APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Akibat Salah Pergaulan

Akibat Salah Pergaulan

Dunia indah Arabella Raveen hancur tanpa sisa karena perbuatan kejam Oscar. Di tengah masa sulit yang penuh penderitaan, Louise Saveero datang dan perlahan mengembalikan senyum serta kedamaian di hidup Arabella. Sayangnya, ketenangan tersebut kembali terusik tatkala Oscar tiba-tiba muncul lagi di depan matanya. Mampukah Arabella menjaga hubungan cintanya dengan Louise, atau ia akan jatuh ke jurang nestapa yang sama? Ikuti kisah perjuangan mereka demi melindungi kebahagiaan.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Hah! Tidak apa. Semoga saja kata-kata yang anda keluarkan tulus,” timpal Yasti santai.

“Yasti,” bisik Ara sambil menyenggol tanggannya Yasti.

“Maaf, maksudnya kami tidak apa-apa, Kak. Tidak perlu mengkhawatirkan ini,” ucap Ara karena merasa tidak enak dengan perilaku Yasti.

“Baiklah, kami tidak akan mengulanginya lagi. Saya berjanji pada kalian. Jika memang kejadian ini terulang lagi tanpa sepengetahuan saya, kalian bisa langsung melaporkannya pada saya dan saya akan menindak tegas mereka,” Ketua Osis terlihat sedikit terkejut dengan Respon yang Yasti berikan. Ketua Osis melirik kearah teman disampingnya, yang tidak suka dengan kedua murid baru ini dan dia juga seperti benar-benar merasa bersalah atas perilaku anggotanya, tapi merasa tidak enak hati untuk memaksa temannya untuk berbuat lebih.

“Tidak apa, Kak. Kami juga minta maaf. Karena ini terjadi karena tadi saat pengarahan kami juga tidak mendengarkannya. Jadinya, Kak Lesti, sebagai Wakil Ketua Osis hanya ingin memberi kami teguran semata. Setidaknya ini bisa menjadikan pengalaman berharga untuk kami, agar kedepannya dapat lebih baik. Jadi mari kita anggap tidak terjadi apapun dan berdamai,” tanpa basa basi Ara mengatakannya. Dia hanya ingin masalah ini cepat selesai.

“Oh, ok. Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu yah. Sampai jumpa lagi nanti.”

“Iyah. Terima kasih, Kak,” balas Ara ramah dengan senyuman diwajahnya.

“Kesel banget gua. Dasar jal*ng!” celoteh Yasti setelah kedua orang tadi pergi dan menghilang.

“Sabar, Yas. Sudah ah, jangan marah-marah terus. Yukk kita ke kantin. Gua laper nih. Gue traktir deh, jadi lu bisa pesen apa aja sepuas lu dikantin nanti,” ucap Ara agar Yasti berhenti menggerutu didepannya.

“Bener yah?! Yess!!!”

“Pffttt, gini aja seneng lu,” timpal Ara sambil terkekeh sekaligus menggeleng kepala melihat kelakuan sahabatnya

“Hahaha. Iyah dong, mana ada orang yang nolak dikasih makan gratis. B*go aja kalau ada,” tawa Yasti puas.

Perjalanan ke kantin tidak memakan waktu lama. Karena posisi keduanya tadi memang tidak jauh dari kantin. Lalu, karena mereka datangnya telat gara-gara Ketos sama Wakilnya tadi, jadi tidak mendapat tempat.

“Gimana dong, Yas. Kita mau duduk dimana nih,” padahal kantinnya sangat luas, tapi bisa-bisanya mereka tidak kebagian tempat untuk duduk.

“Itu ada beberapa yang kosong disebelah sana, Ara,” kata Yasti sambil menunjuk dengan wajahnya.

“Mana? Oh, iyah ada. Gak keliatan. Hehe,” kekeh Ara malu.

“Makanya mata dipakai, Ra! Jangan dipajang saja,” ledek Yasti hingga membuat Ara merasa kesal padanya.

“Isshh!” decak Ara kesal.

Lalu keduanya memesan makanan dengan cepat dan menuju ke meja kosong yang disebut Yasti tadi.

“Selamat makan!” ucap Ara padanya dan Yasti pun membalasnya.

“Oi! Kalian berdua!” panggil seseorang pada kedua gadis yang tengah menikmati semangkok bakso.

