APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Menantu, Bukan Pembantu

Aku Menantu, Bukan Pembantu

Pernikahan atas dasar cinta yang kuat dengan Reza, pria dari kalangan terpandang, awalnya terasa indah bagi Fera. Namun, impian indahnya lenyap seketika saat kenyataan pahit mulai menerpa. Fera kini harus menghadapi tekanan luar biasa dari keluarga sang suami yang mengubah total jalan hidupnya. Di tengah badai cobaan yang terus menguji ketabahan, mampukah ia bertahan sebagai menantu di keluarga tersebut, atau justru memilih menyerah pada takdir barunya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi sekali Reza sudah pamit pergi ke kantor karena harus kembali bekerja lagi seperti biasanya. Ia tidak bisa libur terlalu lama atau perusahaan akan tercoreng jelek di mata yang lainnya.

"Sayang, kamu jangan mengerjakan pekerjaan apapun di sini. Tetap diam layaknya seorang ratu di rumah ini, kamu istriku." Reza berkata sebelum memasuki mobilnya.

Irene menatap kesal dengan ucapan Reza yang baru saja ia dengar. Selepas lelaki itu pergi, Irene melemparkan beberapa pakaian kotor ke hadapan Fera yang masih berdiri diambang pintu melangkah masuk. Wanita itu tersentak kaget ketika kakinya sudah dipenuhi pakaian. Ia tidak mengerti apa maksud dari mertuanya itu.

"Ini pakaian siapa, Ma?" tanya Fera.

"Cuci semua pakaian itu," titah Irene.

"Apa?"

"Jangan banyak bertanya, tugas kamu di sini masih banyak. Semua pekerjaan rumah ini kamu yang harus menyelesaikannya."

"Tapi kata Mas Reza saya tidak boleh bekerja," ucap Fera yang tidak mau membantah perintah dari suaminya.

"Saya ini mertua kamu, harusnya kamu juga bisa mendengarkan apa yang saya perintahkan. Harus saya bilang sama kamu, kalau saya terpaksa menyetujui pernikahan kamu sama anak saya, saya tidak mau mempunyai menantu miskin dan kampungan kayak kamu!"

Fera benar-benar tertegun dengan pernyataan dari Irene, sungguh hatinya merasa sakit kala ucapan itu terdengar jelas di telinganya. Ia tahu hidupnya tidak semewah kehidupan Irene, tetapi Fera juga berhak untuk dihargai.

"Jangan pernah menyangkal apa yang saya katakan!"

Fera tidak mau berdebat apalagi dengan mertuanya, lalu ia pun mengambil semua pakaian itu dan mencucinya. Setelah mencuci, Irene juga memerintahkan pada wanita itu membersihkan halaman depan rumah.

Tanpa membantah, Fera juga melakukannya. Ia menyapu daun-daun di dekat pagar rumahnya, tetapi kefokusannya beralih pada Ibu-ibu yang terus memperhatikan ke arahnya. Fera merasa heran, sehingga ia cepat-cepat menyelesaikan tugasnya dan masuk ke rumah karena mereka berbisik-bisik dengan yang lainnya.

Wanita itu memang tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi Fera rasa mereka sedang membicarakannya. Saking terfokus pada orang tadi, sehingga Fera pun berhasil menabrak asisten rumah tangga.

"Ya ampun, maaf-maaf Bi. Saya benar-benar gak sengaja," sesal Fera.

"Gak apa-apa, Non. Lah, kok Non Fera bawa sapu buat apa?"

"Ini saya barusan abis nyapu halaman depan, Bi."

"Ngapain sih, Non? Kan udah ada Bibi di sini, lagian semua pekerjaan yang ada di sini adalah tugas Bibi."

"Gak apa-apa kok, Bi. Itung-itung saya bantuin meringankan pekerjaan Bibi aja," ucap Fera sambil tersenyum membuat asisten rumah tangga menggelengkan kepalanya.

Wanita itu mengambil sapu yang masih ada di tangan Fera, "Biar Bibi aja yang lanjutin, Non Fera istirahat aja."

Fera pun mengucapkan terima kasih yang kemudian masuk ke rumah. Sedangkan, asisten rumah tangga itu keluar dari pagar rumah tersebut untuk membuang sampah, ia tidak sengaja mendengar beberapa orang yang lewat membicarakan Fera.

