APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Antara Dua Pilihan

Antara Dua Pilihan

Bagi Sabrina, jodoh sepenuhnya misteri Ilahi. Ia selalu konsisten mendoakan satu pria yang diimpikan jadi suaminya. Sayang, impian itu runtuh ketika sang ayah tiba-tiba menjodohkannya dengan Agam, sosok asing yang tak pernah ia ketahui. Kini, setelah terikat pernikahan yang dingin tanpa rasa cinta, Sabrina dihadapkan pada pilihan sulit. Mampukah ia melupakan sosok di masa lalunya dan belajar menerima serta mencintai Agam seutuhnya?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Teruntuk kamu yang namanya selalu ku sebut dalam doa. Semoga kelak, Tuhan mempersatukan kita"

🍁🍁🍁

Pukul 04.35. Adzan subuh telah berkumandang. Membangunkan mereka yang tengah tidur nyenyak untuk beribadah, menyapa sang pencipta melalui sholatnya.

Setelah sedari tadi sholat tahajud dan berdzikir seraya menanti waktu subuh, aku akhirnya menghentikan kegiatanku berzikir dan bergegas menunaikan ibadah sholat subuh.

Ditemani keheningan dan dinginnya udara pagi, aku menunaikan sholat subuh dengan khusyuk di kamar.

Setelah mengakhiri sholatku dengan salam, aku pun berdoa Kepada-nya.

"Ya Allah, Ya Rabb, Tuhan yang berkuasa diatas segala-galanya, kabulkanlah doa hambamu ini Ya Allah. Jadikanlah Zaky sebagai jodohku. Jodohku di dunia dan di akhirat. Jadikanlah dia sebagai imamku. Imam yang bisa membimbingku menuju jalan-Mu. Pertemukanlah kami kembali Ya Allah. Dekatkanlah kami, jika memang kami berjodoh. Dan jauhkanlah kami, jika memang kami tidak berjodoh. Amiin ya rabbal alamin."

Aku melipat kembali mukena dan sajadah yang tadi ku kenakan untuk sholat dengan rapi, lantas menaruhnya di atas tempat tidur. Setelah itu, aku menuju kamar mandi untuk membersihkan badan serta menyegarkan tubuh.

Tak berapa lama, aku keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah melekat sempurna di tubuhku, serta jilbab yang sudah bertengger manis di kepalaku.

Aku menuju meja belajar, menata buku-buku yang sudah ku siapkan tadi malam dan memasukkannya ke dalam tas.

Setelah dirasa semua keperluan untuk kuliahku sudah siap, aku berjalan membuka pintu kamar. Tak lupa, mengucapkan basmalah sebelum keluar dari kamar. Agar semua yang ku lalukan mendapat ridho dari-Nya.

"Abah mana ummi?" tanyaku saat melihat ummi yang hanya sendiri di meja makan.

"Abah di kamar, katanya lagi gak enak badan. Ini ummi mau bawain sarapan ke kamar" jawab ummi. Aku mengangguk paham.

"Ya udah ummi, kalau gitu Sabrina makan di kampus aja ya?" lanjutku bertanya. Ummi menatapku sebentar, lantas tersenyum.

"Ummi siapin bekal buat kamu dulu ya?" ucap ummi sebelum melenggang pergi. Sembari menunggu ummi yang tengah menyiapkan bekal, aku pun berniat pamit pada Abah terlebih dahulu.

"Ummi, aku pamit sama Abah dulu ya?"

"Iya"

Aku segera melangkahkan kakiku menuju kamar abah. Kamar abah dan juga ummi berada lantai dua. Sama seperti kamarku, hanya berbeda arah saja.

Di rumah ini, kami hanya tinggal bertiga. Kakak perempuanku sudah menikah dan tinggal bersama suaminya. Sedang adik laki-lakiku memilih untuk tinggal di rumah kos yang dekat dengan kampusnya.

"Gimana kondisi Abah?" Aku bertanya.

Ku lihat Abah tengah duduk bersandar di kepala ranjang, wajahnya terlihat sedikit pucat dan lelah.

"Abah baik-baik aja kok. Mau berangkat kuliah ya?" Aku mengangguk.

"Ya udah hati-hati. Jaga diri. Jaga hati. Semoga Allah memberi kemudahan untukmu dalam menuntut ilmu." pesan abah. Aku kembali mengangguk, lantas mencium punggung tangan Abah.

"Amiin ya rabbal alamin. Abah cepet sembuh ya"

Abah tersenyum seraya mengangguk.

Setelah berpamitan sekaligus melihat kondisi abah, aku pun keluar dari kamar dan kembali menghampiri ummi.

