APKDock Logo
Sampul Novel Antara Aku, Dia, dan Masa Lalu

Antara Aku, Dia, dan Masa Lalu

7.9 / 10.0
Saat Tia Lestari, teman masa kecil Andre Sonata, kembali dan mengambil tempat di kursi depan, aku memilih mengalah tanpa perlawanan. Aku duduk di baris belakang bersama Jimmy Tanusubrata, sahabat Andre. Guncangan mobil membuat lututku bersentuhan dengan paha Jimmy, tetapi kami berdua memilih diam. Ketika Andre menemani Tia ke toilet di area peristirahatan, pintu mobil tertutup dan Jimmy segera menciumku dengan intens. Momen intim ini membuatku menyadari kebenaran tak terbantahkan tentang pria.

Antara Aku, Dia, dan Masa Lalu Bab 1

Setelah Tia Lestari, teman masa kecil Andre Sonata, kembali duduk di kursi penumpang di sebelahnya, aku tidak ribut atau marah. Aku menurut dan duduk di kursi belakang, tepat di samping sahabat baiknya, Jimmy Tanusubrata.

Saat mobil terguncang, lututku tanpa sengaja bersentuhan dengan pahanya yang kuat dan kencang.

Aku sengaja tidak menarik kakiku, dan dia juga tetap diam.

Di tengah perjalanan, kami melewati rest area. Tia merengek pada Andre agar menemaninya ke toilet.

Begitu pintu mobil tertutup, Jimmy langsung meraih tengkukku dan menciumku dalam-dalam.

Saat ciuman itu membuatku kehilangan akal sehat, satu pikiran melintas di benakku...

Meragukan pria, memahami pria, menjadi pria... benar-benar sebuah kebenaran mutlak.

Setelah Tia Lestari, teman masa kecil Andre Sonata, kembali duduk di kursi penumpang di sebelahnya, aku tidak ribut atau marah. Aku menurut dan duduk di kursi belakang, tepat di samping sahabat baiknya, Jimmy Tanusubrata.

Saat mobil terguncang, lututku tanpa sengaja bersentuhan dengan pahanya yang kuat dan kencang.

Aku sengaja tidak menarik kakiku, dan dia juga tetap diam.

Di tengah perjalanan, kami melewati rest area. Tia merengek pada Andre agar menemaninya ke toilet.

Begitu pintu mobil tertutup, Jimmy langsung meraih tengkukku dan menciumku dalam-dalam.

Saat ciuman itu membuatku kehilangan akal sehat, satu pikiran melintas di benakku...

Meragukan pria, memahami pria, menjadi pria... benar-benar sebuah kebenaran mutlak.

***

Setelah Tia Lestari, teman masa kecil Andre Sonata, kembali duduk di kursi penumpang di sebelahnya, aku tidak ribut atau marah. Aku berbalik dan membuka pintu belakang mobil.

Namun, aku tertegun sejenak.

Tak kusangka Jimmy, si pria sibuk ini, juga ikut dalam perjalanan singkat ini.

Aku segera kembali tenang dan mengangguk padanya dengan sikap anggun.

Jimmy mengenakan kacamata, dengan sedikit kelelahan di wajahnya.

Dia mengangkat kelopak matanya, menatapku sekilas, lalu mengangguk sebelum kembali memejamkan mata.

Sementara itu, Tia, sambil mengenakan sabuk pengaman, menoleh ke belakang dan menatapku dengan ekspresi bangga.

“Kak Selly, aku mabuk perjalanan, jadi aku duduk di depan ya.”

Andre juga menoleh ke arahku. “Tia mabuk perjalanan, bersikaplah lebih lapang dada. Jangan terus-menerus ngambek karena hal-hal sepele seperti ini.”

Aku tertawa pelan. “Baiklah.”

Andre tampak sedikit terkejut, tetapi tidak berkata apa-apa lagi.

Karena Tia sudah lebih dulu menyodorkan roti yang sudah digigit ke mulutnya.

“Enggak enak, Mas bantu habisin, ya?”

Tanpa sedikit pun ragu, Andre memakannya dengan alami, seolah itu hal yang biasa.

