APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Dokter Ibumu, Bukan Pembantumu, Mas!

Aku Dokter Ibumu, Bukan Pembantumu, Mas!

Niat tulus Ayu merawat Ibu Lestari demi balas budi justru menyeretnya ke dalam perjodohan rumit dengan Tama. Pria itu telah memiliki kekasih dan sangat membenci Ayu. Namun, saat kondisi kesehatan ibunya memburuk, Tama terpaksa menikahi Ayu lewat perjanjian kontrak yang dingin. Di tengah pernikahan tanpa cinta ini, benih asmara perlahan tumbuh. Pengabdian tulus Ayu lambat laun mengikis kebencian Tama, mengubah luka hati menjadi cinta yang sulit dilepaskan.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Ingat ya, saya beri kamu satu bulan untuk mencari tempat tinggal baru. Kamu harus tinggalkan rumah ini. Kamu pikir rumah ini yayasan, menampung orang gratis."

****

'Kalo dengan perkataan halus kamu nggak ngerti juga, mungkin harus dengan cara seperti ini,' suara Tama terdengar penuh amarah. Matanya liar, dan wajahnya merah karena emosi.

'Dengan sedikit kekerasan, kamu pasti lebih paham. Lebih baik kamu rasakan ini, dan kita akhiri semuanya! Kamu cuma penghalang masa depan dan cita-cita saya!'

Tiba-tiba-Tama menenggelamkan wajah Ayu ke dalam bantal.

"HUAAHH!"

Ayu terbangun dengan napas memburu. Wajahnya pucat, keringat membasahi keningnya. Matanya nanar menatap sekeliling kamar yang gelap dan sunyi.

"Untung aja ... semuanya cuma mimpi," desah Ayu dengan suara gemetar.

Dadanya masih berdebar. Mimpi itu terasa sangat nyata-seseorang ingin menghabisinya.

"Ini sudah mimpi buruk yang ketiga ... ada apa sebenarnya? Kenapa perasaanku nggak enak terus?" gumamnya sambil memegang dada. Ia teringat mimpi semalam: seperti serigala yang seolah siap menerkamnya hidup-hidup.

Ayu bangkit dan segera membersihkan diri. Setelah itu, seperti biasa, sebelum matahari terbit, ia sudah bersiap ke dapur untuk menyiapkan makanan buat Ibu Lestari dan semua penghuni rumah.

"Pagi, Bi," sapa Ayu sambil tersenyum saat melihat Bi Inah sudah sibuk di dapur.

"Pagi, Mbak Ayu. Hari ini kita mau masak apa?" tanya Bi Inah sambil merebus air seperti biasa.

"Oh ya, Bi. Aku sudah buatkan roster menu, sudah aku tempel di pintu kulkas. Bibi bisa mulai siapkan bahannya, ya. Nanti aku yang masak."

Ayu menunjuk ke arah kulkas, lalu mulai membuka rak untuk mengambil bahan masakan.

"Baik, Mbak," jawab Bi Inah patuh.

Sudah hampir setahun Ayu tinggal di rumah Ibu Lestari. Mamanya, memintanya membantu sahabat lamanya itu. Sejak Ayu lulus dan ditugaskan di rumah sakit kota ini sebagai dokter gizi, mamanya menitipkan Ayu untuk membantu Ibu Lestari menjalani diet ketat karena komplikasi diabetes.

'Dia sudah banyak bantu kita, Yu,' kata sang ibu suatu hari.

'Terutama setelah papamu meninggal. Kamu bisa kuliah juga karena bantuan beliau.'

Ayu masih mengingat jelas pesan itu.

"Kalau bukan karena dua wanita hebat dalam hidupku-Mama dan Ibu Lestari-nggak mungkin aku tahan disini. Apalagi harus ketemu si-srigala sombong itu," gerutunya.

Ia kesal teringat kejadian semalam. Harga dirinya diinjak habis-habisan oleh Tama.

