APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Alena dan Andrio (Sekuel Dendam Anak Tiri)

Alena dan Andrio (Sekuel Dendam Anak Tiri)

Alena awalnya mengira pernikahan dengan Andrio akan berjalan mulus dan selalu bahagia. Namun kenyataan berkata lain, biduk rumah tangga mereka justru diterpa berbagai cobaan berat dan konflik rumit. Di tengah badai ujian yang terus mengguncang komitmen mereka, Alena memilih bertahan dan berjuang demi sang suami. Kisah romantis yang menyentuh hati ini menjadi saksi perjuangan cinta Alena untuk memastikan bahwa Andrio tetap menjadi miliknya selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah melewati makan sore itu, sepasang suami-istri itu menghabiskan waktu di kamar sambil bertukar cerita. Andrio berkisah pada istrinya bagaimana dia menangani pasien-pasien di dua rumah sakit yang berbeda hari ini.

Ya, Andrio bekerja di dua Rumah Sakit Umum Daerah di Jakarta. 

Alena pun demikian. Dia menceritakan kesehariannya di kantor seperti meeting, bertemu klien, dan memantau kinerja karyawan-karyawannya. Mengingat pekerjaannya di perusahaan membuat Alena kembali teringat dengan saran Rista yang menyuruhnya resign.

Akhirnya Alena pun tanpa sadar menceritakan percakapan dengan maminya pada suaminya. 

"Jadi Mami nyuruh aku berhenti kerja. Menurut kamu gimana, Mas?" Alena baring menyamping, memperhatikan wajah suaminya yang juga menatapnya. Mereka baring berhadap-hadapan dan sudah mengenakan pakaian tidur.

"Kamu mau resign dari perusahaan kamu? Apa nggak sayang perjuangan kamu selama ini?" Andrio malah bertanya balik. Ternyata perkiraan Alena salah, suaminya sama sekali tidak terlihat marah. Dia bahkan tak menyangka kalau suaminya berpikir demikian.

"Itu juga yang aku pikirin. Aku sebenarnya juga nggak mau resign, tapi yang Mami katakan ada benarnya, mungkin aku nggak bisa hamil karena terlalu sibuk. Aku bingung, aku nanya pendapat kamu dulu." Alena hanya mengingkari hatinya. Dia sudah yakin penyebab dia tak bisa punya anak bukan karena kecapekan akibat sibuk kerja, melainkan memang ada yang salah dari hormonnya. Tapi dia takut untuk menerima fakta itu.

Bukannya menjawab, Andrio malah membelai puncak kepala istrinya. Lalu perlahan dia mendekatkan tubuhnya ke tubuh istrinya hingga tubuh keduanya menempel satu sama lain. Andrio memeluk Alena dalam pembaringannya.

Alena mendongak heran menatap Andrio. "Kamu kenapa, Mas? Tadi belum jawab pertanyaan aku. Boleh nggak--"

"Jangan mikirin itu dulu. Kasih aku waktu buat berpikir." Andrio menunduk menatap wajah istrinya.

Alena mengangguk paham. Alena tahu, kalau posisi suaminya sudah seperti ini, artinya tak lama lagi mereka akan melakukannya. Tapi, rasanya Alena belum ingin. Hingga dia masih mengajak suaminya bicara. 

"Mas,"

"Iya ...." Andrio membelai lembut rambut Alena.

"Kok kamu santai aja, sih, kita belum punya anak? Apa kamu nggak pengin punya anak?"

Belaiannya di kepala Alena terhenti. Tatapannya mengarah tepat ke manik mata Alena. "Pasangan mana di dunia ini yang nggak mau punya anak?" Dia malah bertanya balik.

"Kalau pengin usaha, dong."

"Ini baru mau usaha."

"Maksud aku bukan usaha itu." Alena terlihat kesal sambil menepuk lengan Andrio. "Kenapa kamu kayak nggak pernah mikirin masalah ini, Mas?"

"Siapa bilang? Aku kepikiran. Dan aku mau secepatnya punya anak." Ucapan Andrio itu makin membuat Alena khawatir. "Tapi kalau emang belum waktunya, aku bisa apa?"

"Kamu nggak benci sama aku?"

"Kenapa aku harus benci istriku sendiri?"

Alena teringat ucapan maminya tadi kalau Andrio bisa saja melirik bahkan menikahi perempuan lain jika dia tak kunjung punya anak. "Hmm maksud aku ... kamu nggak kepikiran buat ... nikah lagi 'kan?" Alena bertanya dengan hati-hati. Jantungnya bahkan berdebar kencang karena takut mendengar jawabannya. 

