APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel ANAKKU TIDAK SEPERTI ANAKKU

ANAKKU TIDAK SEPERTI ANAKKU

Kehidupan seorang ibu berubah drastis setelah putra sulungnya menikah. Lelaki yang dahulu dirawatnya dengan penuh pengorbanan kini terasa asing dan jauh. Seluruh perhatian serta cinta sang anak kini terserap sepenuhnya untuk sang istri, hingga tega menelantarkan ibu kandungnya sendiri. Perubahan sikap ini memicu pergolakan batin yang hebat, saat sang ibu menyadari kasih sayang tulusnya selama puluhan tahun kini seolah sirna begitu saja demi wanita lain.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Jangan yang itu, Bu!"

Tangan kananku seketika menggantung di udara, aku menoleh dan menatap Rudi, anak sulung ku, penuh tanda tanya.

"Itu punya Elsa, ibu makan yang ini saja," jelasnya sambil menggeser makanan ringan sisa perjalanannya tadi ke depanku, sepertinya dia mengerti arti tatapanku ini. Ku tarik tangan kananku dari udara, lalu meletakkannya di atas paha.

"Wah... Banyak banget, Bang...."

Elsa, istri Rudi, tiba-tiba masuk ke ruang tengah, entah dari mana dia tadi aku pun tidak tahu. Kebiasaannya yang suka bertandang ke rumah tetangga tak bisa berubah, meski aku sudah berkali-kali mengajarinya.

""Iya, Dek... Kan kamu minta dibawakan apel, jeruk, mangga dan alpokat. Ini Abang bawakan untukmu semua nya," sahut Rudi dengan bangga. Mataku tertuju pada buah mangga, Rudi tahu sekali kalau aku menyukai buah tersebut. Tapi dia tak memberikan izin kepadaku untuk mengambilnya barang satu buah saja. Aku terpaksa menelan air liur sambil menatap buah mangga yang jumlahnya sekitar delapan atau tujuh buah itu. Aromanya sangat kuat, menandakan isinya pasti sudah matang dan manis. Air liurku terbit membayangkan rasa manis yang mendominasi di balik kulit buah yang berwarna hijau dan berukuran besar itu.

"Terima kasih ya, Bang... Makin cinta deh sama Abang," ucap menantuku dengan gaya manja yang dibuat-buat.

"Ya sudah, kamu makan gih.. Jangan sampai anak kita ileran nanti, gara-gara keinginannya tidak dituruti," ucap Rudi memberi perintah. Elsa mengangguk lalu duduk di samping Rudi, tubuhnya sedikit membungkuk dan tangannya terulur mengambil sebuah mangga dari atas meja.

"Aku mau makan mangga dulu," ucap Elsa seperti memanas-manasi, Rudi tersenyum sambil menganggukkan kepala dan terus menatap istrinya.

"Bu... Tolong ambilkan pisau, dong!"

Aku menoleh cepat ke arah Elsa, ringan sekali mulutnya menyuruhku mengambilkan pisau untuknya.

"Ayolah, Bu... Elsa udah keburu duduk. Kasihan dia kalau harus berdiri lagi, dia kan lagi hamil cucu pertama Ibu," ucap Rudi membantu Elsa, aku memindahkan tatapanku pada Rudi. Ada rasa sakit di dada ini, bisa-bisanya Rudi

ikut memerintah ku juga.

Aku menghela nafas sebentar, lalu bangkit perlahan dari duduk. Kulangkahkan kakiku ke dapur, membawa hatiku yang perih menjauh dari kedua anak dan menantuku yang tahu diri. Beberapa menit kemudian, aku kembali ke ruang nonton dan meletakkan pisau di atas meja, tepat di samping buah-buahan yang dibawakan Rudi spesial untuk istrinya.

Setelah itu, aku berbalik badan untuk menjauh. Daripada harus mencium aroma mangga, aku memutuskan untuk ke kamar tidur dan menyendiri di sana.

"Lho... Bu!! Piringnya koq nggak sekalian dibawa!"

tak kuperdulikan pertanyaan ketus setengah memerintah yang keluar dari mulut Elsa, ku lanjutkan langkah menuju kamar, lalu langsung mengunci pintu kamar yang sudah aku tutup dari dalam.

