APKDock Logo
Bab
Bagikan
Sampul Novel Adikku Seorang Pelakor

Adikku Seorang Pelakor

Kehidupan Ayu Wulansari runtuh setelah dikhianati oleh suaminya, Rangga, dan adik kandungnya sendiri, Nindi. Perselingkuhan mereka memicu cinta segitiga rumit yang sangat menyiksa perasaan Wulan. Kepedihan Wulan kian memuncak ketika ia terpaksa melihat Rangga menikahi Nindi yang tengah mengandung. Di tengah kenyataan pahit yang jauh dari kata indah, Wulan harus menghadapi takdir penuh air mata saat kebahagiaan hakiki seolah mustahil diraih.
Bab
Bagikan

Bab 3

#Flashback

“Budhe, aku tak kuat Budhe. Seandainya itu orang lain, mungkin rasa sakitnya tidak akan sedalam ini. Nindi itu adikku, Budhe … adikku!” aku histeris.

“Aku mengerti, Nduk. Aku juga wanita. Aku bisa memahami perasaanmu. Diduakan oleh orang yang kita cintai itu pasti sangat menyakitkan. Apalagi ini dengan adik kandungmu,” Budhe Lastri menarik napas, “tetapi, kamu harus bisa berpikir jauh ke depan. Nasi yang sudah menjadi bubur tidak mungkin bisa kembali menjadi beras. Semua telah terjadi, waktu tidak bisa diputar mundur. Kamu harus kuat dan tegar, demi anakmu, Rio,” lanjutnya.

“Sakit, Budhe! Di sini terasa sangat sakit dan sesak.” Aku menepuk-nepuk dadaku. Memberitahu bahwa luka di dalamnya terlalu dalam dan kelu.

“Iya, Budhe tahu. Tapi Nduk, jika kamu berpikir pendek, bunuh diri misalnya, apa itu dapat menyelesaikan masalah? Lalu, bagaimana dengan putramu yang masih kecil? Ingat juga, bunuh diri itu dosa besar. Allah tidak akan mengampunimu!”

Aku tak lagi menimpali perkataan Budhe Lastri. Kepalaku tiba-tiba terasa berat. Pandanganku semakin kabur karena ada banyak air mata yang menyembul begitu saja di pelupukku. Entah apa yang terjadi selanjutnya. Aku limbung. Tersungkur di ranjang. Pingsan.

*****

Aku merenung beberapa hari sejak mengetahui perselingkuhan suami dan adikku. Aku tidak pulang. Memilih tetap tinggal di rumah Budhe Lastri. Aku masih tidak ingin bertemu dengan suami maupun adikku. Termasuk anakku, Rio. Aku tak melihatnya. Setiap hari kerjaku hanya melamun, mengutuk nasib burukku. Hingga seminggu lamanya, aku seperti mayat hidup tanpa gairah. Sampai Budhe Lastri memberitahuku bahwa Rio sakit. Badannya demam.

Sebuah kekuatan seperti muncul dari dalam diriku. Mungkin ini karena dorongan naluri keibuanku. Aku pun meminta Budhe Lastri untuk menemaniku pulang. Melihat kondisi Rio. Buah hati yang telah aku telantarkan selama sepekan terakhir.

“Wulan, akhirnya kamu pulang. Rio terus mencarimu, dia rindu sama kamu,” ucap Mas Rangga.

Aku tidak peduli dengan ucapan Mas Rangga. Juga tidak mau meperhatikan Nindi yang berdiri di dekatnya. Pandanganku hanya terfokus pada Rio. Aku pun langsung memeluk tubuh putraku yang terkulai lemas di tempat tidur. Wajahnya pucat, sedangkan badannya sangat panas.

“Rio, Bunda di sini, Nak! Maafkan, Bunda sayang …” bisikku di telinga Rio.

“Bunda, Rio kangen, Bunda …” begitu igau anakku. Matanya masih tertutup meski mulutnya terus mencercau memanggilku.

“Dokter sudah memeriksanya semalam. Obatnya juga sudah diminum, tetapi panasnya belum juga turun,” terang Mas Rangga meski tak diminta.

“Budhe, kita bawa Rio ke rumah sakit saja,” pintaku.

“Aku rasa lebih baik juga seperti itu. Budhe juga khawatir jika terjadi sesuatu pada Rio.”

“Akan aku antar,” tawar Mas Rangga.

“Tidak perlu!” tolakku. “Budhe, tolong bilang Mas Anas, minta antarkan aku dan Rio ke rumah sakit,” pintaku lagi. Mas Anas adalah putra pertama Budhe Lastri.

“Baiklah, tunggu sebentar. Budhe suruh dia siap-siap dulu.”

“Mengapa Mas Anas yang mengantar? Aku ayah Rio, lebih baik aku saja!” Mas Rangga menyatakan ketidaksetujuannya.

