APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Anugerah Cinta

Anugerah Cinta

Dila, anak perempuan Gus Wirto, terpaksa menerima perjodohan dengan Fabian, eks pecandu yang tengah berbenah diri di pesantren. Padahal, Dila memendam rasa pada Prima, seorang hafiz yang taat. Usaha Dila menggagalkan taaruf kandas demi menjaga asa orang tuanya. Begitu kesepakatan terjalin, misteri masa lalu Fabian yang kelam perlahan tersingkap. Sanggupkah Dila setia pada keputusan ini? Bisakah Fabian terbebas sepenuhnya dari bayang-bayang masa lalunya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Terbiasa bangun di tengah malam untuk memohon pada Allah membuat Dila sudah siap berangkat ke masjid dengan menggunakan pakaian serta mukenanya, membuka pintu dimana tidak ada siapapun sama sekali. Kemungkinan terbesar kedua orang tuanya sudah berada di masjid, langkah Dila terhenti menatap pintu kamar kakaknya yang masih tertutup, Dila hanya mengangkat bahu tanda tidak peduli pada pria yang ada didalam kamar.

Melangkah kearah masjid dengan kondisi sekitar masih gelap dan beberapa santri masih berada dalam alam mimpi, Dila tahu pondok pesantren ini tidak membebankan santri-santrinya dalam beribadah karena bagi Gus Wirto sendiri terpenting adalah keinginan mereka berubah dan juga mengetahui kewajibannya yang utama yaitu shalat lima waktu dan membaca Al-Qur’an. Hal ini yang membuat suasana di tengah malam tidak terlalu ramai karena mereka beberapa masih ada yang berada di balik selimut.

“Assalamualaikum, Dila.”

“Walaikumsalam, Mas Tirta.” Dila menjawab dengan memberikan senyuman pada Tirta “Tumben udah bangun?”

“Kebangun gara-gara ingat belum kasih makan kambing di belakang.”

“Hari ini menunya apa?”

“Memang makan sama kita-kita yang di asrama?” Dila menggelengkan kepala membuat Tirta tersenyum “Aku dengar kalau Fabian tinggal di tempat kamu?” Dila mengangguk “Gimana keadaannya?”

“Nggak tahu karena abi sendiri yang menangani Mas Fabian.”

“Gus Wirto memang sabar menghadapi pecandu seperti Fabian, kalau aku belum tentu sanggup jadi sepertinya aku harus banyak belajar sama Gus Wirto. Tujuan mendekati beliau itu satu supaya bisa sabar menghadapi kami semua yang rata-rata bukan dari latar belakang yang baik, Gus Wirto banyak menerima hujatan dari masyarakat karena penghuni disini.”

Mendengar perkataan Tirta membuat Dila hanya bisa diam, Tirta memang dikenal sebagai santri yang dekat dengan Gus Wirto dan selalu ada dalam setiap acara yang harus menghadirkan beliau. Kedudukan Tirta sendiri lebih tinggi dibandingkan santri-santri yang lain, Tirta sendiri di beberapa kesempatan selalu datang ke rumah hanya untuk menghabiskan waktu bersama. Dila memilih tidak menanggapi perkataan Tirta, semua orang di pondok pesantren ini tahu jika Tirta memiliki perasaan dengannya dan juga keunggulan Tirta dibandingkan santri lainnya adalah dia yang paling lama berada di pondok pesantren ini.

“Aku permisi mau kesana, Mas,” ucap Dila menunjukkan tempat masuk wanita pada Tirta “Mari, Assalamualaikum.” Dila langsung melangkah tanpa menunggu jawaban salam dari Tirta.

Dila mengambil langkah ke tempat bagian wanita, masuk kedalam dengan hanya ada beberapa santriwati. Beberapa diantara mereka ada yang sedang membaca Al-Qur’an, ada juga yang baru datang akan melakukan shalat tahiyatul masjid sebelum melakukan shalat malam, ada yang sedang berwitir. Dila langsung melakukan shalat tahiyatul masjid terlebih dahulu selanjutnya shalat tahajud, tobat dan diakhiri dengan witir. Membuka Al-Qur’an yang dibawanya dari rumah, membaca surat terakhir yang dibacanya semalam dan diakhiri membaca hafalan yang sejak kemarin dilakukannya yaitu Al-Mulk.

Suara adzan terdengar membuat Dila bersiap melakukan ibadah wajibnya, menyucikan dirinya terlebih dahulu untuk menghadap Allah SWT. Beberapa santri mulai berdatangan dan kali ini lagi-lagi tidak melihat Naila kembali, mencoba tidak peduli dengan Naila dan fokus pada ibadah shalatnya kali ini.

“Umma,” panggil Dila membuat langkah Nyai Mina berhenti memandangnya “Aku mau ke asrama dulu.”

Nyai Mina mengangguk “Ajak Naila untuk sarapan, mungkin dia sakit karena tadi umma nggak lihat.”

