APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Amnesia

Amnesia

Saat tersadar, aku hanya merasakan kekosongan yang membingungkan. Kamar tempatku berada dan orang-orang di sekitarku yang memandang penuh cemas terasa sangat asing. Ingatanku benar-benar terhapus tanpa menyisakan petunjuk tentang lokasi ini atau siapa mereka sebenarnya. Bahkan ketika menatap cermin, aku tidak mengenali sosok yang terpantul di sana. Aku telah kehilangan jati diriku sepenuhnya dan terjebak dalam misteri identitas yang lenyap.
Bab
Bagikan

Bab 1

Bab 1, AMNESIA. ]

[ Keyla Achazia ]

Saat pertama aku kali membuka mataku, aku sama sekali tak mengenal tempat ini, ruangan besar ini. Bau obat-obatan langsung tercium oleh hidungku. Ruangan berdominan putih yang aku fikir ini adalah rumah sakit. Aku tidak tau kenapa aku ada di sini, aku melihat ada dua orang di samping kanan satu dan samping kiri satu. Sepertinya yang kiri adalah Dokter, bisa dilihat dari pakaiannya yang memakai jas putih khas seorang Dokter dan yang kanan juga memakai jas, namun bukan putih khas rumah sakit, tapi jas hitam formal.

'Dia sudah sadar." kata seorang pria yang ada di samping kanan.

"Aku akan memeriksanya dulu." Dokter itu berucap dan mulai memeriksa keadaanku.

Aku melihat orang berjas hitan tadi, dia tersenyum padaku, aku hanya menatapnya datar. Karena aku tidak tau harus berekspresi seperti apa?

Dokter tadi telah selesai memeriksaku, dan mulai berbincang dengan pria yang berjas hitam. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, karena aku tidak mendengarkan. Aku lebih memilih melihat kesekeliling ruangan ini.

Saat mataku bertemu dengan matanya, ia tersenyum padaku. "Kamu baik-baik saja 'kan? Apa yang kamu rasakan?" tanya pria itu padaku.

Aku menatapnya lama, memperhatikan setiap inci wajahnya. Dia tampan. Tapi siapa dia? Apa aku mengenalnya?

"Hei, kamu tidak apa-apa 'kan?" tanyanya mulai cemas, mungkin karena aku tidak membalas pertanyaannya barusan.

"Tenang, Ali. Dia tidak apa-apa, dia hanya butuh menyesuaikan diri. Sudah satu tahun lebih dia koma." kata seorang di samping kiri atau lebih tepatnya ucap sang Dokter.

Pria itu tersenyum, ia mengusap puncak kepalaku lembut. "Kamu tidak apa-apa 'kan? Apa yang kamu rasakan saat ini?." tanya pria berjas hitam itu. Atau lebih tepatnya bertanya lagi.

Aku menatap mereka berdua secara bergantian, "aku, aku"

"Katakan saja, kamu mau apa?"

"Jangan takut, Keyla. Katakan saja apa yang kamu rasakan." kata Dokter itu seraya tersenyum lembut ke arahku.

"Kalau tidak keberatan, Aku lapar." kataku lirih. Aku memang lapar, bahkan sangat lapar. Aku tidak ingat kapan terakhir aku makan.

"Aku akan mencari makan dulu. Titip Keyla dok." pamit pria itu lalu keluar ruanganku.

Dokter itu mendekat ke arahku, ia tersenyum lagi. Aku tidak tau mengapa ia dan pria tadi suka sekali tersenyum. "Tidak apa-apa, Keyla. Semua akan baik-baik saja. Apakah kepalamu sakit, jika ada bagian mana saja yang sakit katakan saja ya."

Aku tetap diam memandang Dokter itu yang mengganti botol infus dan mengecek lagi keadaanku. Hingga tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, ternyata pria berjas hitam tadi yang datang membawa nampan berisi satu gelas susu dan semangkuk bubur yang dia letakkan di meja samping tempat tidurku.

Lagi dan lagi ia tersenyum kepadaku. Membantuku untuk duduk bersandar, mengambil mangkuk bubur lalu menyuapiku. Aku hanya menurut saat ia melakukan itu, karena aku tidak tau apa yang harus aku lakukan dan lagi pula aku pun lapar.