"Sum-pah, kalo bukan karena ingat sama dua wanita itu, udah ku sobek mulut si-Tama itu!" desisnya sambil memotong wortel dengan gerakan kasar. Seolah-olah wortel itu adalah wajah Tama.

Beberapa menit kemudian, semua menu sarapan telah siap di meja makan.

"Akhirnya, beres semua ya, Mbak," ujar Bi Inah sambil menyeka tangannya.

"Iya, Bi. Makasih ya, udah bantuin Ayu," jawab Ayu dengan senyum tipis, mencoba menekan kekesalannya.

Biasanya, Ayu mengurus semua sendiri. Tapi karena Tama menginap di rumah ibunya hari itu, Bi Inah ikut membantunya.

"Mbak Ayu belum siap-siap berangkat kerja? Biar bibi yang lanjut beresin di sini."

Ayu langsung mengangguk cepat. "Oke Bi, makasih ya. Aku beres-beres dulu."

Ia melangkah cepat, nyaris berbisik, lalu masuk ke kamarnya dengan terburu-buru. Ia harus menghindari pertemuan pagi itu dengan Tama-demi menjaga ketenangan Ibu Lestari.

Biasanya, Tama hanya mampir menengok ibunya sebulan sekali-itu pun tanpa menginap. Tapi kali ini berbeda. Sudah dua kali dalam sebulan ia datang, bahkan memilih untuk bermalam.

"Mudah-mudahan si-sombong itu belum bangun. Biar gak bikin mood aku rusak pagi-pagi begini," gumam Ayu sambil merapikan riasan di depan cermin, sikapnya tampak terburu-buru.

Ia memang tak tahu pasti jam berapa biasanya Tama bangun pagi. Selama ini mereka hampir tak pernah bertemu, apalagi menginap di rumah yang sama.

"Beres, deh," ujarnya pelan, memeriksa penampilannya sekali lagi sebelum beranjak.

Ketika Ayu sudah berangkat kerja, Tama keluar kamar dan menghampiri Ibunya.

"Bu, gimana kesehatannya?"

Tama bertanya serius sambil menyantap sarapan yang disiapkan Ayu.

Ibu Lestari, seperti biasa, memahami situasi. Setiap kali Tama datang, ia selalu membiarkan Ayu tidak bergabung di meja makan, demi menjaga suasana hati putranya.

"Ibu baik, bahkan jauh lebih baik sejak Dokter Ayu merawat Ibu. Ibu bersyukur sahabat Ibu punya anak gadis yang baik, pintar, dan perhatian seperti Ayu."

Ucapan itu sengaja diutarakan Ibu Lestari dengan nada hangat, memuji Ayu tanpa ragu. Ia ingin Tama menyadari betapa penting dan nyamannya kehadiran Ayu bagi dirinya.

"Tapi Bu ... Ibu mau pertimbangkan usulan Tama, ya? Tama punya kenalan dokter yang jauh lebih bagus dari si-gadis kampung itu."

Nada Tama terdengar dingin. Ia tetap berusaha membujuk sang ibu agar mengganti Ayu.

"Ibu, 'kan selalu nurutin kamu, Tam. Tapi hasilnya? Nggak pernah benar-benar memuaskan, 'kan? Sekarang Ibu sudah cocok dengan Ayu. Kenapa sih kamu nggak coba bersikap baik sama dia?"

"Gadis kampung songong itu? Bersikap baik? Duh, Ibu ada-ada aja. Dia itu lebih cocok jadi pembantu daripada dokter!"

Tama mendengus kesal, sudah beberapa kali ia mencoba meyakinkan ibunya-dan selalu gagal.

"Tama, dengar Ibu baik-baik. Ibu jauh lebih sehat sekarang sejak Ayu di sini. Lihat sendiri, 'kan? Dulu hampir tiap bulan Ibu harus dirawat di rumah sakit. Sekarang? Sejak Ayu merawat, Ibu nggak pernah masuk rumah sakit lagi."

"Tapi Bu-"

"Sudahlah, Tama. Ibu nggak mau bahas ini lagi. Ibu mau siap-siap. Hari ini Ibu ada kegiatan, dan Bi Inah yang akan antar. Kamu nggak kerja, Tam?"

