
Akhir dari Sepuluh Tahun Pernikahan
Bab 3
Suaraku dingin, tetapi hatiku masih terasa sakit.
Mungkin seperti ada bagian hatiku yang terkoyak.
Hening lama di ujung telepon sana. Sampai aku kira dia telah menutup telepon. Tiba-tiba terdengar suara pekikan tajam yang disertai tangisan.
"Atas dasar apa! Kamu-lah yang melahirkanku. Atas dasar apa kamu yang memutuskan mau jadi ibuku atau nggak?"
Aku hanya bisa tersenyum pahit.
Atas dasar apa?
Dia pasti sudah lupa.
Demi merayakan ulang tahunnya yang kedelapan, aku bahkan mempersiapkan pesta untuknya dengan sepenuh hati. Waktu itu, aku dan Kirana sama-sama membeli keik ulang tahun untuknya.
Yang aku beli adalah keik favoritnya dengan dekorasi Ultraman, sedangkan yang dibawa Kirana hanyalah keik buah biasa.
Aku dengan hati-hati membawakan keik itu ke hadapannya, tetapi dia hanya melihat sekilas saja, kemudian menjatuhkannya.
Dia mengerutkan kening, lalu protes kepadaku.
"Bu, aku sudah dewasa. Siapa yang masih suka Ultraman? Kekanak-kanakan sekali!"
Aku menatap rokku yang kini berlumuran krim keik sambil berusaha menahan air mata.
Jelas-jelas sebulan yang lalu, di saat Kirana belum kembali, dia menangis lama karena aku menolak membelikannya mainan Ultraman di etalase mal.
Setelah menstabilkan emosiku, aku mengangkat kepalaku. Dia menerima keik biasa dari tangan Kirana sambil memperlihatkan senyum manis.
Dia bersandar di pelukan Kirana dan berkata dengan nada manis.
"Terima kasih Tante Kirana. Aku suka sekali!"
Chris juga merangkul bahu Kirana dan memandang mereka dengan penuh kasih.
Mereka bertiga seperti keluarga bahagia. Sebaliknya, aku hanyalah orang luar.
Saat itu, aku tiba-tiba merasa kecewa.
Sepuluh tahun pernikahan, delapan tahun mengasuh anak. Ternyata, semua itu tidak ada artinya di mata mereka.
Di klimaks acara ulang tahunnya, Sean membuat permohonannya di depan lilin-lilin yang menyala.
Beberapa kerabat dan teman menggodanya dengan menanyakan apa keinginannya.
Dia malah menjawab dengan nada serius.
"Semoga ibuku bisa menghilang dan Tante Kirana bisa menjadi ibu baruku."
Lantaran jawaban itu terlalu mendadak, senyuman di wajahku seketika membeku.
Hatiku serasa ditimpa batu besar. Sakit sekali.
Aku terus memaksakan senyum sampai pesta berakhir.
Tidak ada yang tahu betapa sakit hatiku.
Namun sekarang, dia bertanya kepadaku, atas dasar apa.
Aku menarik napas dalam-dalam dan menjawabnya dengan serius.
"Sean, kamu masih ingat permohonan ulang tahunmu?"
"Kamulah yang lebih dulu melepaskanku, bukan aku yang nggak menginginkanmu. Mulai sekarang, aku nggak akan mengganggumu lagi. Jadi, tolong jangan ganggu aku lagi!"
Kata-kataku agak kasar. Melalui ponsel, aku bisa mendengar isak tangis dan napasnya yang tidak beraturan.
Dulu aku masih kasihan, tetapi sekarang aku hanya merasa kesal.
Saat bersiap menutup telepon, suara marah yang tertahan milik Chris terdengar dari ujung telepon lagi.
"Vanesa, perlukah kamu memperlakukan Sean seperti ini?"
"Sebagai istri dan juga seorang ibu, inikah yang seharusnya kamu lakukan? Kenapa kamu selalu begitu impulsif?"
Tiba-tiba aku merasa konyol.
Jelas-jelas, aku hanya mengikuti keinginan mereka dan membiarkan mereka mendapatkan kehidupan yang mereka inginkan.
Mengapa mereka masih menyalahkanku?
"Chris, di perayaan pernikahan kita bulan lalu, aku menunggumu di restoran yang sudah aku pesan tiga bulan sebelumnya hingga restoran itu tutup. Kamu masih ingat kenapa kamu nggak datang hari itu?"
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu kembali menambahkan.
"Kamu bilang ada urusan di kantor. Tapi aku malah melihat wajahmu muncul di unggahan instagram Kirana."
"Dia bilang, terima kasih sudah datang malam-malam membantunya mengusir kecoak menakutkan itu."
Aku tidak berbicara lagi. Chris yang di ujung telepon sana juga terdiam.
Setelah beberapa saat, dia baru menggertakkan gigi dan berkata.
"Vanesa, kamu mau bercerai, 'kan? Jangan menyesal nanti!"
Anda Mungkin Juga Suka





