APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Aku (Bukan) Anak Mafia

Aku (Bukan) Anak Mafia

Kehidupan damai Rehan Putra Narendra lenyap setelah tragedi mengubahnya menjadi sosok emosional. Di usia tujuh belas tahun, pelajar SMA ini dipaksa memimpin klan mafia milik ayahnya. Beban beratnya kian bertambah saat ia harus menikahi musuh bebuyutannya di kelas. Kini, Rehan terjebak di tengah kerasnya dunia kriminal dan konflik benci jadi cinta bersama sang istri.
Bab
Bagikan

Bab 2

Siang itu di tengah pelajaran bahasa indonesia berlangsung, hanya satu jam pelajaran di hari rabu, Farrel yang merupakan wakil ketua kelas, di minta mengumpulkan tugas teman-teman, sebab Rehan ketua kelas sedang izin tidak enak badan. Farrel mengumpulkan satu per satu tugas temannya, yaitu membuat Cerpen dengan tema 'Patah Hati'.

Saat setelah ia mengumpulkan dan menaruh di atas meja Rizky, tiba-tiba Farrel pingsan saat akan kembali ke meja tempat duduknya,

"Astaghfirullah hal 'adziim!" ucap, Rizky.

ia yang sebenarnya menyadari, muridnya nampak pucat, ia hanya memperhatikan.

"Anak-anak jangan berisik, lanjutkan tugasnya. Bapak bawa Farrel ke UKS dulu," Rizky mengintrupsi murid-muridnya.

Rizky berjalan dengan cukup kepayahan sebab ia menggendong tubuh Farrel yang lumayan berisi.

"Ada apa, pak?" Tanya salah satu guru. yang baru saja keluar dari kelas

"Muridku ada yang pingsan." Jawabnya, sambil tangannya mendorong pintu ruang UKS.

"Ah iya, pak. Semoga baik-baik saja," ucapnya. Lalu berlalu masuk ke kantor, khusus ruang guru.

Rizky dengan pelan meletakan tubuh Farrel di atas tempat tidur, lalu ia melonggarkan dasinya, dan mengambil minyak hangat untuk di balurkan ke tubuh Farrel yang kulit wajahnya nampak pucat

"Aah..." rintih Farrel, ia menyentuh perutnya, matanya masih terpejam.

"Farrel, bangun, apa yang kamu rasakan?" Tanya Rizky.

"Aah, perutku perih," katanya, dan ia seakan ingin muntah, namun tidak bisa, Dan ia kembali pingsan, tubuhnya lemas terkulai,

Rizkypun lari ke ruang kelasnya, dengan tergesa-gesa, untungnya ruang kelas 11 Bahasa, dekat dengan UKS.

"Tomy, dan Izmir ikut Bapak ya, temani Farrel, kita bawa ke rumah sakit,"

"Ke rumah sakit, pak?" Tanya Rasya.

"Iya, takut jika kenapa-napa, barusan bangun lalu pingsan lagi." terang Rizky. "Bapak siapkan mobil, bawa Farrel ke parkiran. pelan-pelan. Yang lain bisa membantu juga, siapa nanti yang ikut ke rumah sakit, dua anak saja ya," perintah Rizky,

Beberapa anak duduk di bangku depan kelas, hanya diam tidak menanggapi. Ia sibuk menulis tugas yang di berikan Rizky, pak gurunya.

Farrel di masukan ke mobil sang gurunya, mobil itu melaju pelan, keluar gerbang sekolah, menuju rumah sakumit terdekat.

Di rumah sakit,

Farrel di bawa ke UGD, langsung di tangani dokter yang jaga.

"Kalian sebelumnya pernah lihat Farrel pingsan?" tanya pak Rizky,

"Tidak pernah pak." jawab Tomy,

"Ada yang tahu orang tuanya?" tanya Rizky,

"Pak, Farrel itu anaknya pendiam, jarang berkumpul sama kita-kita," jawab Izmir.

"Ya kita tunggu hasilnya saja ya." sahut pak Rizky,

Dan tidak lama Dokter yang memeriksa keluar, dengan seorang perawat.

"Keluarga pasien?" tanya perawat tersebut.

"Saya Dok," jawab pak Rizky.

"Orang tuanya?" tanyanya,

"Biar saya yang mewakili. Saya Wali kelasnya, Bagaimana dengan murid saya?"