Air mataku langsung mengalir deras begitu suara kunci memutar untuk yang kedua kalinya. Aku melangkah menuju tempat tidur, lalu duduk di atasnya. Sambil menatap cermin yang ada di samping tempat tidur, aku memaki diriku sendiri. Entah kenapa dulu aku memberikan izin kepada anak sulung ku untuk menikahi ratu kegelapan itu. Sehingga akhirnya, rumah ini pun terbawa aura gelap sejak perempuan itu tinggal bersama kami beberapa bulan yang lalu.

*

Namaku Risma, aku sudah menjadi janda sejak Rudi masih duduk di kelas empat SD. Saat itu aku sedang hamil anak keduaku, Reza. Mas Kerta, suamiku, meninggal dunia karena kecelakaan bus saat dalam perjalanan pulang dari rumah Ibunya, mertuaku. Sejak saat itulah, aku menjadi kepala rumah tangga sekaligus juga ibu rumah tangga bagi kedua anakku yang saat itu masih kecil-kecil.

Rudi Firmansyah, anak sulung ku, saat ini sudah berusia tiga puluh lima tahun. Dia memang agak telat menikah, dia baru menikahi Elsa dua tahun yang lalu. Rudi bekerja sebagai supervisor di sebuah perusahaan rokok. Setelah menikah, Rudi dipindah tugas oleh perusahaan tempatnya bekerja ke Bukit Tinggi, tiga jam dari kota Padang, tempat tinggal ku. Rudi segera membawa Elsa pindah ke Bukit Tinggi, mereka bahkan sudah memiliki rumah sendiri di sana. Tapi, karena saat ini Elsa sedang hamil besar dan orang tuanya berada jauh di Lampung, Rudi meminta Elsa untuk tinggal bersamaku menjelang lahiran. Pertimbangannya, Rudi bisa bolak balik Padang - Bukit Tinggi yang jaraknya lebih dekat, meskipun seminggu sekali dari pada harus ke Lampung. Nanti, setelah lahiran, orang tua Elsa akan datang ke sini kemudian setelah empat puluh hari Elsa dan kedua orang tua beserta bayinya akan kembali ke Bukit Tinggi.

Aku baru tahu sikap asli Elsa dan perubahan Rudi anakku beberapa bulan terakhir, tepatnya sejak Elsa tinggal bersamaku di rumah ini. Dia yang dulu sopan, manis dan perhatian, ternyata hanya topeng semata. Sejak dia berada di sini sampai hari ini, tak ada satu pekerjaan rumah pun yang dia lakukan. Kehamilannya selalu menjadi alasan untuk tidak melakukan apapun di rumah ini, dan Rudi menyetujui sikap malasnya itu. Alhasil, aku lah yang mengurusi semua kebutuhan menantuku itu, mulai dari mencuci dan menyetrika pakaiannya, menyiapkan makanan hingga membersihkan rumah. Semuanya aku kerjakan sendiri.

Biaya Elsa sehari-hari selama tinggal di rumah ini pun juga aku yang memikirkan. Rudi tak memberikan uang belanja sepeserpun kepadaku, sementara Elsa sering sekali meminta dimasakkan makanan yang mahal. Kalau aku protes, dia akan langsung menangis dan mengadu pada suaminya, lalu anakku itu akan meneleponku dan marah-marah. Sakit.. Hatiku sakit sekali melihat perlakuan anak kandungku yang selalu membela istrinya. Tapi, aku tetap bertahan agar aku tidak dijadikan tokoh utama dalam cerita menantu versus mertua yang kejam.

Mas Kerta dulunya bekerja sebagai guru ASN di salah satu SMP di kota ini, sedangkan aku hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang memiliki hobi menjahit. Jadi, untuk kebutuhan rumah tangga Alhamdulillah aku tak merasa kewalahan kalau hanya untuk diriku sendiri, lagipula aku bukan tipe orang yang suka pilih-pilih makanan ataupun maruk ingin mencoba makanan ini dan itu.

Anak bungsuku, Reza Firmansyah, bekerja sebagai TKI di Taiwan. Baru enam bulan dia berada di sana. Bantuan biaya bulanan di bulan terakhir ini juga aku dapatkan darinya. Jumlahnya cukup besar, tapi aku tentu saja tidak menghabiskan kirimannya begitu saja. Suatu hari Reza juga akan menikah dan memiliki keluarga, aku sudah mulai bersiap-siap menabung untuk membelikannya rumah, seperti yang aku berikan kepada Rudi dulu setelah dia menikah dengan Elsa. Jadi, rumah Rudi yang ada di Bukit Tinggi adalah hadiah dariku untuk Rudi dan istrinya. Bukan rumah yang besar, tapi layak dan juga berada di tengah kota. Uang pembelian rumah itu dulu juga aku sisihkan dari uang belanja yang selalu Rudi berikan setiap bulan kepadaku. Tapi sejak menikah, jangankan uang belanja bulanan, mangga satu buah saja pun tak bisa dia belikan. Hidupnya sudah dia abadikan untuk istri dan keluarga istrinya saja, sudah tidak ada lagi buatku. Harapanku, nantinya Reza bisa menemukan istri yang karakternya berbeda dengan Elsa. Tidak perlu cantik ataupun harus wanita yang bekerja, tidak peduli mau masih gadis ataupun janda, yang terpenting calon istrinya itu bisa menyayangi aku seperti ibunya sendiri, itu saja sudah cukup.