Orang itu bilang kalau Fera adalah menantu yang tidak bisa apa-apa, ia hanya bisa shopping. Fera tidak bisa melakukan tugasnya sebagai seorang istri sekaligus menantu, mungkin niatnya menikah hanya untuk mengambil harta Reza.

"Apa maksud kalian membicarakan Non Fera seperti itu?" tanya asisten rumah tangga tersebut.

"Heh, kamu itu cuma pembantu jadi gak usah ikut campur, deh."

"Saya berhak ikut campur jika kalian membawa nama baik majikan saya!"

"Bukan urusanmu jika kita membicarakan majikanmu itu!" tegas salah satunya seraya pergi diikuti oleh yang lainnya.

Wanita itu tidak berbicara lagi, ia hanya diam sambil memikirkan bahwa siapa yang sudah menyebarkan berita tidak benar ke masyarakat. Sedangkan, Fera saja selama menikah dengan Reza tidak kunjung pergi keluar untuk berinteraksi dengan mereka.

"Jangan sampai Non Fera mendengar hal ini atau dia akan merasa kesal," ucapnya sambil masuk kembali ke area tempat itu.

Ia dikagetkan oleh Irene yang sudah berada di hadapannya tepat di ambang pintu masuk ke rumah itu.

"Ibu," ucapnya.

"Ina, Fera mana?" tanya Irene.

"Dia tadi masuk ke dalam, mungkin Nona ada di kamarnya."

Irene menatap kesal, lalu bergegas ke tempat yang dimaksud. Ia mengetuk pintu kamar Reza dengan kasar, sehingga Fera cukup terkejut.

"Iya, Ma?" tanya Fera sambil membuka pintu.

"Ada apa kamu bilang? Kerjaan kamu itu masih banyak, jangan seenaknya diam di kamar aja!"

"Maaf, Ma."

Irene membelalakkan matanya, lalu ia menyuruh Fera untuk menyeterika pakaiannya. Ia pun melakukannya, tetapi ternyata hasil dari pekerjaannya tetap saja tidak dihargai oleh Irene, ia bilang kalau Fera tidak bisa bekerja. Menyetrika baju saja tidak rapi sedikit pun.

Fera adalah orang biasa, ia tidak menggunakan seterika ketika berada di rumahnya karena memang tidak punya. Sehingga, ketika saat ini menggunakannya Fera pun tidak tahu.

"Dasar gak becus kerja, lain kali kamu belajar."

Wanita itu hanya mengangguk dengan ekspresi wajah datarnya. Bahkan, ketika Irene pergi pun Fera masihh berdiri menatap kepergiannya. Irene berbalik melihat ke arah gadis itu sambil mengatakan agar Fera melakukan pekerjaan lain.

"Kamu siapkan buat makan malam aja, nanti Reza pasti pulang pengen makan."

"Iya, Ma. Fera akan masak sekarang," jawab Fera.

Ia bergegas memasuki dapur, mencuci bahan-bahan untuk memasak, memotong beberapa sayuran dan melakukan hal yang lainnya. Ina datang ke sana karena ketika ia masih bersih-bersih ternyata mencium bau makanan dari dapur.

"Non Fera, ngapain masak? Udah-udah, Non. Biar Bibi aja yang masak, Non duduk aja di situ." Ina berbicara sambil mengambil pisau dan sayuran yang sedang dipotong oleh Fera.

Namun, tiba-tiba Irene datang ke sana menegur Ina agar tidak ikut campur memasak karena Fera mau membuat makanan untuk suaminya.

"Tapi, Bu. Kasian Non Fera kalau disuruh masak," protes Ina.

"Heh, saya itu majikan kamu. Saya yang menentukan nasib kamu di sini, jadi sebaiknya kalau bicara sama saya pikir-pikir dulu."

"Bi, udah saya aja yang masak." Fera berbicara pada wanita itu.

Dengan berat hati Ina pun mengangguk pelan, lalu pergi meninggalkan tempat tersebut. Irene pun berkata pada Fera agar melanjutkan pekerjaannya.

"Iya, Ma."

