APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Air Mata Seorang Pengasuh

Air Mata Seorang Pengasuh

Kepergian Mbah Tini mendorong Amara meninggalkan Solo menuju Jakarta. Selain ingin menghapus cap anak haram, ia bertekad menemukan ayah kandungnya. Amara lalu bekerja merawat Arya, cucu pengusaha kaya Hadi Pratama yang kurang mendapat perhatian. Di rumah itu, ia harus menghadapi Fathir, ayah Arya yang masih terpukul akibat dikhianati istrinya. Sembari mengasuh sang bayi dan memulihkan trauma Fathir, Amara terus mencari asal-usul dirinya di tengah keluarga yang retak.
Bab
Bagikan

Bab 3

Pagi itu Jakarta tampak berbeda. Matahari seakan malu-malu menampakkan sinarnya di balik gedung-gedung tinggi, menyisakan kabut tipis yang membuat suasana apartemen terasa lembap dan sepi. Amara membuka mata perlahan, mendengar suara Arya yang mulai merengek di kamar sebelah. Seiring ia bergegas menyiapkan susu pagi, pikirannya tak henti-hentinya melayang ke pesan misterius yang diterimanya beberapa hari lalu: "Berhati-hatilah, Amara. Tidak semua orang di sekitar Tuan Hadi bisa dipercaya."

Amara menggenggam ponselnya, memeriksa pesan itu sekali lagi. Nomor pengirim tidak dikenal, dan ia tidak menemukan petunjuk siapa yang mengirim. Namun satu hal jelas: ada orang yang mengawasi. Rasa waspada mulai merayap di hati Amara.

Sore harinya, ketika Arya sedang tidur siang, Amara duduk di ruang tamu apartemen sambil menatap dokumen Mbah Tini. Tiba-tiba bel apartemen berbunyi. Biasanya, hanya Fathir atau Tuan Hadi yang bisa datang tanpa pemberitahuan, tapi kali ini berbeda. Amara menuruni tangga pendek dan membuka pintu dengan hati-hati.

Di depan pintu berdiri seorang wanita tinggi, berpenampilan rapi, dengan mata tajam yang seketika membuat Amara merasa tegang.

"Apakah Anda Amara?" tanya wanita itu dengan suara dingin, namun tegas.

Amara menelan ludah. "Iya... siapa Anda?"

Wanita itu tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak menghangatkan hati Amara. "Nama saya Sarah... istri Fathir. Saya datang untuk... melihat anak saya."

Jantung Amara berdegup kencang. Sarah-nama yang pernah disebut Fathir berkali-kali dengan nada marah dan penuh penyesalan. Istri yang meninggalkannya, pergi ke luar negeri bersama selingkuhannya, meninggalkan Arya yang masih bayi. Sarah... datang kembali.

"Maaf, Bu... Arya sedang tidur," jawab Amara dengan hati-hati. "Mungkin sebaiknya Bu menunggu Tuan Hadi atau Bapak Fathir datang."

Sarah melangkah masuk tanpa menunggu izin. "Aku tidak mau menunggu. Ini anakku, dan aku berhak bertemu dengannya kapan pun aku mau." Suaranya terdengar keras, tapi ada nada yang licik di balik ketegasannya.

Amara menatapnya dengan tegas, mencoba menahan rasa marah dan cemas. "Maaf, Bu. Tapi selama ini saya yang merawat Arya. Jika Anda ingin bertemu, sebaiknya tunggu Tuan Hadi atau Bapak Fathir."

Sarah mendengus, lalu menatap Amara dengan tajam. "Kau menganggap dirimu siapa? Kau pikir hanya karena kau ada di sini, kau bisa mengatur hidupku dan anakku? Aku... akan membawanya pulang."

Ketegangan meningkat. Amara merasa jantungnya seperti berhenti sejenak. Ia tahu, ini bukan hanya soal Sarah yang egois. Ada risiko besar: jika Sarah berhasil mengambil Arya, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada bayi itu.

Saat itu, Fathir muncul dari tangga, mendengar keributan. Wajahnya memerah, suara serak karena amarah. "Sarah... apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak punya hak mengambil Arya seenaknya!"

Sarah menatap Fathir, matanya menyorot dingin. "Aku adalah ibunya! Aku berhak!"

Amara menatap kedua orang tua itu dengan rasa takut tapi tetap tegas. "Pak Fathir... Bu Sarah... tolong tenang dulu. Kita bisa bicara baik-baik."

Namun, kata-kata Amara seakan tidak didengar. Sarah mulai mendorong kursi bayi Arya, mencoba mendekati bayi itu. Fathir sigap menahan langkahnya, dan Amara berdiri di dekat Arya, melindungi bayi itu.

"Berhenti! Arya tidak akan kemana-mana!" Amara bersuara lantang, meski hatinya bergetar.

Sarah menatap Amara dengan dingin, lalu tersenyum sinis. "Kau pikir kau bisa menghentikanku? Kau hanya pengasuh kecil... aku yang punya darah yang sama dengan bayi itu."

Pertarungan kata-kata itu berhenti ketika suara bel apartemen terdengar lagi. Kali ini Tuan Hadi datang, membawa aura tegas dan berwibawa yang langsung membuat Sarah terdiam.

"Sarah... apa maksud kedatanganmu?" tanya Tuan Hadi dengan nada dingin namun penuh kewibawaan.

Sarah menatap Tuan Hadi sejenak, lalu menjawab dengan nada menantang. "Aku hanya ingin bertemu anakku... Arya."

Tuan Hadi melangkah lebih dekat, menatapnya tajam. "Kau pergi begitu saja meninggalkan anakmu bertahun-tahun. Dan sekarang kau datang seenaknya? Jangan harap Arya bisa pergi denganmu begitu saja. Anak ini aman di sini, dengan pengasuh yang merawatnya dengan penuh kasih. Kau tidak punya hak menuntut seenaknya."

Sarah menelan ludah, tapi matanya masih menyala penuh ambisi. "Aku... aku akan mendapatkan hakku suatu saat."

Tuan Hadi memandang Amara dan Fathir, lalu berkata, "Amara, pastikan Arya tetap aman. Sarah tidak akan membuat masalah di sini, tapi kita harus waspada. Ada orang yang tidak hanya ingin Arya... ada motif lain."

Amara menatap Tuan Hadi, menyadari bahwa ancaman terhadap Arya bukan hanya soal ibunya yang egois. Ada pihak ketiga, misterius, yang mengintai sejak lama. Pesan misterius yang ia terima beberapa hari lalu kini menjadi jelas: Sarah hanyalah salah satu bagian dari ancaman yang lebih besar.

Hari-hari berikutnya berubah drastis. Amara semakin waspada. Setiap tamu yang datang diperiksa dengan teliti, setiap telepon dicatat, dan setiap orang baru yang masuk apartemen selalu diawasi. Arya mulai belajar untuk tetap tenang meski suasana di sekitarnya kadang tegang.

Di saat yang sama, Sarah mulai mencari cara lain untuk mendekati Arya. Ia menggunakan koneksi lama, mencoba mencari celah di antara staf apartemen dan pegawai Tuan Hadi. Amara harus berpikir cepat, menghadapi dilema moral, sekaligus menjaga bayi itu dengan hati-hati.

Suatu malam, saat Amara baru menidurkan Arya, ponselnya bergetar lagi. Pesan itu singkat, namun menakutkan: "Kami tahu siapa kau. Arya akan menjadi milik kami jika kau tidak berhati-hati."

Amara menelan ludah, jantungnya berdetak kencang. Ancaman itu nyata, dan semakin jelas bahwa dunia Jakarta yang ia masuki jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Ia harus lebih pintar, lebih cepat, dan lebih berhati-hati-bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk Arya, bayi yang kini telah menjadi bagian dari hidupnya.

Fathir yang mengetahui pesan itu ikut tegang. "Amara... kita harus waspada. Sarah hanya salah satu masalah. Ada yang lebih besar sedang mengintai kita," ucapnya.

Amara mengangguk. Ia tahu ini bukan sekadar permainan kekuasaan atau drama keluarga. Ini adalah ujian nyata: mempertahankan keselamatan Arya, melindungi keluarga kecil mereka, dan menghadapi pihak-pihak yang mungkin siap melakukan apa saja demi kepentingannya sendiri.

Malam itu, Amara duduk di balkon, menatap lampu kota yang berkelap-kelip. Rasa takut dan cemas bercampur dengan tekad yang membara. Ia sadar, perjalanan hidupnya di Jakarta baru saja memasuki babak yang lebih berbahaya. Namun satu hal tetap ia pegang: ia tidak akan menyerah. Arya adalah prioritasnya, dan ia akan menghadapi segala risiko untuk melindungi bayi itu.