"Iya Bu, nanti. Ibu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Tama."

"Mm ... kamu juga hati-hati, ya."

Ibu Lestari bangkit dari meja makan dan berjalan ke kamar untuk bersiap-siap.

Tak berapa lama Ibu Lestari dan Bi Inah sudah beranjak pergi dari rumah itu dan tinggal Tama sendirian di rumah.

Rumah terasa sangat sepi. Semua penghuni telah menjalani aktivitas masing-masing.

Tama sengaja tidak ke kantor hari ini. Ia memilih bekerja dari rumah ibunya, setelah sebelumnya menyerahkan sebagian tugas pada sekretarisnya.

"Gimana caranya meyakinkan Ibu, ya?" gumamnya sambil mondar-mandir di ruang tamu. "Kayaknya makin susah aja. Harus cari strategi lain. Tapi apa?"

Ia menghentikan langkahnya, wajahnya tampak serius. Sepanjang hari, di tengah kesibukannya, pikirannya terus dipenuhi upaya mencari solusi-hingga tanpa sadar, hari telah beranjak sore.

"Ya ... satu-satunya cara adalah mendesak Ayu-si anak kampung itu-untuk pergi dari rumah ini. Bagaimana pun caranya."

Tiba-tiba-

Ceklek.

Suara pintu depan terbuka.

Ayu baru saja pulang kerja, tanpa tahu bahwa Tama masih berada di rumah.

"Enak ya kamu, pulang kayak di rumah sendiri," sindir Tama lantang dari ruang tengah.

Ayu terkejut. Ia tidak menyangka pria itu masih di sana.

"Ya ampun, ngagetin aja! Mas, Kamu tuh kayak hantu. Nggak ada kerjaan, ya? Nungguin orang buat disindir?"

Ayu berusaha tetap tenang, meski jelas tampak lelah. Ia malas meladeni pria yang sejak awal hanya ingin mengusirnya.

Tama melangkah mendekat.

"Eh, makin nggak tahu diri. Jalan aja ngeloyor gitu, nggak ada sopan-sopannya."

Tama kehilangan kesabaran.

"Ayu Putri Wulandari! Saya mau bicara serius. Dengarkan saya!"

Ia mendekat cepat dan menarik lengan Ayu dengan kasar. Tubuh Ayu kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam pelukannya.

Keduanya terdiam sejenak. Mata mereka saling bertemu, ada kekakuan dalam tatapan yang tak sengaja terkunci itu.

"Ih! Apa-apaan sih kamu, Mas? Main tarik aja!"

Ayu langsung menjauh, berusaha menjaga jarak.

"Ingat ya," kata Tama, nadanya tajam. "Saya kasih kamu waktu satu bulan. Cari tempat tinggal lain. Kamu harus angkat kaki dari rumah ini. Ini bukan yayasan sosial buat orang nggak jelas."

Ayu membalas dengan tatapan tajam.

"Dengar ya, Tuan Tama yang terhormat. Saya akan sangat senang pergi dari rumah ini. Nggak usah tunggu bulan depan, hari ini pun saya bisa pergi. Tapi saya akan dengar keputusan Ibu Lestari. Bukan kamu."

Tama makin geram.

"Saya nggak peduli! Pokoknya, sebulan lagi kamu harus pergi. Atau jangan-jangan kamu punya niat lain, ya? Kamu mau rebut harta Ibu saya? Nunggu ibu saya lengah, baru kamu main licik?"

Ayu mengepalkan tangan, menahan amarah.

"Sudahlah, kamu makin ngelantur, Mas!"

Ia berbalik, meninggalkan Tama begitu saja.

Tama mengejarnya, ia menarik baju Ayu hingga sobek dan terbuka bagian lengannya ... Tapi mendadak-

"Aw!"

KREKK!

Kainnya robek. Lengan Ayu terbuka.

Ayu membeku. Matanya menatap Tama dengan campuran syok dan amarah.

