APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel After Marriage

After Marriage

Bagi Denisa, menikahi pria yang ia puja sejak SMA adalah impian yang jadi nyata. Namun, biduk rumah tangga mereka rupanya tak seindah dongeng. Hubungan pernikahan yang semula diharapkan harmonis kini perlahan hancur akibat bayang-bayang kelam dari masa lalu yang terus menghantui. Di tengah badai konflik yang tiada henti, Denisa kini dihadapkan pada pilihan sulit: tetap bertahan memperjuangkan cintanya atau menyerah dan menyudahi pernikahan ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

Aku tidak tahu apa salah hingga masih belum mendapat jodoh di usiaku yang lebih dari seperempat abad. Randi bukanlah cowok pertama yang mengisi hatiku. Ada Beni saat SMA, Ramon saat awal kuliah dan terakhir Randi. Mereka semua memutuskan sepihak hubungan kami tanpa alasan yang jelas.

"Kamu sih, Sa! Cowok mana yang tahan pacaran lama tapi nggak dapet apa-apa," cecar Dina, sahabatku sejak SMA.

Aku mengalihkan pandangan dari novel ke wajah cuek Dina. Masih mencoba mencerna kata-katanya, akhirnya aku bertanya, "Maksud kamu?"

"Masa nggak ngerti, sih! Kamu inget-inget, deh. Beni, Ramon, dan Randi punya alasan yang sama waktu mereka mutusin kamu. Nggak cocok! Padahal karena kamu menghindari kontak fisik dalam bentuk apa pun. Boro-boro cium, gandengan tangan aja kamu nolak." Aku tercengang mendengar kata-kata Dina yang tak masuk akal. Meski dalam hati, aku mengiyakan asumsinya itu.

"Apa pacaran itu harus begitu? Pacaran buatku tujuannya cuma satu, menikah. Toh nanti saat sudah sah, mau ngapain aja bebas, ‘kan?"

"Hadeeeh ... susah deh, kalau ngomong sama cewek satu ini! Jones!" Dina menoyor kepalaku yang mendapat sambutan bogem mentah.

Kami asyik berbalas pukulan bantal di kasur rumahku sambil tertawa. Begitulah Dina, sahabat yang selalu bisa mengembalikan keceriaanku. Setiap kali putus, Dina tak pernah membiarkanku larut dalam kesedihan. Motto hidupnya adalah 'Always be happy'. Aneh, menurutku.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar kamar. Pemuda berusia sekitar dua puluhan akhir melonggokkan kepalanya setelah mendapat izin.

"Dek, disuruh turun sama Ibu! Makan dulu, biar kuat ntar buat nangis lagi," ejek Raihan disertai tawa yang mempertontonkan sederet gigi putih dan rapi. Dua lesung pipi manis menghiasi wajahnya yang bulat.

"Apaan sih, Kakak! Demen banget lihat adeknya nangis," rajukku sambil melempar sebuah bantal ke arah pintu. Secepat kilat Raihan menutup pintu, menghindar dari amukanku.

"Kalian lucu, ya!" kata Dina yang sedari tadi memperhatikan keakraban kami.

"Apanya yang lucu? Kesel, iya! Udah jarang pulang ke rumah eh sekalinya pulang demen banget bikin onar."

Aku tak menangkap perubahan sikap Dina tadi, sebelum dia bertanya, "Kakakmu udah ada calon belum, Sa?"

"Kamu naksir, ya?" tanyaku penuh selidik.

Seketika wajahnya memerah. Aku merasa ada yang aneh di hatiku saat melihat anggukan kepala Dina.

"Kamu mau nggak comblangin aku sama Kak Raihan?"

"Aku ...." Jawabanku menggantung, terputus oleh teriakan Ibu dari ruang makan. Kami bergegas keluar menuju sumber suara sebelum teriakannya semakin kencang.

***

"Menurut Kakak, Dina cantik nggak?" tanyaku ragu.

Kami sedang duduk di teras belakang rumah, memandangi puluhan ikan Koi peninggalan Ayah. Semasa hidupnya, beliau sangat menyukai ikan-ikan cantik itu. Setelah kepergiannya setengah tahun yang lalu, Kak Raihan dan Ibu yang rajin mengurusnya.

"Cantik," kata Raihan kemudian memandang ke arahku, "tapi Kakak sudah punya calon istri. Jadi, jangan coba-coba comblangin Kakak ke Dina. Oke!"

"Siapa? Kok aku nggak tahu?"

"Kamu kan emang nggak pernah perhatian sama kakakmu ini. Salah sendiri deh kalau kamu sekarang bakal nggak bisa tidur saking penasarannya."

Raihan pergi dengan rahasianya. Aku hanya mendengus kesal melihat tingkah pria aneh di rumah ini.

***

Pagi ini aku hanya mengaduk-aduk sarapan, rasanya malas berangkat kerja. Di sana pasti ada Dina yang sudah harap-harap cemas menanti hasil comblanganku semalam. Rasanya tak tega kalau harus mengatakan Kak Raihan sudah ada yang punya.

Handphone yang sejak semalam aku ganti ke mode silent, terus berkedip menandakan adanya telepon atau pesan yang masuk. Tanpa membukanya aku tahu siapa si penelepon. Dina! Karena tak tahu harus berbuat apa, akhirnya aku meninggalkan benda pintar yang terus berkedip itu di meja makan.

Aku kembali ke kamar, mencoba menenggelamkan diri dalam bius novel cinta untuk melupakan penat yang entah sejak kapan mulai hadir. Rasanya berbeda dari rasa sakit saat diputuskan oleh para mantan. Karena apa? Aku tak tahu!

***

"Sa ... Nissa ... bangun, Nak!"

Terasa tepukan lembut pada punggungku. Aku mengejapkan mata, berusaha terbangun. Kulihat Ibu tampak cantik dengan balutan gamis hijau dan kerudung yang senada.

"Wah ... Ibu cantik sekali! Ada acara apa memangnya? Kok, Nissa nggak inget, ya?"

"Cepat kamu mandi dan berpakaian rapi. Ibu tunggu di ruang tamu, ya!" perintah Ibu tanpa menjawab pertanyaanku.

Walau masih diliputi kebingungan, tapi aku tetap bersiap. Setelah kurasa cukup cantik, aku melenggang ke ruang tamu. Penasaran dengan acara yang tidak kuingat sebelumnya.

Di ruang tamu, duduk seorang pria paruh baya yang kuperkirakan lebih tua dari Ibu. Ada Kak Raihan dengan setelan kemeja biru. Tampak keren. Membuatku sedikit terpana saat ia tiba-tiba menoleh sambil tersenyum.

"Setelah menimbang dengan masak, saya memberanikan diri untuk datang melamar," jelas pria tadi.

Degh!

Jadi, pria itu berniat melamar Ibu? Aku belum siap. Kenapa Ibu tidak bertanya dulu padaku? Ah, aku tak tahu harus merespons bagaimana. Aku menunduk untuk menutupi perasaan yang sudah bercampur-aduk.

"Saya berniat untuk melamar Nak Nissa untuk Raihan, keponakan saya," lanjut pria yang baru kuketahui bernama Pak Bambang.

Aku mendongak, terkejut. What?! Aku menatap Ibu dan Kak Raihan bergantian, meminta penjelasan.

"Kamu dan Raihan memang tumbuh bersama. Kamu juga tahu kan kalau kalian bukan saudara kandung. Raihan adalah salah satu anak asuh di panti yang ayahmu bina. Beliau sudah meminta Raihan untuk menjagamu di saat ia sudah tak ada," jelas Ibu menatapku penuh kasih.

Aku tahu itu, sangat tahu. Maka dari itu, sebenarnya rasa sayangku padanya bukanlah sebagai adik. Berharap ia pun merasakan hal yang sama, tapi aku tak menyangka malah mendapatkan yang lebih besar dari itu.

"Tapi, Dina ...," ucapku ragu.

"Aku sudah memberitahu semuanya pada Dina," jawab Raihan memotong.

"Kapan?"

"Tadi pagi. Waktu kamu ke kamar tapi handphone tertinggal di ruang makan. Ada telepon dari Dina, jadi kujawab saja."

Pantas, tak ada lagi telepon yang masuk dari Dina. Kupikir, dia sudah capek tapi ternyata ....

"Lalu, apa jawaban Nak Nissa?" tanya Pak Bambang membuyarkan lamunanku.

