APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel AIR MATA PERNIKAHAN

AIR MATA PERNIKAHAN

Bella menghadapi kenyataan pahit saat Bara, suaminya, tega berselingkuh dengan Arum. Niatnya untuk bercerai terhalang oleh kondisi sang mertua yang sedang sakit parah, memaksa Bella tetap bertahan demi sebuah pengabdian. Penderitaannya kian memuncak ketika ia divonis mengidap kanker mematikan di tengah masa kehamilannya. Kini, di tengah pengkhianatan Bara yang makin terbuka, Bella harus berjuang keras demi janinnya. Sanggupkah ia bertahan dalam duka ini demi anak dan mertuanya?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Cukup! aku sudah bosan dengan penjelasan kamu!" pekik Bella dengan tajam sambil menantang wajah di depan suaminya.

Bara mulai frustasi. Kedua bola matanya menatap sang istri yang marah. Bella kembali memasukkan baju-bajunya di dalam koper dengan cepat. Bara priia dengan rambut cepak dan kumis tipis itu mencengkram lengan istrinya dengan keras. Ia menghentikan aktivitas tangan istrinya. Bella kembali melihat wajah suaminya dengan geram. Ia menghempaskan lengan agar lepas dari tangan Bara.

"Bel! kita bisa bicarakan ini dengan baik-baik. Jangan seperti ini Bella!"

Bella sama sekali tidak perduli. Ia menuruni anak tangga dengan berat membawa koper. Wanita berhijab segiempat berbahan satin itu sudah bulat keputusannya untuk pergi dari rumah. Kedua tangan Bara memegang kepalanya dengan pikiran kacau. Kakinya berusaha berjalan cepat untuk bisa menghalau sang istri pergi dari istananya.

"Bella!" teriak Bara yang kini sudah berada tepat di tengah-tengah pintu. Ia mengahalangi Bella untuk keluar.

"Kamu nggak bisa bertindak seperti ini dengan seenaknya sendiri Bella! kita juga harus memikirkan perasaan Mamah!" tegas Bara dengan kedua bola mata melotot.

Melihat sang suami yang begitu berapi-api. Wanita bermata bening itu hanya bisa menunduk. Kali ini Ia berusaha menahan amarahnya. Meski hatinya benar benar sudah perih. Seakan luka yang menganga begitu sakit.

Bella menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Kedua kelopak matanya di tutup sebentar lalu di bukanya kembali.

"Duduklah Bella!" perintah sang suami dengan memegang lengan Bella sambil membawanya duduk di sofa.

Ruang tamu itu serasa menjadi saksi bagaimana sakit hati Bella yang kala itu melihat sang suami yang berciuman di sebuah mobil bersama seorang perempuan.

"Semua sudah jelas kan, Mas? kamu selingkuh dari aku!" suara Bella yang serak terdengar miris oleh sang suami.

Pria itu kebingungan menjelaskan kalimat yang di katakan oleh sang istri. Kini kedua mata Bara berkedip kedip terus dengan pikiran kacau. Akhirnya ia bisa berbicara.

"Wanita yang kamu lihat di mobil itu cuma teman aku, Bella. Dia bernama Arum. Kita cuma ciuman biasa saja tidak lebih. Kami berdua samasekali tidak berhubungan badan!" jelas sang suami dengan jujur.

"Teman? memangnya boleh dalam agama kita bertingkah seperti itu?" tanya Bella dengan geram lalu menggeleng tak percaya apa yang di perbuat oleh suaminya.

Bara hanya melirik dengan kesal.

"Mas! kalau kamu sudah nggak sayang sama aku. Kamu boleh ceraikan aku. Aku ikhlas, dari pada kamu menyakiti aku dengan berselingkuh seperti ini," ucap Bella meski hatinya begitu sesak.

Bercerai dan diselingkuhi adalah dua perkara yang menyakitkan. Ia bahkan tidak akan memilih keduanya jika takdir mau. Tetapi ia memilih bercerai saja kalau sudah seperti ini keadaannya.

"Aku nggak bisa ceraikan kamu Bella. Kasihan Mamahku," jawab Bara dengan wajah polos. Pria berwajah oval dengan kumis dan jambang tipis itu terlihat bodoh saat berhadapan dengan Bella.

"Egois kamu, Mas. Kamu udah nyakitin dua orang sekaligus, Mas. Aku dan juga Mamah. Kamu bersenang senang sementara ada orang yang tersakiti karena kamu!" tegas Bella sambil menunjuk dada Bara dengan jijik.

