APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel ALUR CINTA TIAN DAN ARLYN

ALUR CINTA TIAN DAN ARLYN

Bagi Arlyna Virgolin, cinta sejati pada Bastian Pisceso adalah keyakinan mutlak. Ia bahkan berharap dapat kembali mencintai pria itu di kehidupan selanjutnya. Namun, kisah asmara mereka yang indah dan membara tidak berjalan semulus impian. Di balik kesempurnaan perasaan yang mengikat keduanya, Arlyn dan Tian harus bersiap menghadapi berbagai badai besar yang menguji hubungan mereka. Sanggupkah kekuatan cinta yang mereka miliki bertahan melewati rintangan yang begitu sulit?
Bab
Bagikan

Bab 3

"OMG! Ini ponsel Mommy." Tian mengambil ponsel warna silver yang ada di tangan Oma. "Kenapa ada pada Oma?"

"Tadi, Oma lihat ada di atas meja makan. Mommy kamu memang begitu, selalu lupa dengan ponselnya."

"Jadi gimana dong Oma?" Tian sekarang yang kebingungan.

"Kamu balik lagi ke salon! Itu juga, kalau kamu tidak mau kehilangan Mommymu."

"Yaelah." Tian menarik napas. "Mana salonnya jauh banget."

"Terserah kamu. Kalau tidak mau Mommy kamu hilang ditelan bumi, sekarang juga kamu balik lagi ke salon. Tapi, kalau mau Mommymu hilang, ya sudah, tidur saja, tidak usah ke sana," Oma pergi meninggalkan Tian dengan wajah bingungnya.

Tian menghela napas. "Ya sudah, aku balik lagi ke salon, tapi mau mandi dulu. Tubuhku rasanya lengket."

Oma tersenyum mendengar ucapan cucunya. "Anak baik."

......

Di tempat lain, Arlyn sedang duduk manis dibalkon rumahnya sambil menikmati roti coklat yang tadi dibelikan temannya, Silvi.

"Arlyn. Arlyna!"

"Aku dibalkon Ma," jawab yang punya nama dengan mulut penuh roti.

"Kamu sedang apa?"

"Ini." Arlyn memperlihatkan sepotong roti di tangannya. "Makan roti coklat."

"Roti dari siapa?" Mama langsung duduk di samping putrinya.

"Dari Silvi, tadi aku antar Silvi ke toko roti, pulangnya dibeliin ini," jawab Arlyn. "Ada apa Ma?"

"Mama minta antar."

Arlyn melihat Mama dan baru menyadari Mama sudah berpakaian sangat rapi. "Antar ke mana?"

Beberapa detik Mama terdiam, berpikir jawaban apa agar putrinya mau mengantar. "Antar Mama shopping."

Mendengar kata shopping, mata Arlyn langsung melebar. "Mau, mau Ma! Aku mau antar Mama shopping!"

Mama tersenyum lebar. "Bersiaplah! Ganti bajumu itu, jangan pake celana pendek!"

"Ok, siap!" Arlyn langsung meloncat turun dari kursi lalu memberikan roti sisa bekas makannya. "Ini roti buat Mama saja. Habiskan!"

"Anak kualat. Masa Mama dikasih roti sisa?!" ucap Mama melihat roti yang ada di tangannya.

"He-he-he. Itu tanda sayang putri cantikmu ini Ma," jawab Arlyn dari dalam kamar.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk bersiap-siap, Arlyn dan Mama sudah duduk manis di dalam mobil.

"Mang Didin. Kita ke Mall," ucap Arlyn.

"Siap Non," jawab sopir melihat putri majikannya dari kaca spion dalam.

"Kita tidak langsung shopping ya," ucap Mama melihat putrinya. "Antar Mama ke salon dulu."

"Salon?" Arlyn kaget. "Mau apa Mama ke salon?!"

"Mama mau panjat tebing di salon!" jawab Mama ketus.

Wajah Arlyn langsung memelas. "Kenapa Mama baru mengatakannya sekarang? Aku malas kalau ke salon."

"Kenapa sih, kamu ini anti banget ke salon?! Biasanya, anak perempuan itu paling seneng kalau diajak ke salon. Kamu malah sebaliknya, aneh! Mama mau melakukan perawatan."

Ingatan Arlyn langsung teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu disaat mengantar Mama ke salon, duduk berjam-jam seperti orang bego tidak tahu apa yang harus dilakukan.

"Malah bengong!"

