APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Anak Untuk Kakak Iparku

Anak Untuk Kakak Iparku

Kinan mengambil langkah nekat dengan menjadi istri kedua Yuan, kakak iparnya, demi membongkar rahasia mendiang suaminya. Keputusan ini akhirnya mengungkap alasan mengapa mendiang suaminya dahulu selalu mengabaikan dirinya dan jarang pulang ke rumah. Di tengah pencarian jawabannya, Kinan justru menemukan cinta sejati pada diri Yuan. Kini, ia bertekad untuk memiliki anak demi menuntaskan rasa penasarannya, mempertaruhkan segalanya demi satu tujuan besar.
Bab
Bagikan

Bab 2

Kinan kesiangan hari ini, karena semalaman ia sulit tidur setelah mengetahui beberapa hal tentang suaminya dulu.

Kinan terbangun karena mendengar ketukan di pintu kamarnya.

"Nan? Kinan?" Panggil Ibu Chika.

"Astaga! Aku telat" Kinan langsung panik.

"Ya Bu, maaf Kinan telat bangun" Kinan langsung membuka pintu dan berdiri di depan Ibu mertuanya.

Ibu mertua hanya tersenyum dan menyerahkan kebaya putih bersih kepada Kinan. "Hari ini ijab kabul kamu dan Yuan"

"Apa! Se-secepat ini?"

"Iyaa kayaknya Yuan udah gak sabar halalkan kamu Nan" kekeh Bu Chika.

"Ibu aaah, ngomong apa sih?"

"Udah ayo, ibu bantu pakein kebayanya" Bu Chika mendorong Kinan masuk lagi ke dalam kamar.

Kinan bersiap dan kini di pasangkan kemben dan kebayanya. Kinan menatap pantulan dirinya di cermin. Keahlian Bu Chika menandaninya membuat polesan cantik di wajah Kinan.

"Bu? Emang harus secantik ini?"

"Harus lhoo, biar Yuan makin cinta sama kamu"

"Eeehh? Apa sih Bu? Aduh, Kinan takut Bu. Malu juga sama Mbak Nia! Aduhhh aku jadi madunya Mbak Nia yaa?" Rengek Kinan.

"Bu, Kinannya udah siap? Mempelai prianya udah gak sabar tuh" Suara Nia dari luar kamar Kinan membuat Kinan spot jantung.

"Mbak Nia?" Bisik Kinan.

"Masuk aja Nia, pintunya gak di kunci" Ujar Ibu Chika sembari berbalik menatap pintu yang di tutup.

"Permisi yaa" Nia pun masuk.

"Wih, cantik bener si Kinan, yaa ampun." Nia malah memuji kecantikan Kinan.

"Mbak? Eeee ..." Kinan jadi bingung ingin berkata apa di depan istri pertama Yuan.

"Bu, anak Ibu tuh, dari tadi nanya, mana Kinannya? Mana Kinannya? Udah siap belum sih?" Nia menirukan cara Yuan bertanya.

"Iya ini bentar lagi, tinggal bibirnya lebih di glow glowing" Cicit Bu Chika.

"Hehehe gak akan nyesal deh Yuan dapat istrinya di dandan cantik gini. Meski lama dikit nunggu'kan gak ngaruh sama kecantikan Kinan" Celoteh Nia lagi.

Kinan langsung tak memiliki pertanyaan di otaknya karena perbincangan Ibu dan Nia. Malah Kinan tiba tiba takut ketika membayangkan malam ini adalah malam pertama ia dan Yuan.

"Apa aku akan baik baik aja?" Batin Kinan.

"Kayaknya pilihan aku salah, harusnya aku gak perlu cari tau hal hal yang sudah pernah terjadi. Mas Bara juga sudah gak ada, aduh Kinan terjebaklah kamu sudah di egomu yang terlalu tinggi ini" Batin Kinan.

