APKDock Logo
Sampul Novel Asmara Cinta Dan Benci

Asmara Cinta Dan Benci

9.3 / 10.0
Rencana jahat sang ayah mengancam kelangsungan hubungan Adelia dan Edwin. Di tengah konflik tersebut, kesalahpahaman serta pengkhianatan fatal mengubah cinta mereka menjadi dendam kesumat. Edwin, yang sebelumnya diduga telah meninggal, mendadak kembali sebagai sosok asing yang dipenuhi amarah. Adelia kini dipaksa menghadapi kenyataan pahit bahwa pria yang sangat ia sayangi telah berubah menjadi musuh kejam yang bertekad untuk menghancurkan hidupnya.

Asmara Cinta Dan Benci Bab 1

"Wajahku bisa habis kalau kamu terus menatapku begitu," ujar Edwin Tomato, pria tampan berusia 24 tahun, sambil menatap gadis yang berbaring di sampingnya.

Gadis itu terkikik jahil sebelum menyembunyikan wajahnya di dada bidang Edwin, pria yang telah menemaninya selama setahun terakhir. "Hahaha, mana mungkin wajah idola kampus bisa habis hanya karena ditatap?" balasnya, tertawa kecil saat melihat mata cokelat Edwin yang kini memeluknya dengan manja.

"Oh iya, ngomong-ngomong, hari ini adalah hari terakhir ujian kelulusan kita. Apa yang kamu ingin dariku sebagai hadiah perpisahan? Tapi jangan yang mahal ya, aku belum sekaya itu," ucapnya sambil bangun dari tempat tidur.

Hubungan mereka bermula dari rasa penasaran, lalu berujung pada cinta. Layaknya musim gugur yang selalu menghadirkan debaran di hati.

"Kapan aku pernah meminta sesuatu yang mahal? Aku bukan gadis matre, tahu!" protes Adelia Van Odelius, yang seusia dengan Edwin.

Edwin membungkukkan tubuhnya, menatap lembut gadis cantik di hadapannya, lalu berkata, "Aku tidak bilang kamu matre. Aku hanya ingin hadiah kelulusan ini menjadi kenangan terindah bagi kita, tanpa harus mengeluarkan banyak uang."

Sebagai seseorang yang memahami betapa mahalnya biaya hidup di Venezia, Edwin harus bekerja siang dan malam demi mendapatkan ratusan dolar. Berbeda dengan Adelia, yang lahir di tengah kemewahan dan belum sepenuhnya memahami nilai uang yang diperjuangkan Edwin.

"Iya, iya. Kamu selalu berbicara seolah aku tidak pernah merasakan hidup di jalanan," gumam Adelia. "Daripada membahas hadiah, aku lebih ingin kita menghabiskan sisa liburan dengan berkencan."

Edwin melirik ponselnya, memeriksa agendanya hari itu, sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Hmm, baiklah. Kita akan pergi ke mana?"

Senyum Adelia merekah, matanya berbinar penuh antusias. Ia sudah menyiapkan kejutan kecil untuk hari ini.

Beberapa jam setelah mereka bersiap-siap, Adelia masih belum memberi tahu Edwin ke mana mereka akan pergi.

"Adel, kamu masih belum menjawab pertanyaanku. Sebenarnya kita akan pergi ke mana?" tanya Edwin berkali-kali saat mereka berada di dalam mobil sewaan.

"Bawel banget, deh. Toh, nanti kamu juga akan tahu begitu kita sampai. Jadi, cukup duduk diam dan kenakan sabuk pengaman," jawab Adelia dengan senyum jahil, sebelum tiba-tiba menekan pedal gas dengan kuat.

Cara mengemudi Adelia terlihat amatir, membuat Edwin pusing dan mual. Meskipun ia berasal dari keluarga kaya, Adelia tidak memiliki banyak kesempatan untuk belajar menyetir seperti gadis lainnya.

"Ugh... Adel, kamu benar-benar berniat membunuhku?" keluh Edwin sambil memuntahkan isi perutnya begitu mereka berhenti di sebuah pantai.

"Tahu begini, aku tidak akan membiarkanmu menyetir. Bisa-bisa banyak korban nanti," gerutunya masih merasa pusing, sementara Adelia justru terdiam, mengalihkan pandangannya ke hamparan pasir putih di hadapannya.

Melihat tatapan Adelia yang begitu terpukau oleh pemandangan pantai, Edwin menyadari sesuatu. Di balik matanya yang jernih, ada kesedihan yang begitu dalam.

Meskipun mereka telah bersama cukup lama sebagai sepasang kekasih, Edwin merasa masih belum sepenuhnya memahami kehidupan Adelia. Namun, ia memilih untuk tidak bertanya. Mungkin Adelia tak ingin menceritakan semuanya, sama seperti dirinya yang tak pernah mengungkapkan bahwa ia hanyalah seorang anak haram yang ditinggalkan.