*

"Ibu dari mana? Aku lapar!"

Aku langsung menghentikan langkah, lalu menoleh pada Elsa yang sudah duduk di depan televisi dengan kedua tangan bersedekap di depan dada. Rudi sudah kembali ke Bukit Tinggi kemarin sore, jadi hari ini aku kembali hanya tinggal berdua saja dengan Elsa.

"Ibu!! Aku lapar!!" teriak Elsa dengan suaranya yang melengking. Aku sempat melonjak kaget, tapi cepat-cepat menguasai diri.

"Kalau lapar ya makan, Sa! Kenapa teriak-teriak? Ini bukan hutan!" sahutku pelan dan ditekan. Mataku melotot tak senang menatap nya.

"Mau makan apa!! Meja aja masih kosong begini!" bentaknya lagi, aku menghela nafas berat, lalu menghembuskan nya perlahan.

"Terserah kamu mau makan apa, di kulkas ada telur, ayam, daging dan berbagai jenis sayuran. Kamu tinggal mengolahnya saja, kan nggak susah." jawabku sambil berusaha tenang.

"Lho.. Koq malah aku yang masak? Ibu kan tahu aku nggak bisa masak." ucapnya lagi.

"Kalau nggak bisa masak, kamu pergi ke sebelah! Warung nasi uduk si Sari masih buka, Rudi kan ninggalin uang ke kamu. Masak iya untuk beli nasi uduk juga harus pakai uang Ibu," ucapku sinis.

"Nasi uduknya nggak enak, apaan... Nasi uduk nggak ada rasa! Emak kalau masak nasi uduk itu pakai...."

"Minta Emakmu masakkan nasi uduk buatmu, beres!!" potongku cepat. Elsa melongo mendengar ucapannya aku potong, sementara aku sudah berlalu dari hadapannya. Aku pulang hanya untuk mengambil mukena, untuk melaksanakan shalat jenazah Ibu Broto, Ibu ketua RT yang tadi subuh meninggal dunia. Saat aku mau ke rumah duka tadi, aku sudah berkali-kali mengetuk pintu kamar menantuku, tapi dia malah membentakku dengan kalimat yang kasar. Akhirnya, aku pergi melayat tanpa meninggalkan pesan apapun untuk menantuku itu.

Aku keluar dari kamar membawa mukena hendak segera ke mesjid, saat aku melewati pintu kamar Elsa, aku mendengar dia sedang berbicara di telepon sambil menangis pilu. Langkahku langsung terhenti, lalu bergerak melangkah pelan mendekati pintu kamarnya. Suaranya yang cempreng terdengar sedang mengadu pada suaminya di seberang sana, ditambah dengan tangisan pilu seolah-olah baru saja didzalimi mertua.

Panggilan untuk segera menyalatkan jenazah Bu Broto terdengar sampai ke rumahku, karena jarak rumahku dari mesjid hanya beberapa meter saja. Aku langsung bergerak menjauh dari pintu kamar, melanjutkan langkah hendak keluar dan segera menuju ke mesjid.

*

"Ibu koq tega banget, sih! Elsa itu sedang hamil anakku, Bu! Cucu pertama Ibu! Tidak bisakah Ibu mengerti dan menyayangi Elsa layaknya dia adalah anak kandung Ibu!"

Salam ku saat menjawab teleponnya tidak dijawab. Anak sulung ku itu malah membentak-bentak aku, sama kasarnya dengan nada yang digunakan istrinya tadi saat sedang berbicara denganku. Sakit... Lagi-lagi aku merasakan sakit yang teramat sangat di dalam hati. Tega sekali anakku ini berkata kasar kepadaku, orang yang sudah menjaganya sejak dari kandungan, bahkan membesarkannya sendirian.

