APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Tidak Butuh Belas Kasihanmu!

Aku Tidak Butuh Belas Kasihanmu!

Pasca diceraikan karena melahirkan anak yang sakit-sakitan, Kania berjuang mati-matian demi Arka, putranya yang kini kritis di ICU. Di tengah perjuangan itu, mantan mertuanya justru terus merintangi pengobatan sang cucu. Namun, saat dunia terasa begitu kejam menghimpitnya, sebuah peristiwa tidak terduga terjadi dan memaksa Bagas menghadapi kenyataan pahit yang selama ini ia hindari. Kania pun membuktikan bahwa ia mampu berdiri tegak tanpa butuh belas kasihan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Suasana ruang tunggu rumah sakit dingin dan pengap. Kania duduk diam, kedua tangannya mencengkeram tas lusuh di pangkuannya. Dari balik dinding kaca, Arka masih terbaring lemah. Matanya sesekali bergerak, menandakan ia belum benar-benar sadar. Mesin-mesin medis terus berbunyi monoton, seakan menghitung waktu yang tersisa.

Suster Nila mendekat, menyerahkan map berisi berkas rujukan yang telah ditandatangani.

"Ini sudah lengkap, Bu. Tapi rumah sakit tujuan ada di Jakarta. Biaya awal sekitar lima belas juta, belum termasuk transportasi dan rawat lanjutan," jelasnya hati-hati.

Kania menelan ludah. Lima belas juta. Jumlah itu lebih besar dari yang pernah ia pegang sekaligus sejak perceraian.

"Ada batas waktu, Sus?"

Suster Nila mengangguk. "Paling lambat tiga hari ke depan. Setelah itu kondisinya bisa menurun."

Kania mengangguk pelan. Dalam hati, ia sudah tahu jawabannya: ia harus bergerak sekarang juga.

Sore itu, Kania kembali ke rumah kontrakannya. Rumah kecil di gang sempit yang bahkan tak cukup untuk bernafas lega. Langit-langitnya retak, dindingnya lembap, dan hanya ada satu kipas tua yang berderit bila dinyalakan.

Ia menyimpan berkas rujukan di atas meja makan, lalu menarik napas panjang.

"Satu-satunya cara..." gumamnya, "...aku harus cari bantuan dari luar."

Tangannya meraih ponsel. Ia mulai menghubungi satu per satu teman lamanya. Mantan rekan kerja, sahabat masa kuliah, tetangga lama. Namun satu demi satu jawaban yang diterimanya nyaris seragam:

"Maaf, Ka. Aku juga lagi sulit."

"Aku ngerti posisimu, tapi aku belum bisa bantu."

"Nanti ya, kalau ada rezeki."

Sampai akhirnya ia duduk lunglai. Layar ponselnya masih menyala dengan kontak terakhir-Reza.

Ia ragu. Lelaki itu memang datang dengan niat baik, tapi ia masih orang asing. Tapi... Arka tidak punya waktu. Akhirnya ia kirim pesan:

"Pak Reza, ini Kania. Jika masih bisa, saya ingin tahu lebih lanjut soal bantuan dari yayasan Bapak."

Tak sampai sepuluh menit, ponselnya berdering.

"Assalamu'alaikum, Bu Kania?" Suara Reza terdengar di ujung sana.

"Wa'alaikumussalam... iya, Pak. Saya butuh bantuan itu."

"Besok pagi, kami ada pertemuan di kantor yayasan. Kalau Ibu bisa datang, saya bisa bantu sampaikan langsung ke bagian program. Bawa semua dokumen medis Arka."

Kania mengangguk cepat. "Baik. Terima kasih, Pak."

Begitu telepon ditutup, Kania tak bisa menahan tangis. Untuk pertama kalinya setelah sekian hari... ia merasa ada sedikit harapan.

Keesokan Harinya

Kania mengenakan baju terbaik yang ia punya-kebaya sederhana berwarna cokelat muda dan rok panjang hitam. Rambutnya ia ikat rapi. Ia ingin terlihat sebaik mungkin. Bukan untuk impresi, tapi untuk menunjukkan bahwa ia ibu yang pantas diperjuangkan.

Kantor yayasan itu sederhana, terletak di sebuah ruko dua lantai. Logo di pintu kaca bertuliskan: Yayasan Cahaya Sehat – Menyentuh Hati, Menyembuhkan Harapan.

