APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Anak Kembar Milik Hot CEO

Anak Kembar Milik Hot CEO

Kehancuran hidup Amber sebagai anak konglomerat membuatnya terpuruk. Saat putus asa, kesalahan fatal terjadi ketika ia mabuk dan keliru memasuki kamar hotel milik Julian Kingston, pria berkuasa yang terkenal kejam. Empat tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini, Amber telah melahirkan anak kembar yang merupakan darah daging Julian. Terjebak situasi rumit, mampukah Amber menghadapi tuntutan dari sang CEO yang berwatak dingin tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Mark, apakah sudah ada perkembangan mengenai gadis itu dari para pengawal yang kau kirim untuk melakukan penyisiran di wilayah sekitar hotel?" tanya Julian tanpa menoleh dari jendela.

"Kami tidak dapat menemukannya, Tuan." Mark menghela napas, "kami sudah meminta orang menyisir ke seluruh hotel sejak waktu itu, tapi belum ada titik terang. Tapi saya sudah membawakan data CCTV seluruh hotel ini untuk diperiksa."

Julian memicing tajam, "Sudah tiga minggu, kau pikir masih berguna?"

"Jadi, Anda tidak ingin saya memeriksanya?"

"Periksa, Mark," kesal Julian dingin.

Mark mengangguk singkat menanggapi perintah bosnya itu. Dia merasa agak aneh. Tidak biasanya Julian mencari gadis malam yang dia tiduri sampai sebegitunya. Terlebih lagi, Julian sama sekali tidak menemui wanita penghibur lain sejak malam yang dia habiskan bersama wanita mabuk misterius yang membawa kabur kemeja dan celananya itu. Ini jelas bukan sikap Julian. Namun, Mark sadar kalau dia juga tidak mungkin mempertanyakan bosnya.

Julian berdiri tegak di depan jendela besar yang menghadap ke pantai Los Angeles, air laut memantulkan cahaya matahari pagi dengan gemerlapan. Beberapa minggu sudah berlalu, kemarin Julian terlalu sibuk untuk sekadar mencari tahu tentang wanita misterius yang menggantikan Kattie. Namun, sekarang rasa bersalah terus saja menggerogotinya tanpa ampun. Asisten pribadinya, Mark, duduk di seberang meja dengan laptop terbuka, sibuk meneliti data dari berbagai kamera CCTV di hotel tempat mereka menginap.

"Bagaimana, sudah ketemu?"

Tolonglah, Tuan! Ini baru lima belas menit sejak perintah itu diberikan!

Mark menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil melihat layar laptop. "Saya masih belum menerima kabar, Tuan. Namun, tampaknya wanita itu benar-benar mabuk saat itu. Dia terlihat bingung dan berjalan dengan tidak stabil menuju lantai yang salah."

Julian mengernyitkan dahi, melihat apa yang ditunjuk Mark. "Mabuk, ya? Jadi dia masuk ke kamarku secara tidak sengaja?"

Mark mengangguk. "Sepertinya begitu, Tuan. Tidak ada tanda-tanda dia berniat melakukan hal lain."

"Baiklah," ucap Julian, namun pandangannya tetap suram. "Dan mengenai darah di tempat tidur? Apa itu Artinya aku baru saja memerawani seorang gadis mabuk yang polos?"

Mark menatap Julian serba salah. "Sa- saya belum menemukan penjelasan pasti. Namun, untuk masalah itu....."

"Sudahlah." Julian merenung sejenak, mencoba merangkai potongan-potongan puzzle dalam pikirannya. Dia menggigit bibirnya, lalu tiba-tiba menoleh ke arah Mark. "Aku ingin kau terus mencari informasi tentang gadis itu. Periksa setiap detail, bahkan jika kau harus memeriksa seluruh Los Angeles. Aku ingin tahu siapa dia."

Mark mengangguk tegas. "Baik, Tuan. Saya akan memulai pencarian segera."

Julian menghela napas panjang. Dia mengambil jas dan menariknya ke pundak. "Aku akan keluar sebentar. Laporkan jika kau menemukan sesuatu."

Keluar dari kamar hotel, Julian merasa angin sejuk pagi menyapu wajahnya. Langkahnya mantap meski pikirannya kacau. Dia berjalan melintasi pantai yang tenang, tetapi gelombang masalah dalam benaknya tak berhenti.

Gadis itu masih misteri bagi Julian. Jika dia benar-benar bukan seorang wanita bayaran, mengapa dia bisa salah masuk kamar? Memangnya mabuk membuat orang jadi idiot? Dan mengapa ada darah perawan di tempat tidurnya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sambil dia terus berjalan.

Sesaat kemudian, ketidakpastian dan rasa bersalah yang menghantuinya membuat Julian berhenti. Dia menghela napas lagi, kemudian mengeluarkan ponselnya dan memanggil Mark. Kalau dia benar-benar sekadar salah kamar, maka Julian adalah pria brengsek yang merenggut kesuciannya. Sial.

