APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel ANAKKU TIDAK SEPERTI ANAKKU

ANAKKU TIDAK SEPERTI ANAKKU

Kehidupan seorang ibu berubah drastis setelah putra sulungnya menikah. Lelaki yang dahulu dirawatnya dengan penuh pengorbanan kini terasa asing dan jauh. Seluruh perhatian serta cinta sang anak kini terserap sepenuhnya untuk sang istri, hingga tega menelantarkan ibu kandungnya sendiri. Perubahan sikap ini memicu pergolakan batin yang hebat, saat sang ibu menyadari kasih sayang tulusnya selama puluhan tahun kini seolah sirna begitu saja demi wanita lain.
Bab
Bagikan

Bab 2

Hening... Tak ada suara jawaban menggebu-gebu seperti di awal tadi. Aku menggigit bibir menahan air mata yang hendak pecah, sungguh sakit hati ini tak tertahankan lagi. Dadaku sampai sesak menahan sakitnya di dalam sini.

Meski Rudi dan Reza aku besarkan sendiri, keduanya tetap tumbuh menjadi dua pribadi yang sopan dan saling menyayangi. Belum pernah sekalipun keduanya berkata kasar atau meninggikan nada bicaranya satu sama lain, apalagi kepadaku. Tapi, sejak menikah Rudi berubah menjadi kasar dan tak punya hati. Sudah sering sekali dia seperti ini, aku sudah tidak tahan lagi.

"Bu... Kalau Elsa aku bawa pulang ke Bukittinggi, lalu Ibu dengan siapa di rumah?"

Nada suara Rudi mulai melunak, cepat sekali dia berubah.

"Ibu sudah tua, harus ada yang menjaga Ibu. Aku nggak mau terjadi sesuatu pada Ibu, Elsa ikut tinggal bersama Ibu bukan hanya karena dia sedang hamil, tapi juga karena aku dan Elsa sangat mengkhawatirkan kondisi Ibu," sambung Rudi lagi, aku menghela nafas berat mendengar nada suaranya yang tiba-tiba saja merendah dan cara bicaranya yang tiba-tiba menjadi bijak.

"Tapi, tidak bisakah Ibu menyayangi Elsa seperti Ibu menyayangi aku dan Reza? Elsa itu menantu pertama, Bu... Dia sedang hamil cucu pertama Ibu. Aku mohon... Jangan suruh Elsa melakukan pekerjaan berat dulu, setidaknya sampai dia melahirkan dan tenaganya sudah pulih."

Apa? Pekerjaan berat katanya? Masak untuk kebutuhannya sendiri dia sebut pekerjaan berat?

"Pekerjaan berat apa yang kamu maksud, Rudi?" tanyaku dengan menahan perasaan kesal.

"Apakah bangun pagi adalah sebuah pekerjaan berat? Jalan pagi untuk melancarkan proses lahiran nanti juga pekerjaan berat? Masak untuk dirinya sendiri di saat Ibu sedang sibuk membantu di rumah tetangga yang sedang berduka, itu juga pekerjaan berat?"

Hening lagi... Suara nafas Rudi yang berat terdengar jelas di telingaku. Aku masih menunggu beberapa saat untuk mendengarkan jawabannya, tapi sepertinya anak itu tidak akan menjawab pertanyaanku. Entah karena dia sepemahaman denganku atau karena dia tak punya kalimat lagi untuk menjawab pertanyaanku demi membela istrinya.

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan kondisiku, justru dengan adanya istrimu lah kesehatanku jadi terancam!" sambungku lagi.

"Kenapa Ibu bicara seperti itu?"

Nada suara Rudi kembali meninggi, tapi aku sudah siapkan hati untuk menerima perlakuan kasarnya lagi kepadaku.

"Sudahlah!! Kalau kau memang ingin bawa istrimu kembali ke sana, cepat lakukan!! Mertua dzalim ini sudah muak dengannya!"

Ku putuskan percakapan kami secara sepihak, sudah tidak tahan lagi beradu urat dengan anak kandung yang jelas-jelas tidak akan membelaku. Rudi sudah melupakan cinta dan kasih sayang yang sudah aku berikan selama ini. Baginya, hanya Elsa lah yang mencintainya, hanya istrinya lah yang harus dia jaga dan dia bela.

*

Suara ketukan di pintu tak membuatku ingin segera bangkit dari duduk dan membukakan pintu. Hari ini hari Jumat, aku sudah tahu siapa yang akan datang di hari dan di waktu ini. Aku berpura-pura fokus pada acara televisi yang aku tonton sedari tadi, sampai akhirnya aku mendengar suara pintu kamar Rudi yang dibuka dengan kasar.

