APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Anak Kembar Rahasia Milyader

Anak Kembar Rahasia Milyader

Akibat kekeliruan kecil di depan Ben Clayton, CEO New York yang sangat berkuasa, hidup Ivy Anderson kini terancam. Ben yang terobsesi mulai melancarkan siasat licik untuk menjebak Ivy, bahkan mendekati anak kembar Ivy, Terra dan Terry. Demi melindungi buah hatinya, Ivy terpaksa menyerah pada ancaman kejam pria tersebut. Mampukah Ivy melarikan diri dari jeratan berbahaya ini, atau ia akan selamanya terjebak dalam kendali dominasi Ben yang gelap?
Bab
Bagikan

Bab 2

6 tahun kemudian...

"Sialan! Apa kau tak punya mata sampai menumpahkan susu milikmu pada celanaku?!" Teriak seorang pria dengan keras pada seorang anak perempuan berambut hitam yang saat ini tengah menundukkan kepala.

Tubuh anak perempuan itu bergetar ketakutan mendengar bentakan pria dewasa di hadapannya. Mata bulatnya yang berwarna hijau terang sudah bersiap untuk mengeluarkan air mata.

"Ben, tenangkan dirimu, ini hanya kesalahan kecil. Lagipula, adik manis itu tak mungkin sengaja juga menumpahkan susunya," ujar seorang gadis berambut pirang yang saat ini menenangkan pria yang bersiap kembali mengamuk karena celana yang ia gunakan menjadi basah dan lengket.

Pria yang dipanggil Ben menatap tajam gadis berambut pirang itu dengan mata cokelatnya sembari mengeratkan rahangnya yang tegas hingga giginya mengatup. Wajah marah dan kesal bercampur menjadi satu di wajah tampannya.

"Tapi dia sudah menumpahkan susunya padaku, Marinka. Apalagi kita akan ada meeting dengan Adam Corp setelah ini. Apa yang akan mereka katakan saat melihatku berpenampilan konyol dengan noda susu di celanaku?"

Ben bertanya balik dengan nada tinggi sambil mengelap celana hitamnya dengan tisu yang tersedia diatas meja. Omelan dan gerutuan yang tak pernah absen dari bibir tebalnya yang sedikit menghitam akibat terlalu sering merokok.

Perempuan yang dipanggil Marinka pun menghela napas, lalu mendekati gadis kecil yang saat ini tengah bergetar ketakutan di hadapannya. Marinka hanya bisa mengelus rambut halus milik gadis kecil itu karena tak tahu harus berkata apa. Ia tak jago menenangkan anak kecil.

Kini, suasana terasa hening seketika setelah mendengar teriakan Ben yang cukup memekakan telinga. Insiden barusan tentu saja menyedot semua perhatian di cafe itu.

Mereka semua saling berbisik satu sama lain, menyayangkan tingkah Ben yang terlalu berlebihan memarahi anak kecil di tempat umum karena masalah sepele. Dalam suasana tegang yang nyaris mencekik udara di sekitarnya ini, datanglah seorang wanita muda menghampiri meja tempat Ben duduk.

"Sayang, kau tak apa?" Tanya wanita muda dengan wajah bak boneka menghampiri gadis kecil itu.

Bocah itu langsung berlari ke arah wanita itu dan memeluknya erat, menenggelamkan kepalanya di dada wanita itu untuk menyembunyikan wajahnya.

"Sudah, tak apa. Kau aman bersama Mommy," hibur wanita itu sambil menggendong anak perempuan itu dengan suara lembut sambil sesekali menepuk pelan punggung mungilnya.

Di belakang wanita muda itu terdapat seorang anak laki laki yang memiliki wajah yang sangat persis dengan gadis kecil yang tadi menumpahkan susu ke celana Ben. Bocah laki laki itu menatap ibu dan kembarannya dengan tatapan datar tanpa berkata apapun.

"Apa anda ibu dari anak perempuan ini?" Tanya Ben sambil menghampiri ibu dan anak yang kini tengah berpelukan itu. Wanita muda itu menganggukkan kepalanya dengan pelan menanggapi pertanyaan itu

"Benar, saya ibu dari anak perempuan ini. Apa anak saya melakukan kesalahan pada anda?"

"Ya, dia menumpahkan susu padaku setelah berlari entah dari apa,"

pria itu berkata sambil menunjuk celana hitamnya yang kini berwarna putih akibat susu yang ditumpahkan anak perempuan itu.

Walaupun sudah dibersihkan dengan tisu, tetap saja noda putih yang tercetak di celana hitam itu tercetak dengan sangat jelas.

Wanita itu melotot dengan mata doe hijaunya, seperti hendak keluar dari tempatnya. Ia menatap pria itu dan anaknya secara bergantian. Dengan cepat, wanita muda itu memasang raut wajah tak enak.