“Aku tidak sudi diantar olehmu!” teriakku pada Mas Rangga. Embun mataku kembali mengumpul, hendak tumpah. Mas Rangga menatapku lekat. Sementara, sempat kulihat Nindi yang hanya mematung dan tertunduk.

“Nak Rangga, demi Rio, tolong kalian jangan bertengkar. Jangan permasalahkan siapa yang mengantar. Hal terpenting adalah membawa Rio ke rumah sakit. Dia butuh mendapat perawatan sesegera mungkin,” nasihat Buhhe Lastri dengan bijak.

Mas Rangga tak menyahut. Langkah kaki Budhe Lastri juga terdengar menjauh. Meninggalakan kamar tempat Rio berbaring. Pasti memberitahu Mas Anas untuk mengantar kami.

“Rio sayang, jangan takut, Nak … Bunda ada di sampingmu. Kamu harus segera sembuh.” Aku memebelai kepala Rio.

“Wulan … maafkan aku,” pinta Mas Rangga yang telah berjongkok di tepi ranjang tempat aku duduk. “Aku tahu aku bersalah. Aku dan Nindi khilaf. Kami bersalah dan menyesali perbuatan kami. Biarkan kami menebus kesalahan kami. Aku mohon padamu, maafkan kami. Rio juga sangat membutuhkan kasih sayangmu. Jangan acuhkan dia!”

“Khilaf? Minta maaf? Menyesal? Mengapa kalian tak memikirkan hal itu sebelum kalian melakukannya? Nindi hamil! Artinya kalian tidak mungkin melakukan hal itu hanya sekali. Itu bukan khilaf Mas Rangga, itu nafsu setan yang kalian turuti!” lontarku penuh emosi.

Aku tak dapat mengendalikan diriku. Aku bahkan mendorong Mas Rangga agar menjauh dariku. Aku lupa bahwa di dekatku ada Rio yang terbaring sakit. Mungkin karena keget mendengar kata-kata kerasku, Rio terbangun sambil menangis.

“Rio, maafkan Bunda sayang … jangan takut, ya,” aku menenangkan Rio yang menangis. Air mataku sendiri juga sudah tak mampu kutahan lagi alirnya.

“Kalian jagan bertengkar dulu! Ayo, lekas bawa Rio ke rumah sakit!” perintah Budhe Lastri. Mungkin tadi dia mendengar suara kerasku yang sedang memaki Mas Rangga.

*****

Lima hari Rio berada di rumah sakit. Buhde Lastri selalu menemaniku menjaga Rio. Mas Rangga sebenarnya juga selalu datang setiap hari, tetapi aku mengusirnya. Hari itu, kami akan membawa pulang Rio. Mas Anas dan Laili datang menjemput kami. Ada segurat kecemasan yang kutangkap dari wajah mereka. Sepertinya telah terjadi sesuatu.

“Apa yang terjadi, Mas? Mengapa kalian tampak cemas?” tanyaku.

Mas Anas dan Laili tampak berpandangan sejenak.

“Itu Lan, kami tadi ke sini juga mengantar Nindi,” Mas Anas berhenti bicara sejenak. Tampaknya ingin mengetahui ekspresiku. “Tadi dia tiba-tiba pingsan,” lanjutnya.

Deg … jantungku berdegup lebih cepat. Selama lima hari ini, sebenarnya aku juga berpikir tentang Nindi. Mengingat kebersamaan kami. Nasibnya yang malang, yang tak pernah bertemu dengan ibu. Nindi, adik satu-satunya yang sangat aku sayangi.

“Kenapa Nindi pingsan, Mas? Bangaimana kondisinya sekarang? Ada di mana dia?” Aku membrondong Mas Anas dengan runtutan pertanyaan. Hatiku seketika diderap kecemasan.

“Masih ditangani dokter, Mbak,” Laili yang menjawab karena Mas Anas hanya terpaku.

“Laili, jaga Rio sebentar di sini. Anas, anatarkan kami ke tempat Nindi dirawat!” perintah Budhe Lastri.

Kedua anak Budhe Lastri mengangguk berasamaan. Aku yang tidak sabar pun meminta Mas Anas berjalan lebih cepat. Aku memang sangat marah kepada Nindi atas perbuatannya bersama suamiku. Namun ternyata, rasa sayang yang kumiliki untuk Nindi jauh lebih besar. Bagiku, Nindi tetaplah adik kecilku yang malang dan manja. Adik satu-satunya yang aku sayangi.

Ketika kami tiba di depan ruang IGD, suamiku tampak berdiri mematung di depan pintu. Sepertinya dia melamun hingga tidak menyadari kedatangan kami.

“Nak Rangga, bagaimana keadaan Nindi?” pertanyaan Budhe Lastri membuat Mas Rangga terkejut dan tersadar dari lamunannya.

“Maaf, Budhe … tadi Budhe tanya apa?” Mas Rangga masih terlihat linglung.