"Dasar orang tua! Didiamkan ngelunjak, mau dilawan takut dibilang dosa! Hehhh!" gerutu Elsa sambil berjalan melewati aku dengan langkah kasar, aku tahu dia sengaja berbicara seperti itu untuk menyindirku, tapi aku tidak peduli.

"Emak!! Apak!!!"

Aku menoleh cepat ke arah pintu utama, keningku mengernyit mendengar teriakan Elsa memanggil Emak dan Apak nya. Apa yang mereka lakukan di sini? Bukankah Elsa belum melahirkan? Kenapa cepat sekali mereka datang?

"Masuk, Mak!! Pak!! Ayo Ndi... Rahma... Ajak anak kalian masuk sekalian!!"

Aku langsung bangkit, hendak melihat berapa orang yang datang ke rumah ini. Apa aku tidak salah dengar, Elsa menyebut nama Andi dan Rahma, adik dan iparnya yang lebih dulu menikah dan melangkahinya. Mereka punya dua anak laki-laki yang masih kecil-kecil, untuk apa mereka ikut ke sini? Sementara anak mereka saja masih kecil-kecil.

"Halo, Besan... Apa kabar?"

Mataku langsung tertumbuk pada kalung, gelang dan cincin emas tebal yang menghiasi tubuh besanku yang tambun. Dia yang dulu berpenampilan sangat sederhana di pesta pernikahan anaknya, sekarang malah terlihat glowing dan sangat berkilau. Sampai silau mataku melihat emas-emas yang membalut tubuhnya itu.

"Ehemmmm... Baik, Besan... Mari silahkan duduk," ucapku sambil mengajak besanku itu untuk duduk bersama di ruang nonton. Bukan hanya perhiasannya yang membuatku terhenyak, tapi juga orang-orang yang datang bersamanya. Pak Balong, suaminya, Andi dan Rahma beserta dua anaknya, Tio, adik bungsu Elsa dan dua orang Bibinya, Tari dan Pita. Astaga naga... Apa-apaan ini? Mereka seperti bala tentara yang hendak pergi berperang, padahal hanya untuk menunggui Elsa lahiran. Aku menelan ludah sekuat tenaga, tapi ludahku pun tak mau bergerak dari tempatnya menggantung di pangkal tenggorokan.

*

Rudi terlihat sibuk melayani para tamu kehormatan yang baru saja datang ke rumah kami, terlihat sekali dia sibuk melayani semua anggota keluarga Elsa sejak semuanya datang. Aku yang tidak memasak banyak karena tidak diberitahu tentang kedatangan mereka, terpaksa harus merogoh uang simpananku untuk membuat para tamu kenyang malam ini. Ya sudahlah... Untuk malam ini tidak apa-apa, tapi untuk besok akan aku bicarakan dengan Rudi nanti.

Selesai makan malam, kami ngobrol di ruang nonton. Anak-anak seperti nya sudah kecapekan, ketiganya sudah tertidur nyenyak di lantai yang sudah diberi alas karpet tebal.

"Apak, Emak, Rio kalau sudah capek silahkan istirahat di kamar tamu. Andi, Rahma dan anak-anak bisa tidur di kamar Reza."

Aku menoleh cepat ke arah Rudi, seenaknya dia mengatur pembagian kamar untuk keluarga istrinya di rumah ini tanpa meminta izinku terlebih dahulu. Aku masih menunggu, dimana dia akan menempatkan kedua bibi Elsa.

"Tante Tari dan Tante Pita bisa tidur bersama Ibu di kamar beliau, ya."

Lagi-lagi Rudi memutuskan tanpa meminta izin, bahkan tanpa menoleh ke arahku sedikitpun, Rudi sudah mengatur semuanya. Lama-lama rumah ini sudah bukan seperti rumahku lagi, anak itu sudah kelewatan. Aku terpaksa menghela nafas saja, mengalah karena tak mau membuat keributan di hadapan para besan.

"Ok, Rud... Terima kasih, ya," ucap Apak Elsa pelan. Beliau tidak mengucapkan terima kasih kepadaku si pemilik rumah, hanya kepada anakku saja.

Satu persatu anggota keluarga Elsa masuk ke dalam kamar yang sudah ditunjukkan Rudi, semuanya melangkah penuh percaya diri dan tanpa segan. Aku jadi merasa aneh berada di rumah ini, apakah benar ini rumah milikku? Rumah yang aku bangun bersama Mas Kerta suamiku dulu? Kenapa aku jadi merasa asing berada di rumahku sendiri?