Setelah lama terdiam, akhirnya Adelia membuka suara. "Edwin..."

"Iya, Adel?" jawab Edwin, sedikit bingung mendengar nada lirih di suara kekasihnya.

"Andai suatu hari nanti kita berpisah, dan akulah yang memulainya, apa yang akan kamu lakukan? Aku hanya berharap saat itu tiba, kamu tidak akan membenciku," ucap Adelia tiba-tiba, membahas tentang perpisahan.

Jantung Edwin berdegup kencang. Tanpa sadar, ia membalik tubuh Adelia hingga mereka saling bertatapan. "Memangnya kamu ingin berpisah dariku?" tanyanya serius.

Adelia menggeleng cepat, lalu tertawa kecil. "Aku hanya bercanda, Edwin."

Namun, bagi Edwin, kata-kata itu terlalu nyata untuk dianggap lelucon. "Kamu tidak terdengar seperti sedang bercanda, Adel. Jika suatu hari kamu benar-benar meninggalkanku, aku akan mencarimu, bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun."

Adelia tersenyum jahil. "Memangnya kamu punya cukup uang untuk melakukan itu?" tanyanya dengan nada menggoda.

Edwin terdiam. Suasana di antara mereka mendadak terasa dingin karena pembicaraan tentang perpisahan. Namun, sebelum Edwin sempat menjawab, Adelia tiba-tiba mengecup bibirnya singkat, lalu berlari ke tengah ombak sambil tertawa.

"Saat hari itu tiba, aku akan mengabulkan semua keinginanmu," serunya riang.

Edwin masih terkejut merasakan sentuhan lembut bibir Adelia di bibirnya. Namun, melihat gadis itu berlarian di tepian air, ia segera mengejarnya. "Adel, tunggu saja. Aku tidak akan membiarkanmu pergi!"

Dalam satu tarikan tangan, Edwin berhasil menangkapnya, namun keduanya justru terpeleset dan jatuh ke air. Kaos putih dan celana jeans mereka basah terkena ombak, tetapi di antara suara deburan air, tawa mereka terdengar begitu indah.

Setelah puas bermain air, Edwin membeli dua es krim-stroberi untuk Adelia, rasa favoritnya, dan cokelat untuk dirinya sendiri. Mereka duduk di tepi pantai, menikmati es krim sambil sesekali saling melempar candaan. Setelah es krim mereka habis, keduanya kembali ke mobil untuk beristirahat sejenak.

Di dalam mobil, suasana terasa lebih tenang. Edwin menatap Adelia dengan intens sebelum akhirnya mengecup bibirnya dengan lembut. Kecupan itu berubah menjadi lebih dalam, penuh rasa, membuat keduanya hanyut dalam momen tersebut.

"Lihat, kita masih basah kuyup," gumam Edwin sambil tersenyum usil.

Adelia tertawa kecil. "Air asin ini masih terasa lengket di tubuhku. Kamu yakin ingin melanjutkan ini sekarang?" tanyanya dengan nada menggoda.

Edwin menatapnya lekat, jemarinya dengan lembut menyibak helai rambut basah Adelia yang menempel di wajahnya. "Aku hanya ingin lebih dekat denganmu, Adel. Seolah waktu berhenti di sini, hanya ada kita berdua."

Namun sebelum momen itu semakin larut, ponsel Adelia bergetar di dalam tasnya. Edwin menghela napas, sementara Adelia melirik layar ponselnya yang terus berdering.

"Mungkin penting..." gumamnya ragu.

Edwin tersenyum kecil, menyentuh pipinya dengan lembut. "Angkatlah. Aku tidak akan ke mana-mana."

Meskipun enggan mengakhiri momen itu, Adelia akhirnya meraih ponselnya, sementara Edwin kembali menyandarkan kepala di kursi, menunggu gadis yang dicintainya menyelesaikan panggilan tersebut.

Adelia menatap layar ponselnya yang menyala, nama "Ayah" tertera di sana. Ia mengerutkan kening, hatinya dipenuhi tanda tanya. "Kenapa Ayah meneleponku?" batinnya.

"Halo?" ucapnya setelah menggeser tombol hijau.

Dari seberang, terdengar suara berat dan tegas. "Ke mana saja kamu? Orang tuamu sedang sakit, tapi kamu malah asyik keluyuran! Cepat pulang, jangan buat aku menunggu!"

Adelia mengepalkan tangan. Amarahnya membuncah. "Aku tidak akan pulang sebelum Ayah membatalkan perjanjian itu!" serunya lantang, membuat Edwin yang duduk di sampingnya terkejut.