Kinan sudah siap dengan segala dandanannya. Ibu dan Nia membawanya keluar dari kamar. Menuruni anak tangga dengan detak jantung yang mungkin bisa di dengar Ibu dan Nia.

"Mbak, maaf" Ujar Kinan tiba tiba.

"Maaf buat apa?" Tanya Nia.

"Maaf, karena aku ... Mas Yuan ... Dia"

"Biasa aja kali Nan, aku malah yang izinkan Yuan nikah lagi dan menyarankan dia untuk menikahi kamu." Ucapan Nia barusan membuat Kinan menghentikan langkah kakinya menuruni anak tangga.

"Nan?" Panggil Ibu. Wajah Ibu terlihat panik ketika Kinan menghentikan langkahnya.

"Kinan Sayang Ibu 'kan? Menikahlah dengan Yuan Nan" Pinta Ibu Chika lagi.

"Iya Nan, ayuk" Ajak Nia lagi.

Kinan tak bisa berpikir dengan jernih, ia melongo sepanjang anak tangga dan kini sudah duduk berdampingan dengan Yuan.

Ijab kabul pun di lakukan, dan Yuan bisa melakukannya dengan sekali tarikan napas.

Semua saksi menyatakan sah dan sahlah Kinan dan Yuan adalah suami istri.

Yuan menyodorkan punggung tangannya dan Kinan pun mencium punggung tangan Yuan. Begitu pun sebaliknya saat Yuan harus mengecup kening atau pelipis Kinan, dilakukannya tanpa ragu ragu.

Pertama kalinya Kinan merasakan kecupan di keningnya membuatnya makin oleng dalam berpikir. Hangatnya bibir Yuan membuat Kinan meleyot rasanya. Setelah beberapa saksi pulang dan penghulu juga pulang, tinggallah keluarga inti rumah ini.

Kinan masih dengan wajahnya yang bingung, bahkan saat di panggil pun Kinan tak menyadari jika ia di panggil.

"Nan? Kok melamum?" Bu Chika menepuk bahu Kinan.

"Eh? Apa Bu?" Kinan baru tersadar.

"Kamu belum makan sejak bangun tadi. Sekarang udah pukul 10 lhoo. Makan dulu sana sama Yuan tuh, nanti asam lambungmu naik kalau kamu makan telat dari jam 11."

"Ooohhh" Kinan mengangguk mengerti.

Kinan menatap baju kebaya yang masih melekat di tubuhnya. Kinan bangkit dan berjalan menaiki anak tangga.

"Kinan kemana lagi?" tanya Bu Chika.

"Ke kamar Bu, ganti baju sama hapus make upnya"

"Aduh Nan. Lama kalau kamu hapus make up itu, makan dulu abis itu hapus make upnya"

"Tapi rasanya gak enak Bu, muka Kinan rasanya tebal" Cicit Kinan.

Kinan langsung masuk kamarnya dan menutupnya, Kinan menghela napasnya kasar dan seakan tak percaya jika kini Ia sudah berstatus istri kedua dari Yuan.

"Astaga mala petaka apakah ini?" Kinan mengacak acak rambutnya.

Kinan membuka kebayanya, di gantinya dengan tanktop berwarna putih polos dan juga celaba hot pans berwana hitam.

Kinan lanjut menghapus make upnya meski dalam suasana jantung yang sebenarnya tak tenang.

Ceklek, pintu kamar Kinan terbuka dan sosok pria masuk bersama dengan membawa piring dan segelas air putih.

"Aaaaaaaaaa!" Kinan menjerit.

"Heh heh eh? Kenapa?" Tanya Yuan bingung dan tak merasa bersalah.

"Mas mau ngapain? Ini masih pagi yaa Mas! Belum malam, kalau malam ya okelah wajar! Ini masih pagi Mas! Barusan juga ijab kabul" Cicit Kinan sambil menutup dadanya dengan kedua tangan yang menyilang.

"Apanya?" Yuan menyipitkan matanya curiga maksud Kinan.

"Mas? Mas ngapain masuk kamar Kinan?" Tanya Kinan sambil terus waspada.

