APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel AKU JATUH CINTA KEPADAMU

AKU JATUH CINTA KEPADAMU

Kebencian Cinta Arlina runtuh saat mengetahui bahwa Tiano Albastia adalah pelindung rahasianya selama ini. Penyesalan mendalam pun menghantui Cinta begitu kebenaran terungkap. Sayangnya, tepat di saat segalanya menjadi jelas, Tiano justru memutuskan untuk pergi dan berpamitan. Di tengah perpisahan mendadak ini, apakah kekuatan perasaan mereka mampu menyatukan keduanya kembali, ataukah momen tersebut menjadi akhir abadi dari kisah mereka?
Bab
Bagikan

Bab 1

Suara petir yang saling bersahutan disertai kilatan cahaya di langit telah menghentikan langkah seorang gadis yang terburu-buru ingin pulang. Satu tangannya memegang daun talas yang cukup lebar untuk menutupi tubuhnya dari guyuran hujan yang semakin deras dan satu tangannya lagi memegang sebuah wadah yang terbuat dari anyaman bambu.

"Sebaiknya aku berteduh dulu di gubuk itu, ini hujannya malah semakin deras," gumamnya sendiri dengan kaki yang sudah tidak beralas sandal karena sengaja dilepas untuk menghindari terpeleset dari tanah yang licin.

Sebuah gubuk tua yang berdinding anyaman bambu yang sudah terlihat bolong di beberapa tempat, gadis itu pakai sementara untuk berteduh dari guyuran hujan yang tidak bersahabat.

Pintu tua yang telah usang perlahan gadis itu buka. Daun talas yang dipakai untuk melindungi dirinya tadi dari guyuran hujan, diletakan begitu saja di atas meja yang telah tua dimakan waktu.

"Lebih baik aku berteduh sebentar di sini, sangat bahaya bagiku jika melanjutkan perjalanan," gumam gadis itu melihat isi gubuk yang tidak terlalu besar.

Sebuah kursi tua satu-satunya yang ada di dalam gubuk, gadis itu pakai untuk meletakan wadah yang dari tadi tidak dilepas dari tangannya untuk meletakan wadah.

"Rokku basah dan kotor," gumamnya melihat ujung roknya yang selutut terlihat basah dan sedikit kotor terkena cipratan tanah.

Tiba-tiba terdengar suara petir yang menggelegar membuat gadis itu langsung berjongkok dan menutup telinganya disertai jeritan yang ke luar dari bibir kecilnya. "Aaaa!"

Belum habis dari rasa terkejut karena suara petir yang begitu kencang disertai kilatan cahaya, tiba-tiba pintu didorong seseorang dari luar dengan kencang.

"Ya Tuhan, aku sangat takut," terdengar suara seorang wanita.

Gadis itu langsung melihat siapa yang datang dengan posisi masih berjongkok serta tangan yang masih menutup telinganya.

"Rupanya ada orang di sini," wanita itu melihat gadis yang sedang berjongkok sehingga mata mereka beradu. "Syukurlah ternyata aku tidak sendirian."

Gadis itu berdiri. "Aku sedang berteduh di sini."

"Aku boleh ikut berteduh di sini?" Tanya wanita itu. "Aku baru dari kebun habis petik sayuran, tapi di jalan mau pulang hujan begitu deras dan petirnya sangat menyeramkan. Aku sangat takut."

"Silahkan saja kalau mau berteduh di sini. Gubuk ini juga bukan punyaku," jawab gadis itu. "Kita sama-sama numpang berteduh."

Tiba-tiba terdengar suara petir diluar begitu kencang disertai kilatan cahaya sehingga membuat kedua orang yang sedang berteduh di dalam gubuk berteriak kencang karena kaget. "Aaa!"

Keduanya langsung berjongkok dengan kedua tangan menutup telinga serta mata yang terpejam.

"Aku paling takut dengan petir," ucap wanita itu.

"Aku juga takut dengan petir," gadis itu melihat ke arah jendela yang terbuka sedikit dan terlihat hujan masih begitu deras.

"Apa tidak berbahaya kita berteduh di sini?" Tanya wanita itu.

"Mudah-mudahan tidak, kita mau berteduh di mana lagi? Hanya gubuk ini tempat yang paling aman. Jarak dari sini ke rumah penduduk sangat jauh."