"Maafkan perilaku anak saya, Tuan," wanita muda itu menundukkan kepala saat menyadari kesalahan apa yang telah anaknya lakukan. Wajahnya membungkuk total seperti kebiasaan orang Jepang dengan poni yang menutupi wajah cantiknya.

Jika dilihat lihat, baju yang dikenakan oleh wanita muda itu terlihat cukup lusuh, begitu pula dengan pakaian yang dipakai oleh si kembar yang saat ini sedang bersamanya. Ben menghela napas kasar lalu menatap ketiga manusia di hadapannya dengan tatapan merendahkan.

"Kau pikir maafmu cukup untuk mengembalikan celana yang kugunakan menjadi bersih kembali?" Tanya Ben dengan nada sarkastik, membuat gadis itu mengangkat kepalanya dengan tatapan menyesal. Mata hijau itu menyiratkan rasa sedih dan rasa bingung luar biasa.

Wanita muda itu meremas ujung baju yang ia kenakan untuk meredakan kekalutan yang saat ini mendera dirinya. Ia menatap Ben dan kedua bocah kembar itu secara bergantian lalu menghela napas panjang.

"Saya bisa mencuci celana anda jika anda mau. Kebetulan, disini ada fasilitas laundry sebagai ganti rugi saya, tuan," ujar gadis itu mengusulkan niatnya agar masalah cepat selesai.

Ben tertawa kecil dengan raut wajah sarkas dan marah. Ia mendekati wanita muda itu dan memegang kedua lengannya, mencengkeramnya cukup kuat sehingga wanita muda itu memejamkan matanya. Wanita muda itu bahkan sampai harus menggigit bibirnya agar ia tak meringis dan membuat kedua anaknya khawatir.

"Aku menolak permintaanmu! Kau pikir bajuku ini baju murah hingga kau mengusulkan untuk mencucinya dengan sabun murahan?"

"Tuan, kita bisa bicarakan ini baik baik. Tolong lepaskan saya terlebih dahulu," ujar wanita muda itu dengan nada memohon. Bukannya menurut, Ben malah memperkuat cengkramannya sehingga ringisan kesakitan akhirnya lolos dari mulut wanita muda itu.

"Paman, tolong lepaskan Mommy kami. Aku mohon, Paman," ujar gadis kecil tadi sambil menarik ujung jas milik Ben agar menghentikan aksinya.

Ben yang melihat jasnya dipegang oleh gadis kecil itu  tentu langsung menepis tangan gadis kecil tadi dengan kasar, hingga gadis kecil itu terjerembab. Bocah laki laki yang merupakan kembarannya langsung melotot, lalu menatap tajam Ben yang saat ini masih mencengkeram ibunya.

Bocah laki laki itu segera menghampiri kembarannya dan membantunya berdiri. Setelah itu, ia menghampiri Ben dan segera menginjak kaki Ben yang terbalut sepatu pantofel dengan sekuat tenaga. Ben meringis kesakitan hingga cengkramannya mengendur. Walaupun masih kecil, tapi tenaga yang digunakan oleh bocah kecil itu cukup kuat juga.

"Akh! Sialan! Apa yang kau lakukan, hah?!"

"Melindungi Mommy dan Terra dari pria seperti anda," ujar bocah laki laki itu dengan nada agresif.

Mata bulatnya yang berwarna hijau menatap tajam Ben yang saat ini tengah memegang kakinya. Bocah kecil itu merentangkan tangan mungilnya dengan maksud agar Ben tak lagi mendekati dan menyakiti Mommy serta adik kembarnya.

"Jangan paman dekati Mommy lagi, apalagi menyakitinya. Jika masih nekat, maka akulah yang akan memukul paman untuk menggantikan Mommy," sambung bocah itu lagi dengan nada mengancam.

Ben tentu saja terkejut dengan perkataan bocah laki laki yang ada dihadapannya saat ini. Apakah ini perkataan dan tindakan untuk anak laki laki yang ia perkirakan berusia 5 tahun?

"Wah...lihatlah dirimu, Boy. Kau mengancam pria dewasa sepertiku sambil menaikkan tatapanku padaku. Apa Mommy mu tak mengajarkanmu sopan santun, little one?"

Saat bocah laki laki itu hendak menyahuti perkataan Ben, tiba tiba saja kepalanya dielus dengan lembut oleh tangan seseorang. Bocah laki laki itu menolehkan kepalanya ke arah belakang dan menemukan jika ibunya saat ini tengah mengelusnya dan menatapnya dengan lembut.

"Terry, sudahlah. Kau jangan seperti itu pada paman ini. Minta maaflah padanya karena kau sudah bersikap tidak sopan padanya,"

"Tapi Mommy, paman ini yang berbuat duluan. Dia menyakiti Mommy dan membuat Terra jatuh," ujar bocah kecil yang dipanggil Terry dengan nada kesal sambil menunjuk Ben dengan tangannya. Wanita tadi menggelengkan kepalanya melihat putranya bersikap keras kepala dan egois.