"Hhmm... Baik, pak. Silakan Bapak daftar ke bagian administrasi, murid Bapak harus di rawat, ada gejala magh akut, mungkin pola makan anak tersebut tidak teratur, Kondisi pasien sangat lemah, Selain itu pasien sepertinya kecapek'an dan stress," terang Dokter,

"Dia baru kelas sebelas, kecapek'an dan stress, ada apa?" batin pak Rizky, sebab anak seusianya seharusnya sedang masa-masa mencari jati diri, menikmati masa remaja, Mencari hal-hal yang baru.

"Iya,,Sus." jawab pak Rizky, singkat.

"Tomy Izmir, Bapak ke bagian administrasi dulu, salah satu dari kalian bisa pergi cari makan siang dulu dan satunya temani Farrel," pinta Rizky, ia ingin membuka dompetnya, mengambilkan sejumlah uang, namun Tomy dengan segera berkata.

"Bapak segera ke bagian administrasi saja, saya beli makan siang, biar Izmir temani Farrel, saya ada uang kok pak," Tomy menimpali.

Rizky menatap Tomy yang tingginya hampir sama dengan dirinya, lalu mengangguk sambil melempar senyum.

"Farrel akan di pindah di ruang perawatan, kamu temani sebelum Bapak kembali, Bapak sekalian menghubungi keluarganya, ya." terang Rizky, Izmir hanya mengangguk, Jika guru lain belum tentu mau membawa muridnya ke rumah sakit, sampai di belain menanggung biaya pendaftaran, batin Izmir, sebab ia sedikit mengenal guru-guru yang ada di SMA nya.

Di sisi lain, Qiila baru sampai di depan rumah sakit, ia turun dari taksi. Ia bertugas jam dua siang sampai jam lima sore, tergantung pasien yang datang, sebab ia di tugaskan di UGD.

Dari kejauhan, ia seakan melihat sosok yang ia kenal, yaitu suaminya, seharusnya masih jam sekolah tapi kenapa ada di sini, Qiila, membatin sambil melirik jam tangannya.

"Mas Rizky. Mas sedang apa di sini?" tanya Qiila, saat sudah dekat di depan ruang bagian pendaftaran

"Eeh sayang," panggil pak Rizky, Qiila menyambut uluran tangan suaminya, ia mencium punggung tangan suaminya, dan Rizkypun mencium intens kening Qiila. Kebiasaan saat bertemu atau saat pamit bepergian, tidak menghiraukan pandangan orang di sekitarnya.

"Muridku tadi ada yang pingsan." jawabnya.

"Terus sekarang?"

"Baru selesai di tangani, dan akan di pindah ke ruang perawatan, ayok ikut. Tugasnya belum mulai kan?" ajak pak Rizky, ia menarik lembut tangan Qiila. Qiila hanya menurut, Rizky juga sudah menyelesaikan pembayaran daftar masuk ruang perawatan Farrel.

"Tadi muridku pingsan, aku bawa ke UKS, sadar, terus pingsan lagi, nggak tega anak itu sangat pucat, jadi aku bawa ke sini di temani dua teman sekelasnya, aku lupa bawa ponsel, jadi susah mau menghubungi keluarganya, mau nanya ke sekolahnya buat di mintai alamat rumahnya, mungkin nunggu anak itu bangun, sekarang sudah di ruang perawatan'" terangnya panjang, namun ia juga bingung, anak seusianya bisa sakit karena kecapek'an dan stress. Padahal sekolah nya termasuk sekolah anak kalangan menengah ke atas. Susah bagi anak dengan kehidupan biasa masuk SMA tersebut, kecuali di dukung dengan otak cemerlangnya. Dan masuk jalur beasiswa. Ya memang Farrel masuk SMA dengan jalur beasiswa.

Di dalam ruang perawatan. Farrel masih tertidur, entah tidur entah masih pingsan. Nampak pucat wajahnya, tangan kirinya terpasang jarum saluran infus. pak Rizky masuk ke ruang rawatnya, dengan Qiila mengekor di belakangnya.

"Izmir, Bagaimana sudah bangun belum?" Tanya Rizky, saat ia masuk ruangan,

"Belum, pak." jawab Izmir, pandangannya teralihkan, ia melihat Qiila di sampingnya.

