APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Akibat Bebas Bergaul

Akibat Bebas Bergaul

Mengusung genre romansa modern khusus dewasa, kisah ini menyoroti rumitnya hubungan asmara serta dampak nyata dari pergaulan bebas di masa kini. Melalui alur yang intens, pembaca diajak menyelami konflik personal dan konsekuensi dari pilihan gaya hidup tersebut. Sebuah narasi mendalam yang membutuhkan kedewasaan berpikir untuk memahami setiap lika-liku dan pertentangan batin yang dihadapi para tokohnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sambil memperhatikannya menyeduh kopi, aku bertanya.

"Teh? maaf ini... Teteh tuh siapanya Mang Cahya? Istri muda? atau masih pacarnya? atau... siapanya Teh? maaf ini mah...."

"Ah haha.... bukan siapa-siapanya A, cuma temen... biasa...."

Kopipun tersuguhkan.

"Udah lama kenalnya?'

"Udaah... dari kecil Teteh udah kenal sama kang Cahya...."

"Kenal dimana?"

"Di kampung...."

"Ooooh teman main?"

Teteh menyeruput kopi panasnya, lalu mengisap kembali rokoknya.

"Bukan atuh Kang Cahya mah beda jauh di atas Teteh...."

"Emang Teteh maaf umurnya berapa sekarang?"

"Euuuh... 29 yah taun ini... bntar lagi."

Aku membelalak. "Wow... Teteh masih kayak baru lulus SMA... awet muda ya?"

"Iiiiih bisa aja si Aa mah ngegombal."'

"Bener Teh...."

"Ah masa? udah tua gini...." ia tersenyum senang. ia mematikan rokoknya dan kemudian berbaring, menutupi seluruh tubuhnya lagi dengan selimut.

Aku tercenung, tidak enak mau bertanya pertanyaan krusial yang berhubungan dengan peristiwa ngentotnya mereka tadi malam.

"Teteh mau tidur lagi?" tanyaku kecewa.

"Iyah... masih ngantuk.... baru tidur sebentar...."

"Yaah...." Akupun mau tak mau kembali berbaring diatas karpet keras itu. Tapi mataku tak lepas dari gerak gerik si Teteh. Ia bulak balik posisi dalam usaha untuk tidurnya. Sampai ia menatap padaku tersenyum.

"Aa ga dingin disitu A?"

"Iya dingin atuh... mana keras lagi...." jawabku setengah merengek.

Teh Evi berpikir sebentar.

"Iya sinih atuh A, sebelah Teteh...." Ditawari itu, aku seperti meloncat cepat bergerak ke sisinya.

Teh Evi tertawa sedikit

"Selimutnya mah ga usah ya?"

"Walah Egi kedinginan atuh Teh......"

"Atuh masa mau berdua?"

"Kalo peluk boleh?"

Teh Evi tertawa lagi.

"Ya udah atuh nih sok selimut berdua...."

Hatiku melompat girang.

"Tapi dibatesin sama guling ya?"

Ia menaruh guling diantara kami berdua. Kontolku sudah ngaceng sejak tadi. Aku sangat berharap, siapa tahu dapet seoles dua oles kalau diusahakan. Posisi dia membalik ke arah dindng sekarang. Aku mengintip kedalam selimut. Pantatnya yang ranum tertutup ketat CD putih berenda tadi. Pahanya putih mulus luarbiasa.

"Hehe ayoo ngapain?" Dia menutup selimutnya sehingga pandanganku terbatas. Akupun keluar dari selimut. Agak malu sih, tapi cuek ah....

"Teh...."

"Iya...."

"Teteh kok mau ngewe sama si Mamang? kan Si Mamang bukan siapa-siapanya Teteh?" Akhirnya tercetus juga pertanyaan yang kutahan sejak tadi. Agak iri terdengarnya.

Teh Evi tersenyum. Kemudian ia menatapku, terlihat memikirkan jawaban.

"Iya gak papa sama Kang Cahya mah A... Udah lama kenal, udah sering ngasih bantuan...." Ia membalik sekarang menghadapku. "Tadi mah, Teteh lagi butuh, jadi weh nelp Kang Cahya.... dia mah suka ada aja ngasih A."

"Cuma memang terakhirnya suka ada maunya dia mah... hehihi," lanjutnya sambl cekikikan.

Ia menatapku lama seakan mengagumi tiap detil wajahku.

"Enak ya si Mamang...." kataku iri. Teteh tersenyum genit.

