APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Another Maze

Another Maze

Uji coba mesin waktu memicu ledakan bola misterius akibat sentuhan Robert Hans. Insiden ini menghancurkan laboratorium dan menyisakan ilmuwan Zora sebagai satu-satunya penyintas. Demi menyelamatkan Hans yang tak sadarkan diri, Zora nekat melintasi ruang waktu tanpa arah jelas. Di dimensi lain, Dewi Penjaga Waktu memberi tahu bahwa mereka hanya bisa pulang jika berhasil mengumpulkan serpihan Air Mata Aldebran di berbagai alam asing sebagai kunci penyelamat.
Bab
Bagikan

Bab 1

Walau dengan tubuh penuh luka bercucuran darah, Miranda tak pernah berhenti melepaskan tangannya, memeluk seorang anak berusia dua belas tahun yang tergeletak pingsan di pangkuannya, Robert Hans.

Puluhan pasukan cyborg bersenjata lengkap mulai mengepung dan menodongkan senjata rifle ke arah mereka berdua.

“Miranda! Mengapa kau malah melindungi anak itu? Anak itu telah membunuh suamimu!” teriak salah satu cyborg.

“Apa kalian tidak sadar? Kalian mau membunuh seorang anak kecil? Kalian orang WG sungguh biadab sekali!” sanggah Miranda, perempuan berambut perak, berjas lab dan mengenakan kacamata.

Seorang perempuan berseragam militer tiba-tiba berjalan masuk ke tengah kerumunan pasukan cyborg.

“Kami tidak akan membunuh anak itu, Miranda. Serahkan saja Robert Hans kembali pada WG, anak itu akan menjadi aset yang berharga bagi kami!” sahut perempuan tersebut.

Miranda merogoh saku jas labnya, lalu diambillah sebuah remote kontrol, dan diarahkannya kepada perempuan tersebut.

“Jika kalian nekat ingin mengambil anak ini dariku, seluruh bidikan laser yang terpasang di setiap dinding di ruangan ini akan aktif dan menyerang kalian! Aku juga tak akan ragu menekan tombol penghancur ruangan ini!” ancam Miranda serius, “Memang anak ini telah menghilangkan nyawa suamiku, tapi itu dilakukannya tanpa dia sengaja! Dan, aku tak akan membiarkan WG memanfaatkan anak ini hanya untuk melanjutkan mesin waktu ciptaannya!”

Dhuar!

Sebuah tembakan dilancarkan oleh perempuan tersebut, tepat mengenai punggung Miranda.

“Aku peringatkan kau! Walau kau ilmuan WG, jika kau berani melawan perintah atasanmu, maka tak akan ada tempat bagimu lagi di dunia ini!” ancam perempuan tersebut dengan angkuhnya.

Huek!

Miranda muntah darah, tubuhnya kesakitan menahan luka serius di punggungnya.

“Cepat serahkan anak itu Miranda!!” bentak perempuan berseragam militer tersebut sembari menodongkan pistol ke arah Miranda.

“WG sungguh serakah … tak hanya telah merampas putri kesayanganku, kalian bahkan memaksa seorang anak kecil hanya untuk memenuhi ambisi kalian yang tidak berguna!” ucap Miranda dengan terbata-bata, “WG benar-benar licik!”

“Diam kau!!” bentak Emma, perempuan berseragam militer tersebut dengan penuh amarah.

Dhuar!

Tembakan kedua dilancarkannya tepat mengenai kaki Miranda.

“Miranda Ozora!! Kali ini aku tak akan segan lagi untuk membunuhmu!!” teriak Emma lantang.

Zab!

Tiba-tiba satu unit cyborg tumbang terkena serangan laser dari dinding menembus dadanya.

Zab!

Zab!

Zab!

Serangan laser susulan secara beruntun, dengan sekejap serangannya telah menumbangkan seluruh pasukan cyborg yang mengepungnya.

Tatapan mata Emma tampak serius. Dia tampak sangat ketakutan bercampur panik saat seluruh pasukan cyborg-nya tergeletak berjatuhan.

“Kurang ajar kau, Miranda!!!” teriak Emma lantang.

Dhuar!

Tembakan ketiga mengarah tepat mengenai dada Miranda.

Huek!

Miranda kembali muntah darah sembari menahan rasa sakit yang luar biasa.

Emma lalu mengarahkan pistolnya tepat di pelipis kepala Miranda.

Tanpa sedikit pun rasa takut, Miranda justru tersenyum sembari memandang wajah Robert Hans.

“Robert Hans, aku harap kau akan menjadi ilmuan yang berguna di masa depan. Aku harap kau juga bisa berteman baik dengan putriku, Zora … uhuk! Uhukk!” pesan Miranda kepada Robert Hans, “Kau masih muda, dan jalanmu masih panjang, kejarlah impianmu, kembangkan keahlianmu, dan jangan pernah kau kembali ke WG untuk melanjutkan mesin waktu yang berbahaya itu.”