“Nindi bagaimana? Kenapa dia bisa pingsan?” aku menyela sebelum Budhe Lastri mengulang pertanyaannya. Aku sungguh khawatir pada adikku itu.

“Sejak kemarin Nindi tidak mau makan dan selalu merasa mual. Aku rasa itu karena kehamilannya. Namun tadi, dia tiba-tiba pingsan ketika hendak ke kamar mandi,” terang Mas Rangga.

Aku memandang Budhe Lastri dengan mata berkaca-kaca. Dirangkulnya bahuku oleh wanita penyabar itu.

“Tenang, Nduk, berdoa saja semoga tidak terjadi sesuatu,” kata Budhe Lastri.

Bersamaan dengan itu, seorang perawat muncul dan meminta keluarga pasien untuk menemui dokter. Aku dan Mas Rangga sempat berpandangan, seakan berunding siapa yang akan masuk bertemu dengan dokter tersebut. Tanpa kata, kami seperti sepakat untuk menemuinya bersama. Di dalam ruangan, sang dokter lalu memberikan keterangan kepada kami.

Lanjut Nonton!
Ceritanya makin seru! Buka Aplikasi untuk lanjut membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Manis Sang Ratu Miliarder
9.0
Setelah diusir, Helen baru menyadari identitas aslinya yang bukan bagian dari keluarga tersebut. Rumor menyebut ia kembali ke pelukan keluarga miskin yang akan mengeksploitasinya, namun fakta justru berbanding terbalik. Ayah kandung Helen rupanya seorang miliarder yang siap memanjakannya. Helen sendiri memegang paten desain bernilai fantastis dan menjadi mentor astronomi nasional. Di saat publik menantikan kejatuhannya, ia melesat menjadi sosok legendaris dan memikat pria misterius yang sangat berkuasa.
Sampul Novel Ditinggalkan Karena Tak Punya Gelar
7.8
Dicampakkan oleh pacarnya yang ambisius demi lelaki bergelar spesialis, Rayhan yang hanya dokter umum mencoba mengobati patah hatinya lewat hubungan virtual dengan El, perempuan misterius. Siapa sangka, sosok yang selama ini menjadi tempatnya berkeluh kesah adalah Dr. Elvira Maheswari, Direktur Utama berdarah dingin di tempat kerjanya sendiri. Kenyataan ini pun menyeret Rayhan ke dalam pusaran asmara dan profesionalisme yang sangat membingungkan.
Sampul Novel Ibu Mertuaku Mengusirku
9.1
Vonis mandul menghancurkan hidup Anjani. Ia dicampakkan oleh Bagas, suaminya yang tega menikahi adik tirinya sendiri, Sinta. Di tengah kepedihan akibat dikhianati, Anjani kembali dihadapkan pada nasib malang. Ia dipaksa menikah dengan pria lumpuh demi melunasi utang sang ayah. Terjepit tekanan keluarga, sanggupkah Anjani bertahan? Akankah ia pasrah menjalani pernikahan baru ini, atau memilih kabur demi membalas dendam pada Bagas dan Sinta?
Sampul Novel Kisah Kejatuhan Seorang Ibu yang Kesepian
9.1
Di keheningan malam, seorang ibu berlutut lemas di ambang jendela dengan napas memburu. Di belakangnya, teman sekelas anaknya dari sekolah olahraga merobek stoking hitamnya secara kasar dan menjamahnya. Sambil mencengkeram rambutnya, pemuda itu berbisik menggoda, mempertanyakan apakah sang anak tahu kelakuan liar ibunya. Ketegangan memuncak saat ayah pemuda itu tiba-tiba masuk dan berniat mengajari putranya yang dianggap masih terlalu muda.
Sampul Novel Luka Yang Sisa Kenangan
8.5
Memasuki tahun keempat pernikahan, Luna Gozali bersiap menyambut kehamilan pertamanya. Namun, kebahagiaan itu hancur saat pihak rumah sakit mengungkap bahwa dokumen pernikahannya dengan Rocky Riyandi palsu. Penyelidikan Luna ke kantor catatan sipil justru mengungkap kenyataan pahit: Rocky secara sah tercatat sebagai suami dari Paula Gozali, kakak tirinya sekaligus cinta pertama Rocky yang dahulu kabur ke luar negeri saat hari pernikahan mereka.
Sampul Novel My Crazy Man
8.2
Azura, supermodel populer yang dingin, didera trauma mendalam akibat kegagalan asmara masa lalunya. Ketenangan hidupnya terusik sejak kehadiran Devano Mackzie. Jauh dari citra CEO berwibawa, Devano adalah pria menyebalkan yang konyol dan sangat cerewet. Kegigihan serta sifat banyak bicaranya benar-benar menguji kesabaran Azura. Mampukah keteguhan sikap acuh sang model akhirnya luluh oleh kegilaan cinta yang ditunjukkan pria tersebut?