"Iya," jawab wanita itu. "Ngomong-ngomong kita belum berkenalan. Aku Asih. Panggil saja aku Asih, walau sepertinya kamu lebih muda dariku."

"Aku Cinta," jawab gadis itu kembali berdiri.

"Nama yang cantik, secantik yang punya nama," puji Asih.

"Terima kasih," jawab Cinta melihat sebuah wadah dari bambu yang tidak jauh berbeda dari miliknya di atas meja berisikan sayuran segar dan cabe merah.

"Itu sayuran yang aku petik tadi dari kebun," Asih seperti tahu dengan apa yang sedang dipikirkan Cinta.

"Sayurannya segar-segar."

"Aku sendiri yang menanam sayurannya. Kalau kamu mau, boleh kamu ambil. Kita bagi dua," Asih mengambil wadah miliknya.

"Eh, tidak usah. Itu punyamu, pasti kamu sangat membutuhkannya sampai hujan-hujan kamu memetiknya," Cinta menolaknya.

"Tidak apa-apa. Ini juga terlalu banyak buatku. Di rumah aku hanya tinggal berdua dengan Nenek." Asih mengambil beberapa sayuran dalam wadah miliknya dan dimasukkan ke dalam wadah milik Cinta yang terlihat kosong.

"Benar ini tidak apa-apa?" Tanya Cinta untuk lebih memastikan.

"Iya, ini untukmu. Masak dengan enak sayurannya di rumahmu."

"Terima kasih," jawab Cinta senang melihat wadahnya sekarang terisi sayuran.

"Kamu sendiri darimana?" Tanya Asih. "Sampai bisa berada di tempat seperti ini."

"Aku tadi dari kebun. Niatnya mau mencabut singkong, tapi belum juga dapat singkongnya sudah hujan, turun begitu deras," jawab Cinta.

Selagi mereka asik bicara, tiba-tiba pintu didorong dari luar kemudian masuk tiga orang pria dengan tubuh setengah basah serta tangan yang memegang daun pisang yang lebar.

Cinta dan Asih serta tiga pria itu saling berpandangan dalam beberapa saat.

"Maaf, kami kira tidak ada orang," ucap salah satu pria yang tubuhnya lebih pendek dari kedua temannya.

"Biasanya kami kalau lewat gubuk ini tidak pernah ada orang," sambung pria yang kulitnya lebih putih melihat Cinta dan Asih dari atas sampai bawah.

Sementara pria yang satunya lagi tidak bicara, tapi sorot dari kedua bola matanya terlihat tidak bersahabat.

Cinta dan Asih tanpa sadar saling berpegangan tangan, karena melihat gerak-gerik dan mata ketiga orang tersebut sangat tidak bersahabat.

"Kalian berdua dari kebun?" Tanya pria berkulit putih melihat wadah yang ada di atas meja penuh dengan sayuran segar.

"Iya," jawab Asih mencoba bersikap sewajarnya agar tidak terlihat ketakutan.

Salah satu dari ketiga pria tersebut yang bertubuh pendek melangkah mendekati Asih dan Cinta. "Kalian hanya berdua di sini?"

"Iya," jawab Cinta semakin erat memegang tangan Asih. "Kami kehujanan."

"Rumahmu di mana?" Tanyanya lagi.

"Tidak jauh dari sini," jawab Asih tetap bersikap biasa saja.

"Setahuku kampung yang terdekat dari sini cukup jauh," ucap pria berkulit putih. "Kami sering melewati tempat ini, jadi kami tahu jarak setiap kampung ke kampung yang lainnya."

"Kalian bukan penduduk sini?" Tanya Cinta.

"Bukan, kami hanya sedang melewati tempat ini saja," jawabnya.

Tiba-tiba terdengar petir yang menggelegar sehingga membuat Cinta dan Asih menutup kedua telinganya karena terkejut, tapi berbeda dengan ketiga pria tersebut yang sama sekali tidak terpengaruh dengan suara petir.

Salah satu pria yang dari tadi tidak bicara, tiba-tiba datang mendekati Cinta dan Asih. "Kalian berdua sangat cantik."

Cinta dengan cepat memegang tangan Asih karena takut. "Terima kasih."

"Aku tidak bohong," ucapnya lagi sambil melihat Cinta dari atas sampai bawah. "Bukankah begitu teman-teman, gadis ini sangat cantik?"

"Iya betul. Sepertinya mereka kembang Desa," jawab pria berkulit putih.