Dari kaca spion, Tia melirikku sekilas, lalu menjulurkan lidahnya dengan senyum jahil.

Aku tidak menggubrisnya dan mengambil sebotol air soda, bersiap untuk membukanya.

Tapi tutupnya terlalu kencang. Aku mencoba memutarnya dua kali, tapi tetap tidak berhasil.

Sementara itu, di kursi depan, Tia sedang menyodorkan botol minumnya ke Andre dengan nada manja.

“Mas, beneran deh, aku nggak bisa buka.”

“Dari dulu kan Mas sudah tahu, tanganku ini paling nggak punya tenaga.”

Andre tampak menikmati perlakuan itu dan dengan mudah membukakan tutup botol untuknya.

Mereka berdua lalu bergantian minum dari botol yang sama, tanpa sedikit pun niat untuk menjaga jarak.

Aku merasa sedikit mual.

Saat hendak meletakkan botol airku...

Tiba-tiba, sebuah tangan terulur dari samping, mengambil botol air dari tanganku.

Di bawah lengan jas santai berwarna hitam, tampak sepotong kemeja abu-abu keperakan.

Kainnya membungkus erat pergelangan tangan pria itu yang ramping dan bersih.

Tangannya indah, jari-jari panjang dan ramping, dengan ruas yang tegas. Kuku-kukunya pendek dan rapi.

Di bawah cahaya yang memantul melalui jendela mobil, jemari itu tampak seperti pipa giok yang halus dan berkilau.

***

Saat aku masih tertegun, Jimmy sudah membuka tutup botolnya dan mengembalikannya padaku.

Musik di dalam mobil tepat waktu mengalun. Aku buru-buru menerimanya dan berbisik, “Terima kasih.”

Jimmy mengangguk sedikit, lalu kembali memejamkan mata.

Dia mungkin baru saja turun dari meja operasi setelah shift malam.

Di bawah matanya, samar terlihat guratan merah kelelahan.

Aku menyesap air perlahan.

Mobil melaju dengan stabil, memasuki jalan utama.

Sebentar lagi Tia akan berulang tahun.

Andre sengaja mengatur perjalanan singkat ini untuk merayakannya dengan baik.

Kami pergi dalam kelompok kecil, sekitar tujuh atau delapan orang, dengan tiga mobil menuju resor pemandian air panas seratus kilometer dari sini.

Belum lama perjalanan dimulai, Tia sudah hampir menempel sepenuhnya pada Andre.

Musik diputar cukup keras, membuat percakapan mereka tak terdengar jelas.

Tapi dari ekspresi mereka, jelas terlihat betapa asyiknya mereka mengobrol.

Belakangan ini, karena berbagai tindakan mereka yang kelewat batas, aku dan Andre sudah berkali-kali berselisih.

Andre pernah bilang kalau dia akan lebih berhati-hati lain kali.

Tapi begitu bertemu Tia, semua janji itu langsung lenyap entah ke mana.

Tiba-tiba aku merasa semua ini benar-benar tidak ada gunanya.

Aku menunduk, tertawa kecil menertawakan diri sendiri, lalu memalingkan wajah ke jendela.

Jalanan gunung berkelok-kelok, sesekali ada batu kecil yang menggelinding di aspal.

Mobil sedikit terguncang, membuat tubuhku tak sengaja miring.

Lututku yang terbuka di bawah rok pun bergesekan dengan paha Jimmy.

Menempel erat.

Refleks, aku hendak menarik diri.

Tapi saat itu juga, mataku menangkap bekas kemerahan samar di sisi leher Tia.

Bahkan orang bodoh pun tahu itu bekas ciuman.

Siapa yang meninggalkannya, sudah jelas tanpa perlu dijelaskan.

Dalam sekejap, perasaan di dadaku membuncah.

Aku pun mengurungkan niatku untuk menjauh, dan membiarkan semuanya begitu saja.

***

Saat itu juga, Jimmy membuka matanya.

Dia menatapku.

Aku berpura-pura tenang, menatap lurus ke depan, tidak membalas tatapannya.

Namun, lututku yang menempel di sisi pahanya justru tanpa disadari menekan lebih erat.