"Nih bekalnya, udah ummi siapin." Ummi menyerahkan bekal yang sudah disiapkannya kepadaku.

"Makasih ummi" ucapku seraya memasukkan bekal itu ke dalam tas.

"Sabrina berangkat ya ummi" lanjutku mencium punggung tangan ummi.

"Iya, hati-hati." jawab ummi. Aku mengangguk.

Begitu keluar dari rumah, aku langsung disambut oleh suasana pesantren yang penuh oleh rutinitas para santri seperti biasanya. Ada yang masih mengantri untuk mandi, ada yang sedang mengantri untuk makan, ada juga yang sudah bersiap untuk sekolah.

Aku sudah terbiasa dengan suasana pesantren seperti ini. Karena sejak kecil, aku memang sudah dibesarkan di lingkungan pesantren. Ya. Abah adalah pendiri pesantren ini. Pesantren Al-Huda. Pesantren ini terbilang cukup sederhana. Tidak sebesar dan tidak seterkenal pesantren yang lainnya. Para santri dan santriwati-nya pun tidak banyak. Hanya orang-orang di daerah sini saja.

Mendirikan pesantren merupakan cita-cita Abah sejak kecil. Beliau dengan semangat dan kegigihannya berhasil mendirikan pesantren yang terletak tepat disebelah rumah kami dengan dana pribadi hasil kerja kerasnya sendiri, juga merekrut guru-guru yang dengan ikhlas mengajar di pondok pesantren kami tanpa bayaran apapun.

Aku kembali melangkahkan kakiku menuju halte untuk menunggu bus. Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya bus yang ku tunggu datang juga.

Aku segera masuk ke dalam bus. Mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ku lihat kursi penumpang sudah penuh, hanya tersisa dua kursi kosong berdampingan. Aku pun memutuskan untuk duduk di kursi dekat jendela bus.

Jalanan kota hari ini begitu padat, padahal ini masih sangat pagi. Mungkin karena hari ini hari efektif bekerja dan bersekolah. Entahlah, aku tidak terlalu memikirkan hal itu.

Aku menghela napas. Entah mengapa pikiranku malah kembali dipenuhi oleh sosok lelaki yang bernama Zaky.

Ku buka tasku, lantas ku ambil sebuah foto yang terselip dalam sebuah buku diaryku.

Foto itu adalah foto kenangan persahabatanku dengan mereka selama di pesantren. Aku, Zaky, Bayu, dan Rian. Ya. Mungkin persahabatan kami terdengar aneh. Seorang perempuan dan tiga orang laki-laki. Tapi, memang itulah kenyataannya.

Awal mula persahabatan kami, adalah ketika Zaky dan Rian datang ke pondok pesantren. Mereka berasal dari daerah yang jauh. Aku juga tidak mengerti mengapa mereka memilih untuk tinggal di pondok pesantren dan hidup mandiri dengan usia mereka yang masih terbilang anak-anak. Orangtua mereka mempercayakan anak-anaknya pada Abah, meminta Abah untuk menjaga dan menyayangi Zaky serta Rian seperti Abah menjaga dan menyayangiku.

Abah menepati janjinya. Beliau bahkan menempatkan Zaky dan Rian di rumah kami, bukan di pondok pesantren. Membuat mereka senyaman mungkin agar tidak tertekan.

Aku sangat senang ketika Zaky dan Rian tinggal di rumahku. Kami bermain bersama, makan bersama, mengaji bersama, bahkan mandi pun bersama.

Selain Zaky dan Rian, ada juga Bayu. Dia anak tetangga sebelah. Dia sering bermain dengan kami. Sampai akhirnya Bayu memilih untuk tinggal di rumahku karena tidak ingin dipisahkan dengan kami bertiga.

Meski dengan berat hati, orangtua Bayu akhirnya mengijinkan anaknya untuk tinggal di rumahku dan belajar di pondok pesantren. Entahlah, padahal jarak rumahku dengan Bayu lumayan dekat, tapi ia tetap saja bersikukuh untuk tinggal di rumahku.

Abah dan ummi tidak mempermasalahkan hal itu. Mereka malah senang jika ada anak kecil yang bersemangat untuk belajar ilmu agama seperti Bayu.

Kemanapun ummi mengajakku pergi, aku selalu meminta ummi untuk mengajak serta Zaky, Bayu, dan Rian. Ummi selalu mengiyakan permintaanku, meski dirinya sendiri akan kerepotan jika membawa empat anak kecil di acara-acara seperti pengajian, yasinan, dan lain-lain.

Ya, kenangan masa kecil yang indah. Kami berempat sudah seperti saudara beda orangtua. Apapun dan dimanapun pasti bersama.