"Antar makanan, biar kamu makan sambil hapus make upnya. Takutnya nanti asam lambungmu kambuh." Ungkap Yuan.

"Hah?" Kinan melongo lagi.

Yuan menaruh piring dan gelas yang sejak tadi di pegangnya. Lalu pria itu berkacak pinggang menatap penampilan Kinan dari atas hingga bawah.

"Emang kamu mau apa pagi pagi gini?"

"A-Aaaaaa ... Gak! Aku cuma ... Anu, eeemm aku tadi. Eeehhh?" Kinan langsung gugup dan tak menemukan jawaban yang tepat.

"Ck! Udah makan tuh. Jangan mikir yang aneh aneh belum sampe sejam nih abis sah." Cicit Yuan.

Pria itu meninggalkan kamar Kinan, membuat jantung tak bisa berhenti berdetak kencang.

"Aissshh apa apaan aku!" Serunya sendiri. Kinan menyembunyikan wajahnya di balik bantal.

Betapa malunya Kinan di depan Yuan, bisa bisanya mulut ini mengatakan hal hal yang berbau hubungan suami istri.

Kinan mencoba tenang, barulah Kinan mengambil piring dan gelas yang di antar Yuan. Semua lauk pauk lengkap dan tersusun rapi di dalam satu piring berserta nasinya.

"Ini Ibu yang siapkan atau Mas Yuan?" Tanya Kinan seorang diri.

Kinan mengangkat bahunya, ia mulai mencicipi bahkan dengan jaimnya Kinan menghabiskan sepiring itu dengan lahapnya.

***

Sore harinya, Kinan bingung harus melakukan apa. Ia hanya ke dapur, lalu ke halaman rumah, lalu masuk lagi ke kamarnya lalu ia keluar lagi.

Rasanya tak menentu, malam semakin datang, Kinan mulai berpikir yang tidak tidak akan terjadi di malam pertama ini. Malam pertama ia menjadi istri kedua Yuan.

"Nan?" Panggil Nia. Terlihat wanita itu sudah rapi dengan penampilannya yang selalu kekinian, sementara Kinan hanya menggunakan daster bunga bunga bererna kuning.

"Kenapa Mbak?"

"Kamu kok belum siap, Yuan gak kasih taukah?" Tanya Nia

"E-Enggak Mbak"

"Isshh Yuan, kita 'kan bakal pindah Nan. Kita pindah ke rumah di kota."

"A-apa? Rumah di kota? Rumah Mas Yuan dan Mbak?"

"Iya, daerah perumahan itu."

"Kita? Serumah? Apa!" Batin Kinan.

"Ayo siap siap. Bawa barang barang yang mau kamu bawa Nan" Nia mengusap usap pipi Kinan.

"Mbak? Kok Mbak tenang banget sih? Mbak?" Kinan mengutarakan isi hatinya.

"Yaaa enggak apa apa. Emangnya aku harus gimana Nan?"

"Aaaaa" Kinan terdiam menatap Nia.

Sementara Nia juga sama menatap madunya itu.

"Oooyyy, udah siap belum?" Panggil Yuan mengejutkan keduanya.

"Eeh Yuan? Aaa, aku lupa sabun mandiku, siap siap Nan" Ujar Nia malah membuat Kinan tersentak.

"Siap siap?" Kinan terus membatin.

"Nan, kamu udah mandi?" Tanya Yuan pada istrinya.

"Udah Mas."

"Baguslah"

"Eee Mas? Kata Mbak Nia tadi, kita mau ke kota? Ke rumah Mas di sana? Eee Kinan bawa apa aja?"

"Iya, Gak usah bawa apa apa sih. Nanti Kinan beli baju di sana aja. Tapi kalau ada baju favorit Kinan yang mau dibawa pun boleh."

"Oooooohh oke Mas, kalau gitu, Kinan ke kamar dulu" pamit Kinan.

Yuan menatap punggung Kinan yang menjauh.