"Oh iya, ini istri Bapak, namanya Qiila," menyadari Izmir menatap kagum ke wanita si belakang gurunya, tanpa di minta Rizky memperkenalkan diri.

"Saya Izmir, Bu," ucap Izmir, sambil menyalami Qiila, Qiila merasa geli di panggil Ibu. Qiila hanya mengangguk, sambil mengulurkan tangannya.

"Di kelas, Farrel dekat sama siapa?" tanya Rizky,

"Hhm, si Rehan sih pak, tapi Rehan nya lagi tidak masuk, lagi sakit juga katanya," jawab Izmir.

"Rehan sama Farrel sama-sama pendiem, tapi Farrel lebih suka menyendiri," lanjut izmir.

"Begitu ya?"

"Mas, aku mau shalat dulu ya," pamit Qiila,

"Iya, bareng saja." jawab pak Rizky.

Namun saat Keduanya mau pamit sebentar ke Izmir, Farrel mengigau

"Aayah... ayah, jangan pergi.. ayah, Ayah Arel ikut, Ayah.. aah Ayah, Arel kangen...ayah...ay... yaah!" Igaunya, keringat dinginya merembes, keluar dari pori-pori. Napasnya tidak beraturan.

"Farrel, bangun.. Rel!" panggil Izmir.

"Farrel, dengerin suara Bapak, Farrel bangun. Farrel kembali." pak Rizky menepuk nepuk pipi Farrel. Sedangkan Farrel sendiri, masih di alam bawah sadar.

"Farrel bangun." ucap pak Rizky dengan lembutnya.

Dan mata Farrel terbuka tiba-tiba, pandanganya kosong, menerawang menatap langit-langit,

"Farrel sadar, Nak," ucap pak Rizky.

"Ayah, ayah...di mana Ayah?" tanyanya,

"Ini Bapak." ucap pak Rizky, Mencoba menyadarkan Farrel, meskipun sudah sadar, pikiranya kosong.

"Sini, Mas," Qiila menghampiri Farrel, Ia menyentuh lembut keningnya, Ia juga mengeluarkan stetoskop dari dalam tasnya,

Detak jantungnya tidak beraturan.

"Mas Farrel, dengar suara Ibu?" tanya Qiila lembut. Namun Farrel masih diam, dengan tatapan yang masih kosong, Qiila terpaksa menampar pipi Farrel cukup keras, untuk menyadarkan ingatanya, Lalu kemudian, tangisnya pecah, spontan Qiila menarik tubuh Farrel dan memeluknya.

"Ayah, Aku kangen Ayah," Katanya

"Di mana Ayahmu?" Tanya Qiila, ia mengelus lembut punggung Farrel, Izmir dan pak Rizky suaminya, hanya melihat tanpa bisa berkata apa-apa.

"Ayahku meninggal," jawabnya, tangisnya semakin pecah, Qiila membiarkan Farrel menangis di pelukannya, ia tidak mempedulikan kemeja dan jilbabnya sudah basah terkena air mata bercampur ingus Farrel.

Setelah ia sedikit tenang,, Farrel melepas pelukanya, Qiila hanya menatap iba.

"Maaf, anda siapa?" Tanya Farrel, setelah menyadari. Siapa yang di peluk.

"Saya Dokter di sini," jawab Qiila.

"Ini rumah sakit?" tanya Farrel. Qiila hanya mengangguk.

"Pulang aku mau pulang, kasihan Ibuku dan adik-adikku kalau aku di sini,.. aah." pekiknya, saluran infusnya terlepas, darahnya menetes di lantai.

"Kamu jangan bergerak dulu," Cegah Qiila.

"Mas, panggilkan Dokter!" Suruh Qiila, ia nampak khawatir. Tanpa banyak kata, Rizky lari keluar untuk memanggil Dokter. Izmir sendiri merasa kasihan dengan Farrel. Padahal kan istrinya 'kan dokter, memanggil dokter.

"Farrel, kamu tenang dulu." ucap Izmir, ia bingung mau berkata apa.

Farrel sendiri menjatuhkan tubuhnya di atas brankar, tubuhnya masih sangat lemas, darahnya menetes dari bekas jarum, saluran infus. Ia tidak bisa meronta lagi, Lalu ia kembali memejamkan mata.

Dokter masuk, ia memeriksa kondisi pasien.