Asih melihat pria yang ada di depannya sudah penuh dengan kecurigaan. Digenggamnya tangan Cinta jika sewaktu-waktu mereka berdua harus lari karena tindak tanduk ketiga pria tersebut sudah tidak wajar.

"Jangan takut, kami tidak berbahaya. Ha-ha-ha," pria yang bertubuh pendek tertawa.

Asih melihat ke arah jendela, hujan terlihat masih deras tapi tidak sederas tadi. "Hujan sudah mulai reda, kami akan pulang."

"Kenapa terburu-buru?" Tanya pria berkulit putih sambil menutup pintu rapat-rapat untuk mencegah kedua gadis itu ke luar.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta yang Tak Mungkin Kembali
8.0
Kematian sang ayah mendorong seorang wanita mengakhiri pernikahannya dengan Declan, seorang komandan batalion. Setelah mengelabui Declan agar menandatangani surat cerai dan keluar dari pekerjaannya, ia menyajikan hidangan perpisahan. Bukannya berterima kasih, Declan justru mencelanya karena makanan itu tidak disukai cinta pertamanya. Tanpa ragu, ia bersulang lalu pergi ke desa pegunungan. Dua minggu kemudian, mereka bertemu kembali di desa tersebut, memperlihatkan Declan yang dilingkupi penyesalan.
Sampul Novel Delasio
8.0
Kebiasaan Alesio mempermainkan wanita hancur seketika saat Adela mempermalukannya di depan publik. Namun, ketika musuh-musuh berdatangan untuk menjatuhkan Alesio, Adela justru hadir menyelamatkannya. Dari sana, hubungan mereka berkembang menjadi persahabatan erat. Sayangnya, kedekatan ini perlahan menguak rahasia kelam masa lalu yang saling terikat. Saat luka lama terungkap, Alesio memilih menjauh dan menyesali persahabatan yang kini dianggapnya tak pernah boleh ada.
Sampul Novel Dosen Killerku Ternyata CEO
7.9
Demi masa depan sang anak, Surya Dinata menjodohkan Alzena dengan Emilio Cullen, dosen blasteran yang berusia lima belas tahun lebih tua darinya. Padahal, Alzena sudah mempunyai kekasih bernama Jody. Di balik ketegasannya mengajar, Emilio rupanya seorang CEO pewaris takhta yang merahasiakan identitas aslinya. Akankah Alzena memilih cinta sejatinya bersama Jody, atau justru terjerat dalam rahasia besar suaminya yang menyembunyikan kebenaran?
Sampul Novel Hasrat Istriku
8.4
Naya menghadapi pilihan sulit antara mengejar mimpi dalam karier atau menjaga keutuhan rumah tangganya. Demi mempertahankan posisi di tempat kerja, ia terpaksa menyembunyikan status pernikahannya dari semua rekan kerja. Walau sangat menyayangi Ghiyas, ambisi besar Naya terus menguji kesetiaan cintanya. Di awal pernikahan mereka yang masih seumur jagung, ia kini dituntut untuk mengambil keputusan besar. Apakah ia akan memilih pekerjaannya atau mempertahankan suaminya?
Sampul Novel Terjerat Cinta Kakak Ipar
8.0
Kehidupan yatim piatu Ayunindira Santi berbalik total akibat sebuah wasiat terakhir dari mendiang kakak kandungnya. Demi memenuhi amanah tersebut, Santi terpaksa menyetujui pernikahan dengan mantan kakak iparnya sendiri demi mendapatkan perlindungan. Terjebak dalam komitmen pernikahan yang rumit dan tidak biasa ini, ia harus beradaptasi hidup bersama pria yang semula ia anggap sebagai keluarga. Akankah hubungan tanpa landasan cinta ini akhirnya menumbuhkan kebahagiaan sejati?
Sampul Novel TULANG RUSUK
8.5
Kisah tentang lima pria mapan yang berjuang dalam misi menemukan pasangan hidup sejati mereka. Di balik kesuksesan finansial yang telah diraih, perjalanan mencari sang tulang rusuk impian justru dipenuhi dengan berbagai dilema emosional. Apakah perjuangan cinta mereka akan berakhir dengan kebahagiaan yang indah, ataukah justru berbagai rintangan tak terduga siap menguji keteguhan hati mereka dalam menemukan belahan jiwa?