"Hahaha, iya memang enak A' ngewe... semua juga suka... ahahaha"

Ia terdiam seperti menunggu sesuatu. Kemudian balik lagi menatapku.

"Emang kenapa gitu A?" suaranya agak tinggi sedkit. Aku terkejut dengan perubahan nadanya, agak takut sih tapi si Otongku dibawah meminta kesempatan ini.

"Egi juga mau atuh Teh... Ngewe sama Teteh...."

Tanganku bergerak menuju paha mulusnya, mengelusnya sambil berharap.

"Nanti juga Egi kasih bantuan kayak s Mamang, cuma yaa semampunya Egi... kan Egi masih kuliah belum kerja, nanti kalau udah kerja...."

Teh Evi tak menjawab, aku menatap wajahnya takut dia marah, tapi dia tersenyum.

"Iya silakan aja kalo Aa mau mah...."

Ia membuka selimut memperlihatkan tubuhnya yang ramping putih menggiurkan hanya memakai u can see dan CD berenda saja. Mempersilakanku untuk menikmatinya. Jantungku bersorak berdetak kencang.

Tapi aku hanya terpana. Perlahan tanganku mulai berani meraba susunya.

"Uuuh sedap...." kataku dalam hati.

Melihat pergerakanku yang tidak impresif sama sekali, tangan Teh Evi bergerak meremas-remas kontolku, masih dari luar celana. Ia tertawa kecil.

"Eh hehe, bilang dong dari tadi pengen ngewe gitu.... kirain teh anak orang kaya ganteng ga napsu sama Teteh...."

Mataku terpejam merasakan kenikmatan dari rabaan si Teteh.

Terus terang baru kali inilah aku dipegang-pegang cewe, ciuman saja aku belum pernah. Pacaran pernah baru dua minggu putus. Dia pindah ke kota lain. Ngocoks.com

Ternyata lain rasanya sama pegang-pegang sendiri, diginiian aja udah enak banget.

Bibir te Evi menciumi leherku terus naik ke kuping.

"Bener ya A? nanti ga lupa ngasih bantuan ke Teteh...." bisiknya sexi di kupingku.

Aku mengangguk. Tangan te Evi naik ke perut terus ke dadaku. Menarik ke atas kaosku.

"Buka A..." perintahnya halus.

Aku masih berusaha menangkap bibirnya dengan bibirku, tapi dia melengos.

"Jangan di bibir...." desahnya.

Aku duduk membuka kausku buru-buru, sekalian dengan celana panjangku, dan tak lupa CDku kulempar kesamping.

Kontolku yang sudah berdiri menantang kini terbebas dari belenggunya.

Aku duduk menghadapi hidangan tubuh yang mempesona ini.

Tangan halus the Evi kembali hinggap mengelus dan mengocok kontolku.

"Aaaah enak..." erangku terpesona akan kenikmatan colian si Teh Evi.

Aku ingin sekali melihat kembali memek dengan jembut hitam miliknya itu. Maka aku berusaha membuka CD rendanya. The Evi tersnyum lagi

"Mau cepet aja?" tanyanya. Aku bingung dengan pertanyaan itu.

Mau cepet aja maksudnya langsung masukin aja mungkin begitu? cetusku dalam hati.

"Iya sok atuh..." katanya sambil menarik kontol ku supaya aku berada diatas tubuhnya. Aku bergerak mengikuti arahannya. Kini kontolku berada diatas memeknya.

Aku membuka kaus te Evi keatas, ingin liat susunya. Dan wooow, luar biasa indah menawan. Besarnya lebih besar dari kepalan tanganku, pentilnya imut coklat agak kemerahan. Kulumat dengan bibir dan tanganku.

"Aaaaah... enak A,'" bibir Teh Evi mendesah lirih. Pandang matanya menyipit.

Puas dengan tete, aku memperhatikan memek the Evi. Ku elus elus dengan tanganku. Sudah ada cairan sedikit yang keluar. Pelumas kelihatannya.

Aku menatap te Evi meminta tuntunan cara memasukan kontolku. The Evi yang sudah setengah terpejam hanya mengangkangkan pahanya saja, memperlihatkan keindahan kemaluannya. Aku bingung, kucoba saja menusuk-nusukan kontolku kearah celah yang ada disitu.

"Angh... bukan disitu A...." Salah sasaran ternyata aku.

Tangan te Evi menggapai kontolku menuntunnya ke arah kenikmatan yang benar.

Aku dengan cepat menekan, 'Ugh...' masih meleset. Malah menjadi gesekan nikmat memek te Evi pada kontolku.

"Aduh digesek disini aja udah enak...." kataku.

Kini kontolku sudah diarahkan lagi. aku menekan lagi. Hampir terkuak itu bibir kemaluannya oleh kontolku, tapi ko malah melenting ke atas lagi kontolku.

"Belum terlalu basah sih A... bentar...."

Te Evi mengambil ludah mliknya dan dioleskan pada memeknya, kemudian dia meludah ke tangannya lagi, kini agak banyak. Dia balurkan ke kontolku, sambil dia kocok-kocok cepat, agar tersebar rata mungkin pelumasnya.

Tapi...

Kocokan itu malah membuat kontolku berdenyut-denyut keenakan. Gilee... enak bener... dan terjadilah hal yang aku sesali.... si Otong tidak mampu bertahan, staminanya anjlok, dia muntah sperma...

Crot... crot.... crot banyak banget ke atas perut dan tangan si Teteh.

"Aaaaaaaauuuuhh..." lenguhku nikmat tapi juga aku sesali.

"Yaaaah Teh... maaaaf...?" kataku lemas.

Si Teteh malah tertawa, sekali lagi seperti tadi ia mengambil celana pendek s Mamang, mengelap dengan cekatan.

"Yaaaah si Aa kasiaaaaan... hahaha" Katanya.

Aku berbaring di samping si Teteh. Masih memperhatikan memeknya yang kurindu. Tapi apa lacur, s Otong masih belum mau bangkit lagi.

Teh Evi berdiri berjalan ke kamar mandi sambil membetulkan kausnya.

"Eh kemana Teh? belum... Teh," tegurku putus asa.

"Iya Aa tenang aja.... haha, ini mau bersih-bersih aja...."

Tak berapa lama si cantik pemilik jembut hitam itu kembali, aku tak melepaskan pandangan darinya dan dari selangkangannya.

Teh Evi tertawa,

"Iya A... Teteh ga akan kabur... emang mau kemana? Wkwkwk..."

Aku bergerak menciumi pipi leher dan ke arah bibirnya, tapi ia merengut.

"Ngga ke bibir..."

Tangannya meraih lagi lambang kejantananku, yang tadi telah membuatku kecewa. Digosok-gosoknya, dibelai, dikocok sedikit hingga ia mulai menggeliat lagi.

Teh Evi tersenyum menatap aku yang melongo terbuka mulutnya karena terkesima akan nikmatnya dikocokin.

"Tuh udah bangun lagi, sok sekarang mah kuat geura (deh)..." katanya menghibur.

"Mudah-mudahan...!', jawabku mantap.

"Hahaha... si Aa baru pertama sih ya?" Teh Evi menebak dengan jitu.

"Ngga..." kataku berbohong malu.

"Aah haha... ga apa-apa A, yang pengalaman aja kalau terlalu nafsu memang suka gitu, cepat keluar... Apalagi ini yang masih perjaka..."

Hatiku terhibur mendengarnya.

"Aa mah pasti cepet pinter nanti ngewenya... cepet belajarnya..."

"Belajar apa?" tanyaku.

"Belajar muasin cewek... hihi..."

Ia membaringkan dirinya mendekatkan mulutnya ke kontolku. Di jilat-jilatnya dulu tititku yang masih setengah layu itu. Dikemutnya kemudian. Kontolku langsung berdiri gagah lagi. Setelah itu ia melakukan blowjob yang selama ini hanya kutonton di film blue. Baru kurasakan ada kenikmatan seindah ini... wuuuuuuiiih luarbiasa, seperti terbang di awang-awang.

"Aaaaah... aduuh ni'meh pisan (banget) Teeeh... mantaaap..."

"Awas A... kalo mau keluar bilang yaa...?" katanya disela kontolku.

Tidak semudah itu ku ke puncak sekarang, kutahan terus biar bisa kena kram otot juga kena aja deh.

Setelah yakin akan kekuatan kontolku, si Teteh menyudahi oralnya, ia mengocok-ngocok kontolku sambil berbaring menelantang membentangkan memeknya.

"Yuk A, coba masukin lagi... biar langsung enak..."

Aku menurut, dan langsung mengambil posisi.

Kini ku gosok-gosokan dulu kontolku diatas memeknya. Enak banget. Si Teteh pun mendesah dibuatnya. Aku mengira-ngira dan membidik lubang yang tadi diarahkan Teh Evi. Mendorongnya perlahan agar ketemu. Belum pas juga.

"Agak kebawah sedikit A..."