Setelah aku memakan habis bubur itu, ia menaruh mangkuk itu ke meja lalu meraih segelas susu yang ia sodorkan padaku. Aku menerimanya dan meminumnya hingga setengah, lalu memberikan kembali gelas itu padanya.

"Bagaimana sudah lebih baik?" tanyanya seraya tersenyum. Apa ia tidak capek sedari tadi tersenyum terus?

Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Sebagai ganti tanda ia karena aku merasa suaraku sangat susah kukeluarkan.

"Dokter apakah ia baik, kenapa Keyla tidak bicara -maksudku ia hanya menjawab saat di tanya. Kenapa ia tidak seperti biasanya?" Tanya pria itu pada Dokter yang sedari tadi masih berada di ruangan ini.

Dokter itu menghela nafas panjang, "ini yang harus aku pastikan, saat kecelakaan kepalanya mengalami benturan yang cukup keras jadi kemungkinan ia akan Amnesia itu besar."

"Maksudmu apa dok?" tanya pria itu lagi.

"Kita akan cek sebentar." kata Dokter itu lalu berjalan mendekat kearahku masih dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

"Kamu tau siapa pria di samping mu itu?" tanya Dokter itu seraya menunjuk pria yang sedari tadi ada di ruangan ini. Aku memperhatikannya sebentar lalu menggeleng.

Aku memang tidak ingat atau tidak tau siapa pria itu. Dokter itu menatap pria itu lalu menggeleng. Dan pria itu pun mendesah sepertinya frustasi, aku tidak tau apa yang membuat dia seperti itu.

"Bagaimana bisa? Ini tidak mungkin!" serunya seraya mengacak-acak rambutnya.

"Kamu ingat siapa namamu?" tanya Dokter itu lagi.

Aku menggeleng lalu mengangguk membuat Dokter itu menatapku bingung.

"Maksudnya? Menggeleng dan mengangguk itu apa?" Bentak pria yang bukan Dokter.

"Sabar Ali, tenangkan dirimu. Kamu membuat dia takut Ali." kata Dokter itu. Ia menatapku lalu tersenyum lembut. "Jadi, bagaimana apa kamu ingat namamu?"

"Tidak! Tapi kupikir namaku Keyla. Karena kalian tadi memanggilku dengan nama itu." jawabku jujur, aku memang tidak ingat siapa namaku, tapi aku ingat mereka tadi memanggilku dengan nama itu, jadi kupikir itu adalah namaku.

"Jadi kamu benar-benar tidak ingat siapa aku?" tanya pria yang Dokter sebut dengan nama Ali itu lirih.

Aku menggeleng sebagai jawaban tidak, tiba-tiba ia menggenggam tanganku. Tapi secara refleks aku langsung melepaskan genggamannya. Dan memandang pria itu horor. Oke, aku tau dia tampan dan mungkin saja memiliki hubungan yang spesial denganku, tapi aku sama sekali tidak mengingat hal itu.

"Keyla, aku Ali. Aliando, aku suamimu sayang." katanya seraya berusa menggenggam kembali tanganku. Tapi aku menyembunyikan kedua tanganku di bawah selimut.

Aku masih tidak mengerti dengan semua ini. Sungguh.

Lagi lagi aku menggeleng, "aku tidak ingat siapa kamu." kataku dengan suara parau.

"Ali, tenangkan dirimu dulu, Keyla butuh waktu. Kamu bisa mengabari orangtuamu jika dia sudah sadar." kata Dokter itu menepuk pundak pria itu. Untuk menyebut namanya saja susah.

"Semua akan baik-baik saja." kata Dokter itu lagi.

"Bagaimana bisa kamu mengatakan semua akan baik-baik Dok, kalau dia saja tidak mengingatku. " katanya dengan nada sarkastik.

"Coba kamu bawa putrimu, siapa tau dia ingat anak kalian." saran Dokter itu.

Putri? Anak? Kalian? Maksudnya anakku dan pria itu? Entahlah kepalaku pusing memikirkan itu semua, "aww" pekikku memegangi kepalaku karena tiba-tiba kepalaku berdenyut sangat nyeri.

"Sayang kamu kenapa? Dokter ada apa dengannya?"