"Kamu ngomong apa, sih?" Andrio mengernyit. "Pasti Mami ya udah ngomong yang nggak-nggak." Raut wajah pria itu berubah. Alena sedikit ciut melihatnya. Andrio tahu bagaimana hubungan Alena dan ibu mertuanya itu dulu. Mereka saling membenci. Rista sempat tidak menyukai Alena. Meski sekarang semuanya baik-baik saja, Andrio tetap khawatir kalau-kalau ibu mertuanya itu menekan dan mempengaruhi pikiran Alena dengan asumsi yang tidak-tidak seperti hal ini.

"Aku cuman nanya ...."

"Nggak, Alena." Andrio menggeleng. "Aku minta kamu jangan berpikir seperti itu, ya. Aku sayang sama kamu." Andrio mengecup kening Alena. 

"Mas--"

"Sekarang udah malam. Udah waktunya tidur."

"Iya, tapi--"

Andrio langsung membungkam mulut Alena dengan mengecup singkat bibirnya. Sebelum akhirnya memperdalam ciumannya. Alena pasrah menerima dan membalas ciuman itu. 

Seperti biasa, malam itu mereka melakukan ritual sebagai sepasang suami-istri.

***

'Mas, hari ini aku berangkat lebih awal, ya. Aku udah siapin sarapan buat kamu di meja makan. Di makan, ya. I Love You, Mas. Alena'.

Andrio menghela napas membaca tulisan tangan istrinya di selembar sticky note hijau yang tertempel di pintu kulkas. 

"Pantas aja dicariin ke mana-mana nggak ada," gumam pria itu seorang diri. 

Ya, setelah puas bercinta tadi malam, ketika dia bangun, dia tak mendapati istrinya di sampingnya. Dia pun bergegas bangun mencari istrinya ke hampir seluruh ruangan yang ada di rumah itu, tapi istrinya tak tampak. Dan ketika dia berbalik ke dapur untuk kedua kalinya, dia baru menyadari ada catatan tersebut di pintu kulkas.

Sebenarnya Andrio sudah biasa dengan hal ini. Namun, tadi malam adalah momen yang sangat membahagiakan baginya. Hingga rasanya dia tak ingin cepat-cepat berpisah dari istrinya itu.

Andrio lalu membuang sticky note tersebut di tong sampah kering yang ada di dekat kitchen set. Lalu menuju meja makan, membuka tudung saji.

Ada semangkok nasi goreng kecap dengan sayuran. Juga telur mata sapi di mangkok lain.

Andrio tersenyum. Itu masakan istrinya. Dia tak sabar untuk mencicipinya. Namun, sebelumnya dokter itu bersiap-siap mandi dulu sebelum akhirnya menyantap sarapan seorang diri.

***

Setelah mandi dan sarapan, Andrio bersiap-siap dikamarnya. Pria itu sibuk berkaca, menata rambutnya menggunakan pomade. Dia sudah mamakai kemeja biru dan celana kain hitam.

Dia lalu membuka laci, mencari jam tangan yang biasa dia simpan di sana. Tapi, kali ini jam tangannya tidak ada.

"Di mana, ya? Biasanya juga di sini. Apa Alena yang pindahin?"

Andrio meraba-raba bagian terdalam laci, memastikan lagi arlojinya ada di sana atau tidak. Namun, jemarinya malah menyentuh sesuatu yang lain dalam laci itu. Andrio pun menarik benda itu dengan jemarinya. Ternyata sebuah amplop putih lumayan tebal.

Andrio mengambil amplop itu, meniliknya. "Apa, nih? Tabungan?" Amplop itu tidak direkat.

Andrio tanpa ragu membuka amplop tersebut. Ternyata amplop itu berisi foto-foto. Andrio meniliknya satu-persatu. Ada foto Mbah Nani, juga foto seorang wanita yang tidak dia kenal, tapi Andrio mengira itu adalah foto mendiang ibu kandung Alena. Dan di sana juga ada foto Rista, Bagas dan Alyssa. Dan yang mengherankan adalah hanya foto Rista, Bagas dan Alyssa yang dicoret dengan spidol merah.

"Ini maksudnya apa, sih? Kenapa foto Mami, Papi dan Alyssa dicoret? Dan kenapa Alena nyimpan foto-foto mereka gini?" Andrio mengernyit memperhatikan foto itu dengan saksama. Dia merasa pernah melihat foto-foto itu, tapi di mana?

Sejenak hilang kisahnya yang hendak mencari jam tangan. Kini fokus lelaki itu teralihkan. Dia sibuk memikirkan foto-foto itu. Sampai akhirnya dia ingat ke mana dia pernah melihat foto-foto tersebut.