"Aku malas ke salon." Arlyn merengut. "Tahu akan ke salon, aku tidak mau ikut!"

"Nanti kamu juga bisa nyalon kayak Mama. Kamu bisa manicure pedicure biar kukumu sehat dan terawat atau kamu bisa nail art biar kukumu terlihat cantik, atau juga kamu bisa creambath agar rambutmu semakin indah terawat."

Arlyn hanya bisa menghela napas. "Aku tidak menyukai semua hal itu Ma. Aku rapi, bersih dan wangi sudah cukup buatku."

"Anak perawan kok susah sekali dibilangin. Ya sudah! Nanti Mama kasih uang agar kamu bisa jalan-jalan di mall sementara Mama nyalon."

Wajah yang merengut kembali tersenyum. "Nah gitu dong! Mama nyalon, aku jalan-jalan."

Mang Didin hanya senyum-senyum sendiri mendengar interaksi kedua majikannya, yang tua seneng nyalon yang muda malah sebaliknya.

Mall yang cukup besar dan terkenal sekarang telah nampak di depan mata. Arlyn dan Mama langsung turun dari mobil setelah memberitahu Mang Didin agar tidak pergi jauh-jauh dan selalu mengaktifkan ponselnya.

"Tumben mall sepi pengunjung," ucap Arlyn begitu menjejakkan kakinya ke dalam mall.

"Iya." Mama hanya melihat beberapa orang yang berlalu lalang.

"Kita ke lantai berapa Ma?" tanya Arlyn.

"Lantai 6," jawab Mama langsung menuju ke eskalator.

"Kenapa tidak naik lift saja Ma?"

"Apa kamu tidak lihat, orang begitu banyak di depan lift," jawab Mama.

Arlyn mengikuti Mama dari belakang menuju ke eskalator. Pandangannya mengedar ke sekeliling, melihat suasana mall yang tidak terlalu ramai.

Tiba di lantai 6, Mama langsung masuk ke salon yang sudah menjadi langganannya.

"Selamat datang Jeng Dewi," sapa wanita yang umurnya tidak jauh berbeda dengan Mama, langsung datang menghampiri.

"Eh, Jeng Siska. Tumben ada di salon." Mama cipika cipika seperti kebanyakan Ibu-ibu kalau say hello. "Saya dengar katanya sedang di Singapura."

"Iya, kebetulan baru kemarin pulang dari Singapura."

"Wah, enak ya kalau punya suami seorang diplomat, kerjanya bisa menjelajah ke berbagai negara," ucap Mama.

"Biasa saja." Jeng Siska melihat Arlyn berdiri di belakang Mama. "Ini pasti Arlyna."

Mama langsung memperkenalkan putrinya. "Iya, ini Arlyna. Sekarang sudah kuliah, sebentar lagi skripsi."

"Oh, sudah besar ya. Cantik! Kalau Tante punya anak laki-laki, pasti sudah Tante jodohkan dengan anak Tante." Jeng Siska melihat Arlyn dari atas sampai bawah.

Arlyn tersenyum, tapi hatinya menggerutu. "Untung Tante Siska tidak punya anak cowok. Dijodohkan? Ogah banget! Tidak ada dalam kamus hidupku yang namanya perjodohan!"

Menyadari cukup lama berdiri, Tante Siska mengajak Mama masuk untuk segera melakukan perawatan, tapi dengan cepat Arlyn segera menarik tangan Mamanya.

"Ada apa Arlyn?!"

"Mana?" tanya Arlyn.

Mama melihat tangan Arlyn yang minta sesuatu. "Apa?!"

"Ih, Mama! Uang."

Mama menghela napas lalu membuka tas tangannya. "Kalau urusan uang, kamu ingat!"

"Iya dong! Mama sudah janji."

"Ini! Pake saja kartu kredit, tapi ingat! Jangan membeli yang aneh-aneh!" Mama memberikan salah satu kredit card-nya.

Arlyn tersenyum lebar. "OMG. Thank you. Love you!"

"Jangan pergi jauh-jauh! Selalu aktifkan ponselmu. Kalau kamu lapar, cari makan sendiri ya! Dan ingat, jangan beli yang aneh-aneh!"

"Siap komandan!" Arlyn mencium pipi Mama kemudian bergegas pergi dengan kredit card di tangan.

Di tempat parkir, di mall yang sama dengan Arlyn. Tian baru saja ke luar dari mobil kesayangannya. Langkah tegasnya langsung menuju ke pintu depan mall.

