
Akhir Cerita Terapis Di Playgroup Anakku
Bab 3
“Tenang saja, ini kaca satu arah, orang di luar nggak bisa melihat ke dalam.”
Fajar menjelaskan sambil tersenyum, barulah aku merasa agak lega.
Melihat wajah suamiku yang fokus menemani anak, aku kembali merasa sedih.
Namun, tubuhku yang lemah ini malah memberi respon yang besar. Aku bahkan bisa mendengar bunyi air yang dihasilkan oleh gerakan Fajar.
Gerakan Fajar semakin cepat. Aku menggigit bibir bawah, tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Tak lama kemudian, tubuhku tiba-tiba menegang, cahaya putih berkelabat di depan mataku dan seluruh tubuhku terasa lemas tak berdaya.
Suami dan anakku menungguku di depan spa. Saat aku keluar, anakku tertawa ceria dan ingin digendong olehku.
“Sayang, kenapa wajahmu merah sekali?”
Aku agak merasa bersalah sambil menyentuh wajahku.
“Nggak apa-apa. Ayo, kita pulang saja.”
Malam harinya, setelah menidurkan anak, suamiku mendekatiku. Aku tahu dia menginginkannya.
Namun, pikiranku dipenuhi dengan bayangan bersama Fajar tadi, jadi aku pun menolak suamiku.
Keesokan harinya, setelah suamiku mengajak anak ke kelas playgroup, aku pun kembali memasuki spa itu. Fajar sudah menunggu di dalam.
Fajar membawaku masuk ke ruang pijat yang lain.
“Nyonya, ini akan menjadi ruang pijat eksklusifmu muai sekarang.”
Aku melihat Fajar memasang namaku di pintu. Kemudian, dia pun mendekatiku.
Aku agak takut, tapi aku tetap memutuskan untuk mengatakan apa yang ada di pikiranku.
“Fajar, aku nggak mau pijat hari ini. Aku datang untuk membatalkan langgananku. Aku nggak ingin melanjutkannya lagi.”
Fajar tersenyum dingin setelah mendengar kata-kataku, lalu dia menekanku ke ranjang pijat.
“Nyonya, tapi sepertinya tubuhmu nggak berpikir seperti itu….”
Tangan besar Fajar dengan lincah menyelinap ke dalam pakaianku. Aku ingin mendorongnya menjauh, tapi tenaganya terlalu kuat, menekanku hingga diriku tak bisa bergerak sedikit pun.
Aku hanya bisa terpaksa menerima sentuhan pijatannya di sekujur tubuhku.
Rasa geli dan merinding menyeruak di hatiku. Tanpa sadar, aku mengeluarkan erangan-erangan kecil. Fajar tersenyum dan mempercepat gerakan tangannya. Sensasi nikmat pun menyerang dan tubuhku sedikit bergetar.
“Nyonya, kamu tahu pijatan ini nggak boleh berhenti, ‘kan?”
Fajar meletakkan seluruh tubuhku di ranjang pijat dan dengan lembut menanggalkan pakaianku. Aku terperangkap di bawahnya, ada perasaan tertekan yang aneh.
“Aku… aku nggak mau lagi….”
Meskipun berbicara seperti itu, ada perasaan berharap yang aneh di dalam hatiku.
Sudut bibir Fajar menajam membentuk senyuman penuh kepastian. Aku hanya bisa mati-matian meyakinkan diriku sendiri di dalam hati bahwa semua ini demi kebaikan tubuhku, itulah sebabnya aku menyetujuinya….
Fajar mengambil minyak esensial, menuangkannya ke tangan dan menggosoknya hingga hangat. Setelah itu, tangan besarnya menutupi kulitku.
Sentuhan yang terasa agak panas itu menyerbu dan tubuhku mulai menegang tak terkendali.
“Hmm….”
Tanganku mencengkeram erat seprai.
Panas sekali….
Fajar tidak menungguku beradaptasi, dia langsung melanjutkan ke langkah berikutnya. Gerakannya lebih cepat dan lebih ganas dari kemarin.
Aku tahu dia sengaja melakukannya. Aku menggertakkan gigi sekuat tenaga, berusaha agar tidak mengeluarkan suara erangan.
Namun, Fajar tidak melihat mataku yang tertutup dan tanganku yang dikepalkan. Gerakannya semakin intens, suara kecipak air bergema di telingaku dan jejak-jejak jari tertinggal di kulitku yang putih.
Aku merasa agak takut, bagaimana kalau suamiku melihat ini….
“Dasar jalang.”
Ujar Fajar memaki pelan.
“Apa?”
Aku tidak mendengarnya dengan jelas.
“Nggak apa-apa, nyonya. Pijatan sebelumnya sudah selesai, karena paket yang kamu ambil itu VIP tertinggi, kami akan memberimu satu set produk sebagai bonus.”
Sambi berbicara, Fajar mengikat tangan dan kakiku ke ranjang pijat dengan tali pengikat.
“Apa yang mau kamu lakukan?”
Ada rasa panik di hatiku, tapi juga sedikit kegembiraan yang aneh.
Aku pasti sudah gila, kok aku bisa bersemangat dengan hal seperti itu?
“Selanjutnya, kita akan menggunakan minyak esensial baru, terutama untuk memijat urat di perutmu. Produk baru ini memiliki efek yang lebih baik. Untuk mencegah kamu bergerak dan mengganggu hasilnya, terpaksa aku harus mengikatmu.”
Fajar mengeluarkan kaleng kecil berisi minyak transparan. Setelah membuka tutupnya, aku mencium aroma samar.
Fajar langsung menuangkan minyak esensial yang dingin di atas perut bagian bawahku. Cairan dingin meluncur di kulit dan sensasi yang berbeda pun menyerbu.
“Fajar, geli….”
Aku hanya merasakan seolah ada api yang menyala di perut bawahku, lalu menjalar ke anggota tubuhku. Aku tidak bisa bergerak, hanya bisa menatap Fajar dengan mata memerah.
“Ini normal, nyonya. Ini artinya produknya baru mulai bekerja….”
Kata Fajar, sambil mengoleskan minyak itu secara merata di perut bawahku dan kemudian terus bergerak ke arah bawah….
Anda Mungkin Juga Suka





