasa Indonesia, IPA, hingga kelas paling garang yaitu IPS. Mereka sempat dipelototin kakak kelas mereka yang cewek-cewek, tetapi itu semua tidak menyurutkan langkah Diwi dan ketiga sahabatnya.

Mereka masih belum menemukan yang mereka cari, hingga terakhir masuk ke dalam kantin. Matanya berputar mengelilingi sudut-sudut kantin, beberapa laki-laki dicermati sampai detail. Kemudian, yang mereka cari sepertinya ada di depan meja kantin bagian tengah, dia membelakangi mereka berempat.

“Eh, elo, kampreet….” Ucap Diwi menarik bahu laki-laki itu. “Wih, maaf, Pak. Saya salah orang.” Ternyata Guru bahasa Indonesia. Hahaha, sorry, bercanda.

“Eh, elo, lo, Argan ‘kan?” tanya Diwi menarik bahu laki-laki itu dan kemudian Argan menoleh ke Diwi.

“Jawaaaaab, elo, Argan, ‘kan?” sekali lagi Diwi bertanya dengan ucapan sedikit diperkeras.

“Ya.” Argan kembali membalikkan badan dan menyeruput es yang ada dihadapannya.

Sekarang Diwi duduk pas di depan Argan, dia menatap matanya tajam. Namun, Argan tidak menggubris, dia tetap santai tanpa merasa terusik.

Sedangkan ketiga sahabatnya masih berdiri dibelakang Argan. Diwi melambaikan tangannya untuk menyuruh mereka duduk disebelahnya.

“Uuuchh, Mily, ganteng banget, kak Argan!” bisik Lani tepat di telinga Mily. “Mau, dong, kenalin, gue.” Hehehe. Lani malah cengar-cengir padahal situasi sedang memanas.

Dari sudut-sudut kantin, dari kursi-kursi tempat mereka melepas dahaga. Semua mata tertuju kepada mereka berempat. Tak luput Argan juga jadi pusat perhatian karena dilabrak adek kelasnya.

Banyak pasang mata yang menyaksikan dan banyak bibir yang memberikan beberapa pertanyaan. “Ada apa dan mengapa?”

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bisikan Abu
7.8
Menyamar sebagai gadis bisu di kuil Ezen, Asha menyembunyikan kemampuan terlarang membaca memori dari sisa abu. Di kekaisaran pemuja api ini, ia mengungkap sejarah perang masa lalu bersama Kael, seorang pejuang misterius. Saat konspirasi besar dan pemberontakan mulai pecah, benih cinta tumbuh di antara mereka. Melalui ritual kuno serta pelarian yang mengancam nyawa, kekuatan unik Asha kini menjadi penentu mutlak apakah dunia mereka akan bangkit atau lenyap selamanya.
Sampul Novel CAUGHT IN A BAD CHARACTER
9.1
Tewas secara tragis membawa Juwita Chou bereinkarnasi menjadi Sallyana Fedelian. Karakter barunya ini adalah putri bangsawan kejam yang ditakdirkan mati di usia muda. Demi bertahan hidup, Juwita harus mengubah nasib buruk tersebut. Ia pun berusaha mengacaukan alur cerita asli sambil menghadapi kecurigaan dari lima tokoh utama pria. Namun perlahan, sebuah rahasia takdir yang kelam mulai terkuak, mengungkap hubungan misterius antara dirinya dan sosok asli Sallyana.
Sampul Novel Kaum Terakhir (Pembalasan Dendam)
8.8
Demi kedamaian abadi, dunia menuntut pemusnahan total kaum kegelapan. Di tengah kerumunan yang haus darah, seorang gadis dirantai erat, menghadapi kebencian massa yang menginginkan kematiannya. Sorak amarah terus mendesak agar nyawanya segera dilenyapkan. Namun, saat eksekusi mati tampak tak terelakkan, sebuah teriakan tegas memecah keputusasaan. Sosok penyelamat tiba-tiba muncul membela sang ratu, mengubah takdir tragis yang semula sudah berada di depan mata.
Sampul Novel Kesetiaanku Kau Balas Dengan Luka
8.3
Haura Ghania Eftikhar, eks tentara bayaran, luluh oleh kesabaran CEO karismatik Sean Wijaya dan bersedia menjadi CEO demi menutupi masa lalunya. Namun, pernikahan mereka hancur seketika saat Haura memergoki perselingkuhan Sean. Di tengah penyesalan Sean yang memohon kesempatan kedua, hadir seorang remaja tampan yang menawarkan cinta tulus namun obsesif, kian memperumit luka batin Haura yang mendalam.
Sampul Novel Misi pangeran mermaid
8.2
Tirta, pangeran duyung berumur enam belas tahun, mengemban tugas penting ke daratan demi memenuhi ramalan kuno berusia seratus tahun. Ditemani kakaknya, Natasya, ia harus beradaptasi di dunia manusia. Namun, rencana itu terusik saat Tirta terpikat oleh Bella pada pertemuan pertama mereka. Kini, ia dihadapkan pada rintangan perbedaan dunia yang sulit ditembus. Bisakah jalinan asmara ini bertahan di kala misi besar mengancam takdir mereka?
Sampul Novel Salah Target
8.6
Demi membalas dendam pada Dicky Prasetyo, Andrey memimpin sindikatnya untuk menculik Flamboyan Prasetyo demi tebusan. Sialnya, mereka salah sasaran; Flamboyan hanyalah anak asisten rumah tangga Dicky, sementara target asli, Kirana yang difabel, sedang pergi. Ketika Dicky mendadak lenyap misterius, Bramastyo Hartawan harus berjuang sendirian. Ia mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan kekasih sekaligus calon mertuanya dari ancaman kematian yang kian nyata.