APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Altair Onder de

Altair Onder de

Akibat campur tangan dewa yang menukar tubuh mereka tanpa izin, Altair dan Claretta terjebak dalam situasi ganjil. Rasa murka Altair meredam saat melihat Claretta menangis merindukan kehangatan seorang ibu. Di tengah embusan angin dan guguran kelopak bunga, mereka saling memahami luka masing-masing. Keduanya pun sepakat menerima takdir baru ini. Altair melepas identitas lamanya, sementara Claretta berjanji merawat ibu Altair dengan tulus sebelum cahaya memisahkan mereka selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Tuan, anda mau pergi kemana?” sahut seseorang kepadanya.

Claretta mencari asal suara dan menemukan seorang pelayan wanita membawa troli berisikan makanan.

Memakai pakaian seragam dengan aksen renda putih dan gaun hitam dengan potongan rambut pendek berwarna merah.

Claretta mendatanginya dengan terburu-buru. Memegang kedua bahu pelayan tersebut. Pelayan yang melihat tampak kaget dan ketakutan. Namun, Claretta tidak menghiraukan.

Yang ada dipikirannya sekarang adalah dimana dia sekarang, dan kenapa bentuk rumah sakit terlihat berbeda dari yang pernah ada.

“Dimana ruang resepsionis rumah sakit?” tanya Claretta sembari tetap memegangi pelayan tersebut dengan erat.

“Rumah sakit? Apa itu tuan?” tanya balik pelayan tersebut.

“Tuan? Apa maksud ‘tuan’ yang pelayan itu sebut?” tanya Claretta dalam hati.

Claretta sangat mengkhawatirkan keadaan ibunya dan ingin pergi menemui, terutama jika ayah atau saudara-saudara berkunjung ke rumah.

Keinginan terkuat sekarang adalah membawa ibu pergi dari negara ini.

“Apa maksudmu, kau tidak tahu rumah sakit? Sejak kapan rumah sakit terlihat seperti ini?” tanya Claretta dengan suara marah.

Pelayan bertambah takut khawatir jika orang di hadapannya mengamuk. Di sekitar mereka muncul beberapa orang dengan pakaian yang sama.

Sedangkan laki-laki berseragam hitam dengan kemeja putih di dalam. Semua orang terlihat seperti sedang melakukan cosplay.

Semua orang memandang Claretta aneh dan berbisik, membuat Claretta yakin bahwa sekarang dia berada ditempat yang salah. Claretta sadar mencengkram bahu pelayan dengan keras dan membuatnya kesakitan.

Dengan cepat Claretta melepaskan tangannya.

Claretta berusaha setenang mungkin dan berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi.

“Maaf atas apa yang aku lakukan. Tadi kenapa kamu memanggilku dengan kata ‘tuan’? Lalu jika kau tidak tahu rumah sakit, dimana ini?” tanya Claretta dengan nada suara setenang mungkin.

Claretta berharap banyak kepada wanita yang berdiri di depan.

“Tuan berada di kediaman keluarga Onder de.” jawabnya dengan suara gugup.

“Onder de?” tanyanya heran.

“Sekarang kau mau pergi kemana?” tanya Claretta lagi memastikan.

“Saya mau mengantarkan sarapan tuan dan akan membersihkan kamar.” jawab pelayan tersebut.

“Baik, ayo kita kembali ke kamar terlebih dahulu. Kita jalan bersama.”

Mereka berdua berjalan menuju kamar, di mana Claretta terbangun dan keluar dari kamarnya. Pandangan orang-orang di sekitar tertuju kepada mereka berdua. Ada banyak pertanyaan yang ingin segera Claretta tanyakan kepada pelayan itu.

Mereka lewati jalan yang sama.

Di tempat itu, atap bangunan menjulang tinggi sehingga ketika ingin melihat kepala harus benar-benar tegak lurus.

Cat tembok dengan aksen warna putih tulang dihiasi lukisan-lukisan orang asing di mata Claretta.

Lukisan suatu keluarga besar dengan pasangan suami istri beserta keempat anak perempuan mereka.

Kedua anak perempuan di sana menggunakan gaun mewah berwarna merah muda dan kuning emas.

Di atas masing-masing kepala putri mereka terdapat tiara.

Mereka berdiri di antara sosok ayah yang mengenakan pakaian terhormat dengan beberapa lencana mewah berlapis emas serta jubah putih menjuntai ke bawah bersandar pada bahu.

Di depan mereka terlihat sosok seorang ibu yang sedang duduk di atas kursi menggendong bayi perempuan yang cantik dengan gaun putih bersih dan renda-renda kecil. Putri yang lain berdiri di sebelah ibunya dengan menggunakan pakaian yang sama.

