APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku Dokter Ibumu, Bukan Pembantumu, Mas!

Aku Dokter Ibumu, Bukan Pembantumu, Mas!

Niat tulus Ayu merawat Ibu Lestari demi balas budi justru menyeretnya ke dalam perjodohan rumit dengan Tama. Pria itu telah memiliki kekasih dan sangat membenci Ayu. Namun, saat kondisi kesehatan ibunya memburuk, Tama terpaksa menikahi Ayu lewat perjanjian kontrak yang dingin. Di tengah pernikahan tanpa cinta ini, benih asmara perlahan tumbuh. Pengabdian tulus Ayu lambat laun mengikis kebencian Tama, mengubah luka hati menjadi cinta yang sulit dilepaskan.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Saya bisa mencari pengganti kamu. Bahkan lebih baik dari kamu. Apakah kamu pikir hanya kamu yang hebat? Hanya kamu yang bisa merawat ibu saya?"

****

"Saya sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke rumah ini!" teriak Tama. Matanya liar, menengok ke kiri dan ke kanan, menelusuri ruang tamu yang tampak sepi.

Rumah itu berdiri megah di tengah perumahan elite-bangunan dua lantai bergaya kolonial dengan pilar-pilar tinggi di teras depan.

Dindingnya berwarna putih gading, berpadu dengan jendela-jendela besar berbingkai kayu cokelat tua. Taman depan yang biasanya terawat kini tampak sepi, hanya terdengar suara angin menyapu dedaunan kering.

Di dalam, lantai marmer mengilap memantulkan cahaya lampu gantung kristal yang temaram. Lorong-lorong panjang, ruang tamu yang luas dengan sofa beludru abu-abu, dan rak buku tinggi di ruang kerja-semuanya sunyi.

Tak ada suara televisi, tak ada denting sendok di dapur, hanya gema langkah kaki Tama yang terdengar menggema saat ia menyusuri setiap sudut, mencari Ayu yang entah di mana.

Meski besar dan megah, rumah itu hari ini terasa hampa. Dinginnya bukan lagi karena AC yang menyala, melainkan karena kehangatan yang telah hilang dari dalamnya.

"Maunya apa sih kamu, Ayu? Apakah harus  pakai cara keras dulu baru kamu ngerti?!" suaranya semakin lantang saat ia mulai melangkah lebih dalam ke rumah ibunya.

Tama berjalan dengan napas memburu, kakinya menghentak lantai rumah itu. Ia membuka satu per satu ruangan. Dapur kosong. Ruang belakang juga. Tinggal satu tempat yang belum ia cek-kamar ibunya.

"Ceklek ...."

Pintu kamar terbuka keras. Tama berdiri di ambang pintu, matanya langsung menangkap sosok Ayu yang sedang duduk di tepi ranjang. Ia tengah menyelimuti seorang wanita tua yang berbaring lemah-Lestari Widyastuti, ibu Tama.

"Kamu lagi-lagi di sini?!" Tama mendekat dengan tatapan menusuk. "Keluar! Sekarang juga!" Suara Tama sedikit pelan. Namun, tegas.

Ayu menoleh dengan tenang, meskipun jelas terlihat ketakutan. Tapi ia tetap menjaga nada suaranya lembut, "Tolong pelan-pelan, Mas. Ibu baru saja bisa tertidur. Tadi malam beliau gelisah terus."

Tama tidak peduli. Ia meraih pergelangan tangan Ayu dengan kasar, menariknya keluar dari kamar.

"Mas, pelan-pelan ...."

Ayu menoleh sejenak ke dalam kamar, memastikan selimut ibunya Tama tidak tersingkap. Dengan tangan bebasnya, ia menarik pintu perlahan dan menutupnya rapat.

"Ceklek ...."

Sunyi sejenak. Hanya suara napas mereka yang terdengar di lorong rumah itu.

Begitu mereka cukup jauh dari kamar Ibu Lestari, Ayu menghentakkan tangannya, melepaskan genggaman kasar Tama.

"Apa-apaan kamu, Mas, narik aku kayak gini?! Sakit tahu!" Ayu mengusap lengannya yang memerah, matanya memancarkan kemarahan yang selama ini ia tahan.

Tama menatapnya tajam. "Ayu, kamu ngapain lagi di sini, hah?"

"Aku hanya membantu merawat ibumu," jawab Ayu tenang, berusaha tetap sabar meski hatinya berkecamuk.

"Kamu nggak pantas ngerawat ibu saya! Sudah berapa kali saya bilang sama kamu nggak usah ikut campur urusan keluarga saya?! Kamu nggak punya telinga?!"