“Uhukk..uhukk! Gembel! Siapa sih!? Orang lagi makan dikagetin!” kesal Yasti.

“Hai Obet dan Obby juga,” sapa Ara pada si kembar. Teman sekelas mereka saat SMP dulu.

“Ah elah, ternyata lu berdua. Kambing lu pada. Gua jadi keselek kan. Mana pedas lagi,” protes Yasti yang masih merasa kesal. Karena gara-gara mereka berdua, dia jadi tersedak kuah bakso yang rasanya pedas bukan main.

“Buakakaka!! Makanya Yas kalau makan yang bener jangan kayak badak! Hahahah,” tawa Obet puas melihat Yasti.

“Pfft,” Ara pun tertawa mendengarnya.

Mereka berdua, Yasti dan Obet, kalau bertemu lucu sekali. Bagaikan anjing dan kucing yang selalu berkelahi tanpa henti.

“Mau ngapain lu pada disini?!” celetuk Yasti.

“Numpang meja, hehehe. Lihat, pada penuh semuanya kan. Boleh ya?” ucap Obert sambil nyengir kuda. Padahal belum diijinkan, tapi keduanya sudah duduk disana dengan santai tanpa peduli mereka diijinkan atau tidak.

“Penuh pala lu peyang. Noh masih ada disebelah sana. Kesono aja!” imbuh Yasti kesal.

“Lagi ngapain pakai ijin segala, belum diijinin juga sudah langsung pada duduk, 'kan,” timpal Yasti sekali lagi yang melihat mereka berdua sudah duduk santai tanpa dosa.

“Tapi sudah didudukin beberapa orang, Yas. Disini kan cuma lu berdua. Pelit amat sih,” balas Obert dan mulai menyeruput minumannya.

“Sudahlah Yas nggak apa. Jangan gitu ah,” ucap Ara melihat mereka yang sudah duduk diantara Yasti.

“Seperti itu dong. Ara memang terbaik deh!” teriak si kembar bersama sambil mengacungkan jempol.

Obert dan Obby kembar identik. Mereka biasanya memanggil Obert dengan panggilan Obet, karena lebih pas dengan tingkah lakunya.

Keduanya adalah kembar identik yang katanya susah banget dibedain sama orang-orang, tapi sebenarnya mereka bisa dibedakan, kalau dilihat lebih cermat lagi. Seperti dari cara berperilaku atau gaya bicara mereka berdua, cara berpakaian dan kebiasaan yang biasa mereka lakukan. Semua berbeda meski mereka kembar.

“Kok tadi gua sama Yasti nggak liat lu berdua? Kemana aja kalian?” tanya Ara pada Si Kembar.

“Paling ngaret lagi, Ra. Lu memangnya tidak tahu seperti apa mereka," timpal Yasti.

“Iihh, sensi. Lagi dapat yah, bu?!” balas Obert seolah menantang perkataan Yasti.

“Pfttt, Obert sama Yasti kalau pacaran pasti lucu, ramai dan seru yah, By. Secara mereka berantem terus kan kerjaannya setiap kali bertemu,” Tawanya melihat Obert sama Yasti yang selalu bertengkar setiap saat mereka bertemu.

“Bisa jadi kapal karam Ra hubungan mereka. Cakar-cakaran terus, hahaha," balas Obby atas perkataan Ara tentang hubungan Yasti dan Obert. Jika, seandainya mereka berdua menjalin hubungan menjadi sepasang kekasih.

“Sialan lu, By. Kucing kali cakar-cakar!” timpal Obert.

“Lou, disini!” Obert memanggil seseorang.

"Lou?! Siapa itu?" gumam Ara pelan.

Obert teriak memanggil nama seseorang yang arahnya berada dibelakang Ara. Dia berpikir hanya mereka berdua dan Finn, yang mungkin saja akan bergabung dengan mereka.

“Ra, maaf yah. 2 orang lagi numpang duduk yah disini," ijin obert pada Ara dengan senyuman canggung dan bersalah.

“Ha..haha, iyah sudah,” tawanya setengah hati dan terpaksa.

Obert dan Obby bukannya tidak tahu. Kalau Ara bukan tipe orang yang gampang atau cepat beradaptasi dengan orang baru. Setidaknya, setelah satu tahun yang lalu. Makanya mereka meminta maaf lebih dulu, tapi terlambat

“Gua bilang juga apa tadi, Ra. Yah sudah, gua pindah kesebelah situ,” ngomel Yasti sama Ara, lalu saat hendak berdiri untuk pindah kesamping Ara, tiba-tiba sudah ada nampan yang ditaruh disamping Ara dan mereka bertiga cuma saling menatap satu sama lain secara bergantian.

“Halo," sapanya pada Ara setelah meletakkan nampannya. Suara berat dan dingin itu hanya didengar oleh Ara tanpa menoleh kearah pemilik suara tersebut.

“Itu . . . ," Ara melihat Yasti yang mau berbicara sesuatu pada orang disampingnya, tapi langsung saja Ara hentikan dengan menggelengkan kepala kepada Yasti dan mencoba menyapa balik orang tersebut dengan ramah. Karena merasa tidak enak dan terkesan tidak ramah, jika orangnya sudah diusir, hanya untuk memintanya pindah tempat.

“Oh, ha..halo,” sapa Ara.

“Finn mana, Lou?” tanya Obby pada teman baru mereka yang dipanggil dengan nama Lou ini.

“Masih antri beli minuman,” balas Louise singkat.

“Oh, oke,” balas Obby dan kembali menyantap makanan yang ada dihadapannya.

“Oh, iyah Lou, kenalin mereka teman SMP kami yang bersekolah disini juga sebelumnya. Ini Yasti dan yang disamping lu, Arabella.” Obert mengenalkan Louise pada Ara dan Yasti.

“Halo, gua Yasti Radinka,” jawab Yasti singkat dan seadanya sembari melirik kearah Ara dengan cemas.

Dia sebenarnya bukan orang yang seperti ini sejak awal mereka bertemu, saat dibangku SMP. Tapi, setelah mereka duduk dikelas tiga, tepatnya lima bulan setelahnya. Ara mulai berubah menjadi sosok yang tidak mereka kenali, seperti orang yang memiliki trauma atau fobia terhadao orang baru, terlebih kalau itu cowok.

Awalnya mereka tidak tahu apa penyebab Ara seperti itu, bahkan dia sampai mengurung dirinya dikamar. Lambat laun akhirnya mereka semua tahu apa penyebabnya. Karena itu mereka semua lebih perhatian, peduli dan menjaga Ara karena kejadian itu.

“Halo, Louise Savero. Panggil aja Lou seperti Obert dan Obby. Lalu lu siapa?” tanya Louise pada Ara. Berusaha ramah walaupun dia tidak menyukai hal-hal seperti itu. Karena dia memiliki tujuan. Tujuannya untuk mengetahui semua hal tentang Ara.

“ ....... " Ara hanya diam dan bingung harus menjawab apa. Karena mulutnya, tiba-tiba saja tidak mau terbuka dan tidak sama dengan pikirannya.

“Dia, Arabella. Arabella Raveen. Lu bisa panggil dia Ara. Mungkin? Hehehe,” sahut Obert memecah suasana dengan candaan garingnya.

“Oh, hai Ara. Boleh kan ikutan manggil Ara? Biar kita bisa cepet akrab,” Louise hanya bingung karena Ara hanya diam, bahkan tidak menoleh sedikit pun kearahnya.

“Ha..hai, iyah, tidak apa-apa kok,” jawabnya singkat dan senyum seadanya tanpa menoleh kearah Louise.

“Hahaha, Ara memang anaknya pemalu. Tolong dimaklumin yah, Lou,” ucap Obby agar Louise tidak berpikiran yang aneh-aneh tentang Ara.

“Iyah, Obby bener, hehehe. Oh, Itu Finn,” Timpal Obert mengalihkan suasana yang mulai canggung itu.

“Finn, disini!! Nah ini dia orang kedua yang bakal ikut makan disini, kaget ‘kan?! Hahaha," tawa Obert berharap agar keheningan dan kecanggungan ini berakhir.

“Biasa saja tuh,” Yasti sembari memasang muka datar pada Obert.

Lalu mereka melihat Finn yang datang dari arah seberang. Finn adalah teman Ara sejak kecil. Jika Ara bersahabat dengan Yasti sejak SMP, maka Finn adalah teman masa kecilnya. Ara dan Finn sudah saling mengenal satu sama lain, sejak mereka masih TK. Karena kebetulan sekali, rumah keduanya bersebelahan.