Reza sudah menunggu di lobi.

"Bu Kania, mari. Saya sudah jadwalkan dengan Bu Astri, ketua bidang bantuan medis."

Mereka masuk ke ruang rapat kecil. Di dalam, seorang wanita paruh baya dengan kacamata tipis menyambut mereka dengan senyum tenang.

"Silakan duduk, Ibu Kania. Boleh ceritakan sedikit soal kondisi anak Ibu?"

Kania membuka map-nya. Tangannya gemetar saat menjelaskan: riwayat penyakit Arka, proses pengobatan, surat dokter, dan hasil laboratorium. Suaranya lirih, sesekali tercekat. Tapi ia berusaha tegar.

Bu Astri menyimak dengan seksama, lalu mengangguk.

"Yayasan kami punya dua program. Bantuan penuh untuk pasien rawat jalan dan subsidi 50% untuk rujukan ICU atau tindakan besar. Karena kondisi Arka termasuk kategori kedua, kami bisa bantu separuh biaya awal, yaitu sekitar tujuh setengah juta rupiah. Sisanya... Ibu harus usahakan sendiri."

Kania menggigit bibirnya. "Tujuh setengah juta lagi..."

"Betul. Kami juga bisa bantu sebarkan penggalangan dana lewat platform sosial media yayasan. Tapi waktu terbatas."

Kania menunduk dalam-dalam. "Saya akan usahakan sisanya. Apa pun caranya."

Siang Itu

Setelah keluar dari kantor yayasan, Reza berjalan mendampingi Kania.

"Saya tahu itu belum cukup, Bu. Tapi kita punya awal. Sekarang tinggal cari separuhnya lagi."

Kania menoleh, menahan haru. "Terima kasih, Pak Reza. Saya nggak tahu harus bagaimana kalau nggak ada Bapak kemarin."

Reza tersenyum kecil. "Saya hanya perantara. Yang berjuang tetap Ibu."

Malam Harinya

Kania membuka lemari kecil di kamarnya. Ia mengeluarkan satu-satunya gelang emas peninggalan ibunya. Sudah lama ia simpan, untuk jaga-jaga. Mungkin inilah waktunya.

Keesokan harinya, ia pergi ke toko emas di pasar. Gelang itu ditaksir empat juta.

Tanpa ragu, ia menyerahkan gelang itu. Ia pulang dengan setengah dari kebutuhan biaya.

Empat juta. Masih kurang tiga setengah juta lagi.

Ia mulai membuat unggahan di media sosial. Mengisahkan perjuangannya, kondisi Arka, dan target dana yang dibutuhkan. Ia menyertakan bukti medis, foto Arka, dan nomor rekening.

Reza ikut membantu membagikan lewat akun yayasan.

Hari-hari berikutnya adalah perang emosi. Ada yang peduli, ada yang nyinyir. Beberapa menyebut ia "cari simpati", sebagian menyumbang diam-diam.

Dalam dua hari, total dana masuk ke rekeningnya mencapai tiga juta.

Kurang lima ratus ribu lagi.

Kania tak bisa berhenti menangis ketika melihat laporan rekening.

Di Rumah Sakit

Hari ketiga, Kania membawa semua bukti transfer ke bagian administrasi.

"Total dana sudah cukup, Bu. Kita akan mulai proses rujukan hari ini juga," kata petugas.

Suster Nila memeluk Kania. "Akhirnya kamu bisa bawa Arka ke rumah sakit yang lebih baik. Aku ikut senang."

Kania menatap anaknya di balik kaca ICU. Air mata mengalir pelan.

"Aku janji, Nak... Ibu akan lakukan apa pun untuk sembuhkan kamu."

Di Tempat Lain

Sementara itu, di sebuah kafe mewah, Bagas duduk bersama seorang wanita berpenampilan glamor.

"Anakmu itu sudah dibawa ke rumah sakit swasta?" tanya si wanita.

Bagas mengangkat bahu. "Entahlah. Terserah Kania mau ngapain. Aku nggak urus lagi."

Wanita itu tersenyum sinis. "Baguslah. Kita fokus aja ke hidup kita sekarang. Anak penyakitan kayak gitu cuma bikin hidup kamu ribet."

Bagas terdiam. Untuk sesaat, ada semburat rasa bersalah muncul di wajahnya. Tapi cepat ia tepis.