*

"Ibu sabar, ya..."

Tangisku sudah pecah sedari tadi, aku sudah tak tahan membendung keresahan di hati. Entah kenapa Reza malah menghubungiku, seakan dia tahu kalau aku sedang tidak baik-baik saja di sini.

Rudi beserta semua keluarga besarnya sudah pergi pagi-pagi sekali setelah sarapan tadi. Dia merental mobil untuk mengajak keluarga besar istrinya jalan-jalan, sedangkan aku tidak diajak. Bahkan basa basi saja pun tidak, sungguh luar biasa anakku itu. Keadaan rumah yang sudah seperti kapal pecah ditinggalkan kepadaku. Semua kamar yang mereka gunakan untuk beristirahat semalam ditinggal pergi tanpa dibereskan, dapur dengan tumpukan piring kotor juga menunggu untuk disentuh, belum lagi ruang tamu dan ruang nonton yang keadaannya sangat kacau. Seketika aku merasa lelah, aku hanya duduk memperhatikan setiap sudut di ruangan rumahku dalam diam. Sampai akhirnya ponselku berdering, nama Reza tertera di layar. Aku langsung menggeser layar ponsel, lalu tangisku pecah seketika begitu mendengar ucapan salam dari anakku itu.

Mengalir lah semua cerita yang selama ini aku simpan rapat-rapat darinya, dada ini sudah terasa sesak sangking banyaknya masalah yang aku simpan. Reza akhirnya hanya mendengarkan ceritaku saja, tanpa menyela pembicaraan sedikitpun. Sesekali aku mendengar helaan berat nafasnya dari seberang, sepertinya dia juga ikut merasakan beban yang selama ini harus aku tanggung sendiri di sini.

"Berapa hari mereka semua akan berada di sana?" tanya Reza dengan sikap tenang. Setelah dia berada jauh dariku, anak itu terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan Rudi, padahal beda usia keduanya cukup jauh, sepuluh tahun. Pembawaannya yang biasanya grasak grusuk berubah jauh lebih tenang dan santai. Merantau sepertinya sudah membentuk pribadinya menjadi jauh lebih baik.

"Ibu nggak tahu, Re... Tentunya sampai kakak ipar mu melahirkan."

"Sekitar dua bulanan, Bu... Itu lama banget," sahut Reza dari seberang. Membayangkan hal itu tangisku kembali pecah, aku langsung merasa gelisah.

"Begini saja, Bu... Ibu kontrakkan rumah petak punya Pak Haji untuk dua atau tiga bulan ke depan. Suruh semua keluarga Kak Elsa tinggal di sana."

Aku diam mendengarkan masukan dari Reza. Kuusap air mata yang membasahi wajah dengan tanganku sendiri.

"Bilang saja pada Bang Rudi kalau Ibu yang akan membayarkan uang kontrakan nya, nanti aku yang akan bayarkan," lanjut Reza.

"Kalau Rudi tidak mengizinkan mereka mengontrak, bagaimana Re? Ibu malas ribut-ribut dengan Abangmu itu. Dia sudah benar-benar berubah sekarang, Ibu sendiri sampai lupa apakah benar dia anak Ibu atau bukan?" ucapku lemah. Reza tertawa terbahak-bahak mendengarkan ucapanku, aku spontan menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

"Ibu ini ada-ada aja," ucapnya sambil perlahan menghentikan tawa.

"Habisnya, Ibu bingung lihat perubahan Abangmu itu. Ini pelajaran bagimu, Re... Carilah istri yang tidak hanya mencintaimu dan keluarganya saja, tapi juga istri yang juga bisa mencintai dan menyayangi Ibu. Tidak perlu sarjana, tidak perlu bekerja, janda sekalipun tidak apa-apa. Asal dia bisa menghargai, mencintai dan menyayangi kamu sebagai suami dan Ibu seperti orang tuanya sendiri."

"Sifat dasar seseorang akan sangat sulit diubah, jadi kalau kamu menemukan perempuan dengan sifat baik, sopan dan penyayang, kamu tidak perlu mengubah apapun. Bahkan kamu akan menjadi laki-laki paling beruntung," lanjutku lagi, Reza diam mendengarkan pesanku.