Ya, di rumah Mbah Nani dulu. Tepatnya di kamar Alena. Waktu dia mengantar Alena yang pingsan karena tenggelam di danau.

Kenapa? Kenapa Alena menyimpan foto keluarga ayahnya dan mencoretnya seperti ini? Maksudnya apa?

Di tengah kebingungannya itu, tiba-tiba selembar kertas bertulis yang ada di sela-sela foto itu jatuh ke lantai. Andrio yang tersadar langsung memungut kertas itu dan membacanya.

'Gue benci kalian! Kalian yang udah buat hidup ibu gue menderita! Gue bakal balas rasa sakit hati ibu gue dan penderitaan itu, liat aja!'

Demikian kalimat yang tertulis di sana.

Andrio menatap tulisan itu tak percaya. "Jadi ... Alena ....?"

Tanpa sadar tangannya sebelah kiri yang tak memegang foto terkepal geram seiring dengan emosi yang mulai menjalari dadanya.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bercerai dengan Suami Miskin
8.2
Selama tiga tahun membina rumah tangga, aku memikul seluruh beban finansial karena mengira suamiku tidak berpenghasilan. Dia bahkan melarangku membeli tas murah seharga 400 ribu rupiah dengan alasan terlalu boros. Namun, kedoknya terbongkar saat aku mengetahui dia mempersembahkan kalung berlian senilai 8 miliar rupiah sebagai kado ulang tahun untuk cinta pertamanya. Lelaki yang kukira terlilit utang itu rupanya adalah pewaris tunggal dinasti konglomerat yang memiliki kekayaan triliunan rupiah.
Sampul Novel Benih Sang Paranormal
8.6
Intan, desainer sukses berusia 30 tahun, begitu fokus pada karier hingga mengabaikan asmara. Status lajangnya memicu gunjingan tetangga dan tekanan dari ibunya, Sukma. Terbebani situasi ini, Intan mencurahkan isi hatinya kepada sang sahabat, Luna. Menyadari sikap dingin Intan pada pria, Luna curiga ada pengaruh sihir di baliknya dan menyarankan pengobatan alternatif. Benarkah ada kekuatan gaib yang selama ini menghalangi jodoh Intan?
Sampul Novel Cinta yang Tak Sempat Kudengar
8.9
Setelah tunangannya memilih menikahi kakaknya, ia menerima lamaran Twinkle, pria dingin yang mengaku tulus mencintainya. Tiga tahun pernikahan mereka berjalan sempurna tanpa cela. Namun, kebenaran pahit terungkap saat ia mendengar bahwa pernikahan itu hanyalah kepalsuan demi melindungi wanita bernama Amelie. Menyadari dirinya hanya tameng dan pengganti, ia memutuskan menghapus identitasnya dan merancang kematian palsu untuk lepas sepenuhnya dari Twinkle.
Sampul Novel HARMONI BULAN DAN MATAHARI
8.0
Pertemuan dengan Gideon Bastian, pemuda blasteran rupawan sekaligus ahli waris tunggal dinasti kaya raya, membawa kegelisahan baru dalam hidup Arlyna Aira. Gideon telah terpikat pada Arlyna sejak awal berjumpa. Namun, jalinan asmara mereka harus menghadapi berbagai rintangan pelik yang menguji kesetiaan. Di bawah tekanan keadaan yang mendesak mereka untuk berpisah, mampukah Arlyna dan Gideon menjaga ketulusan cinta mereka agar tetap bertahan?
Sampul Novel Jerat Hasrat Istri Kedua
8.9
Demi menyelamatkan ladang gandum sang ayah, Eleanor Caldwell terpaksa menjadi istri kedua bagi Jonathan Abbe Turner. Di bawah bayang-bayang dinasti wiski Montana, ia memikul beban berat untuk melahirkan pewaris. Meski sempat berniat kabur dari pernikahan yang menyiksa ini, Eleanor justru mulai jatuh cinta pada suaminya. Namun, Lizzy sang istri pertama tidak tinggal diam dan siap melakukan apa saja demi melenyapkan Eleanor selamanya.
Sampul Novel Kisah Kejatuhan Seorang Ibu yang Kesepian
9.1
Di keheningan malam, seorang ibu berlutut lemas di ambang jendela dengan napas memburu. Di belakangnya, teman sekelas anaknya dari sekolah olahraga merobek stoking hitamnya secara kasar dan menjamahnya. Sambil mencengkeram rambutnya, pemuda itu berbisik menggoda, mempertanyakan apakah sang anak tahu kelakuan liar ibunya. Ketegangan memuncak saat ayah pemuda itu tiba-tiba masuk dan berniat mengajari putranya yang dianggap masih terlalu muda.