Klik!

Miranda lalu menekan tombol merah pada remote-nya, alarm peringatan berbunyi.

Seluruh ruangan berguncang dahsyat.

“Keluarlah Mike!! Bawa Robert Hans keluar dari sini!!” teriak Miranda lantang.

“Tak akan kubiarkan!!” sahut Emma.

Sebuah robot tikus raksasa tiba-tiba keluar dari dalam tanah, ia menerobos dengan melubangi lantai menggunakan mulut bornya.

Dengan sigap Miranda meletakkan tubuh Hans, lalu menerkam tubuh Emma dan menjatuhkannya ke lantai.

“Lepaskan aku Miranda!!” teriak Emma.

“Tidak! Kau akan mati di sini bersamaku!”

Dhuuar!

Emma menembak perut Miranda, sementara robot tikus tersebut berhasil membawa Robert Hans kabur dengan menaikkannya ke atas punggung robot.

Seluruh dinding dan atap bangunan mulai runtuh menimpa seisi ruangan.

“Lepaskan aku!! Tak akan kubiarkan kau lolos, Robert Hans!!” teriak Emma.

Miranda dengan sigap mengunci tangan Emma, mencegah Emma menembak robot yang membawa Robert Hans.

“Pergilah, Hans! Jangan pernah kembali ke WG! Aku sangat-sangat menyayangimu!” teriak Miranda lirih, air matanya mengalir membasahi pipi putihnya.

Bangunan tersebut telah hancur, rata dengan tanah dan mengubur mereka berdua.

**

Seorang perempuan misterius dengan wajah tertutup tudung jubah hitam mendekat ke arah Hans yang duduk tersandar di bawah pepohonan di tengah hutan. Tampak di dekat Hans sebuah bangkai dari robot tikus yang telah menyelamatkannya.

Perempuan misterius tersebut akhirnya menjadi ibu angkat Hans. Dialah yang telah merawat Robert Hans seorang diri di sebuah gubuk kecil di tengah hutan. Dia pula yang telah mengajarinya cara berburu, meracik tanaman obat, dan melatih kemampuan bela diri.

Di tengah kesibukan Hans meracik obat, ibu angkatnya tiba-tiba datang menghampirinya.

“Nak, Ibu pikir sebaiknya kau pergi ke kota untuk belajar dan mengasah keahlianmu di sana.  Ibu harus kembali melanjutkan perjalanan panjang Ibu untuk mencari seseorang.”

“Mencari siapa, Bu? Biar aku temani!” usul Hans.

“Tidak boleh!” bentak ibu angkat Hans, “Nak, Ibu akan berkata terus terang padamu. Saat Ibu pertama kali menemukanmu, kau tergeletak pingsan di tengah hutan, terdapat selebaran kertas berisi pesan yang terselip di saku jasmu.”

“Pesan? Pesan apa, Bu?” tanya Hans penasaran.

“Pesan dari Miranda, agar menyuruhmu pergi ke Kota Lorensia dan mengelola lembaga penelitian Miranda di sana, Mira-Tech.”

“Miranda … sepertinya aku pernah mendengar nama itu.” ucap Hans sembari mengingat-ingat, “Mengapa Ibu tidak memberitahuku pesan ini dari dulu?”

“Tentunya, Ibu harus merawatmu dan membekalimu banyak hal!” jawab sang ibu, “Mungkin saat ini kau masih kehilangan ingatanmu, tapi suatu saat kau akan kembali mengingatnya.”

Hans termenung, wajahnya tampak sedih karena dia belum siap jika harus berpisah dengan ibu angkatnya.

Sang ibu lalu mendekat dan memeluk Hans. Selang beberapa saat, ibu angkatnya membalikkan badan dan mengucap salam perpisahan.

“Di pesan itu juga tertulis, kau harus menjauhi orang WG-Tech. Nak, ini adalah percakapan terakhir kita. Sekarang pergilah, Nak! Jika suatu saat kau bertemu kembali dengan Ibu, aku harap kau tidak melupakan Ibu … Ibu menyayangimu.” pamit ibu angkat Hans.

Dengan mengenakan jubah hitam, ibu angkat Hans melangkahkan kaki dan berjalan semakin jauh, sementara Hans masih tampak terpukul atas kepergiannya.

**

Lima belas tahun berlalu, Hans kini telah genap berusia tiga puluh satu tahun. Dia menjadi pemimpin Mira-Tech, dan lembaga penelitian tersebut kini telah berkembang pesat.

Segala hasil eksperimen Hans, maupun data penelitian rahasia Hans, tak ada seorang ilmuan pun yang mengetahui letak keberadaannya kecuali seorang asistennya, Dhea Kumala Anggraini.