"Bella, aku jujur sama kamu. Kalau Arum itu cuma temen aku. Dia yang nyosor duluan. Aku janji akan jauhi Arum. Percaya sama aku Bella," ucap Bara dengan tegas. ia benar benar harus mengatakan itu pada Bella.

"Aku nggak percaya sama kamu," kata Bella dengan melihat ke arah yang berbeda.

Bara tampak berwajah gelisah namun ia berusaha dengan tangannya memegang lengan Bella.

"Bella, kamu harus percaya sama aku. Aku nggak mungkin selingkuh dari kamu. Kita menjalani rumah tangga ini sudah lima tahun. Aku nggak mungkin segampang itu mengkhianati cinta kita," jelas Bara dengan nada seolah bersedih.

"Aku sakit banget, Mas. Kalau kamu selingkuh," ucap Bella dengan memegang dadanya.

"Aku nggak selingkuh Bella, percaya sama aku," Bara Mahesa dengan lembut segera memeluk wanita di depannya. Pelukan itu benar benar membuat Bella merasa sangat hangat.

Tak di pungkiri lagi kalau sentuhan lembut bisa membuat wanita lebih tenang. Kini Bella berusaha untuk percaya pada suaminya. Ia berharap ucapan suaminya tidak bohong.

Esok harinya Bara bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Namun Bella merasa khawatir kenapa suaminya berangkat kerja pagi sekali.

"Mas ini masih jam lima pagi. Kamu serius berangkat jam segini?" tanya Bella sambil memasukkan sarapan berisi roti sandwich di dalam box makan.

Tangan Bara memasukkan box makan warna biru ke dalam tas kerjanya dengan cepat.

"Bella, kerjaan aku itu tim kreatif di program tv. Hari ini aku mau survei lokasi syutingnya. Lokasinya ada di puncak, jadi harus berangat pagi supaya aku bisa pulang cepat. Ya semoga aja sih aku bisa pulang cepet."

Penjelasan Bara membuat Bella tidak yakin. Karena menurutnya, Bara menjelaskan dengan ragu. Tapi ia mencoba untuk meyakinkan diri kalau suaminya tidak berbohong.

"Iya, Mas aku tau kerjaan kamu kaya gimana. Kerjaan kamu emang nggak kenal waktu. Aku berdoa semoga kamu disana nggak nglirik wanita lain. Siapa tuh namanya?" tanya Bella dengan wajah berpikir.

"Arum maksud kamu?"

"Iya, semoga aja dia nggak nyosor kamu lagi. Awas! Mas, kalau sampai kamu deketin dia!" ucap Bella dengan nada tajam.

"Aku nggak akan macam macam sama wanita lain. Kamu tenang aja sama aku. Aku sayang banget sama kamu Bella," kecupan mesra dengan kilat mendarat di bibir sang istri.

Bella tentu saja tersipu malu dan sangat senang sekali.

"Ya udah kalau gitu hati hati ya sayang," kata Bella sambil memeluk Bara dengan lembut.

Beberapa menit setelahnya, Bara kini sudah berada di dalam mobil. Bella melihat dari pintu gerbang lalu melambaikan tangan kepada sang suami.

Kini Bella masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan. Sebenarnya saat ini perasaannya sangat tidak enak.

"Ya Allah perasaan aku nggak enak banget rasanya. Aku sangat berharap kalau Mas Bara bisa menjadi suami yang setia. Kalau terpikir bayangan buruk kemarin, rasanya benar benar sakit. Mereka berdua benar-benar ciuman di mobil. Meski Mas Bara bilang kalau Arum yang nyosor duluan. Tapi aku rasa Mas Bara benar benar menikmati itu."

Bella merasa sangat khawatir dengan apa yang di lihatnya kemarin. Ia masih setengah percaya atas penjelasan dari Bara. Bagaimana mungkin Bella percaya begitu saja.

Wanita dengan wajah berbalut hijab Maryam itu duduk di ruang makan sambil menyeruput teh hangat. Di sampingnya jendela cukup besar. Gorden putih dengan sinar matahari pagi yang menembus begitu indah.

"Mbak Bella, tadi lihat tas belanjaan Marni nggak?"

Bella menggeleng pelan sambil matanya menyapu sekeliling.

"Kamu naruhnya dimana emang?"