Beberapa pasang mata nampak tidak berkedip melihat Tian dengan postur tubuh tinggi serta wajah yang rupawan. Beberapa gadis yang berpapasan dengannya banyak yang terkagum, tapi Tian tidak menghiraukan semua itu.

"Aku paling malas kalau ke mall, jadi tontonan banyak orang. Dipikirnya, aku ini manusia paling aneh diplanet bumi," gerutu hati Tian ngomel sendiri. "Semua ini karena Mommy!"

Tian menaiki eskalator, tujuannya ke lantai 6 tempat di mana Mommy nya sedang melakukan perawatan di salon langganannya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bekas Luka Ikatan yang Hancur
8.6
Tiga tahun pernikahan Sinta terasa hampa karena sikap dingin Trisna. Situasi memburuk ketika cinta pertama suaminya kembali, memicu munculnya berkas perceraian. Walau Sinta menyatakan dirinya tengah mengandung, Trisna tetap teguh pada keputusannya untuk berpisah. Di atas ranjang rumah sakit, Sinta akhirnya menyerah dan membubuhkan tanda tangan. Namun secara tak terduga, Trisna justru berbalik memohon ampunan serta berjanji memperbaiki diri, membuat Sinta didera keraguan besar.
Sampul Novel Draco&Luna
7.9
Kehidupan malang Luna sebagai anak yatim piatu memuncak saat bibinya yang kejam menjualnya ke pasar gelap. Di tempat pelelangan, nasib mempertemukannya dengan Draco Riordan, sosok misterius penuh dendam yang membelinya. Pertemuan dua dunia berbeda ini menyatukan kepolosan Luna dengan masa lalu kelam Draco. Akankah ketulusan Luna sanggup mencairkan hati Draco yang beku, ataukah rahasia besar serta takdir yang rumit justru akan memisahkan mereka selamanya?
Sampul Novel ISTRI YANG TAK KU KENAL
9.7
Kimberlie berhasil menikahi Nicholas, sosok yang ia kagumi sejak kecil. Namun, pernikahan ini terjadi hanya karena Nicholas terpaksa menuruti keinginan ayahnya yang sakit kanker, sementara hatinya masih menunggu Angel. Hancur karena rencana Nicholas bersama sang kekasih di malam pertama, Kimberlie tetap bertahan. Saat ia berjuang mendapatkan cinta suaminya, kehadiran Galaxy, sepupu Nicholas yang mulai mendekat, justru membawa kerumitan baru dalam hubungan mereka.
Sampul Novel Janda Pemikat Hati
9.5
Pasca bercerai, hidup Ruby berantakan. Demi menghibur diri, ia pergi ke bar bersama sahabatnya. Namun, sebuah kejadian memalukan di toilet malah memicu keributan antara dirinya dengan Dinan. Takdir tak terduga membawa mereka kembali bertemu di tempat kerja, kini dengan status atasan dan bawahan. Keadaan menjadi semakin rumit setelah Ruby menyadari bahwa Dinan adalah pria yang sangat dicintai oleh adiknya sendiri.
Sampul Novel Kuhancurkan Harga Dirimu, Galih
8.4
Tujuh tahun kulupakan karier hukum demi mendukung mimpi Galih. Sialnya, dia malah mengabaikanku demi Davina, bahkan abai pada alergi seafood-ku saat sakit. Setelah 52 kali rencana masa depan kami dibatalkan sepihak, aku memilih pergi. Kini, aku bangkit menjadi pengacara sukses yang mandiri. Saat Galih bersujud memohon di depan kantor, aku menolaknya dengan tegas. Waktunya telah tiba bagiku untuk menghancurkan harga dirinya dan memegang kendali penuh atas takdirku sendiri.
Sampul Novel Luka Yang Kutinggalkan
8.3
Menghadiri pesta ulang tahunnya di atas kursi roda, Joice menyadari bahwa semua tamu mencemooh fisiknya dan membicarakan perselingkuhan tunangannya, Willy, dengan Anna. Mereka mengira Joice masih tuli, padahal pendengarannya telah pulih. Willy yang dahulu diselamatkannya dari kecelakaan fatal hingga membuatnya lumpuh kini hanya diam. Kecewa dengan pengkhianatan setelah tiga tahun pengorbanan, Joice memutuskan mengaktifkan layanan kematian palsu. Sebuah replika jenazah siap dikirim ke pernikahan mereka dalam lima hari.