
Akhir Cinta yang Getir
Bab 3
Eldino menatapku dengan amarah yang tertahan.
Sikapku malam ini benar-benar berbeda dari biasanya.
Selama ini aku selalu menurut pada Eldino, tetapi hari ini aku terus menentangnya.
Aku juga terlalu malas untuk ambil pusing dengannya.
Dering ponsel Eldino tiba-tiba memecahkan suasana hening di antara kami.
Aku langsung tahu itu pasti telepon dari Adena.
"Halo, Eldino? Apa sekarang kamu lagi di rumah? Ada orang yang terus mengetuk pintuku. Aku takut."
Suara Adena terdengar kasihan dari ujung telepon sana.
Eldino mengernyit bingung.
Dia bilang akan tiba sekitar sepuluh menit lagi. Dia menenangkan Adena sebentar, lalu menutup telepon.
Saat menyadari tatapanku yang tertuju padanya, Eldino pun mencoba menjelaskan.
"Rumah salah seorang karyawan perusahaan mengalami masalah, aku harus ke sana."
Apa Eldino pikir aku ini tuli dan tidak bisa mendengar percakapan mereka barusan?
Namun, aku juga merasa terlalu malas untuk berdebat dengan Eldino. Aku hanya mengiakan singkat dan tidak berkata apa-apa lagi.
"Arissa, tolong antar aku ke sana. Kamu 'kan tahu aku nggak bisa menyetir dengan kaki seperti ini. Sopirnya juga sudah pulang."
Nada bicaranya sama sekali tidak menerima penolakan.
Dia sama sekali tidak berniat berdiskusi denganku.
Aku memandangi kaki Eldino dengan kesan mengejek.
"Kamu yakin kamu nggak bisa menyetir dengan kondisi kakimu itu?"
Wajah Eldino sontak menegang untuk sesaat, tetapi dia segera menenangkan diri.
"Kamu 'kan tahu sendiri, Arissa. Aku nggak mungkin membohongimu."
Dia menatapku dengan tulus dan juga agak gelisah.
Aku akhirnya mengantar Eldino ke rumah Adena. Kami berdua hanya diam di sepanjang jalan.
Sesampainya di sana, Adena langsung membuka pintu dan bergegas menuju Eldino.
Eldino menatapku dengan perasaan bersalah. Karena aku diam saja, barulah dia berani membelai punggung Adena di depanku sambil menenangkan wanita itu.
Aku tidak mau melihat kemesraan mereka berdua, jadi aku berbalik badan dan berjalan pergi.
Namun, Eldino malah menghentikanku.
Dia sudah bicara denganku selama empat tahun ini, jadi kukira dia setidaknya akan mengatakan sesuatu yang menunjukkan rasa bersalahnya.
Ternyata, dia malah memerintahkanku dengan dingin.
"Arissa, sana ke dapur dan buatkan semangkuk bubur buat Dena. Dia agak ketakutan. Dia paling suka bubur yang sering kamu buat itu."
Setelah itu, Eldino kembali sibuk menenangkan Adena dalam pelukannya.
Aku sontak teringat bagaimana beberapa waktu yang lalu Eldino yang paling benci bubur itu tiba-tiba menyuruhku membuatkannya semangkuk bubur setiap pagi.
Ternyata itu karena Adena suka bubur.
"Kak Arissa, aku tahu nggak sopan sekali memintamu memasak buatku, tapi Eldino yang minta. Kamu selalu menuruti kata-katanya, 'kan?"
Eldino pun mendengkus dengan dingin.
"Aku nggak akan menikahi wanita yang nggak taat padaku."
Semua rasa kecewa yang menumpuk selama ini dalam batinku akhirnya meledak.
Aku pun tertawa.
Aku berbalik badan dan menatap kedua orang itu dengan dingin, lalu menyahut dengan dingin pula.
"Eldino, kamu harus ingat kalau aku bersedia membuatkanmu sarapan dan mengurusmu itu karena aku mencintaimu."
"Tapi, sekarang kamu pikir kamu siapa, hah?"
Aku kembali berbalik badan dan berjalan pergi, aku benar-benar tidak mengacuhkan Eldino yang terlihat pucat di belakangku.
Malam itu, Eldino tidak pulang.
Saat aku hendak tidur, sebuah rekaman video dikirimkan ke ponselku.
Di video itu tampaklah Adena dan Eldino yang sedang berbaring di atas kasur tanpa sehelai busana.
Adena juga melirik ke arah kamera dengan provokatif.
Aku ingin langsung menghapus video itu, tetapi akhirnya memutarnya dengan penasaran.
Detik berikutnya, suara erangan tiba-tiba terdengar dari ponselku.
Eldino tiba-tiba menggendong Adena.
Namun, dia sontak berhenti saat melirik ke arah ponsel.
Aku merasa begitu mual dan jijik, jadi aku menutup ponselku dan mengenyahkan semua pikiran yang mengganggu, lalu tidur.
Kali ini, aku tertidur dengan pulas.
Saat terbangun keesokan paginya, entah sudah berapa lama Eldino berada di samping tempat tidurku.
Dia duduk di kursi rodanya dengan wajah yang terlihat murung.
"Apa kamu melihat semuanya tadi malam?"
Dia bertanya padaku dengan ragu.
Tepat pada saat itu, ibuku mengirimkanku pesan.
Dia bertanya padaku kapan aku akan pulang.
Aku menjawab besok lusa.
Eldino kesal sekali karena kuabaikan.
Dia mencengkeram meja di samping tempat tidur, lalu bertanya dengan gelisah siapa yang mengirimkanku pesan.
"Ibuku. Dia bertanya kapan aku akan pulang."
Aku menjawab dengan jujur.
Eldino hanya mengiakan dengan singkat, dia pasti tidak begitu peduli.
"Kamu nggak melihat apa pun yang aneh kemarin malam, 'kan?"
Eldino bertanya lagi.
Aku mengernyit dengan kesal, lalu menggelengkan kepala.
Terlihat jelas ekspresi Eldino berubah menjadi lega.
"Syukurlah."
"Oh ya, aku sudah bikin sarapan. Kamu mau makan?"
Anda Mungkin Juga Suka