"Sayang,"

"Oke oke, Mommy. Aku mendengarnya," ujar bocah kecil itu dengan nada jengah. Ia mendekati Ben sambil menundukkan kepala, lalu mengulurkan tangan kecilnya untuk berjabat tangan.

"Aku minta maaf pada anda atas kesalahan yang aku buat barusan, paman,"

"Hmp! Dasar! Rupanya kau harus dimarahi dulu ibumu untuk bersikap sopan pada yang lebih tua," sarkas Ben yang membuat Terry mengepalkan tangan mungilnya. Terry menurunkan tangannya dan kembali menatap Ben dengan tatapan tajamnya.

"Dan lagi, aku tetap meminta kompensasi atas kejadian ini. Bagaimanapun, aku harus menghadiri pertemuan penting beberapa menit lagi,"

"Apa yang anda inginkan?" Tanya wanita berwajah boneka itu dengan nada lembut, berusaha untuk menekan emosinya agar tak terpancing.

"Aku meminta ganti rugi sebesar $1000 dolar padamu untuk celanaku,"

"$1000 dolar?!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antagonist Girl
8.2
Demi menjaga memorinya agar tidak memudar, Arlan nekat memenuhi seluruh sudut apartemen dengan foto seorang wanita. Ketakutan mendalam akan kehilangan ingatan menjadi alasan di balik tindakan obsesif tersebut. Di sisi lain, hadirlah Vellice, sosok dari dimensi berbeda yang justru sangat menikmati perannya sebagai karakter antagonis. Kisah ini menyoroti hubungan unik mereka yang terjalin di tengah benturan dunia fantasi dan realitas modern.
Sampul Novel Anything For You
9.7
Samantha terjebak di antara dua pilihan sulit saat pertunangan Andre berada di ujung tanduk, padahal pria itu sangat mencintainya. Di sisi lain, hadir Yansen, dokter setia yang merawat Samantha dan berjanji untuk selalu mendampinginya tanpa syarat. Kini, Samantha harus menghadapi dilema emosional yang rumit demi menentukan pria mana yang berhak memiliki hatinya. Siapakah yang akan memenangkan komitmen ini?
Sampul Novel Dunia Mimpi Para Jomblo
8.1
Pasca-kelulusan kuliahnya di Bandung, Rino Rahman sangat mendambakan kehadiran cinta yang belum pernah ia rasakan. Di tengah kesepian itu, muncul sosok misterius yang menawarkan bantuan untuk mewujudkan impian asmaranya lewat dunia mimpi. Apakah tawaran tersebut benar-benar membawa kebahagiaan nyata atau hanya sekadar janji manis tanpa bukti? Simak kisah unik perjuangan Rino dalam mengejar cinta sejati yang membentang di antara batas kenyataan dan alam khayalan.
Sampul Novel FAMILIAR PLACES
9.7
Pertemuan emosional di bawah rintik hujan menyatukan kembali Byan dan Gemi setelah lima belas tahun berpisah. Didorong kerinduan mendalam, Byan berusaha memberikan kenyamanan terbaik untuk Gemi tanpa menyadari sebuah rahasia pahit. Ternyata, perempuan yang teramat dicintainya itu kini telah berstatus sebagai istri orang lain. Hubungan rahasia pun terjalin di antara mereka, menjadi pelampiasan atas rasa rindu yang terlarang.
Sampul Novel Kembang Desa
8.4
Kecantikan justru membawa petaka bagi Lasmini di masa mudanya. Akibat pengkhianatan sang kekasih yang lari dari tanggung jawab, ia terpaksa menghadapi kerasnya hidup seorang diri. Sebagai ibu tunggal di usia belia, Lasmini kini harus berjuang keras demi membesarkan anaknya di tengah berbagai kesulitan. Sanggupkah ia melepaskan bayang-bayang masa lalu yang kelam, menemukan cinta sejati yang tulus, dan akhirnya meraih kebahagiaan yang didambakannya?
Sampul Novel Luna Tak Terikat
8.0
Lima tahun memimpin suku, Kaitlin tetap menjaga kesuciannya. Ketika Rosalyn, kakaknya, pulang tanpa keturunan, Phillip Elliott mendadak menuntut seorang pewaris. Hati Kaitlin hancur saat mengetahui niat busuk Phillip yang hanya ingin menjadikannya rahim pengganti untuk menyokong posisi Rosalyn. Merasa dikhianati, Kaitlin memilih pergi dan kembali ke orang tua angkatnya. Tak disangka, Phillip yang biasanya bersikap dingin kini justru memohon padanya untuk kembali dengan penuh keputusasaan.