"Bagaimana ini, Re... Bagaimana kalau Abangmu justru bersikeras tak mengizinkan keluarga istrinya itu untuk tinggal di kontrakan?" tanyaku lagi, kembali fokus pada inti percakapan kami di awal. Reza diam sesaat, mungkin dia sedang sama bingungnya denganku.

"Re...." panggilku pelan.

"Iya, Bu... Reza masih mendengarkan," sahutnya pelan.

"Bagaimana, Re?" tanyaku lagi.

"Ibu yang pindah ke kontrakan, tinggalkan mereka dan biarkan mereka mengurusi diri sendiri di rumah. Aku yakin sekali, Bang Rudi dan Kak Elsa pasti tidak akan sanggup melayani tamu mereka sendiri tanpa bantuan Ibu."

Aku menghela nafas berat, aku sang pemilik rumah dan aku juga yang harus menyingkir. Sungguh miris nasibku di ujung usia.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Godaan Berdosa: Tuan Playboy Miliuner Memohon Kembali Padaku
9.3
Sejak kecil, Iris diadopsi oleh keluarga Stewart dan tumbuh menjadi kekasih rahasia dari pamannya, Vincent. Di balik reputasi playboy-nya, CEO itu bersikap sangat dingin pada Iris. Harapan Iris hancur saat lamaran tulusnya ditolak Vincent demi pernikahan bisnis. Ingin lepas dari penderitaan, Iris nekat menerima lamaran seorang pengacara. Namun di hari pernikahan, Vincent justru datang bersimpuh dan memohon agar Iris tidak pergi.
Sampul Novel Daddy's Princess (21+)
8.4
Kehidupan Dominic sebagai ayah angkat Bee terusik sejak Nathan, seorang dosen tampan, hadir di antara mereka. Hubungan trio ini pun berkembang menjadi sangat kompleks dan sarat emosi. Konflik batin serta ketegangan asmara mewarnai setiap langkah, membawa pembaca menyelami sisi dewasa dari arti sebuah komitmen. Kisah romansa modern ini menguji batas antara rasa ingin melindungi dan cinta yang mendalam.
Sampul Novel Dia Tidak Tahu Identitas Istrinya Sampai Mereka Bercerai
8.5
Demi menyelamatkan Asher Lambert lima tahun lalu, Bettina Rowe harus kehilangan kemampuan memiliki anak. Asher awalnya mengaku tidak ingin punya keturunan. Namun, Bettina sangat terkejut saat sang suami tiba-tiba berniat memakai jasa ibu pengganti demi mendapatkan ahli waris. Asher bahkan memilih Betsy Sugden, mahasiswi yang mirip dengan Bettina. Di tengah rencana tersebut, Asher tidak menyadari bahwa Bettina telah mantap memutuskan untuk bercerai darinya.
Sampul Novel Dikhianati Suami, Diremehkan Mertua
9.1
Demi melindungi putranya, Alena bersembunyi selama tujuh tahun dari kejaran Keluarga Whitmore. Namun, kedamaiannya sirna ketika ia diculik dan disekap di sebuah kastil tua terpencil. Di tempat itu, sang mantan suami, Dorian Whitmore, menuduh Alena menyembunyikan anak laki-laki mereka yang lain. Alena menegaskan hanya Julian Ezra Callahan yang hidup, sementara kembarannya telah tiada. Kini ia harus menghadapi Dorian demi mengungkap misteri masa lalu.
Sampul Novel Gadis Cantik Milik Mafia
8.8
Setelah diusir oleh bibinya akibat fitnah kejam, Sephi berjuang keras demi memperbaiki hidupnya. Takdir menuntunnya mengikuti wawancara kerja, di mana ia bertemu Aldo, seorang CEO dingin yang juga pemimpin mafia disegani di Eropa. Aldo yang dikenal kaku dan hanya peduli pada keponakannya, mulai merasakan cinta untuk pertama kali setelah melihat ketulusan Sephi. Akankah kehangatan gadis itu mampu meluluhkan hati sang bos kriminal yang tak tersentuh?
Sampul Novel Langit dan Evelyn
8.6
Evelyn sangat menginginkan kebebasan tanpa pasangan, sementara Langit bertekad menghindari pernikahan seumur hidupnya. Walau sama-sama menyimpan trauma dan luka masa lalu yang mendalam, takdir justru menjebak mereka dalam situasi pelik. Dua orang yang sangat anti terhadap komitmen ini terpaksa tinggal bersama di bawah satu atap. Di tengah ketakutan akan sebuah ikatan, mampukah keduanya bertahan serumah tanpa membiarkan benih cinta tumbuh?