Hanya terpisah oleh kain celana bahan yang tipis.

Aku bisa merasakan dengan jelas ototnya yang kencang dan panas membara.

Gelombang demi gelombang kehangatan menjalar ke seluruh tubuhku.

Ujung-ujung sarafku seolah tersengat listrik.

Lanjut Membaca

Daftar Isi Antara Aku, Dia, dan Masa Lalu

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Baru

Sampul Novel DINIKAHI KONGLOMERAT
9.3
Lamaran Ashraf, sang pewaris takhta kekayaan, membawa badai dalam hidup Sinta. Ia dituduh memakai guna-guna melalui teror gelap, sementara sepupunya terus menghina latar belakang sosialnya yang miskin. Di tengah tangis sang ibu yang meratapi nasib mereka, Sinta memilih tetap teguh berdiri. Berbekal keyakinan bahwa kehormatan sejati bersumber dari Tuhan, bukan materi, ia melangkah maju demi meraih restu tulus ibunya.
Sampul Novel Gadis Ternoda
8.1
Diana dikhianati sahabatnya sendiri hingga terjebak dalam malam kelam bersama pria asing. Peristiwa itu menyisakan kehamilan tak terduga. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali dipertemukan dengan ayah kandung anaknya. Keadaan kian pelik saat Diana mengetahui bahwa pria tersebut kini menjalin kasih dengan sepupunya. Kini, Diana dihadapkan pada pilihan sulit: membongkar rahasia darah daging mereka atau tetap diam demi keutuhan keluarganya.
Sampul Novel Pengkhianatannya, Balas Dendam Mafia-ku
8.4
Hatiku hancur saat suami membawa selingkuhan mendiang saudaranya yang hamil ke rumah kami dengan dalih tanggung jawab. Pengkhianatan kian nyata ketika kalung warisan ibuku sengaja dirusak, dan suamiku justru menampar demi membela wanita itu. Tindakan kasarnya memicu perang besar, sebab aku adalah putri seorang kepala mafia. Di makam ibu, aku bersumpah menuntut balas. Kuhubungi ayahku untuk menghancurkan seluruh kerajaannya yang kini tak lagi memiliki kehormatan.
Sampul Novel Penyesalan Terbesar Hendra Setelah Kematian Sisca
8.7
Enam tahun mengubah segalanya. Sisca Limanta, mantan putri konglomerat, kini berjuang sebagai ibu tunggal. Sebaliknya, Hendra Setiawan yang dulu miskin telah menjadi miliarder dunia. Pertemuan kembali mereka memicu konfrontasi penuh kemarahan atas masa lalu dan pernikahan Sisca. Terdesak konflik, Sisca memilih melompat ke laut demi menebus utangnya dengan nyawa. Peristiwa tragis ini membuat Hendra didera penyesalan mendalam dan menyadari bahwa ia hanya menginginkan Sisca kembali.
Sampul Novel Taaruf dengan Anak Wanita Malam
9.6
Kebahagiaan Selina melambung ketika Aqsa, pemuda saleh dambaannya yang juga putra sahabat ayahnya, Ustaz Bashor, datang mengajak taaruf. Namun, impian indahnya runtuh seketika saat rahasia kelahirannya terbongkar. Selina ternyata anak angkat yang lahir dari rahim seorang wanita malam. Kenyataan pahit ini membuat keluarga Aqsa membatalkan lamaran sepihak. Di balik kepedihan mendalam itu, sanggupkah Selina menemukan ketulusan cinta yang menerima dirinya apa adanya?
Sampul Novel Terjebak Pesona Anak Teman Mama
8.1
Nadia Anindita, siswi pemberontak yang menggemaskan, selalu berselisih dengan ketua OSIS populer nan kaku, Raka Bratama. Di balik kebencian dan perdebatan sengit mereka, tersimpan masa lalu keluarga yang rumit. Takdir tak terduga pun datang saat keluarga menjodohkan mereka secara paksa. Kini, keduanya terjebak dalam ikatan pernikahan yang konyol. Akankah ego mereka memicu perceraian, atau justru menumbuhkan benih cinta sejati?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan