
Andai Cinta Datang Lebih Awal
Bab 5
Siena sudah tiga hari di rumah sakit. Dalam tiga hari ini, terkadang ada seorang suster magang yang akan datang untuk membersihkan dan mengobati lukanya.
Bahasanya memang mengobati luka, tapi sebenarnya hanya membersihkan luka sejenak, lalu mengoles sedikit obat saja. Efek pengobatannya hampir tidak terasa.
Suster magang itu juga tidak tahu cara memperlakukan pasien dengan lembut. Seringkali Siena kesakitan hingga seluruh tubuhnya gemetar dan keringat dingin membasahi dahinya.
Dia mencengkeram erat seprai di bawah tubuhnya. Jemari kurusnya sampai memucat karena mencengkeram terlalu kuat.
Ketika melihat gambaran ini, Billy langsung merebut botol obat dari tangan suster, lalu mengobatinya sendiri.
“Kenapa nggak bilang kalau sakit? Dulu kamu … bukannya kamu akan merengek memintaku untuk menghiburmu?”
Seandainya Siena adalah Siena yang dulu, dia pasti akan merengek dengan manja meminta Billy untuk menghiburnya. Namun sekarang, Siena lebih memilih untuk menahannya saja.
Billy sengaja meringankan nada bicaranya sembari menunggu Siena membalas ucapannya. Asalkan Siena bersedia menunduk, bukannya Billy tidak bisa memberinya sebuah kesempatan ….
Bagaimanapun, di hati Billy, Siena tetap adalah calon istrinya. Siena adalah miliknya.
Hanya saja, Siena hanya memalingkan kepalanya, seolah-olah tidak bersedia untuk melihat Billy. Dia berkata dengan nada datar, “Dulu aku sudah merepotkanmu. Aku sungguh minta maaf. Kelak aku nggak akan melakukannya lagi. Kalau kamu merasa perjanjian pernikahan ini merepotkan, aku bisa bahas sama Kakek agar dia membatalkannya.”
Usai mendengar, kening Billy langsung berkerut. “Apa? Siena, apa kamu lagi main siasat tarik ulur? Bisa nggak kamu jangan beronar lagi!”
Billy yang murka itu bagai seekor singa. Dia langsung membuang barang di tangan, lalu meninggalkan kamar dengan membanting kuat pintu. Dia meninggalkan Siena sendirian untuk berhadapan dengan beraneka jenis botol obat.
Siena tersenyum tidak berdaya. Sejak kapan dia sedang beronar, padahal dia hanya sedang berterus terang saja.
Keesokan harinya, Lukasa berada di depan pintu kamar pasien. Begitu melihat pria tua yang bukan anggota keluarganya, tetapi memiliki hubungan yang lebih dekat daripada anggota keluarganya, mata Siena spontan memerah.
Ketika terperangkap di dalam pegunungan, selain merasa takut dengan kematian, hal yang tidak Siena relakan adalah kakek yang berhati baik ini.
Waktu itu, kedua orang tua Siena telah meninggal. Lukasa-lah yang menggandeng tangan Siena membawanya ke Kediaman Keluarga Juman. Dia mengatur makan dan tempat tinggalnya, juga berpesan kepada Siena untuk mencarinya di kala ada masalah.
Apa pun ceritanya, Lukasa akan selalu menjadi sandaran Siena.
Saat melihat senyuman ramah pria tua itu, Siena pun menelan rasa penat di hatinya. Lagi pula, Siena juga akan pergi, jangan sampai Kakek mencemaskannya.
Hanya saja, ketika Lukasa melihat luka di kaki Siena, dia pun merasa gusar hingga janggutnya bergetar.
“Apa rumah sakit kalian ini nggak berguna? Kalian malah memperlakukan cucu menantu kesayanganku seperti ini. Apa kerjaan kalian semua!” ucap Lukasa semari memukul kuat tongkat ke atas lantai.
Saat Lukasa masih muda, dia berjaya di dunia bisnis. Auranya yang dominan dan kewibawaannya sulit ditandingi. Hanya dengan kata-kata itu saja, Xavier pun berkeringat dingin.
“Kamu … kamu jangan marah! Aku itu spesialis. Mana mungkin ada yang salah dengan pengobatanku? Siena sendiri yang nggak ingin diobati. Dia sengaja bersikap malang agar dikasihani orang-orang. Dengan begitu, kamu baru bisa dijadikan senjata!”
Hanya saja, Lukasa tidak mendengar penjelasan Xavier. Dia terus memukul lantai dengan tongkatnya hingga lantai tidak berhenti bergetar.
“Dasar bocah tengik, beraninya sembarangan bicara di hadapanku. Kulihat kamu minta dipukul!”
Saat Julia mendengar suara itu, dia buru-buru ke dalam kamar pasien. “Kenapa? Apa yang terjadi? Kakek, apa Siena bikin kamu marah lagi? Kamu jangan emosi, ya. Siena sudah terbiasa bersikap arogan. Kamu jangan perhitungan sama dia ….”
Lukasa langsung menampar wajah Julia. “Siena bikin aku marah lagi? Dia nggak pernah bikin aku marah! Apa kamu benar-benar mengira aku nggak tahu apa yang dilakukan kamu dan kakakmu? Kalian malah berani mengelabuiku! Lihat saja bagaimana aku beri pelajaran kepada kalian!”
Tidak ada yang berani menghalangi Lukasa yang sedang emosi. Tamparannya langsung melayang ke wajah Julia. Darah seketika mengalir dari sudut bibirnya.
Billy pun datang karena mendengar suara itu. Kebetulan dia melihat gambaran ini.
Julia memanfaatkan kesempatan untuk masuk ke dalam pelukan Billy. Dia menangis hingga terengah-engah. “Kak Billy, maaf. Aku nggak tahu apa yang Kak Siena katakan di depan Kakek. Kakek jadi begitu membenciku …. Asalkan bisa bikin Kakek nggak emosi, nggak masalah aku mau dipukul seperti apa ….”
Raut wajah Billy menjadi dingin. Dia melindungi Julia sembari berkata, “Apa kamu pantas untuk dibandingkan dengannya? Selama ada perlindunganku, aku ingin lihat siapa yang berani menyentuhmu!”
Anda Mungkin Juga Suka