Di belakang si ibu, terlihat anak laki-laki kecil yang berdiri sendiri dengan pakaian sederhana nan rapi, seakan dirinya seperti bukan bagian dari mereka terlihat begitu kaya raya. Claretta merasa tidak asing dengan anak laki-laki di lukisan itu

Suara decitan troli yang terdorong, membuat Claretta sadar dari keterkagumannya dengan lukisan-lukisan yang terpajang di sana. Ada beberapa juga lukisan dengan potrait seorang diri baik lukisan full badan maupun setengah badan.

Lukisan wajah orang tua dengan uban beserta pakaian mewah.

Setelah tiba di pintu besar berwarna putih, mereka melihat seorang pria paruh baya yang dia dorong tadi. Claretta menatap dengan tatapan dingin. Kepala Pelayan merasa tidak nyaman dengan tatapan itu namun, untung saja dia pandai menyembunyikan ekspresi.

“Bagaimana dengan keadaan tuan?” tanya kepala pelayan kepada pelayan di samping Claretta.

“Tu...Tuan baik-baik saja, beliau ingin saya jalan bersama ke kamar sekaligus mengantarkan sarapan dan membersihkan ruangannya.” jawab Mary dengan kepala tertunduk.

“Baiklah kalau begitu, tolong layani dia.”

“Baik kepala pelayan.”

Kepala pelayan membukakan pintu untuk mereka berdua. Pintu tertutup kembali. Meskipun terasa asing namun, Claretta merasa ini adalah kamar yang dia gunakan tadi untuk tidur.

Di sebelah kasur terdapat jendela besar dengan lengkungan di atas. Pelayan berjalan ke arah jendela membuka jendela yang lain. Angin pagi di dalam ruangan menambah kesegaran pagi hari.

Terlihat ranting pohon besar yang hendak masuk ke dalam kamar, suara burung yang berkicau membuat Claretta sedikit lebih tenang.

“Siapa namamu?” tanya Claretta.

“Saya Mary, tuan. Saya yang bertugas menyiapkan kebutuhan.” jawab Mary.

Wajah ketakutan Mary yang Claretta lihat tadi sudah nampak menghilang dari wajah.

“Dimana ini Mary? Maksudku negara mana ini?” tanya Claretta lagi.

“Disini kerajaan Rhodes tuan.” jawab Mary sembari membersihkan meja milik orang yang diajak bicara itu.

“Rhodes? Bukankah itu nama negara kekaisaran dari buku yang tadi aku baca?” bisik Claretta.

“Tahun berapa sekarang Mary?” tanya Claretta sudah dengan keadaan pusing. Perasaannya pun sudah mulai tidak nyaman.

“Tahun 531 Miladi, tuan.” Jawab Mary

Kepala Claretta terasa berdenyut, perasaan bingung dan pusing membuat Claretta merasakan sakit ketika terkena batu di kepala.

Sulit dipercaya, novel yang dia baca dan alur cerita yang dia benci membuatnya masuk dalam dunia fiksi novel.

Ditambah lagi dari tadi wanita yang menggunakan kostum pelayan selalu memanggil namanya dengan sebutan tuan. Terasa seperti mimpi buruk bagi Claretta.

Rasa mual menahannya hingga Claretta mengeluarkan keringat dingin. Claretta berharap ini hanya sebuah mimpi.

“Dimana kamar mandi?” tanya Claretta

“Apakah tuan ingin mandi terlebih dahulu?” tanya Mary balik.

“Iya” jawab Claretta.

Mary mengantar Claretta melewati sebuah lorong yang dimana terdapat ruangan dengan sebuah bak mandi mewah yang besar cukup untuk menampung 5-6 orang di dalam. Kurang lebih seperti kolam renang.

Di depan terdapat jendela berbentuk lingkaran besar dengan kaca berwarna, membentuk sebuah lambang besar. Dengan bola kristal berwarna hijau keemasan yang diapit dengan dua burung hantu berwarna hitam dan yang lainnya berwarna putih.

Mary segera bergegas menyalakan air hangat dan menuangkan sabun aroma herbal. Suara gemericik air membuat kolam mengeluarkan busa.

Mary menyiapkan beberapa gulungan handuk dan pakaian untuk mengeringkan badan. Mary pamit untuk keluar.

“Apakah tuan ingin dipanggilkan seseorang agar mau membantu untuk mandi?” tanya Mary

“Tidak usah.” jawab Claretta dengan cepat.

Mary Pun keluar diikuti suara pintu kamar mandi yang tertutup. Claretta merasa aneh dengan pakaian yang dia kenakan. Semua berwarna putih, dengan baju stelan. Kain yang digunakan terasa lembut jika disentuh dengan kulit.

Claretta membuka bajunya melepas celana putih dia melihat sesuatu yang bergelantung di hadapan dan sekarang dia memiliki benda tersebut.