Malam Sebelum Keberangkatan

Kania duduk di tepi ranjang rumah sakit Arka. Anak itu mulai sadar, meski lemah. Tangannya bergerak pelan meraih tangan Kania.

"Mama... capek," bisiknya lirih.

Kania menahan isak. Ia mengusap kepala Arka lembut.

"Sebentar lagi kita ke tempat yang lebih baik. Di sana, kamu akan sembuh. Kamu kuat, Nak."

Arka tersenyum lemah.

Reza muncul di pintu, membawa koper kecil. "Saya bantu bawa barang-barangnya ya, Bu. Mobil ambulans akan datang jam tujuh pagi."

Kania mengangguk. "Terima kasih, Pak Reza. Saya nggak akan lupa semua bantuan Bapak."

Reza menatap Arka, lalu Kania. "Kita belum selesai, Bu. Ini baru langkah awal. Tapi saya yakin... Arka bisa sembuh."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Datang Terlambat
9.0
Demi ambisi kakeknya, Sagar terpaksa menikahi Bella tanpa pernah memedulikannya hingga pernikahan mereka hancur. Saat perceraian menanti, Bella memilih pergi diam-diam dalam kondisi mengandung. Kepergian sang istri yang mendadak ini membuat Sagar tenggelam dalam penyesalan mendalam. Kini, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa rasa cinta serta permohonan maafnya mungkin sudah terlambat bagi Bella yang telah pergi.
Sampul Novel Hello, My Husband
8.6
Mahligai rumah tangga yang dibangun demi kewajiban kini retak. Sang istri memohon agar suaminya tak lagi menunjukkan perhatian semu yang kerap memicu harapan kosong. Namun, permintaan itu justru memicu perselisihan dingin di antara mereka. Keheningan mencekam pun tercipta saat sang suami pergi tanpa memberi kejelasan tentang perceraian. Meninggalkan sang istri dalam kebimbangan, ia kini bertanya-tanya apakah perpisahan ini batas akhir ataukah awal dari derita baru.
Sampul Novel His First Love
9.2
Demi membalas pengkhianatan suaminya, Zhepyr, Davira sang mantan putri rela dicap buruk. Perselingkuhan Zhepyr dengan cinta pertamanya membakar amarah Davira yang kini menyadari harga dirinya. Di depan ksatria setianya, ia bertekad tidak akan menangis dan siap membuat mereka berlutut. Davira kini dihadapkan pada pilihan sulit: memaafkan atau pergi tanpa belas kasih demi hidup baru. Akankah dendam ini berujung pada perpisahan?
Sampul Novel Kompilasi Cerpen Dewasa
9.1
Antologi fiksi romantis modern ini merangkum deretan kisah cinta dewasa yang penuh gairah dan emosi mendalam. Melalui sudut pandang berbagai karakter lintas profesi, pembaca diajak menelusuri hubungan intim yang sarat konflik tajam antara protagonis dan antagonis. Selain menyajikan ketegangan yang memikat, setiap cerita pendek di dalamnya juga dirancang untuk memberikan wawasan berharga mengenai dinamika asmara sekaligus menyampaikan pesan moral yang mendalam bagi pembaca.
Sampul Novel Rahasia Suami Terbongkar di Meja Pendaftaran
8.0
Demi sekolah internasional sang putra, Edy, Anida Kusuma menyiapkan berkas selama setahun. Namun di hari pendaftaran, suaminya, Eric Sudrian, justru menuduhnya bertindak sepihak. Situasi memanas saat staf administrasi mengungkap bahwa Anida bukan istri sah Eric di sistem. Tanpa diduga, Viona Hakana muncul membawa akta nikah sah dengan Eric sejak empat tahun lalu—tepat di hari pertunangan Anida dan Eric. Kebohongan manis yang dipercayai Anida selama tujuh tahun kini hancur tak bersisa.
Sampul Novel Suami CEO-ku yang Suka Memerintah
8.2
Rosalynn lelah diabaikan oleh Brian, suaminya yang dingin dan kerap digosipkan dengan selebritas. Ia pun mantap meminta cerai. Pascaperceraian, Brian justru terpikat oleh kecerdasan seorang desainer anonim di perusahaannya sendiri. Saat Brian begitu terobsesi mengungkap sosok misterius tersebut, ia tidak menyadari bahwa kebenaran di balik identitas wanita itu akan menghancurkannya dengan penyesalan masa lalu yang sangat mendalam.