“Hai, Ra. Oh ada Yasti juga. Kita ketemu lagi yah ternyata,” kekeh Finn.

“Oi Finn,” sapa Yasti padanya sambil memberi kode lewat mata, tapi lagi-lagi gagal dan membuat Yasti mengumpatinya didalam hati.

“Kenapa mata lu, Yas? Sakit? Ke UKS gih kalau sakit. Bet, anterin gih,” ucap Finn yang sebenarnya melihat kode dari Yasti, tetapi dia berpura-pura tidak melihatnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Arrogant vs Crazy
9.6
Bertahan hidup di dunia nyata sangatlah berat bagi Nesta. Berbekal ijazah SMA, gadis mungil ini akhirnya mendapat angin segar saat diterima bekerja sebagai office girl di PT Taruna. Sialnya, di hari pertama kerja, ia langsung dipecat oleh atasannya yang sangat sombong. Demi mendapatkan uang halal untuk menyambung hidup, Nesta menolak tunduk. Ia pun menyiapkan rencana gila untuk menghadapi sang bos angkuh agar tetap bisa bekerja di sana.
Sampul Novel Belenggu Cinta Sang Pangeran Mafia
8.1
Impian Belleza tentang cinta sejati sirna setelah ia dipaksa menikahi Rafaele demi aliansi bisnis mafia. Di tengah jeratan dunia hitam dan dominasi sang suami, ia bertahan hanya untuk melindungi keluarganya. Namun, situasi memanas saat ayahnya tewas di wilayah Jefferie, memicu dendam membara dalam diri Belleza. Sembari mengandung dan menghadapi intrik pengkhianatan yang perlahan terungkap, ia berjuang mencari kebenaran. Akankah dendam ini menghancurkan mereka, atau justru menumbuhkan cinta?
Sampul Novel CEO with Pole Dancer
7.9
Hidup yatim piatu Zia Zovanka berubah drastis setelah insiden sepele membuatnya jadi target buruan Sagara Pratama. Amarah pria berkuasa itu berujung pada direnggutnya hal paling berharga milik Zia. Sagara yang biasanya dingin pada wanita justru terus dihantui bayang-bayang Zia setelah kejadian itu. Takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali secara tidak sengaja ketika Sagara melihat Zia sedang menari di sebuah klub malam yang biasa ia kunjungi.
Sampul Novel Dendam Seorang Adik
8.6
Kematian tragis Danisa meninggalkan luka batin yang mendalam bagi Amara. Mengetahui sang kakak mengakhiri hidup akibat dikhianati keluarga Pramudya, Amara bersumpah menuntut balas. Berbekal pesona memikat, ia menyusup ke lingkaran mereka untuk menghancurkan reputasi serta kekayaan mantan suami, mertua, hingga ipar kakaknya. Namun, saat rencana penghancuran ini berjalan, muncul perasaan tak terduga yang mengancam misi utamanya. Mampukah Amara tetap menjaga hatinya agar tetap dingin?
Sampul Novel Head Over Heels
8.7
Kehadiran Miko sebagai rival terberat selalu memicu emosi yang tak terduga. Di balik persaingan sengit mereka, tumbuh getaran hebat yang perlahan mengacaukan logika dan perasaan. Hubungan benci tapi rindu ini membawa badai emosional yang rumit, mengubah musuh bebuyutan menjadi sosok yang paling memengaruhi jiwa. Ikuti perjalanan mendalam dua hati yang terjebak dalam pusaran konflik dan asmara modern yang membingungkan.
Sampul Novel Ipar Tercinta
8.1
Wasiat terakhir sang kakak sebelum mengembuskan napas terakhir menjungkirbalikkan dunia Diraya Paramitha. Di usianya yang masih sangat muda, Dira dituntut mengemban tanggung jawab besar sebagai ibu sambung bagi keponakannya sekaligus istri baru bagi Wira Dharmawan. Pernikahan mendadak ini menguji kedewasaannya. Akankah benih cinta yang tulus tumbuh di antara mereka seiring waktu, ataukah hubungan ini selamanya bertahan hanya demi menunaikan kewajiban terhadap sang anak?