"Tidak apa Li, dia hanya berusaha mengingat apa yang dia lupakan, tapi tidak bisa dan jika di paksakan ia akan merasakan sakit di kepalanya." jelas Dokter itu setelah ia menyuntikkan sesuatu pada botol infusku.

"Apa dia akan baik-baik saja?"

"Ya, dia akan baik baik saja. Aku sudah menyuntiknya obat tidur. Jangan paksakan dia untuk mengingat sesuatu yang dia tidak ingat, jika kamu tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya."

Itu adalah ucapan terakhir sang Dokter yang aku dengar, karena selanjutnya aku telah memejamkan mata dan tertidur lagi, jadi aku tidak tau apa lagi yang mereka bicarakan selanjutnya.

Sorry for typo!!

Thanks for reading!!

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bali, Awal Baru Ibu Melindungi
8.2
Hidup Anggita runtuh seketika saat Farhan, sang ayah, tega mencoretnya dari daftar ahli waris demi Dahlia. Akibat tuduhan keji asisten tersebut, ia didepak dari rumah dan dicap mandul. Di tengah kehancuran, Anggita justru mendapati dirinya sedang hamil anak Sagara. Demi menyelamatkan sang bayi dari kekejaman keluarganya, ia menyamar lalu kabur ke Bali. Di pulau itu, ia bertekad menata hidup baru dan selamanya menutup lembaran masa lalu.
Sampul Novel Bismillah Anna
9.2
Sejak SMP, Anna memendam rasa pada Malik yang bersikap dingin dan menyukai perempuan lain. Di tengah perjuangannya sebagai dokter muda, ia harus menghadapi duka mendalam akibat kehilangan sang ayah. Meski takdir terasa pahit dan cintanya bertepuk sebelah tangan, Anna tetap tegar melewati cobaan hidup. Akankah kesabarannya berujung pada pernikahan dengan Malik, atau takdir justru akan mempersatukannya dengan seorang pria lain yang jauh lebih misterius?
Sampul Novel Bukan Takdirku Mati Dalam Api
9.7
Hidup Gita hancur setelah dikhianati Dzaki, kekasih yang memanfaatkannya demi Rosa. Selain merampas karya desainnya, mereka tega meracuni Gita dan membakarnya di dalam villa. Beruntung, ia selamat, memalsukan kematiannya, lalu kabur ke Milan. Tiga tahun kemudian, Gita kembali ke Jakarta memakai identitas baru sebagai desainer top bernama Gia. Saat Dzaki syok melihat kemiripannya, Gita pun memulai rencana balas dendam matang terhadap para pengkhianat tersebut.
Sampul Novel Perselingkuhan Gila Istriku
8.9
Kecurigaanku pada Lidya, istriku yang baru berusia 25 tahun, akhirnya mencapai batas. Kebohongannya tentang rekan kerja terbongkar hari ini, menyisakan tanya tentang sosok asli selingkuhannya. Didorong amarah akibat pengkhianatan dan gairah yang kupendam sejak pagi, aku mengonfrontasinya di atas ranjang. Sambil menindih tubuhnya, aku menuntut kejujuran di tengah badai emosi yang berkecamuk hebat.
Sampul Novel Seni Seviyorum Aisyah
8.9
Demi menyusul sang kakak kuliah di Istanbul, Turki, Aisyah berjuang keras belajar sambil terus menghafal Al-Quran. Langkah ini ia ambil demi memenuhi tuntutan orang tuanya yang selalu menuntutnya sesukses sang kakak. Namun, fokusnya terpecah ketika hubungan persahabatan eratnya dengan Raya, Fatimah, dan Hawa mendadak hancur berantakan. Sebuah pengkhianatan tak terduga terjadi di antara mereka, menyisakan misteri besar tentang dalang di balik rusaknya ikatan suci tersebut.
Sampul Novel Terjun Bebas Di Antara Api dan Cinta
8.0
Saat balon udara bocor di ketinggian seribu meter, seorang pilot justru menyelamatkan mantan kekasihnya, Erika, menggunakan parasut ganda. Ia mengabaikan tangisan calon istrinya yang sedang hamil dan menuduhnya berbohong karena cemburu. Setelah melepas paksa pegangan sang tunangan, pilot itu melompat pergi. Ia tidak tahu bahwa Erika telah melubangi parasut yang tersisa, membiarkan wanita hamil itu terjun bebas dalam bahaya maut.