Tama mengacungkan jarinya tepat di depan wajah Ayu, nadanya sombong dan merendahkan. "Saya bisa cari pengganti kamu. Yang lebih baik, lebih profesional. Kamu bukan siapa-siapa!"

Tama marah besar. Bukan kali pertama ia meminta Ayu meninggalkan rumahnya dan berhenti merawat ibunya.

Setelan kemeja biru yang masih rapi sepulang kerja menambah kesan wibawa. Kata-katanya yang biasanya terdengar tenang dan penuh pertimbangan, kerap membuat orang lain menaruh hormat padanya.

Namun kali ini, amarahnya menghapus semua itu. Kewibawaan yang biasa ia jaga, luluh lantak oleh emosi yang meledak tanpa kendali.

Ayu mengatupkan rahangnya, menahan amarah. Tapi kali ini, ia tak bisa diam.

"Aku nggak butuh izin darimu untuk membantu ibumu. Aku di sini karena Ibu Lestari sendiri yang memintaku."

Tama melotot, suaranya meninggi. "Kamu pikir kamu siapa?! Berani-beraninya kamu melawan saya!"

Ayu menghela napas, lalu menatap Tama dengan dingin. "Aku tahu siapa kamu. Anak dari ibu yang sedang tertidur itu. Tapi aku nggak ngerti-kenapa kamu harus selalu merasa paling tinggi dan merendahkan orang lain?"

"Kamu bukan dewa, Tama. Dan tidak semua orang di dunia ini akan tunduk di bawah kakimu!"

Tama mengepalkan tangannya, merasa harga dirinya diinjak.

"Kamu nggak tahu tempat kamu di rumah ini! Kamu cuma dokter rendahan! Jangan sok bicara seperti kamu tahu segalanya!"

"Tapi aku tahu satu hal," sahut Ayu cepat, "Aku punya hati nurani. Dan aku peduli dengan ibumu. Sementara kamu? Datang-datang cuma bisa marah dan menyuruh orang pergi. Kapan terakhir kali kamu duduk dan bicara dengan ibumu? Tahu kamu, beberapa bulan yang lalu, beliau menahan sakit sendiri!"

Perkataan Ayu membuat Tama tersentak. Namun, egonya tak mau kalah.

"Saya nggak mau dengar ocehan kamu lagi. Sekarang juga, pergi dari rumah ini!" bentaknya sambil menunjuk ke arah pintu.

Ayu menatapnya tajam, lalu membalas, "Aku nggak akan pergi. Selama Ibu Lestari masih butuh aku, aku akan tetap di sini."

"Kalau kamu nggak keluar sekarang, aku akan panggil polisi!" ancam Tama.

"Silakan!" balas Ayu, matanya menyala. "Aku nggak takut! Aku di sini karena permintaan ibumu. Bukan kamu. Dan hanya Ibu Lestari yang punya hak untuk menyuruhku pergi. Bukan kamu!"

Tama melangkah maju, jarinya menunjuk tajam ke wajah Ayu.

"Kamu akan menyesal, Ayu. Aku akan tunjukkan siapa aku sebenarnya! Dan saat penyesalan itu datang, jangan harap aku akan memaafkanmu!"

Ayu hanya mendengus. "Aku nggak peduli," katanya dingin, lalu berbalik meninggalkan Tama.

Tama menatap punggung Ayu dengan amarah yang membara.

"Saya akan buat kamu menyesal seumur hidupmu!" teriaknya.

Ayu tak menoleh. "Ancamanmu nggak akan menghentikanku," jawabnya lantang, lalu melangkah mantap menjauh. Ia langsung pergi ke kamarnya.

'Laki-laki aneh ...,' gumam Ayu dalam hati sambil duduk di tepi ranjang. Tangannya sibuk merapikan tempat tidur dengan sapu lidi, membenahi seprai, lalu menggemburkan bantal yang terlihat agak kempes.

'Sejak pertama kali ketemu dia beberapa bulan lalu, sikapnya nggak pernah berubah. A rogan, pemarah, dan sombong. Sekarang malah makin menjadi-jadi,' pikirnya, sembari menggeleng pelan.

Ayu mendesah pelan, lalu menepuk-nepuk bantal sebelum merebahkan diri.

"Kasihan Ibu Lestari ... gimana nggak makin sakit, kalau anaknya kayak gitu?" bisiknya lirih, nyaris seperti gumaman pada dirinya sendiri.

Ia menatap langit-langit kamar, tatapannya kosong tapi pikirannya sibuk.

"Pantes aja nggak ada perawat yang tahan lama kerja di sini. Baru liat anak bosnya aja pasti langsung mikir dua kali. Kalau  bukan karena janji sama Mama dan permintaan Ibu Lestari, mungkin aku juga udah pergi."

