
Akhir Cinta yang Getir
Bab 4
Aku sontak terkejut. Ini kali pertama dia membuatkanku sarapan.
Setelah bersih-bersih, aku duduk di ruang makan dan melihat Adena di dapur.
Dia terlihat sibuk di sana seolah-olah dialah nyonya di rumah ini.
Malah aku yang jadi terkesan seperti orang luar.
Adena pun menghidangkan sarapan yang sudah dia buat ke atas meja dengan ramah.
"Ayo coba cicipi masakanku, Kak Arissa."
Nada bicaranya terdengar riang.
Jika bukan karena dia menatapku dengan sikap bermusuhan, aku pasti akan mengira ini semua makanan yang lezat.
Sayang sekali.
Aku makan beberapa suap, tetapi Eldino kemudian menyadari ekspresiku yang tidak terlihat senang.
Dia akhirnya mengajakku untuk membeli pakaian.
Benar-benar lucu.
Selama empat tahun kami pacaran, belum pernah sekalipun dia belanja baju bersamaku.
Dia selalu bilang tidak punya waktu karena sibuk di perusahaan dan aku harus mengurusnya.
Namun, dia malah mendadak mengajak Adena jalan-jalan ke luar negeri.
Aku tersenyum mengejek.
Eldino menatapku dan menungguku memutuskan.
Dari sikapku terhadapnya kemarin malam, terlihat jelas aku sudah tidak berniat lagi untuk terus mencintainya.
Eldino takut kehilangan pengasuh gratisnya.
Bagaimanapun juga, dia perlahan-lahan mulai terbiasa dengan keberadaanku yang senantiasa ada di sisinya untuk menjaganya.
Sementara gadis kesayangannya harus dijaga baik-baik dan tidak boleh kenapa-kenapa.
Itu sebabnya dia memanggilku dengan cara yang berbeda dari Adena.
Akhirnya, aku mengiakan usulannya untuk belanja.
Aku ingin membeli beberapa barang yang kubutuhkan.
Adena pun berkata ingin ikut.
Dia menarik lengan baju Eldino dengan manja.
"Eldino, aku ikut, ya? Aku janji nggak akan mengganggu kalian!"
Adena terlihat begitu kasihan, dia sampai meneteskan air mata.
Eldino menatapku dengan kikuk.
Aku menyahut dengan tidak peduli.
"Ya sudah, ikut saja."
Eldino tampak kaget dengan nada bicaraku yang acuh tak acuh, sementara Adena juga tidak banyak bertanya.
Eldino pun melirikku dengan cemas.
Sementara aku sudah bangkit berdiri dan berganti pakaian.
Satibanya di mal, Adena dengan sukarela mendorong kursi roda Eldino.
Saat kami berjalan melewati sebuah toko kue, Adena melirik ke arahku dan berkata dengan genit bahwa dia ingin makan kue.
Eldino pun balas menatapnya dengan kesan menggoda.
"Kemarin malam belum cukup makannya?"
Adena sontak memukul Eldino dengan sangat malu.
Mereka akhirnya ribut-ribut di depan toko kue.
Aku mengabaikan mereka dan menundukkan kepala untuk mengirimkan pesan kepada ibuku.
Ibuku sudah mendesakku untuk pulang lebih cepat.
Dia dan ayahku sangat merindukanku.
"Kamu mau ikut masuk dan makan?"
Eldino tiba-tiba bertanya padaku.
Sorot tatapannya mengisyaratkan agar aku jangan menolak tawarannya.
Atau dia tidak bisa pamer di hadapan Adena.
Sayangnya, aku tidak akan memberikan apa yang dia inginkan.
"Nggak, kalian makan saja. Aku masih harus beli beberapa barang."
Eldino pun menghentikanku yang hendak berjalan pergi.
"Arissa, sikapmu selama dua hari ini aneh sekali. Apa kamu iri pada Dena?"
Suara Eldino terdengar ragu, tetapi nadanya terdengar yakin.
Rasanya aku mau memutar bola mataku.
Aku tidak ingin meladeninya, jadi aku asal mengangguk saja.
Eldino pun melepaskan tanganku sambil menjelaskan.
"Hubunganku dengan Dena hanya sebatas bos dan bawahannya, nggak usah kamu pikirkan. Kalau ada yang kamu suka, kasih tahu aku saja. Nanti biar kubayar."
Saat aku akan bilang tidak usah, Eldino sudah mendorong kursi rodanya dan juga Adena ke toko kue.
Saat kami keluar dari mal, langit tampak cerah.
Eldino dan Adena menungguku di pintu masuk mal.
Penglihatanku yang tajam menangkap gelang yang kubelikan untuk Eldino tahun lalu melingkari pergelangan tangan Adena
Gelang itu bukan barang mahal, tetapi aku nyaris mati sewaktu di sana.
Hari itu, aku nyaris meninggal karena mengalami kecelakaan mobil.
Untung saja gelang itu terlindungi dengan baik.
Waktu itu, Eldino bilang gelang ini sangat berarti baginya.
Dia berjanji akan selalu memakainya dan tidak akan pernah memberikannya kepada orang lain.
Aku pun tersadar dari lamunanku dan melirik Eldino dengan sinis.
Sepertinya dia ingat dengan janjinya, jadi dia buru-buru menjelaskan.
"Dena bilang ingin lihat, jadi kupinjamkan kepadanya."
Detik berikutnya, tiba-tiba ada yang menikam orang di samping dengan sebilah belati.
Orang itu juga hendak menyerang Adena.
Eldino sontak bangkit berdiri dari kursi rodanya, lalu melesat dan memeluk Adena untuk kabur.
Orang-orang mengerumuni kami, sementara aku hanya menatap punggung Eldino yang sedang memeluk Adena.
Setelah insiden itu ditangani, Eldino mencari-cariku, tetapi tidak pernah menemukanku.
Dia tidak tahu bahwa aku sudah meninggalkan mal dan sedang dalam perjalanan menuju bandara setelah membeli tiket pesawat.
Anda Mungkin Juga Suka