"Haaahh sekarang aku punya 2 istri. Kalau menafkahi tiap bulan, aku bisa. Tapi apa aku bisa menjelaskan semuanya sama Kinan? Kehamilan Nia? Rahim Nia? Bara dan segala kekhilafannya? Astaga Bara kenapa kamu tega sama aku begini." Yuan mengusap wajahnya kasar. Sepertinya yang lebih tertekan di sini adalah Yuan.

###

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU PELAKOR
9.5
Kehidupan Arum porak-poranda setelah sang ayah menceraikan ibunya demi perempuan lain. Fitnah keji memaksa ibunya menikahi seorang pemabuk, membuat Arum depresi hingga nyaris mengakhiri hidup. Rentetan penderitaan itu kini menjelma menjadi dendam membara. Arum bertekad membalas rasa sakit hatinya kepada wanita perusak rumah tangga orang tuanya, sosok yang telah menghancurkan keluarganya dan membuat ayahnya lepas tanggung jawab.
Sampul Novel Anything For You
9.7
Samantha terjebak di antara dua pilihan sulit saat pertunangan Andre berada di ujung tanduk, padahal pria itu sangat mencintainya. Di sisi lain, hadir Yansen, dokter setia yang merawat Samantha dan berjanji untuk selalu mendampinginya tanpa syarat. Kini, Samantha harus menghadapi dilema emosional yang rumit demi menentukan pria mana yang berhak memiliki hatinya. Siapakah yang akan memenangkan komitmen ini?
Sampul Novel DICERAI KARENA MANDUL
8.3
Hidup Kala hancur setelah diceraikan karena dituduh mandul dan dikhianati suaminya. Di tengah keputusasaan dan luka hati yang hebat, ia meratapi nasib buruknya. Namun, takdir mempertemukannya dengan Sheryl Amanta Versha, gadis kecil yang dibuang oleh ibu kandungnya sendiri. Kehadiran Sheryl membawa harapan baru bagi Kala. Walau sempat menyangkal perasaannya, Kala kini harus menghadapi gejolak emosi baru yang menguji kekuatannya untuk bangkit kembali.
Sampul Novel Gelora Hasrat sang Presdir
8.7
Menjelang hari bahagianya, Laura merayakan pesta lajang bersama adik dan sahabat-sahabatnya. Namun, malam yang tak terkendali akibat alkohol membuatnya terbangun di kamar hotel asing di samping pria tak dikenal. Panik, Laura segera pulang, tanpa menyadari bahwa sang ayah telah mengetahui skandal tersebut. Akibatnya, pernikahan impiannya dibatalkan seketika dan ia diusir dari rumah. Bagaimana Laura menjalani lembaran baru hidupnya yang kini hancur tanpa arah?
Sampul Novel Istri Kedua Pak Kades
9.8
Kehidupan Raya, seorang mahasiswi KKN, hancur dalam semalam akibat tragedi memilukan. Di tengah keheningan malam, kesuciannya direnggut paksa oleh Pak Kades yang kehilangan kendali karena sakau. Meski Raya telah berteriak histeris dan memohon, tak ada satu pun warga yang datang menyelamatkannya. Kini, Raya harus menghadapi kenyataan pahit setelah kehormatannya dirampas oleh pria beristri yang telah memiliki anak tersebut. Bagaimana nasibnya kini?
Sampul Novel ISTRI YANG DIDUAKAN
8.3
Andini adalah istri mandiri nan menawan yang selalu berusaha tampil sempurna. Namun, biduk rumah tangganya retak ketika sang suami menuntutnya menjadi sosok yang lebih religius. Penolakan Andini untuk memakai jilbab dinilai suaminya sebagai ketidaklayakan menjadi pendamping hidup yang ideal. Berdalih mencari wanita yang lebih sholehah, sang suami memutuskan untuk mendua dan menikah lagi, meninggalkan Andini dalam kepedihan akibat pengkhianatan yang begitu mendalam.