Bertahun-tahun kami bersahabat, hingga ketika kami beranjak dewasa, barulah kami sadar akan adanya perasaan lain. Perasaan yang lebih dari sekadar sahabat. Ya. Aku dan Zaky. Kami ternyata memendam perasaan yang sama.

Saat itu kami hanyalah sepasang remaja yang baru dilanda asmara jatuh cinta, tidak mengerti harus bagaimana. Hanya bisa berharap, suatu saat nanti kami akan bersama.

Namun, harapan itu sirna ketika Zaky pergi meninggalkan pondok pesantren. Pergi meninggalkanku. Itu bagian terpahit dari semua kenangan persahabatan kami.

Tanpa kusadari, air mataku jatuh membasahi kedua pipiku.

"Kamu.....menangis?" tanya sebuah suara. Aku menoleh dan mendapati seorang laki-laki di sampingku tengah menatapku dengan heran.

Hei, tunggu! Siapa dia? Dan, sejak kapan dia berada di sampingku?

**********

Mampir ke instagram author yukk!! @iney_calysta

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anakku Mau Selingkuhan Jadi Ibunya
8.2
Mengulang waktu ke masa sebelum pernikahan, Ria memutuskan mengubah takdir tragisnya. Di kehidupan sebelumnya, ia bersikeras melahirkan putranya meski dibenci Hendra dan diabaikan hingga tewas kehabisan darah saat kecelakaan, sementara suami dan anaknya justru merayakan kelahiran bayi Klara. Kini, ketika Hendra yang mabuk meminta untuk menunda memiliki anak, Ria langsung menyetujuinya tanpa ragu. Ia memilih mementingkan dirinya sendiri dengan mendaftar ekspedisi penelitian ke kutub.
Sampul Novel DIBUANG MANTAN, DIKEJAR CEO SULTAN
9.8
Aruna terpaksa mengasuh Maira, anak bosnya yang bernama Brahmana, demi menolong sang ayah dari ibu tirinya. Namun, bekerja di rumah CEO itu justru menjebak Aruna dalam konflik batin antara luka lama dan perasaan cinta yang baru tumbuh. Walau ia berusaha menjauh, ketulusan sang bocah dan kejujuran Brahmana terus menahannya. Kini, Aruna bimbang untuk terus menyimpan dendam demi ayahnya atau luluh dalam pelukan sang sultan.
Sampul Novel Gairah Anak Sahabatku
7.9
Demi melindungi rahasia putranya agar tidak dilaporkan ke pihak kampus, Ellie terpaksa menghadapi ancaman dari teman sekelas anaknya sendiri. Pemuda itu memanfaatkan situasi untuk mendekati dan menyentuh Ellie secara paksa. Meski awalnya Ellie mencoba meronta dan menolak tindakan nekat tersebut, benteng pertahanannya perlahan goyah ketika sebuah gairah yang tak terduga justru mulai membara di dalam dirinya, menciptakan konflik batin yang membingungkan.
Sampul Novel Kekasih itu Bosku
9.1
Kisah cinta Rina dan Arman terus diuji oleh berbagai rintangan yang menantang kesetiaan mereka. Di tengah dunia kerja, keduanya harus berjuang keras memisahkan profesionalisme dari perasaan pribadi. Bagi Rina, PT Jaya Abadi bukan lagi sekadar tempat bekerja biasa. Di perusahaan tersebut, ia tidak hanya sukses menggapai impian kariernya, tetapi juga berhasil menemukan cinta sejati yang tak terduga dalam diri bosnya yang sangat karismatik.
Sampul Novel Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan
8.3
Setahun menikah, Hilda dihadapkan pada kenyataan pahit saat Marsel, suaminya, mendesak untuk menjual rumah warisan peninggalan orang tuanya demi investasi masa depan. Bagi Hilda, bangunan itu adalah satu-satunya kenangan fisik yang tersisa dari mendiang ayah dan ibunya. Sikap Marsel yang pragmatis memicu perselisihan hebat di antara mereka. Hilda yang bersikeras mempertahankan aset berharga tersebut kini mulai meragukan ketulusan serta sosok pria yang telah ia nikahi.
Sampul Novel Wasiat Bertahta Cinta
9.6
Impian pernikahan Abbas dan Linda kandas setelah orang tua Linda memaksanya menikahi David demi balas budi. Nasib buruk Linda berlanjut saat ia diculik Hengky dan dipaksa menikah di pengasingan. Usai kematian Hengky dan dipenjaranya David, Linda pulang untuk merebut kembali hati Abbas. Namun, Abbas kini telah memperistri Jihan, putri Pak Budi yang lama hilang. Abbas pun terjebak dalam dilema antara kesetiaan pada istri barunya atau cinta masa SMA Linda yang kembali membara.