"Dokter Qiila, apa dia adikmu?" Tanya Dokter yang mempunyai nama Angga, Dokter ahli bedah di rumah sakit ini.

"Tidak, dia murid suamiku," jawab Qiila.

"Suami?" tanya Dokter, memastikan.

"Saya, Dok." jawab Rizky, saat ia masuk ke ruangan Farrel di rawat.

"Selamat siang, Saya Dokter Angga, Dokter bedah dan penyakit dalam," Dokter memoperkenalkan diri,

"Saya Rizky, suaminya Qiila," sambut pak Rizky, dan Tomy pun masuk, tangan kanan dan kirinya membawa makan siang juga makanan ringan.

"Anak ini seperti sedang banyak pikiran, tadi di ambil sample darahnya, darahnya sehat, hanya saja tekanan darahnya sangat rendah. Dan ia ada infeksi di lambungnya," terang dokter Angga.

"Anak ini sedang tidur, nanti kalau sudah bangun, tolong di suruh makan dan minum obatnya," lanjut dokter kemudian.

"Baik, Dok." jawab Rizky, setelah memindahkan jarum saluran infus di pergelangan tangan kanan, Dokter tersebut keluar, Rizky lupa menebus obat yang tadi di berikan Dokter saat Farrel selesai di tangani di ruang UGD, sebab tadi ia bertemu istrinya.

"Kalian jaga Farrel ya, Bapak mau shalat dan sekalian nebus obatnya, nanti kalian shalat gantian." Pinta Pak Rizky

"Baik pak," jawa. Tomy dan Izmir

"Jaga temanmu ya, kalau ada apa-apa, panggil Dokter, nanti saya juga bisa temani kalian, kalau di UGD tidak terlalu ramai pasien masuk." Pesan Qiila.

"Ibu istrinya pak Rizky? " tanya Tomy, Qiila hanya mengangguk.

"Ternyata putri galaknya Cantik ya, Pak? eeh istrinya," Tomy keceplosan, ia langsung menutup mulutnya. Pak Rizky spontan melotot ke arah Tomy, Tomy salah tingkah, Qiila pun menatap Rizky, seakan siap menelannya hidup-hidup. Tanpa kata Qiila keluar dari ruangan Farrel di rawat, Rizky mengikutinya di belakang.

Saat sampai di depan pintu, Qiila menarik Rizky, ia mencubit pinggangnya

"Ini Putri galakmu, kan iya kan? bisa-bisanya kamu cerita begitu sama muridnmu, Mas!" protes Qiila, Rizky hanya meringis, menahan sakit.

"Maaf Sayang, tidak sengaja," Rizky membela diri.

"Awas tidak ada jatah malam ini," ancam Qiila.

"Duh Sayang, jangan gitu doonk, aku minta maaf," Iba pak Rizky, ia mengejar Qiila yang berjalan cepat menjuhi dirinya.

Rizkypun hanya garuk-garuk tak mengerti. Qiila berjalan menjauh, meninggalkan suaminya semakin jauh dan hilang di belokan lorong rumah sakit, Rizky berusaha ingin mengejarnya.

Qiila masuk ke dalam lift, Rizky mengikutinya.

"Sayang, kalau ngambek bikin gemes pengen ku kunyah," Ledeknya, Qiila menatap nyalang Rizky, ia marah kepada suaminya. Namun malah membuat Rizky geli. Istrinya akhir-akhir ini suka marah-marah. Membuat Rizky terkadang kuwalahan dengan sifat istrinya yang sering berubah-ubah.

"Mas.. Kamu tuh nyebelin banget sih!" Maki Qiila, ia tak mempedulikan beberapa orang yang ikut naik lift, ia memukul-mukul dada suaminya.

"Udah Sayang, jangan ngambek lagi ah," ucap Rizky, ia menangkap tangan Qiila dan menarik tubuhnya ke dalam pelukannya.

"Aku ingin menghilangkan jejak muridku yang tadi kau peluk," Ucapnya tanpa ekspresi.

"Ish.. kamu cemburu sama muridmu sendiri?" Protes Qiila.

"Dia udah dewasa, Sayang. Lain kali jangan peluk-peluk sembarangan." Rizky menasehati,

"Nggak tega aja. Kayaknya banyak beban yang ia pikirkan," Jawab Qiila. Lalu bunyi lift berdenting, menandakan mereka sampai di lantai tujuan, tujuannya ke lantai dasar, sebab mushola rumah sakit ada di lantai dasar.