Tama pun terdiam. Hening.

Tiba-tiba-

"TAMA!"

Suara itu membelah udara.

Mereka menoleh bersamaan.

Seseorang berdiri di ambang pintu.

Wajahnya tegang. Matanya menajam.

Dan langkahnya mulai mendekat.

***

"Wanita harus kuat dalam menghadapi kesulitan, karena kekuatan itu akan membuatnya menjadi lebih tangguh dan mandiri."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dicerai kakak Dinikahi adik
8.0
Setelah rumah tangganya dengan Win kandas, Iyas mencoba menata ulang hidupnya yang hancur. Ia mendirikan sebuah toko bunga sebagai pelarian demi menghapus memori kelam masa lalu. Tak disangka, takdir mempertemukannya dengan Bhaga, adik kandung sang mantan suami. Walau Bhaga terikat erat dengan sumber luka lamanya, pria itu justru membawa kedamaian. Di balik rasa benci dan trauma yang mendalam, Iyas perlahan kembali merasa dihargai serta pantas dicintai oleh sosoknya.
Sampul Novel Gadis Penyuka Hujan
8.5
Setiap kali rintik hujan membasahi malam yang dingin, seorang siswi SMA kembali terjerat dalam memori kelam masa lalunya. Di balik tirai air itu, ia memendam duka mendalam serta realitas pahit sebagai remaja yang sedang mengandung. Perjalanan emosional ini menyoroti perjuangannya menghadapi luka lama yang terbuka kembali, sembari memikul beban hidup yang teramat berat di usia muda. Kisah pilu tentang rahasia, kesedihan, dan kenyataan hidup yang tak terelakkan.
Sampul Novel PERFECT PARTNER
8.4
Arsitek menawan nan keras kepala, Amanda Altakendra, mengunci rapat hatinya akibat luka masa lalu. Namun, pertahanan itu goyah setelah ia tak sengaja bersua dengan Darko Dio Archelaus di sebuah klub malam. Penguasa Archelaus Corp yang dingin itu seketika terobsesi dan mengerahkan segala upaya untuk mengikat Amanda sebagai pendamping hidupnya. Mampukah sang triliuner meruntuhkan ego Amanda dan menyembuhkan traumanya?
Sampul Novel Random Husband
7.8
Kebohongan besar kini menjerat Fransisca alias Caca setelah rencana pernikahannya dengan pengusaha asing batal total. Akibat telanjur sesumbar, rasa gengsi menghalanginya untuk berterus terang kepada teman-temannya. Di tengah kepungan tanya saat pesta berlangsung, kepanikan luar biasa melanda dirinya. Demi menjaga harga diri, Caca nekat menunjuk laki-laki asing yang tak dikenalnya secara acak, lalu mengklaim pria tersebut sebagai calon suaminya.
Sampul Novel Terpaksa Menikahi Bad Boy
9.5
Demi menyelamatkan nyawa Kaisar, ia dan Ratu terpaksa menikah akibat sebuah salah paham yang fatal. Rumah tangga mereka pun diwarnai perseteruan tiada henti layaknya anjing dan kucing yang enggan berdamai. Namun, di tengah pertikaian itu, berbagai misteri besar satu demi satu mulai tersingkap. Lambat laun, rahasia yang terkuak tersebut mengubah kebencian di antara mereka menjadi benih cinta, hingga akhirnya menyatukan hati keduanya dalam takdir yang tak disangka.
Sampul Novel THE SECRET BEHIND DEATH
8.3
Albian yang dulunya dikenal sebagai mahasiswa berprestasi, ramah, dan sopan, kini mengalami perubahan drastis dalam hidupnya. Setelah terbangun dari koma akibat sebuah insiden misterius, ia dianggap aneh oleh lingkungan sekitar. Perubahan ini membuatnya terasing dan didera kesepian mendalam. Bahkan, orang-orang terdekat serta sosok yang ia cintai memilih pergi menjauh. Kini, ia harus berjuang menghadapi kenyataan pahit tersebut sendirian.