Ayu menghela napas dalam-dalam. Ia bisa merasakan dadanya sesak. Amarah dan lelah bercampur jadi satu.

"Yang sabar, Yu ... kamu pasti bisa," ujarnya lirih, menenangkan dirinya sendiri. "Ini semua karena Mama ... dan demi Ibu Lestari juga. Sahabat sejati Mama ... aku harus kuat."

Ia menutup mata perlahan, berusaha menarik napas tenang dan mengusir bayangan wajah Tama dari benaknya.

Malam kian larut. Suasana rumah sunyi. Detik demi detik berlalu, suara jangkrik samar terdengar dari luar jendela.

Tiba-tiba, pintu kamar berderit pelan ... nyaris tak terdengar.

Seseorang melangkah masuk perlahan.

Bayangan tubuh tinggi berdiri di sisi tempat tidur Ayu. Tangannya menggenggam erat sebuah bantal.

Tanpa suara, sosok itu mendekat-dan dalam sekejap, bantal itu diangkat tinggi, siap ditekan ke wajah Ayu yang sedang tertidur pulas ....

Srettt-

***

"Amarah adalah api yang membakar diri sendiri, jika tidak dikendalikan, maka akan menghancurkan segalanya."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dicerai kakak Dinikahi adik
8.0
Setelah rumah tangganya dengan Win kandas, Iyas mencoba menata ulang hidupnya yang hancur. Ia mendirikan sebuah toko bunga sebagai pelarian demi menghapus memori kelam masa lalu. Tak disangka, takdir mempertemukannya dengan Bhaga, adik kandung sang mantan suami. Walau Bhaga terikat erat dengan sumber luka lamanya, pria itu justru membawa kedamaian. Di balik rasa benci dan trauma yang mendalam, Iyas perlahan kembali merasa dihargai serta pantas dicintai oleh sosoknya.
Sampul Novel Gadis Penyuka Hujan
8.5
Setiap kali rintik hujan membasahi malam yang dingin, seorang siswi SMA kembali terjerat dalam memori kelam masa lalunya. Di balik tirai air itu, ia memendam duka mendalam serta realitas pahit sebagai remaja yang sedang mengandung. Perjalanan emosional ini menyoroti perjuangannya menghadapi luka lama yang terbuka kembali, sembari memikul beban hidup yang teramat berat di usia muda. Kisah pilu tentang rahasia, kesedihan, dan kenyataan hidup yang tak terelakkan.
Sampul Novel PERFECT PARTNER
8.4
Arsitek menawan nan keras kepala, Amanda Altakendra, mengunci rapat hatinya akibat luka masa lalu. Namun, pertahanan itu goyah setelah ia tak sengaja bersua dengan Darko Dio Archelaus di sebuah klub malam. Penguasa Archelaus Corp yang dingin itu seketika terobsesi dan mengerahkan segala upaya untuk mengikat Amanda sebagai pendamping hidupnya. Mampukah sang triliuner meruntuhkan ego Amanda dan menyembuhkan traumanya?
Sampul Novel Random Husband
7.8
Kebohongan besar kini menjerat Fransisca alias Caca setelah rencana pernikahannya dengan pengusaha asing batal total. Akibat telanjur sesumbar, rasa gengsi menghalanginya untuk berterus terang kepada teman-temannya. Di tengah kepungan tanya saat pesta berlangsung, kepanikan luar biasa melanda dirinya. Demi menjaga harga diri, Caca nekat menunjuk laki-laki asing yang tak dikenalnya secara acak, lalu mengklaim pria tersebut sebagai calon suaminya.
Sampul Novel Terpaksa Menikahi Bad Boy
9.5
Demi menyelamatkan nyawa Kaisar, ia dan Ratu terpaksa menikah akibat sebuah salah paham yang fatal. Rumah tangga mereka pun diwarnai perseteruan tiada henti layaknya anjing dan kucing yang enggan berdamai. Namun, di tengah pertikaian itu, berbagai misteri besar satu demi satu mulai tersingkap. Lambat laun, rahasia yang terkuak tersebut mengubah kebencian di antara mereka menjadi benih cinta, hingga akhirnya menyatukan hati keduanya dalam takdir yang tak disangka.
Sampul Novel THE SECRET BEHIND DEATH
8.3
Albian yang dulunya dikenal sebagai mahasiswa berprestasi, ramah, dan sopan, kini mengalami perubahan drastis dalam hidupnya. Setelah terbangun dari koma akibat sebuah insiden misterius, ia dianggap aneh oleh lingkungan sekitar. Perubahan ini membuatnya terasing dan didera kesepian mendalam. Bahkan, orang-orang terdekat serta sosok yang ia cintai memilih pergi menjauh. Kini, ia harus berjuang menghadapi kenyataan pahit tersebut sendirian.