Dila menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya melangkah ke tempat tinggal santriwati, mengetuk pintu Naila beberapa kali dan baru pada ketukan dibuka dengan penampilannya menggunakan pakaian mini.

“Astaghfirllah gimana kalau umma atau abi yang ngetuk tadi?”

“Kalau abimu ya rezeki,” jawab Naila santai “Ngapain kesini? Memang sudah jam berapa?”

“Kamu bau amis banget sih?” Dila menutup hidungnya saat mengatakan itu dan tidak peduli pada pertanyaan Naila “Mandi sana ditunggu umma buat sarapan di rumah.”

“Ok, tunggu disini.” Dila mengangguk membuat Naila mengambil peralatan mandinya dan langsung keluar menuju kamar mandi luar.

Menggelengkan kepala melihat kelakuan dari Naila, seketika dirinya tersadar jika sahabatnya tadi keluar menggunakan pakaian mini tanpa menutupnya sama sekali. Dila menutup mata sambil berdoa semoga tidak ada yang melaporkan perbuatan Naila, memilih membaringkan badannya tapi terhenti saat mencium aroma tidak enak dimana aromanya sama dengan yang ada di tubuh Naila dan Fabian, menggelengkan kepala tanda dengan semua pikiran-pikiran negatifnya.

“Bantu aku lepas seprai dong,” ucap Naila yang mengejutkan Dila.

Mengikuti permintaan Naila melepaskan seprai dan menggantinya dengan yang baru, Dila tidak bertanya apa-apa mengenai pergantian juga aroma yang tercium dari seprai. Naila sendiri telah berganti pakaian yang lebih tertutup dari sebelumnya, keluar dari kamar Naila menuju rumah Dila yang berada di depan. Santriwati disini sudah tahu jika Naila memiliki keistimewaan, selalu mendapatkan perhatian lebih dari keluarga Gus Wirto selain sebagai sahabat Dila juga membutuhkan orang di sekitarnya agat berubah, hanya saja Naila memilih tinggal di asrama bukan rumah pribadi Gus Wirto.

“Assalamualaikum.”

“Walaikumsalam, Umma kamu ada di belakang nyiapin makan.”

Dila dan Naila mencium punggung tangan Gus Wirto sebelum akhirnya masuk kedalam, mendapati Nyai Mina menyiapkan makanan membuat mereka langsung membantunya.

“Sudah siap tesnya ini?”

“InsyaAllah.”

Nyai Mina tersenyum mendengar jawaban Dila dan Naila bersamaan “Naila sudah bisa kan?”

“InsyaAllah, Nyai.”

“Sudah siap makanannya, kamu panggil Abi sama Fabian.”

“Fabian?” Naila menatap Dila yang hanya mengangguk “Fabian pecandu itu?” sekali lagi Dila mengangguk “Ngapain dia disini?”

“Gus Wirto yang meminta agar bisa mengawasi dengan tepat,” sahut Nyai Mina yang sedikit membuat Dila bernafas lega “Dila sana panggil mereka berdua.”

Mengikuti permintaan Ummanya melangkah ke tempat dimana Gus Wirto berada, hanya saja tidak menemukan Fabian sama sekali.

“Ditinggal saja karena tadi Abi suruh bantuin Tirta di kandang sapi.”

“Ngapain disana?”

“Ambil susunya sama sekalian sembelih kambing disana.”

“Memang bisa? Abi percaya?”

“Kita lihat saja daripada dia merasakan kesakitan, menghilangkan pikiran dari sakit dengan adanya kegiatan. Nanti setelah makan Abi kesana jadi kamu siapkan saja makannya dia.”

Kedatangan Dila dan Gus Wirto sudah ditunggu oleh Nyai Mina dan Naila, mereka sudah mulai lapar dan memulai makan setelah mengucapkan doa. Makan dalam keadaan diam karena memang adat yang ditetapkan oleh Gus Wirto, setelah selesai sesuai dengan permintaan abinya Dila meletakkan di kotak bekal untuk makan Fabian di kandang nantinya.

“Bekal buat siapa?”

“Abi tadi minta dibuatkan bekal buat salah satu santrinya.”

“Nantikan dapat makan dari tempat santri,” ucap Naila yang dijawab dengan mengangkat bahu oleh Dila “Aku aja yang bawa kalau gitu.”

Dila menggelengkan kepalanya “Abi yang bawa katanya.”

Memastikan makanan telah masuk semua, membawa kotak itu keluar dimana Gus Wirto sedang menggunakan sepatu andalannya saat berada di kandang. Nyai Mina sendiri setelah makan langsung bersiap karena harus bersama dengan santriwati yang menggunakan obat terlarang dan melakukan kekesaran pada lingkungannya.

“Bekal buat Abi?” tanya Nyai Mina saat melihat kotak diatas meja “Abi belum kenyang?”

“Udah kenyang cuman buat calon,” jawab Gus Wirto dengan menatap lembut pada Nyai Mina “Abi berangkat dulu.”