Claretta Pun berteriak dengan keras berlari mencari kaca dan bercermin. Claretta terjebak di tubuh seorang laki-laki dengan mata biru permata dan rambut keemasan.

Kecurigaan Claretta benar-benar membuktikan bahwa Claretta masuk di dalam salah satu sosok tokoh karakter fiksi novel yang dia baca ‘Altair Onder de’.

Ditambah Altair adalah sosok yang sangat Claretta benci. Dengan otot perut dan dada yang bidang adalah sosok idaman yang semua wanita inginkan.

Claretta melihat dirinya tidak memiliki payudara, tergantikan dengan benda yang melambai-lambai seakan mengatakan aku adalah seorang laki-laki.

Bertambah kencang lah teriakan Altair di dalam kamar mandi. Tiba-tiba kepala pelayan dan Mary menerobos masuk. Menemukan dirinya dalam keadaan telanjang tanpa busana.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dikhianati Sahabat Kecil, Aku Menikahi CEO Mandul
8.9
Setelah tewas mengenaskan akibat dikhianati oleh kakaknya sendiri dan ditinggalkan oleh pria yang ia cintai, sang protagonis mendapatkan kesempatan kedua. Ia terbangun di hari penentuan pernikahan mereka kembali. Alih-alih memperebutkan Zony yang ternyata diam-diam mencintai kakaknya, ia memutuskan untuk mengambil langkah berbeda. Tanpa ragu, ia menerima lamaran Gunawan, seorang CEO yang dikenal tidak bisa memiliki keturunan. Keputusan ini mengubah segalanya, hingga membuat mantan kekasihnya bersujud memohon penyesalan.
Sampul Novel Iblis Itu Suamiku
9.3
Demi membalas dendam kepada mereka yang telah menghancurkan hidupku, aku bersekutu dengan sosok kegelapan. Ia adalah pria fana yang terikat perjanjian pernikahan bayangan bersamaku. Di luar dugaan, pesonanya justru membuatku jatuh cinta. Hubungan ini adalah dosa yang menyiksa fisikku, tetapi aku memilih bertahan demi dirinya. Ia bagai kutub utara di hatiku. Hingga kematian menjemput, ia tetap menjadi suami tercinta yang akan mendekap jiwaku dalam pelukan abadi yang gelap.
Sampul Novel Istri Dari Masa Depan
8.2
Li Mei terbangun di rumah bobrok yang tak ia kenali setelah terjatuh dari tangga. Bukannya dirawat, ia malah dihadapkan pada Bai Changyi, pria rupawan yang mengaku suaminya. Bai Changyi berniat menceraikannya karena mengira Li Mei berniat mengakhiri hidup. Walau kebingungan dengan situasi di zaman kuno ini, Li Mei menolak bercerai demi ambisinya. Ia bertekad mengubah nasib dan menjadi pengusaha sukses bersama sang suami yang menyimpan misteri.
Sampul Novel Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius
8.3
Wira, seorang sarjana genius dari masa depan, tiba-tiba terlempar ke masa lalu dan mendapati dirinya terbangun di sebuah rumah kumuh tanpa harta sedikit pun. Lebih buruk lagi, ia merasuki tubuh seorang sarjana tidak berguna yang gemar berfoya-foya dan kerap menyakiti istrinya sendiri. Enggan menyerah pada takdir barunya yang kelam, Wira bertekad mengubah nasib buruk ini. Menggunakan seribu satu pengetahuan modern dan teknologi dari masa depan yang ia kuasai, ia memulai langkah ambisius untuk membalikkan keadaan dan membangun kekayaan besar hingga menjadi sosok paling kaya di seluruh kerajaan.
Sampul Novel Terjerat Pesona Vampir Tampan
8.2
Setiap malam, Shada didatangi sesosok vampir tampan bermata merah yang memberi sentuhan sensual dan kasih sayang mendalam di alam mimpi. Meski statusnya sudah bertunangan, pesona makhluk abadi itu terus mengusik kesetiaannya. Dilema batin pun mulai menyiksa Shada akibat gairah terlarang yang begitu nyata tersebut. Kini, ia berada di persimpangan jalan dan harus segera memilih antara komitmen di dunia nyata atau godaan fantasi sang vampir.
Sampul Novel Transmigration With A Love Pursuing System
8.6
Seorang gadis genius berkekuatan luar biasa pengubah zaman terjebak dalam misi lintas dimensi. Berbekal sistem dari Dewa, ia harus menghadapi kejaran para pria tampan yang memikat. Di tengah kekuatan tiada tandingnya, ia dihadapkan pada pilihan sulit. Haruskah ia berjuang keras demi kembali ke dunia asal, atau justru pasrah pada takdir barunya? Ikuti kisah perjuangan sang gadis hebat dalam menemukan jalan pulang.