Tapi tangannya telah membantu mengarahkan. Dan... akhirnya topi helm baja milik kontolku melesak masuk ke lubang kenikmatan Teh Evi. Ngocoks.com

"Auw...!" jeritnya kecil memberi semangat.

Aku mendorong terus, hingga kontolku tinggal kelihatan sedikit. Kini kutarik lagi.

"Aaaaangh..." desah si Teteh.

"Ooooouufh..." Akupun tak sanggup menerangkan kenikmatan ini.

Kudorong lagi.

"Aaaaah..." suara erangan s Teteh malah tak terdengar terhalang oleh suaraku.

Aku mengusap wajahku.

"Busyet deh, pantesan orang-orang pada suka ngentot, rasanya tak terbantahkan nikmatnya, fiuuuuh" pikirku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinderella Pulang Pagi
8.0
Menjelang hari pernikahan, Elaina hancur karena dikhianati tunangannya yang memilih wanita lain. Upayanya mengacaukan pesta sang mantan memang gagal, tetapi peristiwa itu mempertemukannya dengan Alister. Pria karismatik yang sangat dekat dengan mantan kekasihnya ini menawarkan bantuan untuk membalas rasa sakit hati Elaina. Takdir pun membawa Elaina ke dalam babak baru yang tak terduga, di mana ia diperlakukan bak putri oleh pria berbahaya tersebut demi sebuah pembalasan.
Sampul Novel Cinta yang Tak Sempat Kudengar
8.9
Setelah tunangannya memilih menikahi kakaknya, ia menerima lamaran Twinkle, pria dingin yang mengaku tulus mencintainya. Tiga tahun pernikahan mereka berjalan sempurna tanpa cela. Namun, kebenaran pahit terungkap saat ia mendengar bahwa pernikahan itu hanyalah kepalsuan demi melindungi wanita bernama Amelie. Menyadari dirinya hanya tameng dan pengganti, ia memutuskan menghapus identitasnya dan merancang kematian palsu untuk lepas sepenuhnya dari Twinkle.
Sampul Novel Cintanya Bersinar Dalam Kegelapan
9.4
Julian dulu terabaikan dalam hidup Sienna, meski dialah pencuri ciuman pertama gadis itu saat gelap. Ketika takdir meruntuhkan dunia Sienna dan memaksanya menikahi pria lain, Julian kembali. Namun, ia tidak lagi lemah. Kini sebagai pria berkuasa, Julian hadir di titik terendah Sienna untuk melindunginya. Lewat lamaran pernikahan yang penuh keyakinan, ia siap membuktikan bahwa cinta tulusnya tiada tanding.
Sampul Novel Dia Mendanai Wanita Lain Menggunakan Uangku
8.9
Demi menguji kesetiaan sang kekasih, Julissa Palmer memilih menyamar sebagai staf biasa di perusahaannya sendiri. Siasat ini justru membuat Ethan Wilson salah paham. Ia mengira Noreen adalah ahli waris Grup Palmer yang sesungguhnya. Sambil terus merendahkan Julissa, Ethan diam-diam mendekati Noreen demi mengincar harta. Di sebuah pesta mewah, Ethan bahkan nekat melamar Noreen di hadapan media. Ia tidak sadar bahwa Julissa adalah pemilik asli Grup Palmer yang sebenarnya.
Sampul Novel Suamiku Pura-Pura Buta Demi Menyembunyikan Kebohongan Besar
8.7
Tepat setelah akad, Selena Atmadja diceraikan Davin Hartanto akibat skandal kehamilan wanita lain. Demi menjaga nama baik, Madame Ratih memaksa Selena menikahi putra keduanya, Leonard Hartanto, pria dingin yang misterius. Meski sempat menolak, Selena akhirnya terjebak dalam pernikahan hampa ini. Segalanya berubah ketika Selena mengungkap rahasia besar bahwa Leonard hanya berpura-pura buta. Apa motif di balik sandiwara ini dan mampukah ia bertahan?
Sampul Novel Mr. CEO dan Gadis Lugu
8.9
James Myre, CEO muda paling kaya dan tampan di Prancis, murka karena Mr. Benkins tak mampu membayar utang USD 100 juta. Demi melunasi utang tersebut, Benkins nekat menjadikan keponakannya yang polos, Adelia Benkins, sebagai jaminan kontrak. Gadis lugu itu pun terpaksa melayani semua hasrat liar James. Sanggupkah Adelia bertahan dalam jerat kehidupan kelam ini, atau akankah takdir justru menumbuhkan benih cinta yang tulus di antara mereka?