Berdiri membuat kedua wanita beda usia langsung mencium punggung tangannya, Gus Warto menghentikan pandangannya saat menatap Naila. Perlahan Naila melangkah dan langsung mencium punggung tangan pria yang sudah dianggapnya sebagai ayah pengganti disaat ayah kandungnya entah hilang kemana.

“Kamu ada jadwal keluar pondok?” Gus Wirto menatap Dila lembut.

“Nanti setelah maju hafalan.”

“Naik apa? Kalau nggak ada kendaraan sekalian sama Tirta saja karena sepertinya ada jadwal keluar, tapi mau kemana?”

“Kampus, Bi.”

“Naila kalau nggak ada acara di rumah ini saja bantuin Nyai kamu.”

“Ya, Om.”

Gus Wirto keluar dari rumah setelah memberikan banyak pesan pada kedua wanita muda, Dila segera masuk kedalam kamar diikuti Naila. Membersihkan diri sebelum berangkat menuju salah satu kelas untuk menyerahkan hafalan, saat keluar mendapati Naila membuka jilbabnya berbaring di ranjang miliknya.

“Om tadi bilang calon apa?”

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU DIHAMILI SUAMIKU
8.0
Hidup Alexa Banderas hancur di hari kelulusan akibat pembunuhan orang tuanya oleh sang paman yang mengincar dokumen Taurus Corps. Di tengah duka, ia dipaksa menikah dengan Martin Snowden, pria kasar yang membencinya. Kini, Alexa harus memimpin perusahaan besar sekaligus melindungi sang suami dari kekasihnya yang licik demi mengamankan aset keluarga. Mampukah ia membalas dendam, mengelola bisnis, dan meluluhkan hati Martin yang begitu keras?
Sampul Novel Aku Menikahi Paman dari Tunanganku
8.8
Setelah mengetahui kebenaran pahit di kehidupan sebelumnya bahwa Samuel mengabaikannya demi mencintai adiknya sendiri, sang protagonis menolak melanjutkan kebodohan tersebut. Dalam kesempatan hidup kedua ini, ia menolak pernikahan politik dengan Samuel. Sebagai gantinya, ia memilih Jeffrey Gusmawan, paman Samuel sekaligus penguasa tertinggi di keluarga mereka. Keputusan mengejutkan ini tidak hanya membalikkan keadaan, tetapi juga membuat Samuel kehilangan akal sehatnya di hari pernikahan.
Sampul Novel Cinta Terlarang Di Rumah Kakak Ku
8.2
Setelah lima tahun menetap di Milan, Kinan sang desainer memutuskan pulang ke Jakarta demi menemui kakaknya, Airin. Namun, kepulangannya justru membawa ketegangan baru ketika ia bersua dengan Liam, suami Airin yang sangat maskulin. Pertemuan tak terduga di antara keduanya berujung pada ciuman membara yang memicu gairah berbahaya. Kini, Kinan didera kebimbangan hebat, terjebak di antara daya tarik terlarang dan kesetiaan kepada keluarganya sendiri.
Sampul Novel Petaka Ponsel Rahasia Suamiku
7.8
Bagi Amelia, Bima adalah suami idaman, sampai sebuah gawai rahasia membongkar dusta di balik pernikahan mereka. Petunjuk mengarah pada inisial L yang penuh teka-teki. Demi melindungi hak si kembar, Yuki dan Yuka, Amelia bergerak mengamankan seluruh asetnya. Namun, dunianya runtuh kala menduga bahwa Dinda, adik angkatnya, merupakan selingkuhan sang suami. Di tengah kekacauan itu, Denis yang merupakan cinta pertama Amelia hadir membawa kebimbangan baru.
Sampul Novel Sentuhan Diam di Kereta Kota
9.8
Saat suaminya pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan, seorang wanita muda yang cantik diminta untuk menjaga adik iparnya. Dia tidak pernah menduga bahwa adik suaminya tersebut, yang merupakan seorang mahasiswa jurusan olahraga yang sangat energetik, akan bertindak nekat. Di sebuah restoran, sang adik ipar secara paksa membawanya ke dalam kamar mandi dan mendesaknya untuk berlutut di lantai demi memenuhi kebutuhan fisiknya. Kisah dalam novel Sentuhan Diam di Kereta Kota ini mengupas batas hubungan keluarga yang dilanggar secara paksa.
Sampul Novel The Bastard CEO
8.0
Demi seorang pewaris, CEO berdarah dingin Adam Ford memaksa Angelina Wilson menyetujui kontrak dua tahun. Namun, karena dianggap mandul akibat tak kunjung mengandung, Angelina diusir oleh keluarga Ford. Tujuh tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Kali ini, Angelina datang bersama seorang anak laki-laki yang memiliki paras sangat mirip dengan Adam. Akankah rahasia besar tentang asal-usul sang putra akhirnya terungkap di hadapan Adam?