Hanya Dhea yang pernah diajaknya berkeliling menuju sacred room, sebuah ruangan rahasia yang terletak di lantai bawah lembaga penelitian Mira-Tech. Sacred room merupakan tempat tersembunyi segala hasil eksperimen Hans sekaligus tempat penyimpanan data penelitian rahasianya.

Suatu ketika, di tengah perjalanan, Hans kala itu mengantarkan Dhea pulang dengan mobilnya. Hans melihat dari kaca mobilnya beramai-ramai mobil hitam berlogo Im-Tech melaju kencang berlawanan arah dengan mobil Hans.

Dhea yang duduk di sebelah Hans turut melihat dan melaporkannya kepada Hans.

“Tuan, bukankah itu rombongan mobil Im-Tech?” tunjuk Dhea.

Hans tampak cemas, firasatnya tak keruan, namun ia tetap mengalihkan perhatian dan tancap gas.

“Aku harap tidak terjadi apa-apa.” gumam Hans was-was.

* * *

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ann The Innocent
7.8
Hidup Ann Arthurian, gadis jenius yang malang, penuh penderitaan akibat rundungan di asrama setelah neneknya tiada dan ayahnya dituduh membunuh ibu angkatnya. Nasibnya berbalik saat seorang putra mafia menemukan buku miliknya. Ann kemudian bergabung dengan tim ilmuwan untuk memecahkan kode rahasia negara. Di tengah misi krusial tersebut, misteri kelam tentang asal-usul keluarganya yang sebenarnya mulai terbongkar satu demi satu.
Sampul Novel Bayang Hitam Sang Jenderal Tirani
8.5
Jenderal kejam Zane Alexander Thorn hidup sebagai senjata pembunuh demi misi berdarah ayahnya di dunia yang hampir hancur. Namun, jalannya berubah total setelah ia menolak perjodohan politik. Zane justru memilih menyekap seorang gadis misterius yang memiliki kekuatan super. Alih-alih fokus bertempur, sang tiran kini terobsesi membongkar rahasia besar gadis itu sambil perlahan terpikat oleh pesonanya. Kehidupan sang jenderal dingin pun mulai kehilangan kendali.
Sampul Novel CODE: FAUST
7.9
Sejak virus misterius mengubah makhluk hidup menjadi mutan pada 2028, Bumi hancur. Memasuki tahun 2036, faksi Government dan Black Beast saling bertikai memperebutkan kekuasaan di atas puing peradaban. Di tengah kekacauan ini, Dr. Plague, profesor bermasa lalu kelam, bertekad menebus dosa dengan mengembalikan kedamaian. Ia harus bertahan dari radiasi dan perang saudara sembari membongkar konspirasi besar di balik wabah mematikan tersebut.
Sampul Novel Love and Virus
8.1
Dunia terancam oleh kehancuran akibat Summer Erithropenia Syndrome, virus mematikan yang mengubah manusia menjadi seperti zombie. Di tengah situasi genting ini, Wizard berhasil menciptakan obat penawar, namun proses produksi massalnya menghadapi rintangan berat. Bersama Alvaro dan Emma, mereka berjuang menyelesaikan misi penyelamatan bumi ini. Sayangnya, konflik asmara segitiga yang rumit justru menguji profesionalisme ketiganya di sela pertarungan melawan wabah berbahaya tersebut.
Sampul Novel Pedang Ikatan Darah
8.3
Pedang Ikatan Darah menyajikan kisah misteri modern berselimut fiksi ilmiah yang menegangkan. Demi menyelamatkan adik angkat mereka, orang tua kandung sang protagonis tega membawanya ke meja hijau untuk merebut paksa jantungnya. Di bawah pengawasan panel berisi seratus orang, sebuah teknologi komputer mutakhir digunakan untuk membongkar isi memori mereka demi menentukan kepemilikan organ tersebut. Meski dituduh berhati keji dan diduga akan melarikan diri, ia justru hadir di persidangan. Namun, saat proyeksi ingatannya mulai diputar di hadapan publik, rahasia masa lalu yang terungkap justru menguras air mata semua orang.
Sampul Novel Tingkat Nol Cinta, Bagian 2
9.7
Pelanggaran aturan sakral oleh Lucía Vega dan Bruno Ortega akhirnya terdeteksi sistem NCA. Hubungan terlarang mereka kini terancam oleh Julián Iriarte, analis yang mulai mengendus konspirasi emosional ini. Lucía dan Bruno tidak lagi tunduk, menjadikan cinta mereka senjata untuk mengancam stabilitas kekuasaan. Tanpa jalan kembali, mereka harus menghadapi perang terbuka saat semua topeng hancur dan masa lalu menghantui. Demi menang, mereka siap menghancurkan segalanya.