Dan di tengah ketegangan yang mengintai, Amara tahu satu hal: hidupnya dan Arya tidak akan pernah sama lagi. Konflik eksternal ini baru permulaan. Sarah hanyalah awal. Ada pihak misterius lain yang diam-diam mengintai mereka, menunggu kesempatan untuk mengambil apa yang bukan haknya.

Amara menarik napas dalam, menatap langit Jakarta yang gelap. Ia siap. Siap menghadapi Sarah, siap menghadapi ancaman, dan siap menghadapi apa pun yang akan datang. Dunia baru yang berbahaya ini mungkin menakutkan, tapi Amara tahu satu hal: ia tidak akan membiarkan Arya terjatuh ke tangan orang yang salah.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Dibalik Dusta
7.8
Nia sangat terpukul saat menyadari pernikahan yang ia jalani selama delapan tahun dengan Arvan dipenuhi kebohongan. Statusnya ternyata hanyalah istri kedua. Di tengah niatnya untuk menuntut cerai, sebuah rahasia besar terungkap. Ayu, istri pertama Arvan, rupanya telah mengkhianati pernikahan mereka terlebih dahulu dan melahirkan anak dari lelaki lain. Kenyataan ini membuat Nia bimbang. Ia kini dihadapkan pada pilihan sulit antara tetap pergi atau bertahan demi Arvan.
Sampul Novel Dari Omega yang Ditolak menjadi Ratu Raja Alpha
9.3
Menjelang Upacara Ikatan Suci, kebusukan Raditya terbongkar lewat pesan batin dari saudara angkatku, Eva. Selama aku dipaksa berpura-pura menjadi Omega yang penurut, Raditya asyik berselingkuh sementara orang tuanya merampas hasil kerjaku untuk diberikan kepada Eva. Mereka meremehkanku, tanpa menyadari identitasku yang sebenarnya sebagai pewaris sah kawanan terkuat di benua ini. Kini, aku telah menyiapkan siaran global untuk mempermalukan mereka semua di hari pernikahan kami.
Sampul Novel Jeli cinta
8.2
Karier Aitana sebagai manikuris andalan di Spa Luna hancur seketika akibat tuduhan palsu merebut kekasih kliennya. Fitnah ini ternyata menyeret Iker, pemilik Glow Agency yang licik. Saat berjuang membersihkan namanya, Aitana justru mengungkap skandal besar: banyak kliennya yang berselingkuh dengan Iker. Di tengah ancaman kerja dan persaingan agensi, ia terjebak dilema cinta segitiga yang rumit. Kini, ia harus memilih antara mempertahankan harga diri atau mengikuti kata hatinya.
Sampul Novel Little Brother
8.6
Irena tidak pernah menduga akan menghadapi situasi seberat ini. Hubungan persaudaraan yang semula ia kira tulus dan murni ternyata menyimpan rahasia kelam. Sang adik laki-laki diam-diam telah lama memendam perasaan cinta terlarang yang melampaui batas wajar seorang saudara. Mengetahui bahwa adiknya memiliki obsesi romantis yang begitu mendalam terhadap dirinya, Irena kini didera dilema batin yang luar biasa dalam menentukan sikap.
Sampul Novel Mantan Yang Sempurna
8.9
Malam sebelum pernikahan yang seharusnya penuh kebahagiaan justru berubah menjadi awal dari misteri yang kelam. Sang istri pulang dalam kondisi mabuk berat dengan pakaian berantakan, diantar oleh mantan kekasihnya, Dylan Wiguna. Dalam kondisi setengah sadar, ia meracau dan memanggil nama Dylan. Kebenaran menyakitkan pun terungkap bahwa pernikahan ini hanyalah alat demi memenuhi fantasi menyimpang sang mantan yang menyukai wanita bersuami. Ia bahkan memohon agar Dylan tidak meninggalkannya.
Sampul Novel Terjerat Kontrak Cassanova
9.7
Demi keluar dari jerat masalah, Zehra Deris terpaksa menyetujui kontrak yang ditawarkan oleh Javas Wira Sastro, seorang pria yang jenuh dengan kehidupannya. Namun, saat masa perjanjian mereka selesai, Javas enggan membiarkannya pergi dan malah memaksakan sebuah pertunangan. Hubungan yang didominasi gairah ini membawa mereka pada konflik perbedaan status sosial. Kini, keduanya dihadapkan pada dilema besar: melanjutkan romansa panas ini atau realistis.