Qiila dan Rizky berjalan berdampingan, menuju mishola. Keduanyapun berpisah, sebab Rizky yang masuk ke tempat wudlu pria dan Qiila masuk ke tempat wudlu wanita.

Air dingin yang membasuh mukanya, terasa segar, bagaikan belaian kasih sayang Tuhan terhadapnya. Menyejukkan dan menenangkan jiwa.

Kemudian Qiila mengeluarkan mukena dari dalam tasnya, dan ia memakainya lalu mendirikan shalat dzuhur.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Budak di atas Ranjang - Season 2
8.8
Demi melunasi utang judi sang ayah dan menyelamatkannya dari sekapan, Izabelle terpaksa menyerahkan kesuciannya kepada Jordan Heron. Bos mafia yang kejam itu merebut kehormatannya dalam sebuah transaksi dingin demi mencegah keluarganya menjadi gelandangan. Terjebak bersama pria keji yang baru ia temui, Izabelle kini harus menjalani takdir kelam penuh penderitaan dan kehinaan. Bagaimanakah kelanjutan nasib malangnya di tangan sang bajingan?
Sampul Novel Guru Tampan Seorang Yakuza
8.1
Demi membalas dendam atas kematian orang tuanya yang tewas secara licik, Akeno Taoka menyamar. Anggota Yakuza dari klan Barakujaga ini menjadi guru SMA di Tatsuno demi mendekati Reina Akinara. Reina adalah putri dari Tuan Kudesai, pemimpin klan musuh yang jadi targetnya. Namun, di tengah misi rahasia tersebut, sebuah fakta mengejutkan tentang identitas asli Reina mendadak terungkap. Akankah dendam Akeno tetap membara, atau ia justru luluh oleh pesona targetnya?
Sampul Novel Istri Pelunas Hutang Mafia
8.0
Aurora terpaksa menikahi Lucian Moretti, seorang mafia kejam, demi melunasi utang sang paman. Siapa sangka, Lucian rupanya telah lama memendam cinta padanya. Di saat asmara mulai bersemi, rahasia masa lalu mendadak terbongkar dan menguji hubungan mereka. Situasi kian rumit ketika musuh mengintai dan Aurora menyembunyikan penyakit mematikan dari suaminya. Lucian kini harus bertaruh nyawa demi menyelamatkan wanita yang sangat dicintainya itu.
Sampul Novel Jerat Cinta Mafia Kejam
8.2
Terbuang dari rumah sendiri akibat keserakahan kerabatnya, Kinanti memilih mengasingkan diri ke Amerika demi kedamaian. Namun, takdir justru menyeretnya kembali ke hadapan Brian, pemimpin mafia kejam yang sejak lama terobsesi padanya. Jika dulu ia bisa lari, kini Kinanti tak berkutik di bawah dominasi mutlak Brian. Di tengah ancaman keluarga pamannya yang terus mengusik, mampukah ia lolos dari cengkeraman cinta sang mafia?
Sampul Novel Mafia and Me
8.9
Aretha Anjanie mengalami kemalangan setelah dikhianati oleh selingkuhan kekasihnya. Demi melunasi utang judi dan membalas dendam, wanita itu dijual kepada Evans Colliettie, seorang mafia kejam. Aretha kemudian disekap di The Black Rose Kingdom. Di tempat tersebut, Evans menyodorkan dua pilihan sulit: menjadi budak selamanya atau bersedia memuaskan hasratnya di ranjang. Kini, Aretha terjebak dalam situasi mengerikan dan harus bertahan hidup di bawah kendali sang mafia.
Sampul Novel Obsesi Cinta Mafia Kejam
8.4
William Henry, gembong mafia berdarah Italia-Indonesia, mendarat di Jakarta untuk menuntut balas atas kematian ayahnya kepada Thomas Hartono. Rencana balas dendamnya goyah seketika saat ia terobsesi pada Wulan, putri tunggal sang musuh. Walau Wulan sudah bertunangan, hasrat gelap William mendorongnya menghalalkan segala cara untuk merebutnya. Kini ia terjebak dilema antara dendam masa lalu atau obsesi cintanya. William bersumpah takkan membiarkan siapa pun memiliki Wulan jika ia gagal mendapatkannya.