Kalau boleh, aku ingin meminta waktu untuk berpikir. Namun, melihat antusiasme orang-orang di hadapanku ini rasanya hal itu tak mungkin bisa. Toh, aku memang menyukai Kak Raihan sejak lama. Apa lagi yang harus kupertimbangkan? Ibarat kata, aku mendapat hasil tampa perlu susah payah berusaha.

Aku yang bingung akhirnya hanya mengangguk tanda setuju. Semua mengucap syukur dan tersenyum puas.

Aku hanya termangu menatap wajah bahagia semua orang. Entah apa yang sedang terjadi saat ini. Aku sendiri masih belum bisa mencerna dengan baik. Otakku memang sejak awal selalu telat berpikir.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO Dingin Itu Penyelamatku
7.8
Kehidupan pernikahan Embun bagai neraka karena Putra, suaminya, mencintai wanita lain yang sudah dianggap kakak sendiri oleh Embun. Segala pengorbanan tulus Embun demi mendapatkan cinta suaminya selalu berujung sia-sia dan dipandang sebelah mata. Kepedihan Embun kian mendalam saat Putra justru menyebut nama wanita lain tersebut usai mereka intim. Di tengah luka batin yang begitu hebat ini, sanggupkah Embun bertahan saat kehadirannya tidak lagi dihargai?
Sampul Novel Godaan Mantan Istri
8.2
Demi melindungi miliknya, Anne menyepakati pernikahan kontrak dengan Kevin untuk melahirkan pewaris dalam waktu setahun. Namun, perlakuan buruk Kevin membuatnya menyerah. Setelah menyelamatkan Kevin dari kecelakaan tragis, Anne memilih pergi tanpa jejak. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali saat putra mereka sudah besar. Kini, Anne kembali bukan demi cinta masa lalu, melainkan untuk merebut kembali hak serta masa depan anak tercintanya.
Sampul Novel Janji untuk Berpisah
8.1
Niat Vivian menemui Darren di kantor untuk urusan tanda tangan kontrak penting berujung pilu. Meski terbiasa santai, ia sempat bimbang mengetuk pintu ruang kerja kekasihnya itu. Begitu masuk, hatinya hancur seketika saat menyaksikan keintiman Darren dan Khloe. Di bawah kehangatan sinar matahari, Khloe tampak mesra merapikan dasi pria itu. Kehadiran Vivian yang tiba-tiba membuat suasana langsung membeku, meninggalkan dirinya terpaku tanpa mampu berucap sepatah kata pun.
Sampul Novel Pengantin Boneka Demi Utang Keluarga
8.8
Demi menyelamatkan Pramudita Global dari kebangkrutan, Anya Pramudita bersedia menikahi pewaris Wijaya Corp, Reza Wijaya. Di balik perjodohan ini, orang tua Reza memanfaatkan masalah keuangan tersebut demi kepentingan mereka. Sementara itu, Reza sebenarnya masih mencintai Kirana secara rahasia. Tanpa adanya rasa cinta, Anya yang bersikap dingin harus bertahan dalam pernikahan sandiwara ini. Akankah tumbuh cinta sejati di antara mereka, atau justru pengkhianatan yang akan mengakhirinya?
Sampul Novel Rahasia Dibalik Kepergian Istriku
9.7
Kemarahan mendalam melanda seorang suami setelah rahasia besar terbongkar pasca empat tahun lamanya. Ia merasa dikhianati karena dijauhkan dari putra kandungnya sendiri tanpa kejelasan. Meski sang istri berdalih bahwa suaminya sejak awal tidak menginginkan kehadiran anak tersebut, tuduhan itu justru menyulut perseteruan hukum yang sengit. Sang suami kini bertekad membawa kasus ini ke meja hijau demi merebut hak asuh dan memperjuangkan keadilan baginya.
Sampul Novel Rara Series - Jerat Tanpa Tali
9.0
Dalam sekuel Rara Series ini, Rara terjebak di tengah dinamika pelik bersama Jo dan Centia. Ia dipaksa menghadapi sisi gelap sebuah hubungan yang sarat kendali dan obsesi kepemilikan. Terombang-ambing di antara penyesalan dan kasih sayang, Rara pun mulai meragukan arti kebebasan serta batas penyerahan dirinya. Kisah emosional ini menyoroti batas tipis antara cinta dan dominasi, saat ia berjuang keras memahami jati diri di dalam jeratan relasi yang kian menyesakkan.