"Kalau ibu tak suka Elsa tinggal bersama Ibu, aku akan segera bawa dia ke Bukit Tinggi. Tak tenang juga hatiku lama-lama mendengar kedzaliman yang Ibu lakukan pada istriku itu!" sambung Rudi.

"Kalau begitu, silahkan bawa istrimu secepatnya, aku tidak akan menahan kepergiannya sedikitpun!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Diantara
8.9
Demi menjaga nama baik keluarganya, Aisyah terpaksa menikah dengan seorang pria asing yang telah memiliki anak bernama Haidar. Ketika rasa cinta mulai tumbuh di antara mereka, ia justru menemukan sisi gelap suaminya yang selama ini tersembunyi. Di tengah ancaman rahasia kelam dan bayang-bayang masa lalu yang kembali datang mengusik, Aisyah kini dihadapkan pada pilihan sulit. Haruskah ia bertahan demi pernikahan ini, atau pergi demi masa depannya?
Sampul Novel Cinta Sang Pewaris
9.4
Nathaniel Albar, pewaris bisnis berhati dingin, bertekad menguji kegigihan gadis sederhana bernama Alya Nabila setelah sebuah insiden wawancara yang buruk. Di balik sikap kerasnya, Nathan ternyata menyimpan rencana rahasia saat mempekerjakan Alya. Namun, rahasia masa lalu Nathan yang kelam perlahan mulai terungkap. Kini, Alya dihadapkan pada pilihan sulit antara keselamatan dirinya atau perasaan cintanya. Akankah ketulusan Alya mampu melunahkan ambisi beku sang miliarder?
Sampul Novel I Choose The Villain Crown Prince
8.6
Seorang pembunuh bayaran terlahir kembali sebagai Athea Dominic, putri bangsawan klan Api yang dibenci. Usai tewas tragis akibat mencintai Pangeran Alexander di masa lalu, ia bangkit menjadi prajurit elite demi membalas dendam atas pembantaian keluarganya. Athea lalu bersekutu dengan Azrael, sosok misterius yang merupakan Putra Mahkota Klan Api. Bersama-sama, mereka berjuang merebut takhta dari pangeran kejam itu demi menuntut keadilan bagi klan mereka.
Sampul Novel Kawin Kontrak dengan CEO Kejam
8.3
Elle, gadis dua puluh dua tahun, tak pernah merasakan arti rumah yang aman. Ayahnya—sosok yang seharusnya melindungi—justru menjadikannya budak, memaksanya menari telanjang di klub demi memenuhi keinginan gila sang lelaki. Derita demi derita ia telan; permohonan tak pernah didengar, hanya caci maki dan pukulan yang ia terima. Namun malam ini, tekadnya membara: ia tak akan lagi menjual tubuhnya, tak akan lagi tunduk pada teror sang ayah. Malam ini adalah malam terakhir. Saat ia melangkah keluar dari klub, sebuah pertemuan tak terduga dengan CEO yang dikenal kejam dan dingin mengubah takdirnya. Pria itu menawarkan tawaran yang tak bisa ia tolak—sebuah pernikahan kontrak. Namun di balik perjanjian itu, tersembunyi permainan kuasa, obsesi, dan hasrat yang semakin dalam. Bisakah Elle lepas dari cengkeraman ayahnya, atau justru terjerat dalam bahaya baru yang lebih membara?
Sampul Novel Mas Brewok
8.8
Menyamar demi menjadi sosok impian Yusuf Muhammad justru merenggut kesucian Nur akibat ketidaksengajaan. Di balik pesona Yusuf yang memikat, Nur didera penyesalan mendalam lantaran kepalsuan yang ia bangun. Hatinya kian tersiksa menyadari dirinya hanyalah pengganti sementara. Saat rahasia ini terbongkar, akankah Yusuf tulus menerima cintanya, atau malah membalas dendam atas dusta tersebut? Simak kisah asmara penuh risiko dalam drama dewasa ini.
Sampul Novel Tuan muda
8.7
Dalam dingin yang membekukan, Qin Shu yang hampir kehilangan kesadaran mendadak tersadar karena pelukan hangat dan tangisan pilu seseorang. Begitu membuka matanya yang sembap, ia terkejut mendapati Fu Tingyu berada sangat dekat dengannya. Pria tampan itu tampak begitu hancur dengan mata memerah dan air mata yang terus mengalir. Pemandangan langka ini membuat Qin Shu sangat terpukul, sebab ia sama sekali belum pernah melihat Fu Tingyu menangis histeris seperti itu.