"Mark, tolong pastikan kau mendapatkan informasi tentang wanita itu. Aku ingin tahu siapa dia, dari mana dia, dan apa yang terjadi semalam. Beritahu aku setiap perkembangannya. Aku ingin jawaban."

Mark mengangguk di ujung telepon. "Saya akan melakukan yang terbaik, Tuan. Saya akan menghubungi Anda segera jika ada kabar."

"Lakukan penyisiran ke seluruh Los Angeles jika diperlukan."

***

Amber duduk di ruang tunggu klinik dokter kandungan, jantungnya berdegup kencang. Hatinya tersekat rasa sesak, seolah di dalam sana sedang tercampur aduk antara kecemasan dan ketakutan. Sejenak dia menyesap aroma antiseptik ruangan, mencoba menenangkan diri. Ini adalah langkah pertama yang besar bagi dirinya.

Ketika pintu ruang pemeriksaan terbuka, seorang perawat memanggil namanya. Amber berdiri perlahan, langkahnya ragu namun penuh tekad. Dia mengikuti perawat ke ruangan kecil yang penuh dengan peralatan medis modern.

Dokter kandungan yang ramah menyambutnya dengan senyuman. "Selamat datang, Nona Hayes. Saya Dokter Reynolds. Bagaimana perasaanmu hari ini?"

Amber menggelengkan kepala sambil tersenyum gugup. "Saya agak gugup, Dok. Ini pertama kalinya saya melakukan ini."

Dokter Reynolds mengangguk penuh pengertian. "Tidak apa-apa, Nona. Kami akan membuat Anda merasa nyaman. Mari kita mulai dengan pemeriksaan ultrasonografi, ya?"

Amber mengangguk, dan dengan hati berdebar, dia berbaring di meja pemeriksaan. Dokter Reynolds menyiapkan alat ultrasonografi, dan sebentar kemudian, gambar embrio kecil mulai muncul di layar monitor.

"Ini adalah embrio bayi Anda," ujar dokter sambil menunjuk layar. "Usianya sekitar empat minggu, dan perkembangannya normal dan sehat."

Air mata Amber menitik bahagia. Dia menatap gambar kecil yang berdetak di layar itu dengan penuh keajaiban. "Itu... itu anak saya," gumamnya dengan suara tercekat.

Dokter Reynolds tersenyum lembut. "Iya, Nona. Kalua dilihat dari embrionya, sepertinya Anda sedang mengandung anak kembar, dan semuanya baik-baik saja."

"Ke-kembar?" Amber tidak paham lagi bagaimana Tuhan mengatur semua ini. Setelah masalah demi masalah datang bertubi, kini diturunkan anugerah kombo untuknya.

Dokter menjelaskan lebih detail, sampai Amber benar-benar memahami kondisinya dan kondisi janin di dalam perutnya. Setelah pemeriksaan selesai, Amber diberi berkas medisnya dan beberapa informasi terkait kehamilan. Dia meninggalkan ruang dokter dengan langkah yang ringan namun pikiran yang berat. Amber melangkah keluar dari klinik dengan perasaan bingung dan putus asa. Udara sekitarnya terasa berat, seolah menekan dadanya. Pikirannya berkecamuk dengan pertanyaan tanpa jawaban.

Apa yang seharusnya dia lakukan?

Bagaimana dia bisa menghadapi semua ini sendirian?

Setelah mencoba mencari solusi dan tetap tidak menemukan jawaban, Amber memutuskan untuk tetap pergi bekerja di kafe tempatnya bekerja paruh waktu di pusat kota. Dia memerlukan uang untuk menghidupi dirinya sendiri, terlebih lagi sekarang dia harus memikirkan kehidupan baru di rahimnya.

Saat Amber tiba di kafe, suasana terasa tegang. Dia melihat senior barista-nya, Marry, keluar dari ruang manajer dengan wajah muram. Amber mendekati Megan dengan hati-hati.

"Marry, apa yang terjadi?" tanya Amber, mencoba menahan kegelisahannya.

Marry menghela nafas. "Mereka memecatku, Amber. Alasannya? Karena aku hamil."

Amber terdiam. Dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Tidak mungkin ... ba ... bagaimana bisa?"

Marry memandang Amber dengan simpati. "Oh, Amber, kenapa kau jadi ketakutan begitu? Apa kau juga hamil?" Marry menyadari ekspresi Amber yang kacau. "Apa yang akan kau lakukan? Wajahmu pucat ... mungkin sebentar lagi kau juga ... dipecat."

Amber menggelengkan kepala, mata penuh kebingungan. "Aku tidak tahu, Marry. Aku tidak hamil. A-aku ... aku hanya agak demam dan flu."