Belum sempat Edwin bertanya, suara ketukan keras terdengar dari luar jendela mobil. Sejumlah pria berbadan tegap, utusan ayah Adelia, telah berdiri di sana.

"Sebaiknya kau menurut, kalau tidak ingin dipaksa," ujar suara dingin dari telepon sebelum sambungan terputus.

Edwin yang tidak mengenal mereka segera turun dari mobil, namun sebelum ia sempat berbuat sesuatu, para pria itu menyeret Adelia keluar. Edwin mencoba melawan, tetapi jumlah mereka terlalu banyak. Ia terdesak, merasakan perih dari pukulan yang mendarat di tubuhnya.

"Edwin, lebih baik kamu pergi! Aku mengenal mereka!" seru Adelia dengan mata penuh ketegasan, sebelum ia didorong masuk ke dalam mobil mewah yang menunggunya.

Edwin hanya bisa terpaku, dadanya sesak melihat kekasihnya dibawa pergi. Saat itu, ia belum menyadari bahwa kepergian Adelia adalah awal dari perpisahan yang tak terhindarkan.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Asmara Cinta Dan Benci

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel MENYUSUI MAFIA KEJAM
8.6
Alena Adriani Quensyah didera kemalangan setelah orang tuanya menjadikan dirinya jaminan utang pada mafia kejam. Kini ia terkurung dalam kehidupan bak penjara, sembari terus dihantui oleh trauma masa lalu yang begitu kelam. Di tengah penderitaan ini, Alena bertekad mencari tahu alasan mengapa orang tuanya tega meninggalkannya dalam bahaya. Mampukah ia bertahan dan menemukan kembali keluarganya yang hilang?
Sampul Novel Rahasia Gelap Sang Kekasih
9.5
Kehidupan tenang sang protagonis terusik di tengah malam saat sebuah notifikasi pesan membangunkannya dari tidur. Kiriman video dari sahabatnya memperlihatkan seorang wanita bergaun tipis ketat yang menari dengan anggun. Namun, perhatiannya teralihkan ketika ia melihat sekilas warna ungu di balik gaun tersebut. Keingintahuan berubah menjadi keterkejutan yang mendalam saat ia menyadari bahwa pakaian dalam yang dikenakan wanita dalam video itu sangat identik dengan milik kekasihnya sendiri.
Sampul Novel Rahasia Keluarga dan Pengkhianatan
9.5
Nadia terpaksa menerima tawaran licik Satria, ibu dari miliarder Reza Azhar, untuk menjadi ibu pengganti demi biaya pengobatan sang adik. Namun, setelah adiknya wafat, kepedihan mendalam mendorong Nadia melarikan diri dalam kondisi mengandung anak Reza. Di tengah pelarian dari kejaran Satria dan bayang-bayang kebenaran yang mulai tersingkap, mampukah Nadia bertahan menyembunyikan diri dari takdir serta pusaran intrik kekuasaan keluarga konglomerat tersebut?
Sampul Novel Sentuhan Ayah Tiri
8.2
Hidup seorang gadis berubah total setelah Hunter Oragle memergokinya mengintip kemesraan sang ibu dengan pria itu. Alih-alih murka, ayah tirinya justru menyodorkan tawaran provokatif untuk mengajarinya secara langsung. Hubungan mereka kini terjebak dalam pusaran gairah terlarang yang penuh bahaya. Situasi kian rumit dan menekan saat rahasia masa lalu mulai terkuak, mengancam batas moral yang ada.
Sampul Novel Suami Penggoda Iman
8.8
Kehidupan Rifki Viran Al-Maqdisi, selebgram tampan berotot berusia 22 tahun yang kerap menjadi model majalah dewasa, mendadak berubah. Ia dipaksa menikahi Nabila Syakira Putri, gadis berhijab pilihan orang tuanya. Rifki yang merasa Nabila bukan tipenya bersikap sinis, namun Nabila tetap ikhlas mendampingi sang suami yang digilai banyak wanita. Akankah rahasia pernikahan ini terbongkar ke publik? Bagaimana kelanjutan hubungan mereka?
Sampul Novel Suamiku Mantan Playboy
9.3
Kehidupan tenang Riri setelah lulus kuliah mendadak terusik oleh lamaran tiba-tiba dari Julian Raffa Gunawan. Meski bergelimang harta dan berparas tampan, Raffa adalah pria keras kepala yang punya reputasi sebagai mantan playboy ulung. Riri yang semula enggan menikah akhirnya terpaksa menerima pinangan itu. Namun, sebelum resmi menjadi suami istri, mereka sepakat untuk berpacaran dan bertunangan dulu. Riri pun harus tetap waspada agar tidak dikhianati jika tabiat buruk Raffa kambuh.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan