
Akhir Cinta yang Getir
Bab 2
Suara Eldino yang tidak sabar pun menyentakkanku kembali dari lamunanku.
"Arissa, kamu tuli? Nggak dengar tadi kusuruh buatkan Dena secangkir kopi?"
Aku menarik napas dalam-dalam.
Sabar, sabar.
Aku hanya perlu bersabar selama tiga hari lagi, lalu aku bisa menyingkirkan pria satu ini.
Namun, Adena malah membelaku.
"Eldino, jangan begitu dengan Kak Arissa. Mungkin dia nggak dengar karena lelah mengurusmu akhir-akhir ini."
Matanya pun melirik ke arah kaki Eldino, entah dia sengaja atau tidak.
Eldino tidak akan terima orang lain membicarakan kakinya.
Dia menatapku dengan marah sambil berkata dengan nada rendah.
"Arissa, sok sekali kamu, ya? Kamu itu memang berkewajiban mengurusku! Siapa suruh kamu jadi pacarku?"
Dia menggertakkan gigi sambil menatapku.
"Sebentar lagi sudah bukan."
Aku menyahut.
Ini adalah kali pertama aku tidak menghormati Eldino.
Eldino tidak merespons.
Dia hanya memelototi ekspresiku yang terlihat biasa-biasa saja, lalu meminta Adena mendorongnya keluar untuk menenangkan diri.
Setelah mereka berdua pergi, aku mulai mengemasi barang-barangku.
Aku membuang segala sesuatu yang berhubungan dengan Eldino.
Saat sedang berkemas, tiba-tiba Eldino kembali.
Dia menatapku dengan dingin sambil duduk di kursi roda.
"Kenapa? Kamu nggak senang gara-gara kutegur?"
"Kenapa hatimu rapuh sekali? Kamu nggak sekuat dan segigih Dena."
Dia mendengkus dengan dingin, pujian dan sanjungan tersirat dalam kata-katanya.
Aku yang dulu pasti merasa sedih dan dilema.
Sekarang, aku hendak pergi.
Aku sudah tidak peduli lagi dengan Eldino ataupun Adena.
Eldino tiba-tiba mendorong kursi rodanya ke depan.
Dia mengambil pakaian anak-anak yang kubeli untuk janin yang terpaksa kugugurkan setegah tahun lalu, lalu meletakkannya di atas tempat tidur.
Tangannya tampak agak gemetar.
Mau apa lagi dia sekarang?
"Arissa, kita masih bisa punya anak."
Eldino berjanji padaku.
Sayangnya, aku sudah tidak peduli lagi.
Apa yang terjadi setengah tahun lalu itu adalah kenangan pahit untukku.
Saat itu, aku dan Eldino pergi untuk memeriksakan kondisi kehamilanku.
Namun, aku malah bertemu dengan Adena di depan pintu rumah sakit.
Tubuh dan wajahnya tampak memar.
Adena bilang dia tidak sengaja terjatuh dari tangga.
Itu adalah pertama kalinya Eldino meninggalkanku demi menemani Adena ke dokter.
Selama hamil, emosiku menjadi fluktuatif. Aku menjadi begitu sensitif dan rapuh.
Aku yang merasa sedih pun akhirnya bertengkar dengan Eldino.
Bisa-bisanya dia meninggalkanku untuk menghabiskan waktu dengan wanita lain?
Pada saat itulah aku terjatuh karena ditubruk oleh anak-anak yang sedang berlarian.
Eldino melindungi Adena dengan sigap sambil diam saja menyaksikanku terjatuh ke atas lantai.
Kondisiku yang syok dan kaget membuat janinku tidak bisa diselamatkan.
Sejak saat itu, aku jadi sulit hamil.
Lama sekali Eldino tidak mendengar jawabanku. Begitu dia menoleh, aku sudah keluar dari kamar.
Dia tetap di sana selama beberapa saat, dia pikir aku masih marah padanya.
Lalu, dia mendengkus tidak peduli dengan dingin.
Saat aku keluar untuk membuang sampah, Eldino menghampiriku lagi dengan kursi rodanya.
Dia melihatku membuang semua hadiah yang pernah dia berikan padaku.
"Kenapa kamu membuang semua itu?"
Suara Eldino terdengar agak marah.
"Untuk apa juga menyimpan barang yang nggak diperlukan."
Aku menyahut dengan nada datar.
Eldino sontak tercekat dan berbalik pulang, dia tidak menyangka aku akan menjawab seperti itu.
Saat aku akhirnya selesai berkemas, waktu sudah menunjukkan pukul 22:00.
Barulah pada saat itu dia menyadari ada yang aneh.
"Kok kamu tiba-tiba mengemasi semua barangmu?"
Dia terlihat agak gelisah.
"Ayo kita putus."
Aku menjawab dengan singkat.
Eldino pun menghela napas dengan lega, lalu menyahut dengan agak tidak puas.
"Bilang lagi saat kamu sedang berkemas. Jangan sampai kamu nggak sengaja membuang hadiah yang kubelikan untukmu tahun lalu."
Aku hanya diam menatap Eldino, tangannya menggenggam kalung yang dia belikan untukku tahun lalu.
Kalung itu kalung murahan dan sudah berkarat.
Itu adalah perhiasan pertama yang dia berikan padaku setelah empat tahun kami berpacaran.
Barulah di kemudian hari aku tahu bahwa Eldino ternyata membeli kalung itu di sebuah toko pinggir jalan.
Aku malah mengenakan kalung itu cukup lama bak harta karun.
Aku sontak menertawakan diriku sendiri.
Eldino pun mengisyaratkanku untuk menyimpan kalung itu.
Aku mengambil kalung itu, tetapi lalu berbalik badan dan membuangnya ke tempat sampah.
Anda Mungkin Juga Suka