Ina berada di tempat lain, ia sedang merapikan beberapa hiasan yang ada di rumah itu. Ia memikirkan Fera, Ina merasa kasihan pada wanita itu karena selalu mengerjakan tugasnya sedangkan di pandang jelek oleh orang sekitar padahal itu tidaklah benar karena Ina tahu sendiri kenyataannya seperti apa?

'Saya tidak akan mungkin bisa melawan Ibu agar Non Fera tetap diam saja, tapi saya kasihan dia sebagai menantu malah harus bekerja keras di sini.' Ina membatin.

'Berbicara sama Pak Reza pun rasanya gak mungkin, gimana kalau dia gak percaya sama saya?'

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel BUKAN FILOSOFI
8.1
Alaska menolak keras perjodohan yang diatur orang tuanya demi mempertahankan hak menentukan jalan hidup sendiri. Padahal, ia adalah lelaki pelindung yang sangat tulus mencintai kekasihnya. Malangnya, kesetiaan dan keberanian Alaska justru dibalas pengkhianatan yang amat perih. Di tengah rasa sakit itu, tuntutan dari keluarganya terus datang mendesak. Kini, sanggupkah Alaska bertahan ketika komitmen serta ketulusan cintanya diuji begitu hebat?
Sampul Novel Gairah Terlarang Sang CEO!
9.0
Jordan Freemantle dilingkupi kemarahan besar akibat ulah Lawrence Brickman yang membawa lari uang proyek penting mereka. Begitu Chantal Brickman, anak perempuan Lawrence yang menawan, tiba di kediaman ayahnya di Malibu, Jordan segera menjadikannya sasaran balas dendam. Pengusaha angkuh ini menuntut Chantal melayani segala nafsunya demi membayar kerugian sang ayah. Tanpa jalan keluar, Chantal terpaksa tunduk di bawah kendali Jordan demi melunasi utang tersebut.
Sampul Novel Kelahiran yang Menghancurkan
9.2
Dalam novel modern bernuansa mafia ini, Alexander Santoso tega menyekap istrinya yang hamil tua, Alana, di ruang bawah tanah steril. Demi mengamankan warisan Teluk Barat Jaya untuk anak mendiang kakaknya, Alexander menyuntikkan obat penunda kontraksi pada Alana agar anak Elisa lahir lebih dulu. Meski Alana memohon demi keselamatan bayinya dan membantah tuduhan mementingkan harta, Alexander tetap mengabaikannya. Penyesalan mendalam baru datang setelah Alexander mendapati Alana dan anak mereka telah tiada akibat keputusannya yang kejam.
Sampul Novel Laluna
8.8
Bagi Laluna Renata Azuhra, pernikahan dengan Arka adalah mimpi yang terwujud. Namun, setelah lima tahun berjalan, kebahagiaan itu sirna saat sikap suami dan ibu mertuanya mendadak berubah drastis menjadi penuh kebencian. Di tengah kepedihan akibat perubahan misterius ini, Luna mencoba membuka hati pada sosok dari masa lalunya. Di saat itulah, rahasia besar yang menghancurkan rumah tangganya mulai terkuak. Kebenaran mengejutkan apakah yang sebenarnya selama ini disembunyikan?
Sampul Novel Mantan Istriku Hamil?!
9.4
Miliarder ibu kota bernama Lenny terjebak pernikahan hampa tanpa cinta. Demi menikahi wanita misterius dari cinta satu malamnya, ia memutuskan menceraikan sang istri. Namun beberapa bulan pasca-perceraian, Lenny sangat terkejut saat melihat mantan istrinya hamil tujuh bulan. Kecurigaan pun mulai menyelimuti benaknya, membuatnya bimbang apakah mantan istrinya itu telah berselingkuh dan mengkhianati komitmen pernikahan mereka selama ini.
Sampul Novel My Little Promise
9.6
Alika selalu terlihat ceria, menyembunyikan luka batin akibat kekerasan fisik dan verbal dari ayahnya. Ketangguhan mentalnya diuji di tengah trauma yang mendalam. Beruntung, sosok pelindung hadir menjadi perisai di hidupnya yang kejam. Namun, sebuah tragedi tak terduga datang menghampiri. Peristiwa memilukan tersebut seketika mengubah takdir hidup Alika selamanya, sekaligus menguji batas akhir kekuatan yang selama ini ia pertahankan.