Marry menggenggam tangan Amber dengan lembut. "Dengarkan, Amber. Aku tahu ini sulit. Tapi kau bisa melakukan apa yang terbaik untuk dirimu sendiri. Ada opsi untuk mengugurkan bayi ini, jika kau rasa itu adalah pilihan terbaik."

Amber terdiam. Gugup dan penuh pertanyaan dalam benaknya. "Mengugurkan bayi?"

Marry mengangguk. "Aku tidak bisa memberikanmu jawaban, tapi kau harus memikirkan baik-baik apa yang kau inginkan untuk masa depanmu. Dan ... jangan sampai ketahuan."

Amber mengucapkan terima kasih pada Marry, namun kebingungannya masih menghantuinya. Dia kembali ke dapur kafe, sambil mencoba menjalankan tugasnya dengan pikiran yang melayang-layang.

"Amber, kau banyak melamun hari ini!" Jessie memekik saat Amber menumpahkan cream untuk ketiga kalinya. "Jelaskan padaku apa yang terjadi. Kau pasti punya segudang masalah di kepala kecilmu itu!"

Amber mendekati Jessie, kemudian berbisik, "A-aku... aku hamil, Jessie."

Jessie membulatkan matanya, dia terdiam sejenak, kemudian beralih ke lokernya dan mengambil sesuatu. Begitu dia kembali, Jessie menyelipkan sebuah pil di tangan Amber.

"Ambil ini, gugurkan kandunganmu."

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel My Lovely CEO
8.4
Sebelum pernikahan resmi mereka, Ellen berteriak histeris begitu menyadari tindakan Reyhan Saputra. Sambil menutupi badannya, ia memaki pria itu. Bukannya marah, Reyhan malah tertawa gemas. Setelah mematikan kompor, ia mendekat hingga membuat Ellen terdesak ke dinding. Ellen merasa geli sekaligus tegang saat Reyhan memegang tengkuknya. Dengan seringai nakal, Reyhan pun menawarkan diri untuk mempraktikkan langsung contoh perbuatan tersebut.
Sampul Novel Pelakor Jalur Cinta
8.5
Demi memikat Andre, Alena mengambil langkah nekat dengan berpura-pura menjadi perebut pasangan orang lain. Namun, di tengah misinya yang rumit, Angga hadir dan berjuang keras demi mendapatkan cinta Alena. Kini, Alena dihadapkan pada pilihan sulit. Haruskah ia tetap mengejar Andre yang sejak awal ia inginkan, atau justru beralih kepada ketulusan Angga? Ikuti pergolakan batin Alena dalam menentukan pelabuhan hati terakhirnya di sini.
Sampul Novel Pernikahan Pengganti
8.5
Evelyn ditinggalkan Nathan di hari pernikahan mereka setelah lima tahun bersama. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Adrian yang merupakan kakak Nathan maju menggantikan adiknya di altar. Pernikahan tanpa cinta ini perlahan mengungkap konspirasi di balik hilangnya Nathan dan motif tersembunyi Adrian menikahinya. Evelyn kini harus menghadapi rahasia kelam yang mengancam masa depannya.
Sampul Novel Terjebak Suami Bayaran
9.2
Samantha Connors, pewaris angkuh yang mendambakan pria berharta, terpaksa menikah demi mendapatkan warisan kakeknya. Ia lalu menyewa Noah Spencer, pria miskin yang butuh uang untuk pengobatan ibunya. Walau terikat pernikahan kontrak, Noah bersikap dingin dan profesional. Tak disangka, Samantha malah jatuh cinta pada suami sewaan itu. Saat rahasia kelam masa lalu Noah terkuak, sanggupkah Samantha meluluhkan hati pria yang telanjur membencinya?
Sampul Novel Ternyata Ada Aku Dan Istrimu! "Tapi Aku Bukan Pelakor"
9.0
Depresi akibat trauma masa lalu menyadarkanku bahwa cinta tidak selamanya indah. Di saat impian masa depan mulai dirajut, sebuah kenyataan kelam justru terbongkar. Lelaki yang telah mendampingiku selama bertahun-tahun rupanya telah beristri selama dua tahun. Kendati dikhianati, aku bersyukur kebenaran terungkap sebelum terjerumus dalam poligami. Kisah nyata penuh emosi ini menjadi bukti nyata bahwa kepalsuan serapat apa pun pasti akan tercium juga.
Sampul Novel Tuan CEO, Aku ingin Bercerai
9.0
Tiga tahun pernikahan bagai penjara dingin bagi Annika Chandra karena suaminya, Zakki Ruslan, mencintai wanita lain. Puncaknya, Zakki tega meninggalkan Annika yang sedang hamil dan terluka demi menyusul kekasihnya ke luar negeri. Kecewa berat, Annika menandatangani surat cerai lalu menghilang. Dua tahun berlalu, ia kembali dan didekati banyak pria. Namun, Zakki justru muncul menghadangnya, menolak menandatangani perceraian, dan menuntut Annika kembali ke pelukannya demi sumpah pernikahan mereka.