"Hehehe Marni lupa,"

"Marni, Marni,"

Wanita gembul dengan rambut pendek sampai telinga itu tiba tiba membuka lebar kelopak matanya.

"Oh iya, Marni inget," serunya langsung pergi ke kamar mandi.

"Ini dia tasnya!" ucap Marni dengan mengacungkan tas belanjaan berbahan plastik.

Bella menggeleng heran. Kenapa juga Marni menaruh tas belanjaan di kamar mandi.

"Eh udah dulu ya Mbak, udah di jemput sama driver ojol paling ganteng! Assalamualaikum Mbak Bella."

Marni berjalan cepat menemui suaminya. Bella mencuri pemandangan suami istri itu dengan membuka gorden jendela. Alangkah bahagianya mereka.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Derita Gadis Ternoda
8.2
Nasib malang menimpa Ana, gadis polos yang diusir ayahnya sendiri setelah hamil akibat diperkosa. Berharap mendapat kehidupan baru di Jakarta, ia bertemu Lukman yang tulus membantunya. Sayang, kehadiran Ana justru memicu siksaan kejam dari istri Lukman, Juju. Saat benih asmara mulai tumbuh di hati Lukman untuknya, takdir mempertemukan Ana kembali dengan pelaku masa lalunya yang keji. Sanggupkah Ana lepas dari bayang-bayang trauma yang merusak hidupnya?
Sampul Novel JALAN PULANG
8.0
Dua puluh tahun merantau hingga sukses, seorang wanita karier memutuskan kembali ke kampung halamannya. Keputusan ini membawanya bernostalgia dengan kenangan pahit masa lalu, mulai dari luka masa kecil hingga cinta pertamanya. Di tanah kelahirannya, ia dipertemukan lagi dengan sang mantan kekasih. Kini, ia harus menghadapi konflik batin dan mengambil keputusan krusial demi masa depannya. Ini adalah kisah perjuangan emosional untuk berdamai dengan sejarah hidupnya sendiri.
Sampul Novel Janji untuk Berpisah
8.1
Niat Vivian menemui Darren di kantor untuk urusan tanda tangan kontrak penting berujung pilu. Meski terbiasa santai, ia sempat bimbang mengetuk pintu ruang kerja kekasihnya itu. Begitu masuk, hatinya hancur seketika saat menyaksikan keintiman Darren dan Khloe. Di bawah kehangatan sinar matahari, Khloe tampak mesra merapikan dasi pria itu. Kehadiran Vivian yang tiba-tiba membuat suasana langsung membeku, meninggalkan dirinya terpaku tanpa mampu berucap sepatah kata pun.
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Perpisahan yang telah terjadi meninggalkan penyesalan mendalam dan duka yang tak bisa diubah oleh air mata. Kehadiranmu dahulu telah memberi warna, mengajarkan arti kesetiaan serta pengorbanan yang tulus. Meski hubungan ini membawa rasa sakit dan kesedihan, bersamamu pula kebahagiaan sejati berhasil kutemukan. Kini, jika saja waktu dapat berputar kembali, keinginan terbesarku hanyalah mengulang setiap detik berharga yang pernah kita lalui bersama.
Sampul Novel MAHLIGAI: Istana yang Kujaga
8.0
Kebahagiaan Dara Kahiyang bersama Adam dan anak kembar mereka kini terancam hancur. Ibu dan kakak kandungnya kembali hadir, membawa dendam membara untuk merusak keharmonisan tersebut. Sebagai mantan putri yang dahulu dibuang dan diabaikan, Dara menyimpan sebuah rahasia masa lalu yang sangat kelam. Kini, ia harus berjuang habis-habisan demi melindungi keluarga kecilnya dari ancaman kerabat sendiri. Mampukah Dara bertahan menghadapi teror yang datang bertubi-tubi?
Sampul Novel Nafkahku Bukan Nafkah Ibumu
9.3
Niar mengalami depresi berat saat suaminya, Deni, bekerja di luar kota. Tinggal bersama mertua dan ipar yang kejam membuat uang belanja Niar sebesar tujuh juta rupiah dirampas hingga tersisa 500 ribu saja. Walau Niar memilih bungkam demi menutupi penderitaannya, Deni akhirnya menyadari perubahan sikap sang istri. Ia pun bertekad menyelamatkan Niar dari tekanan keluarganya. Mampukah Deni membebaskan istri tercintanya dari belenggu penderitaan batin ini?